Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 126. Pekerjaan baru.


__ADS_3

Panas yang makin menyengat. Udara bulan September berhembus kering. Nyiur melambai lambai oleh terpaan angin. Arsena dan Andini memandang sekeliling, ada yang berbeda dari biasanya. Sepanjang jalan hanya ada tanah berpetak terisi air dan ikan.


Arsena membiarkan Andini bersandar di dada bidangnya. Rupanya wanita hamil yang satu itu suka mengantuk hanya dengan terkena semilir angin saja.


"Tidurlah, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan." Arsena menelusupkan lengannya di tengkuk Andini. Berharap saat tidur goncangan ditubuhnya sedikit berkurang.


Sekitar empat jam perjalanan naik taxi. Andini dan Arsena sudah sampai di tempat tujuan.


Sepasang makhluk saling mencintai itu telah tiba di sebuah rumah sederhana, yang akan menjadi tempat tinggalnya, rumah sempit beratap genteng merah yang sudah lumutan jendela kacanya berdebu, disana sini terdapat dedaunan kering. Rumah itu sebenarnya rumah minimalis yang unik, sayangnya sudah lama tidak dihuni.


"Pak berhenti di sini saja." Kata Arsena.


"Iya, Mas." Sopir taxi segera turun, membantu menurunkan barang-barang.


Arsena menghembuskan nafas dengan berat, meyakinkan diri sendiri kalau rumah itu memang masih layak dihuni untuk istri dan calon anaknya untuk sementara waktu.


"Berapa Pak?" Tanya Arsena penuh percaya diri.


"Lima ratus ribu," ujar sopir taxi.


"Oke bentar, ya." Arsena merogoh sakunya satu persatu hendak mencari dompetnya. Ketiga saku celana sudah ia jelajahi, tapi keberadaan dompetnya belum juga terdeteksi.


"Apa dompetku juga ketinggalan ya?" Gimana ini?" Arsena memutar tubuhnya, bingung bagaimana kalau nggak bawa dompet beneran. Tadi sudah sok sokan meninggalkan card-nya juga.


"Pak saya lupa bawa uang. dompet saya bisa jadi ketinggalan."


"Hadeeh gimana sih Mas, udah antar jauh-jauh masa iya nggak dibayar, saya nanti setor ke juragan pake apa mas," eluh sopir taxi.


Arsena menatap ke arah Andini. Andini membalas dengan gelengan kepala. pertanda dia nggak bawa uang.


Ya udah pak, kalau begitu ini arloji saya bapak bawa. Ini walaupun sudah saya pake tapi percaya sama saya, kalau bapak jual harganya masih jauh diatas tarif naik taxi saya.


"Tapi Mas! Ini jam mahal."


" Nggak apa-apa ambil saja."


" Kalau gini sih namanya rezeki nomplok," ujar sopir taxi senang setelah mendapat barang bagus.


"Sayang bangun kita sudah sampai." Arsena menepuk pelan pipi Andini.


"Ini rumah siapa, Ars?" Andini sedikit terkejut dengan rumah minimalis yang ada didepannya.


" Sudahlah nggak penting ini rumah siapa? Sementara kita akan tinggal di sini, sampai aku bisa cari kontrakan yang lebih bagus." Kata Arsena tak mau jujur.


"Kenapa kita nggak tinggal di kontrakan lama aja?"


"Nggak mau, jaraknya terlalu dekat dengan mansion. Keberatan? Atau rumahnya terlalu jelek?"


"Enggak! Bener kok, justru aku mikirin kamu, entar malam bisa nggak bobok nyenyak?" Tanya Andini sambil mencubit pipi Arsena gemas.


" Kalau boboknya ditemani kamu jelas bisa lah. Nyenyak banget malah, apalagi sebelumnya di kasih minum itu...." Arsena mengedipkan matanya nakal.


Sttt, ada remaja disini, bicaranya dijaga


Andini dan Arsena sudah masuk lebih dulu, melihat ruang tamu dan ruang yang lainnya. Sedangkan Zara masih di luar.

__ADS_1


"Dia enggak bakal denger." Bantah Arsena. Sambil celingukan.


Arsena dan Andini masuk ke ruang yang akan menjadi kamarnya. Hanya ada dipan dan lemari.


"Mana bajunya biar aku masukan di lemari." Andini meminta koper Arsena.


Arsena menyerahkan, kopernya. Andini mulai memindahkan baju satu persatu dari koper ke dalam lemari.


"Semoga nanti kita betah disini."


Arsena merasa keterlaluan telah mengajak Andini belajar hidup susah seperti ini. Konyolnya dia pergi jauh dan benar-benar nggak bawa uang dari rumah.


Sayang, aku akan pergi dulu, kamu jangan kemana mana, jangan bandel.


"Kemana Ars, ini masih siang, nggak istirahat?"


"Aku ingin keliling tempat ini sebentar, aku pengen lihat situasinya."


Arsena mulai bingung, dompetnya ketinggalan mau makan apa nanti. Apalagi dia sudah tak bekerja benar -benar ini kekonyolan yang hakiki. Benar benar akan merasakan hidup menjadi orang miskin tulen.


Arsena berulang kali menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil berjalan tanpa arah tujuan, menyisir pantai. Angannya hanya pada bagaimana besok akan mengenyangkan perutnya dan memberi nafkah istrinya. Mencari pekerjaan di kantor sudah pasti bisa, tapi tak mungkin bisa langsung bekerja, masih harus interviuw dan menunggu panggilan.


"Bodoh Ars, bodoh, bodoh, kalau begini bisa-bisa kamu membuat Andini kelaparan, dan anak anak kamu pasti akan menangis minta makan bergizi," gerutu Arsena.


Zara mulai bersih- hersih sampah maupun debu yang hampir ada di semua tempat. Sedangkan Andini membantu menata hal-hal kecil saja.


"Sudahlah nona, anda istirahat saja, Anda pasti lelah, apalagi habis perjalanan jauh."


"Iya Zara tumben ya pegel-pegel begini." Andini merebahkan dirinya di sofa panjang dan akhirnya pulas bahkan sedikit mendengkur.


Arsena yang masih duduk di pinggir pantai masih bingung, rupanya menjadi pengangguran sangat menyedihkan. Arsena yang tak pernah lepas dari kemewahan ini pertama kalinya tak pegang uang.


Tapi masa iya dia harus pinjam uang, apa yang akan mereka pikirkan? Dalam kondisi seperti ini Arsena masih tetap memikirkan imagenya di depan teman kantor.


---------


Angin pesisir berhembus kencang Arsena duduk diatas batu besar memandang lautan lepas yang jaraknya kira-kira tujuh ratus meter dari rumah baru yang ia tinggali. Mataharipun bergulir semakin ke Barat. Membelakangi posisi duduk Arsena.


Tiba-tiba ada tangan lembut menutup kedua kelopak matanya.


"Sayang !' Arsena terkejut.


Andini diam, menahan suaranya keluar.


"Sayang ini pasti kamu." Arsena meraba-raba tangan Andini membuat Andini tak bisa menahan tawanya.


"Sayang aku cari'in sejak tadi, tahunya di sini." Andini mengerucutkan bibirnya sambil menancapkan dagunya di pundak Arsena.


"Kamu kan tadi harus istirahat."


" Aku sudah bangun tidur, aku sudah fres habis mandi." Ujar Andini mencium aroma tubuhnya sendiri yang wangi.


"Benarkah," Arsena menarik tubuh Andini ke pangkuan. Memanfaatkan moment seperti ini untuk mencurahkan sayangnya.


Arsena mengecup pipi dan bibir Andini. Andini merasakan ciuman Arsena berbeda tak seperti biasanya yang Agresif dan memabukkan.

__ADS_1


"Gara-gara aku, kamu jadi sedih seperti ini? Seharusnya ikutin saran mama aja, kita sementara berjauhan, tapi kamu tetap bisa kumpul dengan keluarga."


"Siapa yang sedih, aku seneng kok. Aku senang kita bisa seperti ini sekarang, Aku senang ada kamu bersamaku."


Aku sebenarnya bingung Ndin, apa aku benar-benar bisa membahagiakan kamu, Apa kamu benar-benar senang hidup susah seperti ini.


"Tuh kan melamun lagi, Aku tahu aku nggak mudah dibohongin. Pasti ada sesuatu ini."


"Jangan mikir aneh-aneh, mending sekarang pulang, bikinin aku kopi yang manis." Kata Arsena sambil melengkungkan bibirnya.


" Aku mau pulang bareng, aku sudah capek jalan kesini, sekarang pengen digendong sama kamu."


"Manja lagi?"


" iya, Nggak apa-apa, kan lagi hamil nggak boleh capek." Kata Andini dengan bahasa ngalem.


"Siap, Nona Manja." Arsena mencubit pipi Andini gemas, lalu membungkukkan tubuhnya tepat di depan Andini. " Dikira nggak mampu gendong anak sekalian induknya."


"Kok induk sih, seperti kucing saja." Andini melingkarkan lengannya di leher Arsena. Menjatuhkan bobot tubuhnya di punggung suami.


" Kalau aku kucing kamu apa dong? Bapaknya kucing?" ujar Andini. Mereka berdua berjalan pulang seraya bercanda.


"Bapak kucing, nggak apa apa, asal bukan kucing garong." ujar Arsena dengan tawa cekikikan.


Sambil menggendong Andini, Arsena berfikir keras, kerja apa yang bisa menghasilkan uang dengan cepat. Dia benar-benar butuh uang cepat untuk makan besok.


Malam telah tiba, kampung kecil itu sudah sepi, hanya para wanita dan anak anak yang berdiam diri di rumah. Para lelaki berangkat menuju pantai ketika sore tiba. Mulai melepas ikatan rantai kapal dan berlayar ketengah laut menebar jala.


Arsena bertemu dengan salah satu tetangga. Selesai bertegur sapa mereka berkenalan dan berlanjut pada obrolan seputar pekerjaan.


Bapak itu berkata," kalau mau ikut saya bekerja boleh sekali, setelah maghrib kita akan berangkat bekerja dan pagi kita akan sampai di rumah lagi."


Arsena sangat senang, apa yang dipusingkan seharian tadi seolah mendapat angin segar. Arsena segera pulang dan siap-siap untuk menyiapkan diri dengan pekerjaan barunya.


Arsena segera mengadukan kabar gembira ini pada Andini, kalau nanti malam dia akan mulai bekerja. Arsena juga meminta Zara untuk menemani tidur, karena kalau malam Andini kadang suka haus dan minta diambilkan minum.


Zara setuju, dengan senang hati dia akan menemani Andini.


"Ars, nggak apa-apa kamu kerja seperti itu? Kamu nggak ada pengalaman." ujar Andini dengan raut wajah sedih.


"Kenapa sih, Sayang? Kok sedih sih. Kerja apapun yang penting itu halal." Kata Arsena berusaha mendamaikan hati Andini.


"Senyum donk, suami mau kerja, jangan cemberut."


"Ars!"


"Ini keputusanku, Andiniku, sayangku."


Arsena yang keras kepala, tak mungkin bisa di bengkokkan lagi, dia kekeuh ingin berangkat bekerja malam ini juga. Andini dengan berat hati melepaskan kepergian Arsena.


Andini melambaikan tangan saat Arsena melangkahkan kaki keluar, ada empat orang yang sudah menanti Arsena di depan rumah.


"Neng suaminya kerja dulu ya, jangan sedih, pasti besok pagi akan bawa banyak rezeki."ujar seorang bapak seusia mertuanya. Mungkin bapak itu memang suka bercanda.


Andini melengkungkan bibirnya, sambil mengangguk. Ia baru menutup pintu ketika Arsena dan kawan kawan sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


Ars, aku berdoa semoga kamu bahagia menjalani ini semua,Menjadi orang susah itu tak mudah seperti yang kamu bayangkan.


*happy reading.


__ADS_2