Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 266. Membawa Meysa.


__ADS_3

"Berhenti menangis Anita."


"Aku akan rindu Meysa, Amert."


"Hei, dia bersamaku, aku akan membuat dia bahagia, kamu nggak usah khawatir."


" Apakah Zara bisa menerima dia dan memperlakukan dengan baik."


"Pasti bisa, Zara istriku dia sangat baik."


"Aku tahu, aku sudah pernah berjumpa istrimu itu."


Amert kembali iba melihat Anita yang masih terlihat ringkih sehabis caesar."Aku juga akan menyayangi dia. Aku akan membuat hidupnya bahagia sebisaku, aku berjanji tak akan membedakan Meysa dan Furqon dalam kasih sayang dan materi."


Anita mengangguk, dia yakin putrinya akan bahagia dengan Amert dan Zara, lagipula statusnya akan jelas Dimata dunia menjadi putri Amert dan Zara. Masa depannya tidak akan diketahui orang kalau dia anak diluar nikah, dan ibunya wanita yang berambisi ingin merebut suami orang. Satu yang membuat Anita penasaran. Siapa Amert kenapa dia memiliki uang sangat banyak, sepertinya setelah ini dia harus mengorek seluk beluk Amert, dia akan mencoba melihat lebih jauh lagi lewat bantuan benda pintarnya.


"Apakah kau tak ingin memberiku hadiah? Kecupan perpisahan misalnya." Anita berusaha menghapus kesedihannya dengan tertawa di depan Amert. Tadinya dia sudah yakin akan bahagia saat Meyza jauh dari hidupnya. Tapi semua ternyata tak sesuai yang dibayangkan ikatan dirinya dan Meyza ternyata sangat kuat.


"Tidak, tapi aku akan menganggap kamu seperti saudaraku, hubungan kita akan tetap terjalin baik tapi tentunya selain suami dan istri, asal kau berubah, nggak mengejar suami orang lagi." Mert tersenyum. Sambil mengacak rambut Anita.


"Kakak dan adik misalnya." Segaris senyum terlihat dalam kesedihan Anita.


" Boleh. Deal kita kakak dan adik. Jadikan kehadiran Meysa sebagai pelajaran hidupmu. Dan aku akan membantumu dalam usaha barumu nanti, ketika kamu sukses kamu tak perlu mengejar laki laki kaya lagi. Kamu akan memiliki banyak uang dan hidupmu akan lebih baik. Laki laki baik akan datang padamu dia akan dipasangkan dengan wanita yang baik juga."


Air mata Anita terus menetes mendapat wejangan dari Amert. Betapa cinta telah membutakan mata hatinya, andaikan dia tak bodoh pasti pelajaran berharga ini tak akan datang padanya. "Amert, makasi. Aku janji aku akan berubah. Tolong bimbing aku. Ingatkan aku jika langkah ku salah.


"Iya adikku." Amert senang Anita sudah bisa tersenyum.


"Badanmu sedikit demam." Mert menyentuh kening Anita.


"Nggak apa, nanti minum obat akan sembuh sendiri." Anita kembali tersenyum.


Mert menarik nafas dalam. Bisa bisanya Anita ceroboh dengan kesehatannya " Ya sudah istirahat aku pulang ya, kamu jaga diri baik baik."


Amert pergi dari Apartement Anita, dia menggendong Meysa yang tertidur pulas. Saat di lift, pandangan mereka bertemu. Anita melambaikan tangannya, Mert membalasnya ditambah dengan senyum manisnya. Baju usang yang dipakai ternyata tak mampu memudarkan ketampanan hakiki pria blesteran Indo-Turki itu.

__ADS_1


Anita berdiri mematung diambang pintu, dia kembali sendiri di apartemen sederhana dan masih dalam status belum milik sendiri itu. Duduk di sofa, berjalan pelan mondar mandir, duduk lagi.


Dia sudah kehilangan dua orang yang ia sayangi. Mama mengusirnya saat tau dia hamil bukan dengan Arsena, calon menantu idamannya.


Sekarang dia harus kehilangan putri yang baru beberapa hari dia lahirkan dengan Caesar karena tanggal kelahiran yang terlewat jauh, tapi belum juga ada tanda tanda mau lahir.


Untung segera dibawa kerumah sakit, dokter bilang ketuban sudah keruh. Dan itu berbahaya buat bayinya.


Setengah jam setelah kepergian Amert. Anita kembali mendengar bunyi ketukan pintu, Anita bisa bisanya berfikir itu Amert kembali lagi membawa putrinya.


"Meysa !!"


Anita kembali terpaku, setelah membuka pintu. Ternyata bukan Amert yang mengetuk pintu.


Dua wanita yang tengah berdiri di depannya tersenyum ramah pada Anita. "Selamat siang."


"Siang. Kamu siapa?" Anita bertanya dengan suara pelan.


"Maaf kalau mengganggu, saya diutus kesini oleh tuan Amert, dia bilang anda sakit. Izinkan saya memeriksa kondisi anda." Dokter itu memperlihatkan kartu namanya.


Anita membaca sebentar lalu mengembalikannya pada sang dokter.


Anita masih tak percaya Amert begitu baik padanya. Anita segera menghubungi Amert yang saat ini sedang mengemudikan mobil dengan pelan pelan.


" Mama kamu telepon, ada apa ya?" Amert menepikan mobilnya.


"Hallo ada apa Nit, aku masih di jalan nie?" Amert mengangkat panggilan Anita sambil memandangi Meysa yang ia tidurkan di sebelahnya.


"Kamu sudah kirim dua orang ke Apartement hari ini? Kenapa kamu lakukan itu?"


"Aku melakukannya, karena aku sekarang kakak kamu, seorang kakak akan peduli pada adiknya. Ya sudah aku lagi di jalan. Kamu menurut saja diperiksa dokter."


"Terima kasih Amert, Kakakku."Suara Anita terdengar bergetar.


"Kamu nangis? Sudah jangan sedih, kamu akan sering ketemu Meysa."

__ADS_1


"Aku hanya terharu, Amert." ujarnya sebelum panggilannya berakhir.


Anita segera mempersilakan duduk kedua tamunya kemudian dia berbaring di sofa ruang tamu, Dokter mulai memeriksa Anita. Sedangkan Partinem memasak di dapur, dia tak melihat ada makanan yang bisa menjadi santapan makan siang.


Dokter pulang setelah tak menemukan sakit yang serius pada Anita. Membuat resep dan menyarankan Anita untuk tak telat makan dan istirahat cukup.


Sambil rebahan di sofa, Anita mulai membuka dunia maya yang ada di benda pipih itu. Mencari siapa sebenarnya Amert, pria keturunan Atmaja yang selalu ia pandang rendah.


Nama Amert bermunculan di kolom pencarian dia tak menemukan unggahan yang berarti dari setiap postingannya, selain kegiatannya saat bersama karyawan produksi di pabrik. Amert sosok yang selalu membuat bahagia orang di sekitarnya. Terbukti dia juga akrab dengan karyawan produksi disana, jika dilihat dari foto foto yang pernah dia unggah.


Anita masih tak percaya dengan cek yang tertuliskan angka enam milyar di dalamnya dimiliki oleh seorang Amert. Dugaan baru bermunculan di benaknya. apakah Amert sebenarnya pengusaha yang sengaja menimba ilmu dan pengalaman.


Lelah berfikir, Akhirnya Anita tertidur pulas. dia terbangun setelah merasakan perutnya lapar, Anita segera makan masakan Partinem yang pertama lalu minum obat.


****


"Zara apapun keputusan Yang akan Amert ambil itu keputusan terbaiknya. Aku yakin Amert benar-benar melakukannya dengan tak sengaja," ujar Andini. Dia wanita itu tengah duduk di sisi ranjang.


Andini berusaha menenangkan hati Zara yang sudah terlampau kecewa. Tapi Amert juga berhak membela dirinya tak bersalah, Zara tak bisa menyalahkan siapapun dalam kesalahan satu malam waktu itu selain pada Anita.


"Zara berat untuk ikhlas, Mbak. Rasanya nyesek banget di sini, kenapa setelah sekian lama, justru Zara baru tahu."


"Mbak yakin, Amert juga nggak tau kalau Anita hamil, kalau tahu pasti dia akan cerita."


"Semoga saja ini salah paham." ujar Zara berharap posisinya tetap nyaman menjadi wanita satu satunya untuk Amert. Zara masih menangis sambil memangku Furqon yang sempat rewel minta nen sebentar tadi.


Tin! tin!


Klakson mobil terdengar dari garasi, artinya Amert butuh bantuan, berharap seseorang segera datang menghampiri.


"Mobil Amert sudah tiba, Zara. Mbak Andini keluar dulu, pesen Mbak tolong selesaikan ini sedewasa mungkin. Pasti akan ada jalan keluar yang terbaik."


Sedangkan Hana terlihat murung, kepalanya terasa pusing, bisa-bisanya Amert melakukan kesalahan sefatal ini, menghamili dua wanita sekaligus. Andaikan dia tidak menemani Oma, pasti kejadian ini juga tak akan terjadi.


Mansion yang beberapa jam tadi sempat penuh dengan aura kebahagiaan, kini kembali dalam kebisuan, menantikan keputusan terbaik Amert untuk kemelut yang sedang dia hadapi saat ini.

__ADS_1


Zara menyeka air matanya. Andini buru buru keluar melihat kedatangan Amert bersama yang lain. Miko dan dara juga ada di halaman depan.


Hana berdiri di barisan paling depan, dia yang akan menanyai putranya lebih dulu. Sedangkan Zara memilih untuk tetap tinggal di kamar, Zara masih terlalu larut dalam kesedihan. Kejadian hari ini begitu mengejutkan dirinya. Tak pernah terbersit sedikitpun di benaknya kalau Amert akan dihadapkan dalam situasi seperti ini.


__ADS_2