
Langkahan kakinya penuh hati-hati, karena ia terlihat curiga dengan kondisi gubuk tua yang terlihat sangat bersih. Curiga bahwa gubuk tua tersebut ada seseorang, karena tempatnya yang bersih dan terawat.
Ia mencoba mengetuk pintu gubuk yang terbuat dari bambu yang disusun, dengan harapan ada orang baik yang bisa membantunya.
Tetapi ia beberapa kali mengetuk pintu, namun tidak ada respon atau jawaban sama sekali. Zeno menggaruk kepalanya dan berpikir bahwa gubuk tua ini tidak ada orang.
Sekilas, saat memperhatikan gubuk ini, Zeno teringat dirinya pernah tinggal di gubuk bersama Fang Yoshi selama lima tahun, dia benar-benar tidak bisa melupakan kenangan yang bagus saat dirinya menggunakan elemen saat pertama kali.
"Lebih baik aku pergi." Gumamnya.
Zeno pun pergi dengan rasa kecewa, tetapi ia tidak menyerah. Ia terus berjalan sepanjang sungai agar berharap ada seseorang.
Namun, raut wajahnya berubah saat mendapati awan biasa berubah menjadi awan mendung yang menggumpal. Jadi Zeno memutuskan untuk kembali ke gubuk itu untuk berteduh apabila suatu saat akan ada hujan deras.
Dia tiba-tiba memiliki rasa penasaran saat ia kembali ke gubuk, ia benar-benar ingin membuka pintu gubuk tersebut. Lagipula hujan deras yang akan melanda tidak akan cukup membuatnya berlindung di di depan gubuk saja.
Sehingga ia mencoba untuk membuka pintu gubuk dengan sangat hati-hati. Sebelumnya, ia mengintip dari lubang pintu untuk memastikan bahwa tidak ada apa-apa.
"Sepertinya memang tidak ada orang ya." Katanya sambil membuka lebar pintu bambu pada gubuk tersebut.
Sekilas, tidak ada apa-apa di dalam gubuk tersebut, mungkin hanya sebuah lemari usang yang bersarang laba-laba.
"Ini sangat aneh, terlihat dari luar bahwa gubuk ini bersih, tetapi kenapa pemilik gubuk ini membiarkan sarang laba-laba pada lemarinya?" Zeno tidak bisa berkata banyak, rasa penasarannya meningkat kembali dengan isi lemari.
Tetapi ia tau dengan jelas bahwa membuka lemari seseorang sesuatu yang sangat tidak sopan, apalagi lemari adalah privasi seseorang. Namun siapa peduli, ia saja sudah masuk ke dalam gubuk seseorang tanpa memperdulikan kesopanan.
Zeno mengangkat kepalanya saat ia mendengar suara bising dalam lemari itu. Zeno yang penasaran pun berjalan perlahan mendekati lemari, karena ia sangat ingin tahu apa yang terjadi di dalam lemari.
__ADS_1
Ia membuka lemari dengan perlahan-lahan. Namun, raut wajahnya menjadi masam karena melihat puluhan tikus bermata merah menghadapnya. Zeno yang kaget pun langsung menutup lemari dengan keras, entah kenapa ia langsung merasa jijik dengan puluhan tikus tadi.
Tetapi setelah ia menutup lemari tersebut, suara bising pukulan kayu semakin keras, pintu lemari juga seperti akan mau terbuka. Zeno tersenyum kecut saat sadar bahwa tikus-tikus tadi berusaha membuka pintu lemari.
Melihat lemari yang akan terbuka, Zeno menahan lemari tersebut dengan tangannya. Apa yang terjadi justru, pintu lemari menjadi patah karena dorongan tikus sangat kuat.
Zeno sontak terjatuh, dengan puluhan tikus yang menyerangnya secara bersamaan. Dia hanya kebingungan dan berusaha melawan tikus-tikus bermata merah.
"Sialan." Itulah kata yang dikeluarkan dari Zeno saat mengetahui tikus-tikus ini sangat kuat, bahkan ia yang mencoba berdiri pun masih ditempeli tikus yang banyak.
Sesekali ia mencoba mengeluarkan teknik gelembung air, agar para tikus bisa lepas. Namun saat mencoba mengeluarkannya, tidak ada gelembung air sama sekali di sekitarnya.
"Aku baru ingat, bahwa aku sedang tidak memiliki elemen." Kata Zeno yang menggertakkan giginya.
Zeno tidak mau menyerah begitu saja, dirinya menoleh ke arah sungai yang berada di depan gubuk. Daripada ia hanya pasrah dan menahan rasa sakit, lebih baik ia menceburkan diri pada aliran sungai tersebut.
Zeno berusaha berenang, ia mengangkat kepalanya untuk mengambil napas. Tetapi matanya terbuka lebar saat melihat kondisi benar-benar sudah gelap, padahal tadi ia merasa keadaan masih sangat pagi.
Ditambah dengan langit yang sedikit merah membuat Zeno sedikit merinding, suasana mencengkam membuatnya menjadi panik. Zeno yang sudah hampir kelelahan segera naik menuju pinggir sungai.
Akan tetapi saat ia berusaha naik, ada sosok ibunya yang berdiri di depannya. Zeno membuka matanya lebar seakan ada yang berbeda, bukannya senang, Zeno justru sangat ketakutan, bagaimana tidak, tidak ada bola mata pada sosok ibunya, di tambah darah keluar dari lubang mata.
"Zeno, sebenarnya aku menyesal telah melahirkan mu."
Zeno yang mendengar ucapan ibunya sontak langsung kembali terkejut, saking terkejutnya, dirinya melompat kembali ke arah sungai untuk pergi ke seberang.
Sambil berenang, ia masih terpikir dengan sosok ibunya, dirinya menjadi sangat kebingungan tentang posisinya sekarang berada di mana.
__ADS_1
"Siapa tadi? Tidak, itu bukan ibu, ibu tidak pernah berkata seperti itu." Kata Zeno sambil berusaha naik ke permukaan.
Zeno juga menoleh ke seberang dan mendapati bahwa sesosok yang mirip ibunya telah tidak ada, namun menurut Zeno, ada sesuatu yang janggal, yaitu gubuk tua yang ada di seberang telah hilang.
Zeno tidak peduli dan kembali menoleh ke depan, tetapi lagi-lagi ia berteriak saat melihat sesosok kakeknya berdiri di depannya tanpa mata.
"Entah apa yang aku pikirkan sehingga mau menyelematkanmu."
Zeno berlari menghindari orang yang mirip kakeknya, jantungnya benar-benar berdetak dengan kencang serta napas yang terengah-engah, pikirannya benar-benar kacau tentang tempat ini.
"Apa, apa yang terjadi?" Raut wajahnya menjadi sangat jelek saat dunia yang ia tempati berubah menjadi hitam. Bahkan ia tidak bisa melihat sedikitpun cahaya.
Namun perlahan, ia melihat setitik cahaya dihadapannya. Zeno pun sedikit senang setelah ia melihat ada sesuatu di depannya.
Siapa sangka, bahwa setitik cahaya itu merupakan Kiba yang sama persisnya tidak memiliki mata, ditambah darah yang keluar dari mata tersebut.
Zeno kembali kaget dan mengalihkan pandangannya, namun saat ia menoleh kebelakang, terdapat sosok kedua kakaknya yang sama sekali tidak memiliki mata.
Kali ini ia terselimuti rasa takut yang luar biasa, baru kali ini dia merasakan rasa takut yang membuatnya hampir menangis, gelisah dan merengek seperti anak kecil. padahal semenjak kecil, Zeno adalah sosok yang kuat dan sedikit pemberani.
Perlahan, sesosok orang yang dikenal Zeno muncul dari balik kegelapan dengan mata yang hilang, bahkan dia juga melihat sesosok Fang, dan juga Ama yang ikut mengepungnya.
"Aku salah nak, ternyata kau sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun." Kata Ama sambil mengeluarkan sebuah bola petir pada tangannya.
Tubuh Zeno tiba-tiba terkunci, badannya tidak bisa bergerak sama sekali. Apa yang ia harus lakukan hanyalah pasrah menerima serangan berpetir dari Ama.
"Mati dua kali? sepertinya itu merupakan hal yang lucu."
__ADS_1
Serangan itu benar-benar terjadi, Zeno kembali merasakan rasa sakit pada perutnya, bahkan dia merasakan sengatan listrik yang luar biasa pada tubuhnya.