Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Siapa yang menyuruh kalian?


__ADS_3

Zeno kini ia telah sampai menuju perbatasan negara petir dan juga angin. Hawa yang begitu sejuk dengan semilir angin kini perlahan mulai hilang saat ia menginjak di depan gerbang negara petir.


Tetapi sepertinya, dia merasa sedang diikuti oleh beberapa orang yang melompat dari pohon ke pohon. Hal tersebut membuat Zeno mengundurkan niatnya memasuki gerbang negara petir.


Kini ia berbelok menuju hutan elemental beast karena ingin tau, apa maksud orang-orang tersebut mengikuti dirinya.


Orang-orang dengan berpakaian assassin, yang tidak lain merupakan pembunuh bayaran, mereka memandangi satu sama lain karena melihat Zeno yang cukup berani berbelok menuju hutan elemental beast.


Walaupun sebenarnya jarak mereka yang begitu jauh dari markas mereka menuju Zeno, tetapi entah kenapa secara tidak masuk akal mereka berhasil mengejar Zeno.


Mau tidak mau, mereka yang ditugaskan untuk membunuh Zeno juga harus mengikutinya walaupun Zeno harus masuk kedalam hutan paling berbahaya yang merupakan pusat benua ini.


“Apa tujuan kalian hingga repot-repot untuk mengikuti.” Ucapan yang membuat seluruh pembunuh merasa kebingungan, karena ia tidak bisa menebak asal suara tersebut.


Siapa lagi kalau bukan Zeno, dia telah menunggu para pembunuh bayaran itu dan menyambutnya dengan cukup baik. "Aku ada di atas.”


Para pembunuh tersebut menoleh ke atas, mendapati Zeno yang sedang duduk di atas dahan dengan bersandar di sebuah batang pohon.


“Kita sudah ketahuan, cepat bunuh dia!” Ucap salah satu dari sepuluh pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuh Zeno.


Zeno kini tahu bahwa tujuan mata-mata yang sedari tadi mengikutinya adalah membunuh dirinya. Entah apa tujuannya itu, membuatnya begitu penasaran.


Zeno melompat dari dahan pohon sambil mengeluarkan pedang dua jiwa yang ada di punggungnya. Sekaligus, dia juga ingin mencoba pedang tersebut yang pertama kalinya.


Dua lambang di sisi pedang kembali menyala saat dipegang Zeno. Zeno mencoba menebaskan pedang tersebut kepada pembunuh yang datang, dia hanya menebaskan pedangnya tanpa mengeluarkan teknik apapun.


Namun siapa sangka, Zeno sedikit terkejut melihat pedang tersebut mengeluarkan sebuah aliran air yang begitu deras, sehingga membuat beberapa pembunuh bayaran terlempar begitu jauh.


Dia memandangi sejenak pedang dua jiwanya itu, tidak begitu percaya, itulah yang dirasakan oleh Zeno. Zeno menebaskan pedangnya sekali lagi kearah pembunuh yang datang, tetapi ia kembali terkejut setelah hembusan angin keluar dari tebasan pedang.

__ADS_1


Lagi-lagi pembunuh tidak bisa menyentuh Zeno sama sekali, dia terlempar dengan sangat jauh, bahkan ada yang menabrak sebuah pohon sehingga membentuk bekas pada batang pohon tersebut.


“Aku sebenarnya sudah berpikir dua kali ketika mau membunuh pangeran Zeno. Tetapi itu demi uang yang menggiurkan.” Ucap salah satu pembunuh yang merasa sakit di tubuhnya.


“Sepertinya kalian tidak pantas untuk disebut sebagai pembunuh bayaran.” Ucap Zeno yang melihat seluruh pembunuh terkapar di atas tanah karena efek dari pedang dua jiwa itu.


“Jangan menyerah, apa kalian tidak ingin mendapatkan bayaran yang tinggi?” Kata salah satu pembunuh bayaran membangkitkan semangat rekannya.


Kesepuluh pembunuh bayaran berdiri dengan memegang sebuah belati. Kini mereka sudah siap sepenuhnya untuk berniat membunuh Zeno.


Zeno mengambil ancang-ancang, kini ia memegang pedang dua jiwanya dengan begitu erat. “Dingin.” Itulah yang ia ucapkan saat gagang pedang menyentuh kedua telapak tangannya.


“Angin berdebu.” Salah satu dari prajurit mengeluarkan tekniknya, tujuannya untuk menghilangkan jarak pandang Zeno agar dirinya mudah untuk diserang.


Zeno melihat sekeliling, pandangan yang ia lihat hanya sekumpulan debu berwarna coklat yang membuatnya tidak bisa melihat apa-apa. “Belati, angin berdebu.” Ucapnya sambil melihat sekeliling karena ia tahu apa yang direncanakan para pembunuh bayaran.


Zeno menghilangkan seluruh debu menggunakan anginnya, hingga jarak pandangnya bisa kembali dengan seutuhnya. Zeno menciptakan sebuah gelembung air untuk melindungi dirinya setelah ia memikirkan apa yang terjadi selanjutnya.


Zeno menghilangkan gelembung airnya, menjadikan seluruh belati terjatuh di atas tanah dengan begitu jelas.


“Aku bertanya kepada kalian, siapa yang menyuruh kalian untuk membunuhku?” Tanya Zeno dengan begitu dingin.


“Maaf pangeran, aku tidak bisa memberitahukannya.”


“Kalian tidak mau menjawab? Baiklah, aku akan memaksa kalian untuk membuka mulut.” Ucapnya sambil menebaskan pedang dua jiwanya.


Lagi-lagi sebuah hembusan angin keluar dari pedang Zeno. Beberapa orang mungkin berhasil menghindar, namun sisanya terkena dari dampak tersebut.


Zeno berkali-kali menebaskan pedang dua jiwanya itu, hembusan angin maupun aliran air keluar dan menyerang para pembunuh bayaran secara brutal, sehingga mereka tidak diberi kesempatan untuk melakukan pertahanan, ataupun menyerang balik.

__ADS_1


Namun sayangnya hembusan angin, maupun aliran air, keduanya keluar secara acak, sehingga Zeno tidak bisa menebak mana diantara keduanya yang akan keluar terlebih dahulu. Walaupun begitu, Zeno cukup senang karena saat ia menggunakan pedang ini, orkanya tidak terkuras sama sekali.


Seluruh pembunuh bayaran, mereka semua terbaring lemas di atas tanah berlumpur karena serangan Zeno yang begitu brutal.


“Aku bertanya sekali lagi, siapa yang menyuruh kalian?”


Semua orang terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Zeno, membuat Zeno begitu kesal dan mengangkat pedangnya. Satu persatu pembunuh Zeno bunuh menggunakan pedangnya dan hanya menyisakan satu orang saja.


“Sisa kau.”


Diantara pembunuh yang lain, pembunuh yang masih diberi hidup oleh Zeno tidak terbaring lemas. Ia hanya bersandar di sebuah pohon dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Saat ia dihampiri oleh Zeno, orang tersebut mengambil sebuah pil yang ada di sakunya. “Daripada aku memberitahumu, lebih baik aku bunuh diri.” Ucapnya sambil mengarahkan pil tersebut kearah mulutnya.


Tetapi Zeno dengan cepat melemparkan pedangnya ke arah pembunuh yang masih hidup itu, sehingga tangan yang seharusnya ia gunakan untuk memakan pil tersebut, kini tertancap pedang yang mengakibatkan tangannya putus.


Pembunuh tersebut berteriak kesakitan karena melihat lengannya yang bercucuran dengan darah menetes di atas lumpur, ia bahkan juga melihat tangannya yang terlepas dari lengannya.


“Tidak ada gunanya lagi, cepat beritahu aku.”


“Aku tidak akan menjawabnya pangeran, jika kau ingin membunuhku, maka bunuhlah aku.” Ujar pembunuh bayaran itu.


Zeno menaikkan ujung bibirnya, dia tidak akan semudah itu untuk membunuh orang yang ada di hadapannya tanpa memberikan jawaban yang Zeno inginkan.


Zeno kemudian mengarahkan pedangnya ke arah kaki pembunuh itu, bagai mengiris sebuah buah, Zeno memotong kaki pembunuh secara perlahan lahan sehingga menimbulkan rasa sakit yang begitu besar.


Salah satu pembunuh bayaran yang masih hidup, ia berteriak begitu kesakitan saat kaki kanannya dipotong dengan perlahan. “Baiklah, aku mengakui. Sebenarnya yang menyuruh kami adalah Zahjyen atau raja kota bulu merak.” pembunuh itu meringis kesakitan karena menahan rasa sakit yang ada pada kakinya.


“Sepertinya aku memang membuat kesalahan yang besar, mantan raja kota Zahjyen akan terus menerus membalas dendam jika tidak .” Ucap Zeno dengan wajah yang begitu masam, ia meninggalkan salah satu pembunuh bayaran yang masih hidup tetapi sudah tidak memiliki kaki lagi.

__ADS_1


 


__ADS_2