Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Pertarungan kaisar


__ADS_3

“Artruk...! lebih baik kau menyerah.” Kaisar Aurrora tertawa begitu keras setelah melihat sebuah pasukan yang dipimpin Artruk dengan seorang yang berada di sampingnya. Aurrora nampak begitu jelas bahwa pasukan yang dipimpin Artruk jauh lebih sedikit dari pasukannya, mungkin tidak sampai 100.000 pasukan.


“Serang...!” Kaisar Artruk berteriak dan menyuruh seluruh pasukannya untuk menyerang pasukan milik Aurrora yang sebentar lagi datang menuju pasukan mereka.


Dentuman pedang dan elemen alam memenuhi medan pertempuran yang baru saja terjadi. Bahkan pertempuran ini sangat mengerikan karena melibatkan rumah penduduk yang hancur. Bagaimana tidak, pertempuran ini berada di kawasan penduduk. Sehingga penduduk yang masih menetap di rumah mereka harus menutup gendang telinga mereka.


“Artruk. Kita berhadapan sebagai pemimpin. Rungdaf juga sudah mati sehingga tidak ada kemenangan yang pasti bagimu!”


Saat ini kaisar Aurrora dan kaisar Artruk berdiri berhadapan dan saling mengitari. Keduanya merupakan sosok pemimpin masing-masing emperor yang kekuatannya juga hebat di bawah mantan pengendali mereka yaitu Akram dan juga Rungdaf. Namun bagaimana jika pemimpin kedua negara saling berhadapan untuk bertarung? Yang pasti akibatnya bukanlah sebuah kerusakan kecil.


Kaisar Artruk menggertakkan giginya dan tidak begitu percaya dengan ucapan Aurrora, dia masih tersenyum percaya diri dan menganggap bahwa apa yang diucapkan oleh kaisar Aurrora hanyalah kebohongan belaka, agar dirinya menjadi takut dan menyerah.


“Mulutmu, lebih baik kau menjaganya, jika tidak, aku akan merobeknya.” Ancam Artruk.


Aurrora menciptakan sebuah tombak es yang kemudian dia lemparkan ke arah Artruk sebagai serangan pertama.


Artruk yang melihat tombak es yang melesat ke arahnya langsung menciptakan sebuah Ice wall atau dinding es, kemudian dia menonjolkan kepalanya di pinggir dinding dan menembakkan sejumlah kristal es yang keluar dari dinding.


Tidak mau kalah, Aurrora kembali menciptakan sebuah tombak es di tangannya, seluruh kristal es yang dilemparkan oleh Artruk dia halau menggunakan tombak es dengan mudah. Tetapi itu terlalu banyak, kata mudah sepertinya kurang tepat bahkan Aurrora kembali menciptakan sebuah tombak es di tangan kirinya yang kemudian ia lemparkan ke arah dinding es.

__ADS_1


Dinding es memang hancur, dan kristal juga sudah tidak muncul. Tetapi saat dinding es itu hancur, sosok Artruk sudah tidak ada lagi di balik dinding. Melihat hal itu, Aurrora memutar badan, namun Artruk tidak ada. Aurrora hanya bisa menggertakkan giginya, “Jika tidak ada di belakang, maka....”


Tiba-tiba kristal es muncul dari atas tanah tepat Aurrora berpijak, hal itu cukup membuat Aurrora mengangkat alisnya dan terkejut. Tidak perlu menunggu waktu lama lagi, Aurrora langsung melompat ke belakang karena tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Yaitu kristal es tersebut akan menembak ke atas.


Sayangnya Aurrora kurang beruntung, saat dia meloncat ke belakang, tubuhnya perlahan membeku dan tidak bisa bergerak dan menyisakan leher sampai kepalanya. Aurrora menoleh, dia memperhatikan bahwa itu merupakan ulah “Artruk.


Artruk menggerakkan kristal es yang tertembak ke atas ke arah Aurrora yang sedang membeku, sehingga hal itu membuat Artruk tertawa begitu keras karena kemenangan telah  ada di depan matanya.


“Sepertinya kau terlalu senang.” Kaisar Aurrora tersenyum sebelum mengeluarkan sebuah teknik, “Ice golem.”


Sosok Golem es muncul menghalau seluruh kristal es yang akan mengarah tepat ke Aurrora yang tidak bisa bergerak. Suara gemuruh terdengar dari Golem saat berbalik dan menendang dengan perlahan es yang mengunci Aurrora. Tidak berhenti, Aurrora menggerakkan golem es ke arah Artruk..


Artruk sedikit kesal, padahal dia merasa bahwa kemenangan ada di hadapannya, tetapi dia terlalu meremehkan Aurrora sehingga teknik yang dikeluarkannya bisa dilawan dengan mudah. Tetapi Artruk segera melupakan hal itu, apa yang paling penting adalah bagaimana melawan Golem es yang ukurannya jauh lebih besar dari dirinya.


Artruk melambaikan tangan dari atas ke bawah secara perlahan, hal itu memunculkan sosok naga es yang ukurannya mungkin sama besar dengan golem es yang dikeluarkan Aurrora. Tetapi perbedaanya sangat jauh, karena naga es mengandalkan sebuah kecepatan bukan kekuatan.


Melihat seekor naga es, Aurrorra menggerakkan golem es tersebut untuk menangkap naga menggunakan tangan besarnya, tapi naga terlalu gesit, bahkan saat ini Golem terlilit oleh tubuh naga dengan begitu erat, bahkan terlihat sangat jelas bahwa golem tersebut akan hancur berkeping-keping.


Mendapatkan kesempatan yang bagus, Aurrora melepaskan kendalinya dengan Golem sehingga golem tidak lagi bergerak, dia lebih memilih menciptakan sebuah tombak es di hadapannya yang kemudian melesat ke arah Artruk yang sibuk mengendalikan naga es nya.

__ADS_1


Artruk merasakan ada yang aneh, pasalnya, golem yang dililit oleh naga es nya tidak bergerak sama sekali. Seketika saat dia mengalihkan pandangannya ke arah Aurrora, wajahnya menjadi pucat seputih kertas karena di hadapannya sudah terdapat belasan tombak yang mengarah kepadanya.


Mengeluarkan Ice Wall, sepertinya itu tidak mungkin karena jarak yang terlalu dekat bahkan hanya sekilan sebelum tombak belasan tombak menancap ke seluruh tubuhnya.


Artruk terlempar akibat dorongan tombak es sambil memuntahkan seteguk darah, tubuhnya terbaring di atas tombak yang menembus di seluruh badannya. Di sela-sela kematian yang berujung tanduk, Artruk justru berteriak dengan wajah yang dipenuhi kemarahan, “Benar-benar sangat licik! Kau menyerangku di saat aku mengendalikan sebuah naga es?”


“Terkadang, untuk mengalahkan musuh juga diperlukan sebuah taktik yang licik untuk mencapai kemenangan. Sudah kukatakan,  lebih baik kau menyerah daripada harus tersiksa lagi.” Ucap Aurrora dengan nada dingin.


“Licik?” Artruk tertawa lirih sebelum melanjutkan ucapannya, “Kau benar, taktik yang licik juga diperlukan.”


Aurrora membuka matanya usai mendengar ucapan Artruk yang mencurigakam. Yang benar saja, Artruk yang terbaring di atas tombak yang menembus tubuhnya kini perlahan menjadi es yang mencair. Sepertinya Artruk benar-benar telah pandai mengelabuhi menggunakan kloningannya. Bahkan Naga es yang baru saja keluar tadi merupakan ciptaan kloningan Artruk dan bukan Artruk sesungguhnya.


“Sialan, kau memang benar-benar licik!” Umpat Aurrora.


“Bukankah kau yang mengatakan bahwa taktik licik juga harus diperlukan?”


Aurrora menoleh ke belakang saat mendengar ada suara seseorang di belakangnya, namun itu bukan Artruk, melainkan orang lain yang sepertinya bawahan Artruk yang kini melompat dan bersiap mengayunkan pedangnya ke arah leher Aurrora.


“Daris, aku berterimakasih kepadamu, tetapi ini terlalu cepat.”

__ADS_1


Aurrora kembali menoleh ke depan dan mendapati bahwa Artrik kembali berada di hadapannya. Wajahnya tidak biasa, mungkin terisi sebuah kepanikan yang mendalam, bahkan saat kedua serangan itu belum didaratkan, tubuhnya bergetar. Saat ini dia akan menerima dua serangan sekaligus dari kedua sisi yang benar-benar sangat merepotkan. Sialnya lagi, dia juga mengalami kesulitan saat bergerak karena dari ujung kaki sampai pinggulnya perlahan-lahan membeku.


“Slasssshh...!”


__ADS_2