Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Penyihir badai vs Penguasa angin (2)


__ADS_3

“Hey tuan, bukankah julukan si penguasa angin di tunjukkan kepada Byak... Maksudku Kiba? Mengapa anda menggunakannya?” Ledek Skarlos dengan tawa lirihnya.


“Sepertinya kau sudah berani denganku karena sikap jengkelmu itu kepadaku yang selalu menggunakan Kiba?” Zeno tertawa sebelum melanjutkan ucapannya kembali, “Lagi pula aku ingin sekali-kali bergaya di depan musuh. Dan juga menguasai angin buatan memang keahlian Kiba, dan aku saat ini sudah dapat menggunakan keahlian-Nya.”


“Tetapi sabar, aku akan membuat wanita tua itu mengeluarkan beastnya. Dengan begitu, aku akan mengizinkanmu untuk keluar.” Sambungnya.


“Baiklah.” Ucap Skarlos dengan sedikit kecewa.


Tidak mau kalah, Rungdaf memutarkan sebuah tongkatnya berkali-hali. Hal tersebut tidak cukup satu tornado yang keluar, melainkan lima tornado terbentuk dan bergerak ke arah Zeno.


Zeno hanya menghela napas dan melihat tingkah bodoh Rungdaf, dia kemudian kembali mengulurkan  tangannya yang mana telapak tangannya perlahan menutup. Hal tersebut membuat lima tornado di hadapannya menghilang. Namun Zeno terkejut dan menggertakkan giginya, bagaimana tidak, saat lima tornado itu hilang, Rungdaf sudah tidak berada di tempatnya.


Zeno langsung berhati-hati, kemungkinan Rungdaf menghilang seperti ini bukan karena kabur, melainkan sudah melesat dan bergerak ke belakangnya.


Seperti apa yang dia pikirkan, ternyata memang benar bahwa Rundaf memang sudah berada di belakang Zeno dengan memukulkan sebuah tongkat tepat di leher Zeno. Zeno yang sudah menyadari dan menebak tentunya tidak terlalu panik. Melihat tongkat yang akan terkena lehernya, Zeno langsung menangkap ujung tongkat tersebut. Tidak hanya itu saja, Zeno juga langsung berbalik badan dan mendengkul perut Rungdaf.


“Tunggu, apa?” Zeno membuka matanya saat melihat bahwa saat dia mendengkul perut Rungdaf, Rungdaf langsung menghilang menjadi serpihan angin yang hilang. “Jika ini kloningan maka....”


Zeno melihat ke atas saat merasakan ada yang janggal, benar, Rungdaf yang asli sudah terjun ke arah Zeno dengan dua tangan yang memiliki pusaran tornado yang berputar berlawanan. Melihat hal tersebut, Zeno masih tetap tenang, dia mendorong tongkat yang ia dapatkan dari kloningan Rungdaf menuju Rundaf itu sendiri.


Bersamaan dengan tongkat yang dia lempar menggunakan tangan kiri, Zeno langsung menebaskan Ice Sword ke arah Rungdaf dengan mengeluarkan sebuah teknik tebasan tak terlihat.

__ADS_1


“Cih, sialan.” Rungdaf bergumam dengan kesal, dia langsung menghentikan pusaran tornado di tangannya dan langsung mengambil tongkat yang sebelumnya dia pegang oleh kloningannya. Rungdaf yang menyadari bahwa Zeno yang menebaskan sesuatu, dia langsung memutar tongkatnya dengan cepat. Tongkat yang diputar tersebut membuat sebuah perlindungan, sehingga tebasan tak terlihat milik Zeno berhasil dipatahkan.


Zeno langsung melompat ke belakang karena tahu bahwa Rundaf saat ini akan jatuh ke arahnya dengan tongkat yang berhenti ia putar dan dijulurkan ke depan.


Tepat Rungdaf mendarat di tanah, Zeno mengulurkan tangannya ke depan, “Air: kurungan penjara.”


Seketika tepat Rungdaf memijak, terdapat sebuah aliran air yang keluar deras ke atas. Seperti biasa, teknik tersebut membuat lawan terjebak di dalam aliran dan tidak bisa keluar. “Membeku!” Zeno mengepalkan uluran tangannya.


“Pusaran tornado!”


Sebelum aliran air yang mengurung Rungdaf membeku, Rungdaf memunculkan sebuah tornado yang membuat tanah yang mengeluarkan sebuah aliran tersebut hancur dan berhenti mengeluarkan sebuah aliran.


“Tarian naga, tahap ketiga.” Zeno langsung menebaskan Ice Sword, tebasan tersebut mengeluarkan naga yang menari dengan lihai dan menghindari seluruh serangan Rungdaf.


“Sialan, bagaimana mungkin dia memilik tiga elemen sekaligus?” Rungdaf menoleh ke belakang dan melihat bahwa naga air semakin mendekat kepadanya.


Namun kesialan benar-benar menghampiri Rungdaf. Bagaimana tidak, saat ia kembali menghadap ke depan, Zeno sudah berada jauh di depannya dengan bergerak secepat kilat ke arah diri Rungdaf.


Rungdaf langsung berhenti berlari, perlahan sebuah angin berputar mengitari dirinya yang membentuk sebuah pusaran angin yang dapat menghancurkan naga air yang telah mendekat.


Zeno benar-benar tidak takut, dia masih bergerak secepat kilat dan menembus pusaran angin yang melindungi diri Rungdaf dengan menebaskan Ice Sword. Sayangnya itu tidak berhasil, saat Zeno menembus pusaran angin dan menebaskan Ice Sword, Rungdaf sudah tidak ada di tempat.

__ADS_1


“Menghilang? atau itu tadi memang sebuah kloningan?” Zeno menggertakkan giginya.


“Belakang, kiri kanan?” Zeno semakin meningkatkan kewaspadaan, kemungkinan Rungdaf masih menggunakan cara tadi untuk mengelabuhi Zeno.


Lima menit telah berlalu, dan Zeno masih tidak melangkahkan kakinya bergerak serta masih meningkatkan sebuah kewaspadaan. Namun, Rungdaf masih tidak kunjung datang untuk menyerang Zeno kembali.


Zeno sedikit yakin bahwa Rungdaf memang telah kabur dari perlawanan Zeno. Tetapi, Zeno masih memasang wajah waspada serta menggenggam erat Ice Sword. Bagaimanapun, dia tidak tahu, apakah saat dia bergerak, Rungdaf telah bersiap dan menyerangnya dari sisi manapun. Atau mungkin memang Rungdaf menunggu agar Zeno merasa yakin sudah tidak ada perlawanan, sehingga saat ia lengah, Rungdaf langsung bergerak untuk menyerang Zeno kembali.


“Sepertinya kau memang benar-benar pengecut, Rungdaf!” Zeno sudah benar-benar bosan menunggu Rungdaf yang sama sekali belum menampakkan diri. Hal tersebut membuat Zeno semakin kesal.


Mau tidak mau, dirinya harus bergerak agar Rungdaf menampakkan diri. Jika saat dirinya sudah bergerak namun Rungdaf tidak datang menyerang, maka bisa dipastikan bahwa Rungdaf memang benar-benar menjadi pengecut dan kabur.


Zeno menghela napas, saat ini dia telah membulatkan tekad untuk bergerak menuju pasukan yang sedang bertarung. Saat ini juga, Zeno telah yakin, bahwa pasukan kavaleri yang ia miliki mungkin sudah menang melawan para pasukan penyihir. Walaupun dia tidak yakin bahwa pasukannya masih utuh, karena dia tidak bisa meremehkan pasukan penyihir meskipun jarak dekat sekalipun.


Zemo sudah berjalan dengan santai, dia sudah yakin bahwa Rungdaf memang benar-benar telah kabur, namun dia tetap untuk menjaga kewaspadaannya.


“Cih, sudah kuduga.” Saat melangkahkan satu kakinya, Zeno merasakan ada yang aneh dari bawah tanah, pasalnya dia merasakan sebuah getaran yang tidak biasa tepat di bawah kakinya.


“Kau pikir aku lengah?” Zeno berbalik badan dan melihat bahwa Rungdaf telah di belakangnya dengan kedua tangan yang mengeluarkan pusaran secara berlawanan. Tapi ada yang aneh, dimana tongkat Rungdaf? Itulah yang menjadi sebuah pertanyaan bagi Zeno.


Rungdaf hanya bisa tersenyum manis saat Zeno bisa terpojokkan, masalah tongkat, Rungdaf menoleh ke atas dan memperhatikan bahwa tongkatnya akan melesat kekepala Zeno. Mengenai getaran tadi, sebuah tornado akan muncul di bawah kaki Zeno. Hal itu akan membuat Rungdaf tidak bisa bergerak dan hidupnya akan benar-benar berakhir.

__ADS_1


“Tamatlah riwayatmu!” Rungdaf berteriak tepat di hadapan Zeno.


__ADS_2