
Saat Zeno masih termenung seolah dia menatap kosong jasad ibunya yang sudah tidak bernyawa di atas sebuah ranjang. Tiba-tiba dia berpindah tempat di sebuah ruangan yang begitu terang. Namun, ruangan tersebut seolah tidak ada batasan sama sekali dari segala sisi yang membuat Zeno melayang.
Dia masih terdiam dan menarik napas dengan begitu sesak, dia sudah tidak berpikiran kali ini dia berada di mana. Di sisi lain, ada lima orang yang berdiri sejajar di samping Zeno dengan menatap aneh Zeno.
Lima orang tersebut di antaranya adalah tiga pria yang masing-masing memakai sebuah jubah berwarna biru, putih dan juga oranye, kemudian di antara mereka ada dua wanita yang memakai sebuah gaun yang berwarna coklat dan juga emas bercahaya yang membuat wanita tersebut tampak begitu anggun.
“Ini anak dewi Luna?” Kata seorang wanita bergaun coklat berbisik dengan begitu lirih kepada seorang pria yang berjubah biru.
“Jangan terlalu keras Ert, kau tidak berhak untuk mengatakan seperti itu.” Kata seorang pria tampan berambut biru disertai dengan jubah biru di badannya.
“Kenapa dia tampak begitu sedih?” Kali ini seorang pria berjubah putih berkata dengan begitu keras, sehingga Zeno mendengarnya. Namun, Zeno tampak terdiam seribu bahasa seolah tidak memedulikan apa yang orang-orang di sampingnya katakan.
Pria berjubah oranye memutar bola matanya sambil angkat suara, “Masalah percintaan, aku yakin seribu persen bahwa remaja seperti dia menangis karena percintaan. Seperti ditinggal kekasihnya. Entahlah, aku benar-benar muak dengan remaja yang terlalu gampang menangis hanya karena seperti itu.”
“Kau jangan berburuk sangka terlebih dahulu Eghtning. Elemen cahayanya bangkit disebabkan karena ditinggal mati oleh orang paling dekat seperti ibunya.” Ujar wanita bergaun emas.
__ADS_1
“Cih, lemah sekali dan terlalu berlebihan. Hanya karena ditinggal mati orang ter ....” Tiba-tiba ucapan Winder yang merupakan seorang yang memakai jubah putih terhenti. Pasalnya dengan begitu cepat, Zeno mengulurkan tanganya dan menembakkan sebuah ledakan cahaya yang begitu besar kepadanya.
Leght, sang wanita yang memakai gaun emas juga mengulurkan tangannya tanpa mengeluarkan elemen apapun. Namun, elemen cahaya yang dikeluarkan oleh Zeno seketika tunduk dan menghilang setelah Leght menyapu tangannya ke atas.
Hal tersebut membuat Zeno terkejut, masalahnya elemen cahaya yang dia keluarkan itu tadi bisa dihilangkan dengan begitu mudah seolah wanita yang mengenakan gaun berwarna emas bercahaya bisa mengendalikan elemen tersebut sesuka hati. Zeno langsung menghadap ke arah mereka tanpa menghilangkan mata memerah akibat kesedihan yang terus berlarut. Selain itu, dia mencoba untuk tetap tenang saat berhadapan dengan lima orang yang berpenampilan beda seolah mereka menunjukkan elemen masing-masing.
“Zeno, namamu adalah Zeno bukan?” Leght yang barusan menyapu bersih elemen cahaya milik Zeno justru tersenyum dan berkata dengan begitu ramah. “Selamat, kau berhasil membangkitkan semua elemen yang diberikan oleh dewi Luna. Kami sebagai pilar elemen dewi Luna benar-benar berbangga kepadamu.” Leght bertepuk tangan dengan diikuti oleh wanita bergaun coklat yaitu Ert dan juga Watur yang mengenakan jubah biru. Sedangkan, Winder, dan Eghtning, mereka hanya bersedekap sambil menatap sinis Zeno.
“Winder, Eghtning sebaiknya kalian juga ikut bertepuk tangan.” Protes Ert yang menatap sinis mereka berdua.
Tanpa menanggapi ucapan Ert, Winder melangkahkan kakinya ke depan dan mendekat ke arah Zeno. “Hey nak. Perkenalkan, aku adalah Winder, pilar angin dewi Luna, sang penguasa angin, jadi jangan berpikir untuk menyerangku untuk menggunakan elemen angin.”
“Tidak semudah itu! Kau harus menghadapi kami sebagai sebuah ujian.” Sahut Ert sambil tersenyum manis.
“Sekarang juga?” Napas Zeno terengah-engah, dia benar-benar tidak habis pikir dengan lima orang yang membawa ke sini. Pasalnya, dia baru saja bersedih yang membuat pikirannya tidak tenang. “Setidaknya biarkan aku untuk menenangkan diri, aku baru saja kehilangan ibuku. Dan salah satu kalian menganggapku lemah hanya karena menangisi hal tersebut?” Zeno berkata dengan nada yang begitu tinggi, kemudian dengan begitu cepat, dia memutar badannya 360 derajat dan menendang Winder dengan begitu keras. Masalahnya, dia tidak bisa melupakan apa yang Winder katakan.
__ADS_1
Memang, Winder terlempar, namun dirinya bisa menyesuaikan diri untuk melayang. Seketika wajahnya begitu marah saat Zeno menyerangnya begitu tiba-tiba. Dia langsung memunculkan sebuah tornado sebagai kendaraannya tiba-tiba melesat ke arah Zeno untuk melakukan sebuah serangan balasan.
“Sial, yang benar saja. Padahal aku ingin berbincang lebih banyak lagi. Namun Winder sudah memulai ujian begitu saja.” Watur menghela napas dengan begitu malas, begitupun untuk bergerak melawan Zeno. Namun, dia akan tetap berniat untuk melawan apabila Winder bergerak lebih jauh lagi.
“Penguasa angin ya, jika memang begitu aku akan menyerangnya tanpa menggunakan angin.” Zeno menciptakan sebuah pedang petir karena tidak ada Ice Sword di selongsongnya. Kemudian dengan begitu cepat, dia menebaskan pedang yang terbuat dari elemen petir itu dengan begitu cepat.
Setitik lagi mungkin akan mengenai Winder, namun sayangnya Eghtning sang penguasa petir bergerak di samping Zeno dengan gerakan kilat. Kemudian dengan begitu mudah, dirinya langsung menangkap pedang tersebut tanpa tersambar sedikitpun.
Zeno terkejut, pedang petirnya hilang seketika saat ditangkap Eghtning dengan begitu mudah. Bersamaan dengan itu, Winder sudah ada di hadapan Zeno yang mana di kedua tangannya terdapat pusaran angin seperti tornado yang berputar secara berlawanan. Sehingga musuh yang ada di pusaran tornado tersebut akan terkoyak habis.
Untungnya, Zeno meloncat ke belakang dengan begitu cepat, selain itu dia langsung menyapukan tangannya, sehingga bongkahan tanah muncul dan mencengkam Eghting dan Winder sehingga mereka tidak bisa untuk bergerak.
“Sial.” Zeno berdecak dengan begitu kesal, “Apakah tidak ada waktu yang pas untuk melawanku?” Zeno berkata dengan sangat tinggi, sepertinya dia benar-benar belum bisa meredakan emosi karena ibunya.
Selain itu, dia menjadi lebih tahu, bahwa pria berjubah oren itu sang penguasa petir, sehingga dia tidak bisa menyerangnya menggunakan petir. Tidak, Zeno sekarang menyadari, bahwa kelima orang tersebut memakai pakaian yang berbeda warna karena mereka adalah penguasa masing-masing elemen. Sehingga, dia berpikiran, bahwa menyerang mereka dengan menggunakan elemen adalah perkara yang begitu sulit, karena kali ini dirinya berhadapan dengan seorang penguasa.
__ADS_1
Benar seperti apa yang Zeno pikirkan, tanah yang membuat Winder dan Eghtning tidak bisa bergerak seketika hilang saat Ert menyentuhnya. Kali ini dia mengerti bahwa Ert wanita bergaun coklat merupakan sang penguasa elemen tanah. Disisi lain, dia menjadi kebingungan saat wanita bergaun emas itu hilang dari pandangannya, akan tetapi, dirinya langsung menoleh ke belakang karena merasa ada seseorang di belakangnya.
“Hey Zeno, apa kau pernah ditendang menggunakan kecepatan cahaya?”