
Keesokan harinya, di sebuah ruang pertemuan kekaisaran.
“Aku meminta keadilan yang mulia, cucu anda yaitu pangeran Fang Zeno telah membunuh anak saya tanpa sebab.” Kata raja kota bulu merak dengan berjongkok di hadapan Hanzi Ares dengan wajah memohon.
Kaisar Hanzi mengerutkan dahinya. “Bukannya pembunuh anakmu bernama Zen? Kenapa kau melemparkan kesalahan tersebut kepada Fang Zeno?” Katanya dengan suara yang begitu tinggi. Dia hampir marah saat mendengar raja kota itu malah menyalahkan Zeno.
“Sepertinya anda sebelumnya sudah mengetahui berita itu, tapi hamba meminta maaf, bahwa bawahan saya sendiri yang mengatakan bahwa Zen itu Pangeran Zeno.” Balas raja kota.
“Segera panggilkan Fang Zeno menuju ruang pertemuan.” Perintah kaisar Hanzi kepada bawahan yang ada di sampingnya.
“Baik yang mulia.”
*****
Pagi hari dengan begitu dingin, Zeno sedari tadi telah terbangun, kali ini dia sedang mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan perjalanan menuju negara petir. Dua pedang, yaitu pedang dua jiwa, dan juga katana yang diberikan oleh Fang Yoshi dulu kala, masing-masing telah dimasukkan ke dalam selongsong.
Dua pedang, ia taruh di belakang punggung dengan keadaan menyilang. Dengan selongsong sebagai wadahnya, membuat Zeno begitu keren, bahkan Lyana yang sedang membantu Zeno juga merasa takjub.
“Padahal aku berharap, kau bisa tinggal lebih lama lagi disini.” Kata Lyana.
“Memangnya kenapa?” Tanya Zeno penasaran.
“Aku tidak memiliki teman disini, maksudku teman yang masih saudara dekat seperti dalam keluarga inti. Di keluarga inti, aku merupakan anak tunggal. Berbeda dengan kau, kau memiliki dua saudara yaitu Tan dan juga Yuna.” Ucap Lyana dengan wajah yang begitu cemberut.
“Apa kau mau ikut?” Zeno menawarkan.
“Benarkah?” Lyana yang sebelumnya memasang wajah yang begitu buruk, kini begitu senang saat Zeno mengajaknya. Lagipula, dia tidak terlalu betah ketika terus-menerus berada di lingkungan kerajaan.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya bercanda. Itu sangat berbahaya, karena jika kau ikut, aku tidak bisa menjagamu sepenuhnya.” Kata Zeno dengan menggaruk kepalanya sendiri.
Lyana begitu kesal, dia kembali memasang wajah yang begitu buruk dengan kerutan di dahinya, lantas dia berbalik dan pergi melangkah meninggalkan Zeno.
Sesekali dia menoleh kebelakang kearah Zeno dengan tatapan yang begitu mengerikan, sehingga membuat Zeno hanya menggelengkan kepalanya.
Tetapi, saat dia akan keluar dari pintu, tiba-tiba terdapat satu prajurit yang ingin memasuki kamar Zeno juga, membuat Lyana langsung menghentikan langkahnya untuk segera keluar, karena dia ingin tahu apa maksud dari prajurit tersebut.
“Salam hormat, maafkan hamba putri Lyana.” Ucap prajurit itu dengan menundukkan wajahnya.
“Salam hormat pangeran Zeno, maafkan hamba apabila mengganggu. Anda diperintahkan kaisar untuk menghadap kepada beliau.” Sambungnya dengan menundukkan kepalanya di hadapan Zeno.
“Memangnya ada apa prajurit?” Zeno mengerutkan dahinya.
“Hamba juga tidak mengerti, tetapi sepertinya ini ada hubungannya dengan raja kota Bulu Merak.” Jawab prajurit tersebut.
“Raja kota Bulu Merak?” Batin Zeno. “Apakah si raja sialan itu tidak menerima bahwa anaknya mati?” Sambungnya dengan melangkahkan kakinya keluar.
“Kakek, ada apa kau memanggilku?” Ucapnya saat masuk kedalam ruang pertemuan, tetapi pandangannya hanya terfokus pada salah satu orang yang ada dihadapan kakeknya.
Tatapan penuh kebencian, dan rasa balas dendam jelas terlihat dari mata raja kota yang tertuju kepada Zeno, membuat Zeno sedikit menaikkan ujung bibirnya karena ia baru menyadari bahwa orang yang ditatapnya adalah raja kota.
“Apa benar kau membunuh anak raja kota ini?” Tanya kaisar Hanzi.
Zeno kembali menoleh kearah raja kota, seraya berkata, “Jadi raja kota memfitnahku. Atas bukti apa kalau anda menuduhku melakukan itu?”
Raja kota diam sejenak, tetapi dia tidak terlalu bodoh untuk merencanakan sebuah rencana untuk menjadikan Zeno sebagai kambing hitam. Dia lantas memanggil bawahan anaknya yang telah menjadi saksi secara langsung bahwa anak raja kota telah dibunuh secara sengaja.
__ADS_1
“Salam hormat, kaisar Hanzi.”
“Salam hormat, pangeran Fang Zeno.”
Bukannya panik, Zeno justru tersenyum lebar ketika bawahan anak raja kota malah ikut campur dalam permasalahan ini. Karena saat Zeno disalahkan dengan bukti yang cukup kuat, Zeno bisa melemparkan kesalahan tersebut kepada bawahan, karena pedang yang digunakan untuk membunuh bawahan anak raja kota tersebut adalah pedang bawahan itu sendiri.
“Memang, saya sebagai saksi melihat sendiri bahwa pangeran Zeno yang telah membunuh anak raja kota tanpa sebab.” Kata bawahan tersebut.
Sebelumnya, raja kota telah memaksa bawahan anaknya untuk menutupi fakta yang sebenarnya. Atau dia akan diberikan sebuah ancaman yaitu keluarganya tidak akan selamat, jadi sang bawahan tersebut terpaksa harus menutupi kebenaran.
“Paman, apakah pedangmu masih berlumuran darah? Bukankah anak raja kota itu terbunuh karena pedangmu? Aku telah menjadi saksi itu sendiri. Bahkan, putri Lyana juga mengetahui bahwa pedangmu itu terdapat bercak darah?” Kata Zeno yang masih tersenyum licik.
“Apakah itu berarti bawahanmu sendiri yang telah membunuh anakmu wahai raja kota?” Tanya Kaisar Hanzi.
Sang raja kota tidak bisa menjawab, dia hanya menoleh ke arah bawahanya yang begitu pucat, keningnya dipenuhi keringat serta jantungnya berdebar begitu kencang.
“Tetapi aku melihat sendiri wahai pangeran, bahwa kau yang menarik pedangku dan membunuh anak raja kota, aku yang menyaksikannya.” Ucap bawahan anak raja kota dengan terbata-bata.
“Bukankah itu suatu kebohongan jika yang bersaksi itu merupakan tersangka itu sendiri. Misalnya saja aku, aku menyatakan bahwa aku bersaksi bahwa pedangmu berlumuran darah, namun hal tersebut diperkuat dengan kesaksian putri Lyana yang melihat sendiri bahwa pedangmu juga terdapat bercak darah. Apakah itu bisa disebut kebohongan?” Kata Zeno dengan begitu tegas.
Bawahan anak raja kota tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia telah terjebak oleh keputusan raja kotanya untuk menyalahkan Fang Zeno. Namun siapa sangka, sang bawahan kini justru telah menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan anak raja kota.
Tetapi dia tidak begitu terima saat dirinya telah menjadi kambing hitam, tetapi disisi lain, saat ia mengatakan bahwa fakta yang sebenarnya, yaitu Fang Zeno membunuh anak raja kota dengan sebab, keluarganya tidak aman disana. Jadi bawahan tersebut telah mengalami kejadian yang begitu sulit dalam hidupnya.
“Tidak, maafkan aku pangeran, aku telah berbohong. Memang benar bahwa anda sendiri yang telah membunuh anak raja kota, tetapi itu ada sebabnya dan tidak seperti yang hamba katakan. Anak raja kota telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan hal yang buruk kepada pangeran Fang Zeno, anak raja kota bahkan telah mengatakan yang tidak-tidak kepada ibu pangeran sehingga pangeran sendiri tidak segan untuk membunuhnya.” Ucap bawahan tersebut dengan menangis tersedu-sedu.
__ADS_1