
Di sebuah pasukan milik Nuvoleon, mereka semua tampak tidak melakukan apa-apa, duduk, membangun tenda sambil menunggu sesuatu seperti perintah. Selain itu, mereka juga menunggu kedatangan pasukan tuan sepuluh yang katanya akan memutari gunung dan naik dari jalur utara untuk menyerang pasukan. Tapi .... mana? Mereka semua merasa seperti dibodohi oleh jenderal Tamichi. Bahkan, mereka sama sekali belum mencurigai bahwa pasukan mereka sebenarnya diberi sebuah berita palsu.
Ini juga sudah siang, hampir satu hari penuh mereka sudah menunggu begitu lama.
“Begini saja, salah satu dari kita kembali untuk menghadap kepada kaisar untuk membawakan jenderal baru untuk memimpin pasukan. Katakan saja bahwa jenderal Tamichi sedang memimpin separuh pasukan untuk mengamankan Apiluc bagian dalam, sedangkan kita bagian luar.” Kata salah satu dari mereka.
Mereka yang mendengar apa yang dikatakan rekannya mengangguk, apa yang dikatakan memang benar, jika mereka diam di sini dan tidak bergerak sama sekali, maka itu benar-benar membosankan. Apalagi mereka diberi tugas yang tidak begitu jelas.
“Tunggu sebentar!” Teriak seseorang dengan pakaian prajurit kekaisaran yang menghampiri barisan pasukan milik kekaisaran Nuvoleon. Pakaian tersebut terlihat sangat lusuh seperti habis melakukan pertarungan yang besar.
“Kita suda menang, sekitar 1500 pasukan milik Nuvoleon sudah mengamankan gunung Apiluc. Bisa dipastikan tidak ada pasukan tuan Sepuluh yang kembali mendekat, karena mereka sudah dibsersihkan habis.” Orang yang baru datang itu menjelaskan.
“Benarkah?” Prajurit lain memastikan.
“Yaa, pasukan tuan Sepuluh yang seharusnya lewat jalur utara untuk menyerang dari belakang, mereka berubah pikiran saat mata-mata mereka mengatakan ada sekitar ribuan pasukan yang berjaga di jalur utara. Untung saja, perubahan rencana tuan Sepuluh tidak berhasil, sehingga itu benar-benar membuat kami menang.” Utusan Dareen menjelaskan dengan penuh tipu daya, mencoba untuk merangkai kata-kata sebaik mungkin agar para pasukan yang ada di depannya percaya begitu saja.
Tapi tiba-tiba gerakan begitu kilat menyambar utusan Dareen dengan begitu cepat, bahkan para prajurit melihat sebuah petir yang beriringan dengan kilatan tersebut. Para prajurit yang melihatnya langsung mundur karena mereka tidak tahu, tadi itu apa? Namun, mereka langsung mengangkat pedangnya, karena apa yang diatakutkan ternyata itu adalah musuh yang tiba-tiba menyerang.
__ADS_1
“Informasi palsu.”
Sosok pria dewasa dengan perawakan yang tidak begitu asing di mata para pasukan saat ini tengah berdiri di samping sebuah mayat yang tidak lain merupakan utusan Dareen atau tuan Sepuluh. Mayat, yaah dia sudah mati dalam sekali serangan, bagaimana tidak, kepalanya pecah mengeluarkan isinya. Mungkin itu karena serangan pria dewasa itu.
“Jenderal Tamichi?” Kata mereka seolah tidak percaya.
Jenderal Tamichi, lebih tepatnya dia adalah klon Tamichi yang dibuat oleh Zeno. Dia berbalik badan dan memandang para pasukannya dengan begitu dingin.
Klon Tamichi menghela napas, setidaknya tidak ada dari pasukannya yang mengerutkan dahinya seolah mencurigai sosok dirinya. Mungkin karena klon ini benar-benar sempurna dan tidak ada bedanya dengan Tamichi
“Dia adalah pasukan tuan Sepuluh yang sedang menyamar. Tapi tenang saja, kita sudah hampir menang, tapi ada beberapa pasukan di pihak lain yang sudah berada di puncak, dan kita akan menyerang mereka untuk melindungi bunga teratai emas.” Klon Tamichi menjelaskan.
Spontan, Tamichi menjawab, “Iya, berita itu tidak berbohong. Aku yang menyuruh salah satu prajurit yang tidak sengaja berada di sana untuk mengabari kalian.”
Pasukan menghela napas, setidaknya informasi pertama itu tidak palsu sehingga mereka sedikit lega. Tapi apa yang mereka sesali adalah percaya dengan informasi yang baru itu tadi. Untung saja, Tamichi datang lebih awal dan mengatakan informasi. Walaupun mereka tidak tahu yang sebenarnya.
“Lantas, pihak siapa yang sudah berada di puncak?” Tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
Klon Tamichi menggelengkan kepala sambil menjawab, “Aku tidak tahu persis pihak siapa yang berada di puncak. Bukan dari pihak tuan Sepuluh, tapi jelas ini merupakan pihak lain.”
“Terima kasih tuan Sepuluh, jika bukan karenamu, aku juga tidak dapat menjalankan rencanaku.” Klon tamichi membatin sambil tersenyum, tapi tidak terlalu lebar sehingga akan dianggap aneh oleh pasukannya.
“Baiklah, kita akan segera berangkat dari jalur barat. Karena jika kita melalui jalur utara, maka akan ada lautan mayat karena peperangan.”
Seluruh pasukan mengangguk, hingga akhirnya mereka berangkat dan menuruti apa yang dikataan oleh jenderal tamichi, yaitu melalui jalur barat. Sehingga, mereka pastinya akan memutari seperempat gunung terlebih dahulu.
Ada alasan lain mengapa kloningan Jenderal Tamichi tidak membawa pasukannya di jalur utara, karena itu pasti akan sangat berbahaya. Bertemu dengan tuan sepuluh bukanla sesuatu yang snagat bagus dan akan melenceng dari siasat Zeno. Maka dari itu, Jenderal tamichi membawa mereka dari jalur barat.
“Berhasil.” Zeno berkata dengan lirih sambil tersenyum lebar, merasakan bahwa klon Tamichi yang dirinya buat bisa melakukan tugasnya tanpa ada kecurigaan dari para pasukan. Tapi ini baru langkah pertama, dia tidak tahu kedepannya nanti.
Turse yang mendengarnya juga sedikit lega, setidaknya awal pertama bisa berjalan dengan begitu lancar tanpa ada kendala apapun. Sehingga kali ini, dia bisa sedikit lebih bersantai, karena segala sesuatu sudah di urus oleh klon Tamichi yang dibuat oleh Zeno.
Yaah bersantai, Zeno dan turse sedang duduk di pinggir sungai dengan air terjun yang tampak begitu indah. Memang, bertekad untuk melakukan sesuatu memang diperbolehkan, tapi dia juga sadar ada masanya untuk bersantai terlebih dahulu untuk menenangkan pikirannya.
Beruntung sebelumnya dia tadi menemukan sebuah air terjun di tengah-tengah rimbunnya pohon. Dengan suara air yang terjun membuata suasana tampak begitu mengenakkan bagi Zeno. jarang-jarang dia berkunjung di air terjun. Apalagi turse, baru kali ini dia melihat air terjun. Bagaimana tidak? Pegunungan di benua Artrik tidak ada air terjun sama sekali, mungkin jika ada, pasti itu akan membeku karena dinginnya suhu.
__ADS_1
Zeno memasukkan tangannya ke dalam sungai, merasakan aliran sungai yang mengalir dengan deras. Terasa begitu sejuk, bahkan Zeno ingin sekali melompat ke sungai tersebut. Setidaknya, dia ingin melepaskan penat dan membersihkan dari keringat yang sudah mengering. Wajar, sudah beberapa hari dia belum mandi sama sekali.
Sayangnya, dia cukup malu apabila dilihat wanita seperti Turse. Mungkin jika dia sendirian, maka tanpa berpikir panjang, melepas pakaiannya dan langsung melompat ke arah sungai tersebut. Sehingga dia memilih mengurungkan niatnya.