
“Cukup mudah, bahkan aku belum bergeser sedikitpun dari tempat dudukku. Namun, bagaimana jika aku bergerak sekarang juga?” tuan Sepuluh memutar sendi di lehernya, menghasilkan bunyi yang cukup realistis. Kemudian dia berdiri sambil mengangkat pedang yang ada di selongsongnya.
Selain itu, lima orang yang sebelumnya melawan tuan sepuluh kini harus terbaring tidak berdaya dengan tubuh hampir hangus seperti dibakar api. Begitu mengerikan, bahkan Zeno yang melihatnya mengakui bahwa sosok tuan sepuluh tidak bisa diremehkan, walaupun pada dasarnya Zeno tidak pernah meremehkan musuhnya sekalipun.
“Cahaya: teknik pedang tenaga.”
Seketika pedang yang digenggam tuan sepuluh bersinar begitu terang, bahkan saking terangnya, Zeno yang melihat harus menyipitkan matanya. Padahal, bisa dibilang jarak mereka cukup jauh, antara atas tebing dan bawah tebing yang menjadi medan perang.
Tuan sepuluh bergerak secepat cahaya, menghasilkan kilatan cahaya yang berputar di tengah-tengah kedua pihak pasukan yang tengah bertarung. Tuan sepuluh, dia berhasil membunuh puluhan pasukan dalam sekali pergerakan, hanya mengandalkan kecepatan kilat serta pedang tenaga yang menyala berwarna emas begitu menyilaukan mata.
Sisi buruknya, tuan sepuluh benar-benar bergerak sesuka hati, tidak peduli saat dia menebaskan pedangnya, seseorang yang ada di hadapannya berasal dari pihak dirinya atau bukan? Tidak heran, dalam sekali serangan, tidak hanya pasukan dari Nuvoleon yang bergelempangan dengan tubuh terpisah, melainkan juga berasal dari pihak kriminal yang terbunuh oleh tuan sepuluh dengan begitu tragis.
Tidak peduli bahwa lautan peperangan itu ada seseorang yang berasal dari kelompok dirinya, yang terpenting baginya adalah memainkan pedangnya sesuai dengan isi hati dan pikirannya. Bisa dibilang dia benar-benar kejam.
Bahkan Zeno harus menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum saat melihat hal bodoh yang dilakukan tuan sepuluh. Memang, baginya itu adalah hal yang kejam, tapi sesekali membunuh bawahan tanpa sebab adalah perilaku yang bodoh. Apa yang perlu dibanggakan? Itu sama saja mencerminkan seorang pemimpin yang tidak memiliki rasa terima kasih atas jasa para bawahannya.
__ADS_1
Tapi cukup bodoh lagi apabila Zeno memikirkan sesuatu, yaitu turun tangan dan mengatakan bodoh di hadapan tuan sepuluh, pasalnya Zeno benar-benar tidak tahan dengan tangan yang begitu gatal dan ingin bercampur tangan. Tapi dia harus mengikuti rencana yang ia buat, maka dari itu dia menahan diri untuk terus melihat pertarungan itu yang sudah berlangsung cukup lama.
Tiba-tiba, Turse yang tidak sengaja menoleh ke belakang begitu terkejut saat melihat sebuah cahaya yang memancar ke atas dengan begitu terang, bahkan Turse harus menutupi matanya sedikit menggunakan lengannya agar tidak terlalu silau. Cahaya itu terlalu besar, solah juga telah menembus langit malam yang dipenuhi oleh bintang benderang.
Sedikit takjub, tapi Turse juga merasa aneh, darimana cahaya itu berasal? Turse seketika menjadi linglung saat menatap terus menerus cahaya tersebut karena dia tidak pernah melihat pemandangan seperti ini. Dia juga menepuk pundak Zeno berniat memberitahu apa yang terjadi di belakang mereka.
Sama seperti Turse, Zeno juga tersentak kaget bahwa terdapat cahaya yang memancar ke atas menembus langit malam, begitu besar dan juga berkilau seolah di bawah cahaya tersebut ada sesuatu yang begitu menarik. Dengan suara yang lirih, dia berkata, “Apa? Apa yang terjadi.
“Entahlah.” Turse menggelengkan kepala. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi, hal itu membuatnya penasaran dan ingin menuju asal cahaya memancar, “Aku, aku ingin melihat hal itu.” Turse memohon dengan lembut sambil menunjuk ke arah cahaya yang di maksud.
Seperti apa yang dia duga, tuan Sepuluh berhenti dan memandang sebuah cahaya yang terpancar ke atas langit. Tapi dia hanya menatap sebentar dan tersenyum seolah tidak peduli, lebih tepatnya belum peduli mengenai apa yang terjadi, karena sebenarnya dia sudah tahu cahaya itu berasal dari mana. “Bunga teratai emas, akhirnya akan mekar sepenuhnya.”
“Bunga teratai emas, akhirnya akan mekar juga.” Kiba mendengar perkataan tuan Sepuluh dengan begitu jelas, dia juga mengatakan hal itu agar Zeno tahu penyebab cahaya benderang itu muncul.
Zeno tersenyum lebar, mendengar apa yang dikatakan Kiba, dia menjadi penasaran dengan wujud teratai emas yang akan mekar tersebut. Dengan bergegas, dia segera menarik Turse untuk menuju asal cahaya tersebut. Dan tentu saja, dia berhati-hati agar tuan Sepuluh tidak mendengar pergerakan dari atas tebing meskipun jaraknya jauh.
__ADS_1
“Tuan, sepertinya kita harus terbang, karena bunga teratai berada di puncak, jadi kemungkinan jika kita berjalan kaki, maka akan membutuhkan waktu sampai pagi nanti, dan hal tersebut akan menghilangkan keindahan pancaran cahayanya.” Turse angkat bicara, entah kenapa dia begitu tidak sabar saat ingin melihat hal tersebut.
“Baiklah.” Zeno mengangguk, dia langsung mengeluarkan Kiba dengan begitu cepat. Sebelumnya, Turse juga ingin mengeluarkan Atsuba, tapi dicegah oleh Zeno dan memintanya untuk menaiki Kiba secara langsung. Karena, dengan naik Kiba yang begitu cepat, maka juga tidak akan menguras waktu yang begitu lama.
Tidak hanya Zeno, bahkan seluruh kaisar yang berada di benua 99 cahaya keluar dari istana dan melihat cahaya benderang tersebut. Tentunya mereka tahu, bahwa cahaya itu berasal dari apa dan darimana. Tapi beberapa dari enam kaisar memilih untuk diam dan tidak mengurus bunga teratai emas, berbeda dengan kaisar Lexus yang memukulkan kepalan tangannya di atas telapak tangan satunya.
Bagaimana tidak, apapun caranya dia ingin sekali mendapatkan bunga teratai itu untuk diberikannya kepada Fang Zeno. Bahkan dia rela mengerahkan pasukan yang begitu banyak guna mengamankan pegunungan Apiluc. Tapi sayangnya, Lexus benar-benar tidak tahu bahwa pasukannya akan mengalami kekalahan karena dijebak oleh tuan Sepuluh.
Beberapa waktu telah berlalu, Zeno dan Turse benar-benar sudah berada di puncak gunung dengan fajar dari arah timur yang benar-benar sudah muncul pertanda bahwa matahari akan terbit sebentar lagi. Benar-benar beruntung, apabila dirinya datang berjalan kaki, tentu saja matahari sudah muncul dan keindahan pancaran cahaya itu menghilang.
Zeno dan Turse, keduanya turun dari Kiba dan berjalan mendekat ke arah sebuah kawah gunung yang berupa danau di puncak. Dengan berhati-hati, mereka berdua mendekati danau yang memancarkan cahaya benderang ke atas.
Saat Zeno sudah berada di pinggiran danau, Zeno sedikit takjub. Pasalnya danau yang aslinya merupakan kawah gunung dipenuhi dengan bunga teratai emas yang tampak indah. Tapi, adalah sesuatu yang membuat Zeno dan Turse tidak berhenti membuka mulutnya. Yaitu, di tengah-tengah danau terdapat sebuah teratai yang cukup besar, dengan kelopaknya yang hampir sempurna mekar yang mana memancarkan cahaya ke atas. Mungkin kurang beberapa kelopak saja, lebih tepatnya beberapa kelopak dalam yang belum menampilkan diri seutuhnya.
__ADS_1