
Turse yang duduk di sebelah Zeno, dia mengeluarkan dua buah pil yang berasap karena dingin. Terlihat berwarna biru muda dengan kilauan yang sangat indah.
Dia melemparkannya ke belakang, jatuh dan di tangkap oleh dua orang yang berwajah melas sambil berlutut. Turse bahkan meliriknya ke bawah, melihat bahwa dua orang itu memakan masing-masing pil seperti orang yang sangat membutuhkan, begitu rakus seperti orang kelaparan.
“Hans dan Marut. Terima kasih sudah menepati janji kalian. Penawar itu sebagai sebuah hadiah bagi racun yang ada ditubuh kalian.” Zeno berbicara dengan dingin, namun dia masih menikmati sebuah pertunjukan yang berada di puncak gunung.
“Hadiah?” Hans menggertakkan giginya, dia merasa bahwa Zeno terlihat bercanda. Karena apa yang dia pikirkan, memberikan penawar tersebut bukan karena ingin memberikan sebuah hadiah. Tetapi memang sudah kewajiban bagi Zeno karena Hans dan Marut sudah menetapi janjinya.
Akan tetapi, dia tidak ingin protes secara terus terang. Daripada wanita mengerikan yang duduk di sebelah Zeno akan menusuknya menggunakan anak panah yang dipenuhi oleh racun yang tak terbayangkan baginya.
Sebelumnya beberapa jam yang lalu, saat Zeno terlihat bersantai dipinggir air terjun, tiba-tiba Hans dan Marut muncul perihal menagih penawar karena mereka sudah menepati janji mereka. Yaitu memberitahu informasi palsu kepada tuan Sepuluh bahwa dirinya sudah mati.
Tentu saja Zeno belum percaya begitu saja. Bisa jadi Hans dan Marut berbohong bahwa sebenarnya mereka belum memberitahu tuan sepuluh sama sekali. Alhasil, Zeno memberi satu lagi sebuah tugas untuk menguji kesetian mereka.
Awalnya Hans dan Marut protes, karena itu sudah berada di luar kesepakatan. Serta racun itu akan bereaksi dalam satu hari lagi, sehingga tidak ada waktu untuk diberi sebuah tugas apapun. Namun, Turse mengeluarkan dua buah pil yang membuat mereka seperti anjing yang meneteskan air liur. Bersamaan dengan itu, Zeno memberi sebuah ancaman bahwa jika mereka tidak melakukannya, tentu saja dia tidak akan memberikannya penawar.
Lagipula, tugas yang diberikan Zeno kala itu cukup mudah, dan tidak akan memakan waktu sampai satu hari. Yang mana tugas tersebut yaitu memberitahu kepada tuan sepuluh bahwa ada pihak lain yang ingin merebut bunga teratai emas, dan saat itu mereka sudah berada dipuncak.
__ADS_1
Tentu saja, Zeno berpikiran bahwa jika tuan sepuluh tahu hal tersebut. Dia tidak akan tinggal diam, dia akan bergerak dan langsung menyerang pihak yang berada di puncak. Selain itu, Zeno menyuruh Hans untuk memberitahu bahwa pihak Nuvoleon sudah berada di puncak untuk melawan pihak lain.
Kemudian, Zeno sudah membiarkan dan menyerahkan keputusan kepada tuan sepuluh untuk melakukan apapun. Baik itu melawan Nuvoleon, pihak yang baru. Atau mungkin tidak berpihak siapapun, atau bisa jadi tuan sepuluh masih menyerang ketiga pihak tanpa pandang bulu.
Walaupun begitu, dia masih bertanya kepada Turse, “Pihak mana yang akan menang, pihak Nuvoleon, pihak yang baru muncul, atau pihak tuan sepuluh?”
Turse hanya tersenyum, lagi-lagi dia tidak ingin terperangkap oleh pertanyaan Zeno, sehingga dengan begitu lembut, dia berkata, “Tuan yang akan menang.”
“Aku tidak memasukkan pihak diriku kedalam pertanyaanku.” Zeno menunjukkan wajah tidak berekspresi kepada Turse.
“Ku pikir tuan menjebakku lagi. Jika tuan bertanya dengan serius, aku berani taruhan bahwa pihak kriminal yang akan menang. Karena mereka masih memiliki tuan sepuluh yang kekuatannya tidak dapat diremehkan, sedangkan pihak baru, jenderal mereka baru saja kabur karena dikalahkan oleh klon Tamichi.” Turse berspekulasi.
“Apa saja.”
Zeno melirik ke belakang dan memperhatikan bahwa Hans dan Marut belum beranjak pergi dan masih berada di belakang Zeno. Sepertinya mereka masih takut untuk undur diri karena Zeno sama sekali belum memberikan perintah untuk pergi. Tapi, Zeno membiarkannya sebentar, sehingga dia kembali memandang puncak gunung dari kejauhan. Lebih tepatnya, Zeno menunggu sesuatu hal yang lebih mengejutkan lagi.
Bersamaan dengan itu, dia menjawab apa yang dikatakan Turse sebelumnya. “Sayangnya aku juga memiliki jawaban yang sama denganmu, sehingga kita tidak perlu bertaruh untuk menentukan siapa yang menang. Lagipula, aku juga tidak memiliki sesuatu untuk dipertaruhkan.”
__ADS_1
Tiba-tiba, Hans dan Marut merasakan bahwa tubuhnya begitu dingin yang luar biasa, dan tidak pada umumnya. Hal itu membuat mereka sedikit kebingungan mengenai apa yang terjadi. Memang, sebelumnya suhu di pegunungan pada malam hari, apalagi menjelang tengah malam seperti ini memang sangat dingin, tapi merasakan bahwa dingin ini sangat berbeda, seperti menusuk organ dalamnya.
“Tiga, dua ....” Tanpa ada apa-apa, Turse menghitung mundur, namun akan dalam hitungan ke satu, dia menoleh ke belakang dan melihat hal yang mengerikan terjadi.
Dalam sekejap, seluruh tubuh Hans dan Marut mengeluarkan kristal-kristal es seolah menusuk keluar. Mereka sebelumnya terkejut saat rasa sakit yang begitu luar biasa dari rasa dingin yang mereka rasakan dalam tubuh mereka. Tanpa mereka sadari sekalipun, tiba-tiba es yang begitu tajam menusuk keluar yang membuat mereka tidak bisa bergerak. Bahkan bisa dibilang Hans dan Marut sudah mati.
“Kau terlambat satu detik, Turse.” Zeno melompat dari dahan pohon yang dia duduki, disusul dengan Turse yang juga melompat begitu anggun dengan parasnya yang begitu cantik.
Zeno dan Turse yang melompat, mereka memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut. Seseorang yang baru saja mereka bunuh membuat mereka tidak begitu nyaman. Apalagi setelah seseorang mati, pasti akan ada aura kegelapan yang begitu mencengkam.
Bersamaan, dia juga berkata dengan lirih, “Maafkan aku, sepertinya aku tidak menghitung tepat setelah mereka memakan pil itu tadi.”
Seperti apa yang dikatakan Turse, mereka terbunuh dengan puluhan es yang keluar itu akibat mereka yang memakan pil milik Turse. Mungkin mereka berpikir, bahwa pil itu penawar bagi mereka, padahal pil itu merupakan sebuah teknik milik Turse yang dapat membunuh seseorang dengan tragis.
Zeno memang sengaja merencanakan hal tersebut. Karena apa yang dia pikirkan, tidak menutup kemungkinan setelah Hans dan Marut sembuh, mereka akan berkhianat dan melaporkan kepada tuan sepuluh. Maka dari itu, Zeno memilih untuk membunuhnya daripada sesuatu yang tidak ia harapkan terjadi. Selain itu, Zeno juga tidak membutuhkan mereka lagi, mengirimkan pesan kepada tuan sepuluh bahwa dirinya sudah mati merupakan hal yang cukup, apalagi mereka juga telah melaksanakan tugas terakhir yaitu membawa tuan sepuluh ke puncak.
Sebuah masalah kecil sudah selesai, Zeno bisa lebih beristirahat sampai esok hari karena sudah tidak ada yang ia khawatirkan, bagaimana tidak, pasukan dari ketiga pihak sudah berkurang drastis, sehingga dia bisa begitu mudah merebut bunga teratai, tuan sepuluh tidak tahu bahwa dirinya masih hidup, dan yang paling penting, tidak ada yang dia takutkan seperti pengkhianatan yang terjadi oleh Hans dan Marut.
__ADS_1
Namun, ada satu masalah yang membuatnya mungkin tidak bisa tidur malam ini, “Di mana Hole sekarang?”