
Nona penjaga pendaftaran merasa dingin di bawah dagunya seakan-akan kulitnya terasa beku saat ujung pedang Zeno di letakkan di area situ. Ia juga merasa menggigil dingin ditambah rasa takut yang membuatnya merasa bergetar hebat, bagaimanapun juga ia tidak bisa membuat orang lain seperti Zeno marah karena lemahnya ia sendiri.
“Izinkan anak tuan Daizoru ikut.” Kata Zeno dengan begitu serius, tatapan matanya begitu tajam yang membuat wanita dihadapannya merasa ketakutan.
“Tapi tuan, bagaimana nanti jika putri tuan Daizoru tidak bisa melanjutkan kompetisi karena tidak memiliki elemen?” Kata wanita itu dengan tubuh gemetar.
“Ya itu biarkan urusan dia, tetapi jangan menebak terlebih dahulu bahwa Selena tidak bisa melanjutkan kompetisi.” Ucap Zeno sambil menaikkan ujung bibirnya.
“Baiklah tuan, aku mengerti.” Jawab wanita tersebut sambil menelan ludahnya secara kasar.
Zeno tersenyum setelah melihat keputusan wanita yang ada di hadapannya, lagipula ia sangat membenci seseorang yang selalu merendahkan orang yang tidak memiliki elemen tanpa melihat kemampuan lainnya, itulah mengapa Zeno berani memotong antrian hanya untuk membela Selena.
Dia Pun berbalik arah sambil menarik pedang dua jiwanya dan menaruhnya di punggung.
“Tunggu, kenapa kau tidak mendaftar sekalian?” Tanya Selena.
Zeno melirik ke belakang untuk merespon pertanyaan Selena. “Aku tidak tertarik untuk memotong antrian, jadi aku akan kembali ke tempatku dan menunggu giliranku untuk di daftar.”
Walaupun tempatnya berdiri tadi sudah di isi orang lain, tetapi Zeno juga tidak tertarik untuk mencari masalah karena mengambil haknya, dia lebih memilih untuk berdiri paling belakang jauh dari tempat berdirinya tadi dengan banyaknya orang di depannya yang mengantri.
Selena yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala setelah melihat tingkah konyol Zeno, padahal ia bisa saja memeringati wanita tadi dengan mendaftar sekaligus, tetapi sepertinya Selena sadar bahwa Zeno selalu menghindari masalah dengan orang lain sebaik mungkin, kecuali jika orang tersebut memiliki masalah terlebih dahulu kepada Zeno, maka Zeno sendiri juga tidak segan untuk menghadapinya.
Beberapa lama kemudian....
“Baiklah, giliran aku mendaftar.”
“Baik tuan.” Ucap wanita itu dengan wajah yang begitu pucat, karena ia masih mengingat bagaimana cara Zeno menempelkan ujung pedangnya di bawah dagunya, itu membuat wanita itu sedikit merinding.
“Siapa nama anda?”
“Zen.”
__ADS_1
“Ba-baiklah tuan Zen, a-anda bisa datang di colosseum negara satu minggu lagi.” Katanya dengan terbata.
“U-untuk biayanya.” Sambungnya dengan rasa takut, karena ia sangat takut untuk meminta biaya pendaftaran kepada Zeno.
“Memangnya berapa?” Tanya Zeno sambil mengerutkan dahinya.
“Lima koin emas.” Jawab wanita itu dengan penuh keraguan.
Zeno tidak menanggapi ucapan wanita tersebut, yang ia lakukan adalah mengambil tujuh koin emas dari salah satu kantongnya untuk diberikan kepada wanita tersebut.
“Santai saja, sebagai permintaan maafku, ambil saja sisanya.” Kata Zeno pergi tanpa menoleh sedikitpun. Urusannya untuk mendaftar kompetisi sudah selesai, walaupun ia harus menunggu satu bulan lagi untuk mengikuti kompetisi itu.
Dalam menjelang satu minggu, Zeno berencana untuk berusaha agar elemennya bangkit, walaupun ia sangat optimis untuk mendapatkan Soil crystal. Tapi apa salahnya berusaha dahulu daripada menunggu satu bulan? Itulah yang Zeno pikirkan.
Lagipula Zeno akan sangat beruntung jika elemen tanah sudah ia dapatkan sebelum kompetisi, dengan begitu, kesempatan kemenangan akan ia berikan kepada Selena agar ia bisa memakan soil crystal untuk menggunakan elemen tanah dalam jangka waktu enam hari.
Walaupun enam hari, sepertinya itu sangat berharga , apalagi seperti Selena yang sangat mendambakan untuk menggunakan elemen. Setidaknya dalam waktu seperti itu dapat membuat Selena berbahagia walau hanya beberapa hari.
“Selena, apakah kau ingin ikut denganku?”
“Kemana?” Tanya Selena kembali.
“Menuju tempat berbahaya seperti halnya di negara petir.” Jawabnya.
“Tapi kali ini kau memandu, bagaimanapun juga kau adalah orang asli negara ini, jadi kau pasti tau tempat seperti itu.” Sambungnya.
“Baiklah, aku setuju. Lagipula tempat seperti itu cocok digunakan untuk ajang berlatih.” Sahut Selena berteriak dengan senang, karena ia merasa sangat suka apabila melakukan petualangan ke tempat yang aneh, walaupun Selena sudah pernah menuju tempat aneh di negara ini.
“Kau terlalu extrim.” Gumam Zeno sambil menggigit bibir bawahnya.
Sekilas Zeno tidak sengaja menatap langit di arah barat laut, nampak awan hitam yang sangat pekat menandakan akan terjadinya sebuah bahaya besar yang akan terjadi, tapi Zeno tidak tau pasti, arah tersebut berada di wilayah mana, tapi kemungkinan terbesar, dilihat dari seberapa jauh awan tersebut, awan itu berada tepat di atas negara petir.
__ADS_1
Tetapi Zeno masih berbaik sangka, mungkin itu hanya akan terjadi sebuah badai dengan petir yang menggelegar sesuai elemen negara tersebut, walaupun Zeno masih sempat prihatin.
“Zen apa yang kau lihat?” Tanya Selena yang memperhatikan Zeno yang menatap sesuatu yang membuatnya penasaran.
“Lihatlah itu.” Zeno menunjuk ke arah barat laut.
Berbanding dengan Zeno, Selena justru memasang wajah biasa-biasa saja. “Itu hanya awan biasa, kemungkinan akan terjadi badai.”
Padahal Zeno sempat memiliki firasat yang sangat buruk dengan adanya awan hitam, tetapi Selena justru tidak panik sedikitpun dan menganggap bahwa hal tersebut hanya awan biasa yang akan mendatangkan badai.
Zeno menggelengkan kepala dan kembali berpikiran bahwa itu hanya awan biasa, tetapi rasa cemasnya terus menghantui dirinya, padahal ia sendiri tidak memiliki hubungan apapun dengan wilayah dengan awan hitam di barat laut yang kemungkinan berada di negara petir.
*****
“Penasehat, kenapa kita repot-repot untuk meminta hubungan baik dengan kedua negara sekaligus?”Tanya Kaisar Shima yang masih penasaran, kenapa Zen memintanya untuk berhubungan baik dengan negara air dan juga angin. Padahal kaisar menebak sendiri bahwa Zen hanyalah orang biasa yang berasal dari negara air.
“Emm, kemungkinan besar karena anak itu memiliki ibu yang berasal dari negara angin, dan ayah yang berasal dari negara air. Jadi biar seimbang, yah benar agar ada keseimbangan.” Jawab penasehat yang berpikir untuk memberi alasan yang tepat dari sesuatu yang ia pikirkan.
“Mengapa aku jadi terpikirkan dengan Fang Zeno ya, apa kau tau? Pangeran negara air yang baru ditemukan bersama ibunya?” Ujar Kaisar Shima kepada penasehatnya.
Penasehat hanya tersenyum sambil memutar kepalanya, karena ia ingin sekali menuruti jalan Zeno yaitu sebuah kejutan yang akan terungkap beberapa lama lagi. “Emm, sepertinya begitu.”
“Baiklah, aku akan mengirimkan beberapa orang untuk menyampaikan ke kedua kekaisaran.” Kaisar Shima memutuskan.
“Kaisar! Kaisar!” Teriak seorang prajurit dengan masuk ke ruangan dengan begitu panik, wajahnya begitu pucat yang membuat kaisar Shima dan penasehatnya menjadi penasaran.
“Ada apa?”
“Sepertinya negara kita akan terjadi hal yang buruk, awan hitam pekat menutupi seluruh langit negara ini!”
__ADS_1