Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Ayo, tunjukkan wujud kalian!


__ADS_3

“Jenderal, sepertinya kita tidak akan sampai ke pelabuhan negara air. Karena pelabuhan tersebut dalam tahap pembangunan. Kita juga tidak bisa berlabuh di pelabuhan negara angin, karena angin kencang akan bergerak ke arah Utara pada tujuh hari ke depan. Kita bisa memutar benua dan berlabuh di negara petir ataupun tanah. Tetapi aku sarankan kita untuk berlabuh di negara tanah, karena ada satu alasan yang mungkin membuat Anda cukup bersemangat.” Ucap seorang kapten kapal kepada jenderal Zhuo.


“Katakan!” Zhuo penasaran.


“Satu minggu lagi, akan ada pertemuan lima kaisar besar yang diadakan di negara tanah. Dan sebagai mantan kaisar, apakah Anda tidak tertarik untuk melihatnya? Lagi pula ini cukup bagus untuk membuat kejutan kepada kaisar Fang Tan?”


Mendengar perkataan kapten kapal tersebut, Fang Zhuo sedikit terkejut, dia membuka matanya lebar dan berkata, “Kaisar Fang Tan?”


Zeno yang ada di samping jenderal Zhuo teringat, bahwa dirinya belum memberitahu kondisi negara air saat ini. Mengingat hal tersebut, Zeno langsung berkata, “Aku lupa memberitahumu ayah, kekaisaran saat ini bukan dipegang lagi oleh kakek, tetapi kakak Tan.”


Zhuo tidak bisa berkata-kata. Dia tidak marah apabila kekaisaran dipegang oleh anak pertamanya, justru dia sangat senang dan memutuskan berlabuh di negara tanah dan mencoba membuat sesuatu yang mengejutkan bagi kaisar yang sedang berkumpul, lebih tepatnya kepada Fang Tan.


“Negara tanah.” Zeno berdeham sebelum melanjutkan ucapannya, “Aku jadi penasaran, bagaimana kabar Selena saat ini. Apa dia masih tinggal di dunia Metpo? Aku ingin sekali menemuinya.” Katanya dengan lirih.


“Hey Turse, apakah kau mengingat mengenai seseorang yang pernah kubicarakan? Dia tidak mempunyai elemen, tapi kemampuan berpedang tanpa elemennya sangat luar biasa, mungkin aku kalah jauh. Kau pasti lebih mengaguminya dibanding aku.” Zeno berkata kepada Turse.


“Tuan Zeno salah, aku tidak hanya mengagumi Anda karena bisa bertarung tanpa elemen. Tapi aku mengagumi Anda karena Anda adalah sosok hebat yang dapat mengalahkan Akram dan Rundaf. Lagi pula seseorang yang Anda ceritakan adalah wanita.”


“Memangnya kenapa kalau dia wanita? Apakah menurutmu wanita bukanlah sosok yang dapat dikagumi?” Zeno penasaran dengan jawaban Turse.


“Tidak ada yang salah apabila seseorang mengagumi wanita. Tapi kau tuan Zeno? aku juga merupakan seorang wanita, tidak baik mengagumi seorang wanita juga. Karena maksud aku mengagumimu ini bukan hanya sebatas kagum, tapi lebih dari itu.” Pipi Turse sedikit memerah usai mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.” Zeno mengerutkan dahinya, dia juga menggaruk kepalanya karena kebingungan. “Sebaiknya kau tidur terlebih dahulu, hari juga sudah mulai malam.”


Turse hanya tersenyum pahit dan menuruti apa yang dikatakan oleh Zeno. Dia berjalan dengan rasa ingin menghentakkan kakinya di atas lantai kapal. Tetapi dia segera melupakan hal itu. Apa yang dikatakan oleh Zeno benar, tidur adalah pilihan yang bagus, lagi pula dia sudah merasa sedikit mengantuk.


Seluruh orang yang ada di geladak kapal juga mulai merasakan rasa mengantuk yang sangat berat, bahkan Zeno juga sudah merasakan berat di matanya. Padahal kapal ini baru saja bergerak beberapa jam setelah matahari terbenam, tetapi mereka sudah merasakan kantuk yang luar biasa.


“Lebih baik aku tidur, rasanya sangat aneh tetap berada di geladak dengan keadaan mengantuk sambil memandang kabut yang tiba-tiba muncul.” Zeno masuk ke dalam untuk beristirahat.


“Tuan...!”


“Tuan....!”


Seluruh beast dan roh Zeno menjadi berisik saat dia mencoba untuk merobohkan diri di atas sebuah kasur.  Hal itu membuat Zeno memaksa untuk membuka matanya dan meladeni apa yang akan dikatakan oleh para beast dan roh di dalam dirinya.


Mendengar penjelasan dari Kiba, Zeno spontan kaget. Dia langsung memaksakan tubuhnya untuk berdiri serta membuka matanya secara lebar. Tapi rasanya sangat sulit, bahkan mata Zeno berair karena dipaksa untuk dibuka dalam keadaan mengantuk berat. Kepalanya juga terasa sangat pusing menahan kantuk yang tidak normal.


Zeno mencoba masuk ke dalam kamar Zhuo, tetapi Zhuo tidak bisa bangun saat Zeno mencoba untuk membangunkannya. Begitupun dengan kamar Turse maupun Nora. Merasa sedikit panik, Zeno berlari ke arah kemudi dengan tubuh yang sangat lemas.


Tepat berada di ruang kemudi, Zeno melihat sang kapten dan beberapa awak kapal lainnya tertidur pulas. Zeno kembali menuju dek atau geladak kapal karena di sanalah Zeno melihat kabut itu datang.


Dengan tubuh yang lemas dan pandangan yang samar-samar. Zeno memaksa untuk naik, karena ini demi keselamatan seluruh orang yang ada di kapal.

__ADS_1


“Ayo, tunjukkan wujud kalian! Jangan menjadi pengecut seperti ini!” Katanya dengan nada yang tinggi.


Zeno memang tidak melihat apa-apa, melainkan hanya sebatas kabut yang mengelilingi dirinya.


Merasa sangat geram dengan rasa kantuk yang terus menyerangnya, Zeno memukul kepalanya sendiri dengan sangat keras. Hal tersebut membuat rasa kantuknya benar-benar hilang, namun dia juga merasa sangat kesakitan dengan hal tersebut.


Zeno membuka matanya lebar, saat melihat bahwa di hadapannya sudah ada lima orang bertopeng dengan pedang bercabang di masing-masing tangannya.


“Apa maksudnya ini?” Zeno mengerutkan dahinya setelah melihat bahwa ada lima orang yang sebelumnya tercipta dari kabut.


Tetapi Zeno tidak segera banyak berbicara, dia langsung mengangkat Ice Sword dan berlari ke arah lima orang tersebut dengan sangat cepat. Tetapi sayangnya, saat Zeno menebaskan pedangnya, orang-orang tersebut berubah secara cepat menjadi kabut kembali.


“Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau bisa lolos dari jeratan kabut kami.”  Suara mereka bergema di balik kabut-kabut berwarna putih yang mengaburkan pandangan.


Bahkan Zeno harus mengakui bahwa dirinya sulit menebak dimana datangnya asal suara tersebut. Dan sepertinya dia juga merasa sedikit kerepotan, bagaimana tidak, Zeno bahkan tidak dapat menebas orang tersebut karena berubah dengan cepat menjadi kabut.


Tiba-tiba Zeno tersungkur setelah ada orang yang menendangnya dari belakang. Hal tersebut membuatnya berdecak kesal dan menggertakkan giginya karena kesulitan untuk menebak datangnya musuh.


Zeno akhirnya mencoba untuk berdiri, dia melambaikan kedua tangannya yang bertujuan mengeluarkan sebuah pusaran angin agar kabut tebal yang mengelilingnya segera menghilang. Selain itu, rasa kantuknya lambat laun kembali muncul saat dirinya berada di dalam kabut.


Zeno melihat kembali lima orang dengan topeng setelah kabut di sekelilingnya hilang. Dia menjadi sangat penasaran, siapa mereka sebenarnya? dan mengapa mencoba untuk menyerang kapal ini? Tetapi rasanya menanyakan hal tersebut merupakan suatu hal yang cukup bodoh baginya, pasalnya mereka pasti tidak akan memberikan sebuah jawaban semudah itu.

__ADS_1


 


__ADS_2