
Zeno tidak begitu bodoh dan takut saat menghadapi dua serangan yang berbeda. Bahkan itu merupakan sebuah keahlian rendahan yang sering digunakan untuk mengalahkan elementaist yang tidak bisa dibilang kuat, dan tidak bisa dibilang lemah. Sehingga, Zeni akan mengalahkan kedua serangan tersebut dalam hitungan menit.
Serangan pertama yang datang adalah sebuah gelombang air laut yang digerakkan salah satu dari mereka untuk menyerang Zeno, tentu saja itu merupakan hal yang paling mudah, dengan menebaskan Ice sword-nya, seketika gelombang tersebut membeku. Namun dalam keadaan fokus pada serangan itu, salah seorang lainnya melompat ke belakang tanpa sepengetahuan Zeno, sehingga orang itu menyerangnya di belakang.
Tetapi Zeno menyadari hal tersebut dengan cepat, terlihat dari pantulan gelombang air yang telah membeku memperhatikan bahwa ada seseorang di belakangnya sedang mendaratkan sebuah pukulan, sehingga dengan sigap dia berbalik arah dan menangkis pukulan itu.
Di sini, seseorang yang mengendalikan gelombang laut tadi masih tidak berhenti dan masih menyerang Zeno dengan gelembung-gelembung air yang keluar dari permukaan laut.
Zeno memutar pedang dan menjulurkan tepat ke arah leher orang yang ada di dekatnya tadi, sedangkan tangan kiri yang dia gunakan untuk menangkis pukulan orang tersebut, kini dia lepaskan dan dia ulurkan tepat ke arah gelembung-gelembung yang perlahan-lahan membeku. Untungnya gelembung tersebut tidak sempat untuk menyentuh Zeno, kemungkinan terbesar, gelembung tersebut akan meledak dan melukai Zeno.
“Berhentilah menyerang, atau kau akan mati.” Gertak Zeno.
“Hentikan tindakan bodohmu, jika tidak, aku akan melaporkanmu pada pihak kekaisaran mengenai hal ini.” Ancam salah satu orang berotot yang ditodong pedang oleh Zeno.
“Memangnya kenapa? Aku sama sekali tidak takut dengan pihak kekaisaran, jika kau ingin laporkan, laporkan saja! Namun pertanyaannya, bagaimana kau akan melaporkan hal tersebut di saat kau saat ini tidak bisa bergerak sama sekali?” Tanya Zeno dengan nada yang tinggi.
Zeno berbicara seperti itu bukan berarti dirinya menantang kekaisaran, dia hanya menggertak saja agar orang yang ada di hadapannya menjadi gemetar dan sangat takut. Lagi pula, Zeno juga merupakan anggota kekaisaran, sehingga Zeno juga berani berbicara seperti itu. Setidaknya jika kakeknya melihat atau mendengarkan apa yang Zeno ucapan, dia akan mengerti bahwa kata-kata itu hannyalah gertakan semata.
“Ada temanku.” Kata orang berotot tersebut sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
“Temanmu? Apakah kau tidak memperhatikan temanmu itu? Lihatlah baik-baik, dia tidak bisa bergerak karena membeku.” Sambung Zeno dengan tatapan sinis.
Orang berotot yang di todong Zeno memperhatikan baik-baik temannya yang menyerang Zeno dengan air laut. Tetapi sayangnya, saat ia melihat dengan seksama, teman orang berotot perlahan membeku hingga menyisakan kepala.
Semua orang kembali berkerumun mengelilingi pertarungan Zeno dan dua orang berotot, bahkan awak kapal yang memeras Zeno masih berdiri dengan wajah terbengong. Bagaimana tidak, dia melihat anak yang tidak terlalu berisi bahkan bisa mengalahkan dua orang berotot dengan mudah. Benar-benar, dia merasa salah untuk memilih lawan.
“Tuan muda hentikan!” Teriak salah seseorang yang berlari ke arah kerumunan tersebut. Teriakan tersebut bukan bermakna sebuah keberanian, atau lebih tepatnya nada menantang. Lebih tepatnya nada bicara orang yang berlari tersebut sangat permintaan yang sangat sungguh-sungguh.
“Maaf tuanku, ampuni mereka berdua, serta awak kami yang lancang kepada anda. Kami benar-benar tidak tahu bahwa ini benar-benar terjadi.” Kata orang-orang tersebut yang menyela-nyela kerumunan dan kemudian berjongkok di bawah Zeno.
“Apa, apa yang kau katakan?” Tanya Zeno menatap sinis pria yang baru datang tersebut.
Pria yang baru datang, seketika memperhatikan keadaan sekitar, wajahnya seakan-akan menjadi sedikit marah karena tindakan orang disekitar yang tidak memberi hormat kepada Zeno sedikitpun. Dengan nada tinggi, namun juga tidak terlalu tinggi untuk menghormati Zeno, dia pun berkata, “Apa kalian tidak memiliki rasa hormat sedikit pun dengan pangeran Fang Zeno? Bahkan kalian juga menggunjingnya? Sungguh, tindakan kalian benar-benar keji. Dan kau awak kapal sialan, sebaiknya kau keluar saja dan jangan bekerja lagi di kapalku.”
Orang-orang di sekitar, serta awak kapal sangat terkejut dan langsung berjongkok setelah tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah Zeno. Sedangkan untuk pria berotot, keduanya tidak bisa bergerak sedikit-pun untuk berjongkok, karena salah satu dari mereka terjebak dalam es, sedangkan satu lagi saat ini mengalami krisis hidup karena ditodong Ice Sword.
Tapi dalam lubuk hati terdalam, mereka tidak tahu bahwa yang mereka lawan ternyata adalah Fang Zeno. Sehingga mereka sedikit menyesal karena memilih lawan yang benar-benar salah. Tetapi bagaimana lagi, hal ini sudah terlanjur terlakukan.
“Pangeran, saya benar meminta maaf, saya tidak tahu bahwa anda merupakan pangeran Fang Zeno. Lupakan dua koin emas yang saya minta.” Kata awak kapal dengan nada memelas.
__ADS_1
Zeno langsung menurunkan pedangnya dari hadapan orang yang ia todong, serta mencairkan es yang membekukan orang yang melawannya tadi. Sikapnya begitu dingin sambil pergi seakan-akan tidak ada kejadian apa-apa lagi.
Tepat melewati awak kapal yang bermasalah dengannya, Zeno melemparkan lima koin emas ke atas yang kemudian jatuh di bawah awak kapal tadi. Suasana hatinya saat ini benar-benar terganggu karena masalah kecil yang menjadi besar karena salah satu orang sialan.
Sebelum benar-benar pergi, Zeno melirik ke belakang tepat ke arah awak kapal yang bermasalah dengannya. Dengan wajah yang begitu datar, dia sempat berkata, “Ambillah, hitung-hitung untuk biaya hidupmu sebelum kau benar-benar menemukan sebuah pekerjaan lagi.”
Setidaknya Zeno masih memiliki hati selepas dirinya diperlakukan yang buruk, walaupun begitu ia masih sangat kesal kepada orang-orang tersebut. Untung saja, Zeno tidak memiliki niat untuk membunuh, jadi Zeno tidak terlalu tertarik untuk melakukan pembunuhan, apalagi ini berada di tempat umum yang dirasa sangat kurang cocok.
Dengan wajah geram akibat perbuatan ketiga bawahannya, sang pemilik kapal langsung berlari ke arah Zeno yang sedang pergi. Wajahnya masih memiliki rasa ketakutan yang teramat karena berhadapan dengan pangeran Zeno.
“Pangeran, maafkan aku apabila berbuat lancang. Tetapi yang mulia kaisar atau kakak anda sendiri memintaku untuk mengantarkan anda menuju benua artik.” Kata nya begitu melas.
“Aku tidak tertarik.” Jawab Zeno dengan perkataanya yang tidak bersemangat.
“Saya mohon pangeran, saya bisa memastikan tidak akan ada awak kapal seperti orang tadi.”
Zeno menghentikan langkahnya, dengan menarik napas sambil menoleh kepada pemilik kapal yang ada di belakangnya, “Itu akan menjadi hal yang sia-sia, mereka sudah tahu siapa aku, sehingga mereka tidak menunjukkan sikap mereka yang sebenarnya. Andai saja mereka tidak tahu siapa aku, maka mereka pasti menunjukkan sikap mereka yang sebenarnya.”
__ADS_1