Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Aku tidak tertarik untuk diikuti


__ADS_3

“Benar, aku sebenarnya merupakan bawahan Rungdaf. Aku mengkhianati Rungdaf karena memiliki dendam yang kupendam selama hidupku.” Ucap wanita bertopi penyihir tersebut yang tidak lain merupakan Nora.


“Nora!” Teriak Rungdaf. Ia tidak menyangka bahwa orang kepercayannya memiliki niatan untuk membunuhnya tadi. Untungnya Zeno sempat mencegahnya, jika tidak, mungkin kepala wanita tua tersebut terlepas dari tubuhnya. “Kenapa kau mengkhianatiku?” Mata Rungdaf berkaca.


“Wanita tua, jika kau memang memiliki sikap yang suka berdamai untuk membawa sebuah kehancuran? Mengapa kau membunuh orang tuaku? Prinsip mu itu sama sekali tidak menunjukkan sebuah kedamaian. Aku benar-benar bingung bagaimana prinsipmu itu, menciptakan dunia yang penuh kekerasan menggunakan jalan kedamaian? Bahkan orang terpintar sekalipun tidak akan bisa menafsirkan perkataanmu itu. Kau sungguh gila Rungdaf, sungguh Gila!” Umpat Nora dengan nada yang sangat tinggi.


“Nora, jaga mulutmu! Aku tidak pernah membunuh orang tuamu. Jika aku membunuh orang tuamu, tentu saja aku juga akan membunuhmu karena kau berpotensi untuk balas dendam di masa depan. Apakah menurutmu aku orang yang sangat bodoh?” Rungdaf tidak mau kalah.


“Yaah, kau yang membunuh orang tuaku. Bahkan di depan mataku sendiri. Saat itu bersembunyi di kolong kasur sambil menahan teriakan dan tangisan agar kau tidak menemukanmu. Dan aku, aku kemudian berpura-pura menjadi muridmu agar bisa membunuhmu di masa depan.” Nora tertawa begitu keras.


Tawa Nora begitu keras, sehingga Zeno memandang aneh Nora yang terlalu berlebihan. Namun, seketika saat Nora tertawa, dia terlempar begitu jauh di depan.


“Baiklah, aku akan membunuhmu agar kau tidak bisa membalas dendam.” Rungdaf kemudian berdiri. Sebelumnya, dia memang menghembuskan angin yang sangat kencang untuk melemparkan Nora begitu jauh. Dan Rungdaf sendiri benar-benar lupa bahwa ada Zeno di sampingnya.


“Matilah kau Nora!”


“Slasshh.”


Tangan Rungdaf terpotong saat dia mengulurkan tongkatnya, hal itu membuatnya terkejut dan menoleh ke samping. Dia benar-benar lupa bahwa di sampingnya terdapat Zeno yang bisa membunuhnya kapan saja.


Tidak hanya itu saja, Rungdaf juga memutahkan seteguk darah yang menurutnya tanpa sebab. Tapi dia juga telah mengingat bahwa dia memiliki beast yang telah dikerahkan, hal itu menandakan bahwa beast yang ia keluarkan telah mati di bawah Genbu.

__ADS_1


Rungdaf tidak terlalu terkejut bahwa Fuhs mati. Masalahnya dia tahu siapa yang Fuhs hadapi. Hatinya kini berdebar kencang ketakutan seakan sudah tak memiliki daya untuk melawan Zeno. Mustahil mungkin untuk melawannya, seluruh kekuatan angin miliknya dapat dikendalikan dengan mudah, serta memiliki dua elemen lainnya yang juga sama-sama mengerikan. Tidak, Rungdaf teringat bahwa elemen alam Ganbu merupakan tanah. Hal itu membuat Rungdaf terkejut bahwa Zeno memiliki empat elemen.


“Mungkin memang waktunya sudah mati, lagi pula hidup berlama-lama lagi untuk apa?” Gumam Rungdaf yang benar-benar benar-benar pasrah.


“Baiklah Nora, kau bisa membunuhku. Maaf apabila telah membunuh orang tuamu kala itu.”


Nora memperhatikan Zeno dari kejauhan, dia menunggu apakah pria di samping Rungdaf itu akan mengizinkan dirinya untuk membunuh Rungdaf? Masalahnya dia tidak berani bertindak apabila hal tersebut membuat Zeno marah, karena dia tahu sendiri bahwa Zeno lah yang mengalahkan Rungdaf dengan mudah.


Zeno melirik mata Nora di dalam kegelapan, dia tahu persis seberapa dendam yang dimiliki oleh Nora karena orang tuanya dibunuh oleh Rungdaf sialan ini. Karena Zeno sendiri juga pernah merasakan, apa itu yang namanya dendam. “Sebenarnya Rungdaf akan kutunjukkan kepada nenekku, yaitu kaisar Aurrora. Karena orang tua kaisar Aurrora sendiri juga pernah dibunuh oleh Rungdaf. Tetapi jika aku membawanya ke sana, di tengah perjalanan Rungdaf akan menyerang dari belakang. Jadi, silahkan membunuh Rungdaf.”


“Tunggu sebentar, kau cucu Aurrora?” Rungdaf mengangkat alisnya.


Rungdaf tidak terlalu terkejut saat mengetahui bahwa sosok di hadapannya merupakan cucu kaisar. Tidak heran, pasalnya Zeno menggunakan Ice Sword yang merupakan peninggalan dari Soutern terdahulu.


Berbeda dengan Rungdaf, Nora saat ini bertekuk lutut dari kejauhan, hal itu cukup membuat Zeno mengangkat alisnya dan menganggap aneh sikap Nora.


“Maafkan sikap kelancanganku, aku akan melupakan balas dendam agar sang kaisar sendiri yang membunuhnya.” Sahut Nora.


“Tidak, kaisar tidak pernah memiliki niatan balas dendam kepada Rungdaf. Yang terpenting ada yang mau membunuh Rungdaf karena balas dendampun sudah membuat kaisar cukup senang.” Zeno menjelaskan.


Nora berdiri dengan cukup senang, setidaknya dia sudah mendapatkan izin untuk membunuh Rungdaf membuat hati dia merasa puas. Lagipula Rungdaf juga sudah pasrah dan tidak akan melawan, sehingga Nora tidak perlu susah-susah untuk melawan Rungdaf.

__ADS_1


Saat ini Nora mengangkat sebuah katana dengan perasaan membunuh yang sangat pekat, wajahnya memerah dipenuhi amarah dendam kepada Rungdaf yang membunuh orang tuanya. Siapa juga yang tidak dendam kepada pembunuh orang tuanya? Bahkan Zeno sendiri mengerti jelas perasaan tersebut benar-benar ada dan suatu kewajaran.


Nora berlari dan berteriak penuh semangat, sedangkan Rungdaf, dia hanya mengangkat kepalanya dan menunjukkan lehernya menandakan bahwa dia telah bersiap untuk dibunuh.


Melihat Nora yang sudah mendekat, Zeno tidak begitu tertarik mengenai matinya Rungdaf. Hal yang lebih tertarik baginya adalah mengatur kembali pasukan untuk menyerang kekaisaran dari wilayah timur. Pasukan ayahnya sudah sampai menuju wilayah barat, dan pasukan neneknya juga sudak mulai bergerak.


Bersamaan dengan Zeno yang pergi, sosok kepala dengan rambut terurai menggelinding di bawah kakinya. Zeno mengangkat alisnya dan melihat bahwa itu merupakan kepala Rungdaf yang telah dipenggal. Tidak terlalu peduli, dia masih pergi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


“Tuan, tunggu!” Teriak Nora.


Zeno melirik ke belakang, lebih tepatnya ke arah Nora yang memanggilnya. Namun dia tidak menghentikan langkah kakinya untuk meninggalkan tempat.


“Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa sekarang, jadi biarkan aku mengikutimu. Selain itu, kau juga telah mengalahkan Rungdaf sehingga aku dapat membunuhnya dengan mudah. Aku benar-benar berterima kasih.” Ucap Nora begitu lembut.


Zeno menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dengan menatap sinis Nora. Hal itu cukup membuat bulu kuduk Nora berdiri karena bisa merasakan kengerian dari Zeno melalui tatapan wajahnya.


“Aku tidak tertarik untuk diikuti.” Ucapnya.


“Baiklah, aku bukanlah wanita yang tidak tahu berterima kasih. Jika kau mau, aku bisa menyerahkan seluruh tubuhku untuk Anda, sebagai ungkapan rasa terima kasih sekaligus untuk jadi pengikut anda. Dengan begitu, Anda bisa menikmatiku setiap hari.”


Mendengar hal itu, bukannya semakin tertarik dengan Nora, Zeno justru semakin jijik dan beranggapan bahwa tidak menjadikan pengikutnya merupakan hal yang sangat bijak. Dengan nada yang sangat tinggi, Zeno mengatakan, “Apakah harga dirimu serendah itu? Hanya karena ucapan terima kasih kau rela menaruh tubuhmu untuk orang lain?”

__ADS_1


__ADS_2