Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Hanof


__ADS_3

Zeno saat ini sedang duduk di sebuah kursi dengan makanan yang telah disiapkan oleh pelayan sebelumnya. Dirinya memasang telinga baik-baik untuk mencari informasi yang menurutnya sangat penting, terlebih jika informasi tersebut berisi sosok ayahnya, karena bagaimanapun dirinya merasa bahwa neneknya disini merupakan orang penting, yang pasti ayahnya Zeno juga menjadi orang penting pula.


Baik itu Kiba, Skarlos, maupun dua naga kembar Zeno, keempatnya juga bersedia untuk memasang telinga mereka baik-baik. walaupun sebenarnya menggunakan pendengaran Kiba saja sudah cukup.


Tetapi setelah cukup lama, hal yang mereka berlima dengar cukup membosankan. Tetapi ada satu hal yang membuat Zeno sedikit geram, pasalnya, berita tentang Zen yang menjadi bawahan Rungdaf telah menyebar cukup cepat. Untung saja saat dia disini, tidak ada orang yang tahu bahwa dirinya lah anak yang bernama Zen tersebut.


Zeno mengetuk meja menggunakan jarinya, berpikir sejenak untuk mengatasi masalah tersebut. Karena dia tahu sendiri jika dirinya dituduh bawahan Rungdaf, maka pihak Duchy, tidak, mungkin kerajaan bahkan bisa jadi setingkat emperor pun akan memburunya. Jadi dia hanya perlu membuktikan bahwa dirinya bukan bawahan Rungdaf seperti apa yang mereka tuduhkan.


Masalahnya, bagaimana cara memberitahukan mereka bahwa dirinya hanyalah pendatang yang sedang mencari ayahnya. Nama baiknya sudah tercemar membuatnya tidak bisa dipercaya oleh orang-orang.


“Apa kalian mempunyai ide mengenai apa yang ku pikirkan?” Tanya Zeno kepad seluruh bawahannya.


“Menghancurkan Duke Arlos dan seluruh bawahannya? Dengan begitu maka urusan balas dendam akan selesai.” Kata Kiba memberikan suara.


“Apa kau bodoh Byak, maksudku Kiba. Itu justru akan memperkeruh keadaan, dengan melakukan itu, maka pihak kerajaan bahkan kekaisaran sekalipun tidak akan tinggal diam. Bahkan tuduhan mereka mengenai anak buah Rungdaf akan semakin kuat.” Skarolos membantah apa yang Kiba katakan.


“Apa yang dikatakan Skarlos benar, hal tersebut yang pasti akan memperkeruh keadaan.” Jawab Zeno.

__ADS_1


“Tuan tenang saja, jika ada orang yang mengincar kita baik itu pihak kerajaan bahkan kekaisaran sekalipun, kita akan melawan orang tersebut. Bagaimanapun, tuan memiliki empat bawahan yang dapat meratakan satu kerajaan, tidak, bahkan jika tuan ingin meratakan emperor sekalipun, maka kami berempat juga akan siap melakukan hal tersebut. Meratakan emperor seperti ini merupakan hal yang sangat mudah bagi kami.”


“Terimakasih Kirin, tetapi masalah-.”


“Baiklah, menurut informasi, Zen si anak buah Rungdaf itu ada disini. Dimana dia, akan kuhancurkan tulang punggungnya.”


Perkataan Zeno dengan keempat bawahannya tiba-tiba terhenti karena seseorang membuka pintu dengan sangat keras, bahkan Zeno sedikit kaget ketika suara pintu yang sangat keras membentur tembok.


Orang tersebut terlihat sangat besar dan memiliki otot yang tebal di seluruh tubuhnya, kedua tangannya dilapisi sebuah es yang sangat keras, sehingga mungkin siapa saja yang terkena pukulannya akan mendapatkan sebuah luka yang cukup parah. Di samping orang tersebut, terdapat pemimpin prajurit yang tadi mengincar Zeno.


Seketika pandangan pemimpin prajurit mengarah ke arah Zeno yang sedang bersantai sambil memandang tajam dirinya. Hal itu membuat pemimpin prajurit menepuk bahu Hanof, “Tuan Hanof, dia lah anak yang bernama Zen.” Katanya sambil menunjuk ke arah Zeno.


“Kenapa orang-orang menyebutku anak buah Rungdaf, bahkan aku saja tidak mengenalnya. Jangan salahkan aku jika aku membunuhmu karena sebuah tuduhan palsu.” Sahut Zeno memandang sinis Hanof.


Hanof memandang pemilik kedai ini sambil berkata, “Jangan salahkan aku apabila kedai ini hancur. Ini semua demi keselamatan Southern empire.”


“Baik, baiklah tuan.” Jawab pria pemilik kedai dengan begitu terbata-bata, bagaimanapun suara Hanof membuat pria tersebut sangat ketakutan. Terlebih lagi sebelumnya terdapat anak Zen yang dituduh anak buah Rungdaf membuat pria tersebut hampir pingsan mendengarkannya.

__ADS_1


Hanof memukulkan lantai kedai dengan begitu keras, mengakibatkan seluruh kedai bergetar hebat. Orang-orang yang berada di dalam memutuskan untuk berlari keluar karena tidak mau menerima akibat serangan dari Hanof ataupun Zeno. Pukulan Hanof selain mengakibatkan getaran juga memunculkan sebuah bongkahan es yang keluar dari lantai, serta bongkahan tersebut keluar menonjol dari lantai yang diinjak Zeno.


Untung saja Zeno sempat melompat ke belakang, sehingga bongkahan es yang keluar tidak berhasil melukai Zeno. Tetapi Hanof bergerak cepat ke arah Zeno sambil mengarahkan pukulan tepat ke arah nya. Melihat hal tersebut, Zeno langsung menarik Ice Sword dan mengarahkan pedangnya di tangan Hanof yang akan memukulnya.


Tangg...!!!


Tangan Hanof yang terlapisi es cukup keras, bahkan nampak jelas tangannya tidak terlalu mempan menerima pedang ice milik Zeno, mungkin jika tanpa es, tangan Hanof akan terbelah karena dengan bodohnya memukul pedang milik Zeno.


 Zeno sepertinya tidak bisa memandang remeh Hanof ini. Dia menatap tajam Hanof dengan pedangnya yang berbenturan dengan tangan Hanof, sedangkan Hanof, dia hanya tersenyum lebar sambil memandang remeh Zeno. Wajah sombongnya benar-benar membuat Zeno ingin menghancurkan Hanof secepatnya.


“Rasakan ini!” Tangan Kiri Hanof kemudian mengeluarkan es yang sangat tajam, kemudian dia arahkan ke arah Zeno tanpa ragu sedikitpun.


Sedangkan Zeno, dia tidak terlalu panik, justru dirinya tidak bergerak sedikitpun seperti ingin menghindari serangan menyusul dari Hanof. Zeno mengangkat ujung bibirnya sambil membatin, “Air: aliran penjara, membeku.”


Seketika lantai yang diinjak Hanof mengeluarkan sebuah aliran deras yang keluar ke atas, tetapi sayangnya Hanof bisa menyadari hal tersebut dan melompat tiga langkah ke belakang. Bertepatan dengan Hanof yang melompat, Zeno bergerak sambil memasukkan kembali Ice Sword di selongsongnya. “Aliran pemecah batu, tahap ketiga. Membeku.”


Tangan Zeno perlahan dilapisi sebuah air yang perlahan juga membeku, kemudian dia bergerak ke arah Hanof dengan menggunakan gerakan kilatnya selagi Hanof melompat kebelakang. Suara perut yang dipukul terdengar sangat nyaring, perut tersebut tidak lain merupakan milik Hanof, yang telah terkena pukulan mematikan milik pendiri negara air. Selain itu, Zeno juga membekukan pukulan tersebut sehingga dampak yang diberikan lebih parah.

__ADS_1


Hanof memutahkan seteguk darah sambil terpental beberapa meter, tidak hanya itu saja, Hanof membentur sebuah tembok kedai sampai hancur. Zeno berjalan dengan santai sambil menatap sinis Hanof, tangan Zeno yang dilapisi oleh air membeku kini perlahan mencair menetes di atas lantai. “Aku akui, kau merupakan orang pertama yang berhasil menghindari aliran penjara. Bahkan sekelas Akram yang merupakan musuh terkuat yang pernah ku hadapi masih tidak bisa menghindar Aliran penjara.”


__ADS_2