Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Baiklah, siapa yang akan kalah


__ADS_3

Zeno kembali tersenyum pahit setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Menunggu sampai waktu terbenam merupakan waktu yang sangat lama, bahkan saat ini hari siang baru dimulai. Selain itu, setelah matahari terbenam, dirinya akan pingsan, hal itu menunjukkan seberapa merepotkannya racun yang ditembakkan oleh Turse.


Zeno mencoba untuk tenang dan tidak terbawa emosi, bagaimanapun sebuah emosi akan membawanya menuju ambang kekalahan. “Baiklah, akan kutunjukkan kemampuan berpedang tanpa menggunakan elemen sekalipun.” Sahutnya sambil menjulurkan pedang ke arah Turse.


Turse memejamkan matanya sejenak sambil tersenyum lebar melihat kebodohan Zeno. Menurutnya orang tanpa elemen merupakan orang yang lemah, bahkan saat ini Turse mencoba turun dari atap rumah orang dan mendekat ke arah Zeno, padahal seharusnya, seorang pemanah sangat baik ketika melakukan penyerangan jarak jauh, tetapi disa justru mendekat seakan-akan meremehkan Zeno. Benar-benar saat ini Turse tidak tahu berhadapan. dengan siapa.


Zeno mengambil kuda-kuda dan bersiap apabila Turse melepaskan anak panahnya, kondisi seperti ini benar-benar sangat menguntungkan Zeno. Tetapi dirinya juga berjaga-jaga apabila Turse memang sengaja bertarung dalam jarak dekat, kemungkinan dia memiliki rencana lain.


Turse menarik anak tali busurnya, memunculkan tiga anak panah yang berjejer secara Vertikal. Tanpa ragu, Turse langsung melepaskan anak panah disusul dengan menarik kembali tali busur dan melakukannya lagi secara berulang. Zeno yang memperhatikan puluhan anak panah yang melesat ke arahnya langsung mengangkat pedangnya dan menebas anak panah yang berdatangan. Untung saja Zeno masih bisa mengimbangi dengan kemampuan gesit yang ia miliki.


Selain menebas puluhan anak panah, Zeno juga bergerak maju mendekat ke arah Turse yang terus menerus menembakkan anak panah. Mungkin jika dirinya merupakan Selena, menghadapi serangan anak panah dan menghalaunya menggunakan pedang, hal itu merupakan hal yang sangat mudah, bahkan mungkin tanpa pedang sekalipun, Selena bisa menghindari dengan mudah.


Tetapi di sini tidak ada Selena, apa yang Zeno lakukan hanyalah fokus dengan mata anak panah yang membuat Zeno harus membuka matanya lebar, serta Ice Sword yang ia pegang juga harus dimainkan dengan sempurna. jika tidak, maka Zeno mau tidak mau akan terkena panah yang ditembakkan Turse.


Zeno menjadi geram, sampai kapan dia harus seperti ini? mendekati Turse juga sangat sulit karena puluhan anak panah yang terus di tembakkan. Ice Sword yang Zeno pegang, ia lemparkan ke arah Turse, hal itu membuat Turse membuka matanya dan langsung menghentikan memanahnya karena harus menghindari diri dari Ice Sword yang dilemparkan ke arah dirinya.


Bersamaan dengan itu, Zeno mengambil anak panah yang jatuh sambil melompat ke arah samping sebelum Turse menarik busur panahnya.

__ADS_1


Turse tersenyum sambil memejamkan matanya sebentar, kemudian dia berkata, “Melemparkan The legendary Ice Sword, sepertinya itu bukan pilihan yang bijak.” Dengan sombongnya, dia membuka matanya sambil menarik kepalanya ke kiri untuk menghindari Ice Sword. Namun wajah sombong Turse kini berubah saat Zeno sudah tidak ada lagi di pandangannya, hal itu membuat Turse menggertakkan giginya karena melakukan sebuah kebodohan.


“Apa itu Ice Sword, aku menyebutnya pedang dua jiwa.” Zeno tiba-tiba sudah berada di belakang Turse dengan mengayunkan anak panah yang sebelumnya dia ambil tadi. Namun, saat tepat mata anak panah itu hampir mengenai leher Turse, Zeno segera menahan lengannya agar anak panah tersebut tidak langsung menghancurkan leher Turse.


Melihat hal itu, Turse tersenyum pahit, ternyata kemampuan Zen benar-benar tidak bisa diremehkan. “Sejak kapan kau berada disitu? Sialan, sepertinya Ice Sword yang kau lemparkan hanya untuk mengalihkan perhatianku.”


Turse menurunkan panahnya dan mengangkat tangannya secara perlahan, bagaimanapun bergerak secara bodoh hanya akan membuat Zen mendorong anak panah yang ia pegang sehingga menghancurkan lehernya.


Tetapi, saat Turse akan mengangkat tangan seutuhnya, tiba-tiba dia tersenyum lebar yang membuat Zeno merasa curiga mengenai Turse.


“Aku berbohong, bagaimana mungkin pemanah racun menyerah semudah itu. Kau tahu? Saat kau melemparkan pedangmu ke arahku,  aku telah menembakkan satu anak panah ke atas.” Kata Turse sambil menoleh ke atas.


“Kita lihat siapa yang kalah.” Sahut Turse sambil meloncat kebelakang Zeno karena dia tidak ingin senjata makan tuan terjadi.


“Ternyata berjalan dengan mulus sesuai apa yang ku rencanakan. Baiklah, siapa yang akan kalah. Turse!” Kata Zeno sambil menyentuh dagunya yang sakit akibat pukulan Turse.


Turse terkejut saat melihat Zen justru tersenyum lebar, hal itu membuatnya menjadi curiga mengenai apa yang akan terjadi setelahnya.

__ADS_1


“Kraak!!”


Turse menoleh kebelakang, bersmaan dengan itu, Zeno mencoba bangkit dan melompat ke depan sebelum terjadi sesuatu, tetapi sayangnya hal itu terlambat, ribuan anak panah melukai kaki Zeno. Zeno mengeram kesakitan sambil membersihkan darah yang keluar bercucuran dari kakinya.


Tetapi itu tidak separah Turse saat ini, karena Turse telah tertimpa pohon yang sedikit besar. Tetapi Zeno yakin, orang seperti Turse tidak mati semudah itu, sehingga kemungkinan besar Turse sedang terluka berat.


“Aku akui bahwa kau memang pemanah terhebat. Bahkan selama hidupku, aku belum pernah menemukan pemanah sepertimu.” Zeno mencoba berdiri sambil tersenyum lebar. Kemudian dirinya melanjutkan ucapannya, “Tapi sayang sekali, kau merupakan orang bodoh yang termakan informasi palsu dari rajamu.”


Zeno kemudian berlari pergi sambil mengambil Ice Sword yang sebelumnya telah menghancurkan batang pohon yang kini menimpa Turse. Zeno benar-benar bergegas sebelum beberapa orang akan datang untuk memburunya, bagaimanapun saat ini dirinya tidak memiliki elemen sama sekali, sehingga untuk melakukan perlawanan akan sangat sulit. Zeno berpikiran untuk mengundurkan niatnya untuk pergi kekaisaran, saat ini dia ingin pergi mencari penginapan lagi, setidaknya sampai luka di kakinya tidak terlalu parah lagi.


Selain itu, efek racun setelah matahari terbenam adalah dirinya akan pingsan, dan penginapan adalah tempat yang cocok. Daripada dia akan pingsan di jalanan, dan pihak kerajaan akan membawanya dengan mudah.


****


Saat ini Turse mencoba mengangkat batang pohon yang menimpa dirinya, raut wajahnya nampak kesakitan karena punggungnya yang harus terluka karena pohon besar yang menimpa punggungnya.


“Zen, anak itu memang mengerikan walau tanpa elemen sekalipun, baru kali ini aku menemukan orang yang bertarung hebat tanpa menggunakan elemen. Entahlah, aku tidak bisa berpikir mengenai nasibku jika dia masih memiliki elemen.”

__ADS_1


Turse kemudian memegang kepalanya yang sangat sakit, lalu dirinya melanjutkan ucapannya sambil tersenyum lebar, “Sayangnya aku berbohong mengenai efek racun yang hilang dan akan pingsan sampai matahari terbenam. Melainkan racun tersebut akan hilang sebentar lagi dan akan pingsan sampai matahari terbenam.”


 satu aja dulu xixixi. Tetap semangat, dan jangan lupa bernapas.


__ADS_2