
Zeno kembali berjalan mengelilingi danau Vanzula, kekesalannya sedikit memuncak karena elemen petirnya belum berhasil bangkit.
Kali ini dia lebih berhati-hati dalam melangkahkan kakinya, karena petir tidak akan menyambar satu tempat dan bisa saja menyambar Zeno maupun Selena.
Ini kedua kalinya dia tersambar petir, elemen paling berbahaya di benua ini sanggup membuatnya lemas walaupun itu sekejap. Sebab itulah Zeno sangat antusias dan tidak sabar dalam mendapatkan sebuah elemen petir.
Sakit sekali, itulah kata-kata yang ia keluarkan saat terkena Sambaran petir apalagi kekuatan petir abadi yang entah berapa ukurannya. Ia tidak bisa membayangkan apabila ia terkena sambaran secara langsung, entah apa yang terjadi pada sekujur tubuhnya.
Lemah, hangus terbakar, itulah yang justru dibayangkan Selena apabila Zen terkena sambaran begitu parah. Wajahnya sampai memucat saat ia melihat secara langsung saat Zeno terkena sambaran petir, walaupun itu sedikit dan petir yang lemah.
"Sepertinya keberuntunganku tidak disini, lebih baik aku mencari jalan keluar." Rasanya Zeno begitu menyerah saat sesekali elemennya tidak bangkit di tempat ini, daripada ia membuang buang waktu ketempat yang membahayakan, apalagi nyawa yang harus dipertaruhkan untuk mencari jalan keluar.
Awan hitam terus menggumpal, petir juga semakin dahsyat keluar menyambar permukaan danau, suara bising itulah membuat Zeno dan juga Selena tidak betah berada disini.
"Zen, aku menyerah, bagaimana jika kita keluar dari tempat mengerikan ini. Ini jauh lebih buruk daripada melawan roh ataupun beast." Ucapnya begitu rewel di samping Zeno.
"Aku juga berpikiran seperti itu, lagipula siapa yang tahan dengan penderitaan seperti ini."
Zeno dan juga Selena berlari berkeliling danau Vanzula, perasaan mereka tidak karuan karena tidak ada pintu keluar. Disekeliling danau tersebut adalah hutan rimba dan bukanlah bukit seperti apa yang terlihat di luar.
Suara gemuruh yang terus menerus ada, membuat Zeno kerepotan dan tidak bisa fokus untuk mencari jalan keluar.
Namun saat ia dan Selena berlari, ia mendengar suara isak tangis seorang pria. Mereka berdua lantas mencari asal suara tangisan tersebut.
Tidak disangka, Zeno menemukan seorang pemuda yang meringkuk di bawah pohon, dia menangis dengan begitu keras bersamaan dengan suara gemuruh petir, membuat Zeno dan Selena begitu tidak tahan.
__ADS_1
"Hey hey, berhentilah menangis, apa yang kau lakukan disini?" Kata Zeno dengan begitu tegas.
Wajah pemuda itu terangkat setelah mendengar bahwa ada seseorang di hadapannya, dia begitu mengusapkan air mata dan menganggap pertolongan telah tiba.
Selena begitu terkejut setelah tahu siapa pemuda tersebut. "Pangeran Kekaisaran." Itulah yang keluar dari mulut Selena setelah dia terkejut.
"Ternyata kau pangeran Kekaisaran?" Tanya Zeno.
"Iya, aku pangeran kekaisaran, tolong aku keluar dari sini tuan, aku mohon, jika kau membantuku, maka aku akan menyuruh ibuku untuk memberikanmu harta yang melimpah, aku berjanji." Perintah pangeran tersebut dengan memohon kepada Zeno.
Zeno dan Selena memandangi satu sama lain, ternyata berita tentang pangeran yang datang ke danau ini bukanlah bohongan belaka, tetapi anehnya tidak ada satupun pihak kekaisaran yang menjaga di balik gerbang untuk menunggu pangeran kekaisaran keluar, setidaknya pangeran harus ditemani oleh salah satu orang kepercayaan.
"Aku mohon tuan, bantulah aku!" Pangeran kekaisaran bersujud kepada Zeno, suara tangisnya membuat Zeno merasa jijik dengan tingkah laku pangeran kekaisaran.
"Serendah itukah harga dirimu? Apa kau tidak punya malu? Kau adalah pangeran Kekaisaran! Kau tidak seharusnya bersujud kepada orang!"
"Serendah itukah harga dirimu? Sebagai pangeran Kekaisaran, seharusnya kau lebih bijak dalam mencari jalan keluar! Bukan menangis bersandar di bawah pohon dan mengharapkan bantuan!"
"Kau sangat tidak mencerminkan pangeran Kekaisaran, karena kau adalah salah satu penerus tahta kekaisaran, bagaimana kau bisa memilki mental yang begitu lemah? Apakah kau mau negaramu hancur? Sehingga keseimbangan benua ini roboh karena hilangnya salah satu negara? Seharusnya kau menyadari itu."
"Bagaimana jika kau ikut serta dalam peperangan? apakah kau juga akan menangis sambil mencari ibumu? Bersandar dibawah pohon sambil memeluk kedua kakimu? Bahkan kau bisa saja di buat bahan tawaan oleh anak kecil!"
Zeno berteriak dengan suara keras di hadapan pangeran kekaisaran, wajahnya sedikit marah dan begitu jijik setelah melihat sifat yang memalukan sebagai pangeran kekaisaran, karena pada dasarnya anggota keluarga kekaisaran harus memiliki sifat yang tangguh dan pemberani.
Sesekali Zeno juga menampar dengan sedikit keras ke arah wajah pangeran Kekaisaran, Zeno melakukan itu agar pangeran sadar atas jiwa yang begitu lemah itu.
__ADS_1
"Sadarlah! Lebih baik kau ikut aku dengan rasa berani untuk mencari jalan keluar! Karena jika kau hanya mengharapkan bantuan ku, maka lebih baik kau meloncat di tengah danau! Karena aku juga tersesat disini, tidak ada sesiapapun yang menolongku!"
Selena yang berada di samping Zeno juga ikut gemetar melihat tingkah Zeno yang begitu kasar dan berteriak begitu keras bagaikan petir menggelegar kepada pangeran Kekaisaran. Tetapi Selena masih mewajarkan hal tersebut, karena memang itulah yang harus diberikan kepada pangeran kekaisaran.
Walaupun Selena merasa aneh dengan sikap Zeno, semenjak Zeno tersambar petir, Selena melihat raut wajah Zeno begitu kesal dan tidak memiliki semangat apapun, kemungkinan besar Zeno juga melampiaskan kekesalannya kepada pangeran Kekaisaran.
Wajah pangeran begitu pucat setelah mendapatkan nasihat yang begitu kasar dari Zeno, padahal pangeran kekaisaran berumur seperti Fang Tan, tetapi mentalnya seketika ciut setelah dibentak oleh anak yang labih muda darinya.
"Kenapa? Kenapa kau takut kepadaku? Padahal derajatmu lebih tinggi daripada aku? Bentak aku balik! tunjukkan kepadaku bahwa kau memilki jiwa kepemimpinan." Zeno tak henti-hentinya membentak pangeran Kekaisaran.
Pangeran kekaisaran menarik napas yang panjang, kemudian ia memberanikan diri menjawab bentakan Zeno sesuai apa yang Zeno perintah.
"Lepaskan aku, kalau tidak maka aku akan melaporkan kepada pengawal ku diluar sana." Ucapnya dengan nada yang begitu rendah.
Zeno semakin memegang erat baju pangeran Kekaisaran, bahkan ia juga sedikit mengangkatnya yang membuat pangeran kekaisaran berjinjit.
"Bodoh!"
"Kau terlalu bergantung pada pengawal diluar sana? Ingatlah bodoh, kau berada disini sendirian, terjebak di dalam gemuruhnya petir yang terus menyambar, bagaimana kau bisa melaporkan kepada orang diluar sana?"
"Di luar sana tidak ada satu orangpun saat kami masuk, bisa dipastikan bahwa pengawalmu telah pergi meninggalkanmu!"
Wajah pangeran kekaisaran kembali seputih kertas, dia tidak mengira bahwa seluruh pengawalnya pergi meninggalkan dirinya. Padahal, mereka seharusnya setia menunggu pangeran kekaisaran keluar. Setidaknya jika pangeran kekaisaran belum keluar, maka pihak kekaisaran mengirim elementalist hebat untuk menjemputnya.
"Maka dari itu, mulai hari ini, jangan terlalu bergantung kepada orang lain. Setidaknya berusahalah terlebih dahulu selagi kau bisa, jika batas kemampuanmu telah maksimal, maka kau bisa bergantung kepada orang lain!"
__ADS_1