
Zeno harus mengakui, bahwa teknik milik pangeran Rouya sangat mengerikan, apalagi teknik Rouya merupakan sebuah perwujudan Drake yang berbentuk sebuah aliran-aliran petir yang berkumpul membentuk seekor naga.
"Tunggu sebentar, jangan bilang bahwa kau adalah anak dari orang itu?" Kata Drake setelah melihat anak yang mengendalikan sebuah teknik.
Teknik yang Drake kenal sama seperti teknik yang ayah Rouya gunakan, bahkan menghadapi teknik tersebut yang merupakan perwujudan dirinya, ia merasa sangat kesulitan, apalagi teknik tersebut tidak bisa digigit seperti Drake soul yang gampang menggigit Drake asli.
"Yaah benar, dia lah anak yang ayahnya pernah melawanmu." Kata Zeno yang berkali-kali menebaskan kearah sisik Drake, walaupun ia harus melakukan itu secara berulang kali agar Drake terluka.
Drake kini benar-benar kewalahan, apalagi saat ia mendapatkan musuh baru yaitu Drake soul yang benar-benar merepotkan, belum lagi ia juga harus menghempaskan Zeno, Selena dan juga Kiba yang menyerang secara membabi buta di atas punggungnya.
Kini Drake hanya fokus menyerang Drake soul menggunakan kekuatan elemen petir beserta kuku tumpulnya, walaupun begitu ia masih sangat kesulitan karena Drake Soul atau teknik milik Rouya tidak bisa diserang menggunakan kuku apalagi kuku tumpulnya.
Sesuatu pertanyaan yang sekilas muncul di benak Zeno, yaitu masalah mengenai kuku Drake yang tumpul. Padahal seharusnya, kuku naga sangat tajam, walaupun itu tumpul, tetapi kuku naga juga bisa tumbuh menjadi runcing seiring berjalannya Waktu.
"Kalian semua, kalian akan ku kalahkan. Kau, akan ku balaskan kekalahan Ilohu, sedangkan kau anak kaisar, akan ku bunuh juga karena aku memiliki dendam dengan ayahmu." Teriak Drake diiringi petir menggelegar.
"Coba saja." Kata Zeno tersenyum dingin.
Zeno melihat sudah banyak kulit Drake yang terluka, hal itu membuat Zeno menaikkan ujung bibirnya karena, daging Drake banyak yang nampak dan tak tertutup sisiknya yang keras.
"Air: Aliran pemecah batu, tahap pertama." Zeno memukul belahan sisik Drake yang telah menampakkan dagingnya, apalagi ditambah dengan pukulan aliran pemecah batu Zeno membuat luka Drake semakin dalam.
"Menyerahlah, dan buka pintu keluar." Teriak Zeno sambil menyerang Drake dengan membabi buta.
"Tidak akan, bagaimanapun juga orang yang berani menuju kesini dilarang untuk keluar!" Teriak Drake menjawab ucapan Zeno.
Drake berteriak dengan begitu keras, belum lagi Drake Soul yang terus menerus menyerangnya membuat Drake tidak sempat menyerang Zeno.
__ADS_1
Tetapi Drake tidak habis pikir, dia kemudian melihat Rouya yang sibuk mengendalikan Drake soul di pinggiran air danau. Jadi dia berpikiran untuk menyerang Rouya agar Drake soul yang merepotkan itu hilang.
Wajah Rouya menjadi pucat setelah melihat Drake melesat ke arah dirinya, tetapi sebelum itu, dia juga menggerakkan drake soul untuk menyerang Drake agar dia tidak jadi menyerang dirinya.
Walaupun begitu, kecepatan Drake lebih cepat dari teknik Drake Soul milik Rouya, karena bagaimanapun juga teknik Drake soul hanyalah teknik perwujudan yang kekuatannya berkali-kali lipat dibawah Drake, terutama masalah kecepatan, sehingga kini Drake melesat ke arah Rouya dengan begitu cepat.
Zeno yang melihat itu bahwa Drake sedang melesat ke arah Rouya hanya tersenyum pahit, padahal dia, Selena dan Kiba telah menyerang Drake selama ia melesat ke arah Rouya, tetapi sepertinya Drake menahan rasa sakit dari serangan membabi buta karena ia fokus kepada pengendali Drake soul yang merepotkan di hadapannya.
Slasssh…
Kilatan petir muncul dan menyambar kepala Kiba bagian atas, hal tersebut membuat kepala Drake terdorong ke bawah seakan-akan bahwa Drake akan jatuh menuju air danau.
Kilatan petir itu disusul dengan efek petir tepat diatas kepala Kiba. Hal itu membuat Drake tersengat hebat tetapi tidak sampai membuatnya mati, itu hanya gelombang kejut yang membuat Drake berteriak seperti pada naga pada umumnya.
Zeno tercengang setelah melihat apa yang menyambar kepala Drake tadi, dia sebelumnya mengira bahwa itu adalah Sambaran petir, tetapi siapa sangka bahwa itu adalah pedang yang seukuran dua kali lipat dari dirinya jatuh dari atas langit dan menancap tepat di kepala Kiba.
"Selena, naiklah di punggung Kiba!"
Zeno menjadi panik setelah melihat Drake perlahan-lahan jatuh menuju air danau, karena ia sepertinya telah pingsan karena dampak dari serangan yang entah milik siapa.
Kini Selena dan Zeno menaiki Punggung Kiba dan pergi dari tubuh Drake, karena jika mereka terlambat, maka Selena pasti akan tenggelam karena ikut Drake jatuh ke air danau.
Untungnya Zeno dan Selena berhasil dibawa Kiba mendarat tepat di samping Rouya yang kini masih bingung karena serangan apa tadi yang menyerang Drake.
"Pangeran apa ini ulahmu?" Tanya Zeno menjadi penasaran mengenai serangan yang menyerang Drake.
"Aku berani bersumpah, itu bukan ulahku!" Kata Rouya menyangkal pertanyaan Zeno.
__ADS_1
Sesaat itu Zeno dan yang lainnya merasakan sebuah energi yang melewati di antara pori-pori mereka. Hal tersebut membuat Zeno mengingat kejadian pada waktu di air terjun kehidupan.
Tapi kali ini berbeda, bukan energi seperti hawa segar dan berembun yang Zeno rasakan, tetapi seperti energi listrik yang sangat lembut sehingga membuat bulu kuduk Zeno berdiri.
"Orka alami elemen petir?" Kata Zeno seakan-akan tidak percaya bahwa yang ia rasakan sepertinya memang sama dengan apa yang ia pikirkan.
Rouya langsung menghilangkan teknik Drake Soul karena ia melihat Drake yang melemah, tetapi rasanya begitu aneh, karena sebelum ia menghilangkan Drake soul, Drake soul seakan-akan bertambah kuat setelah Rouya merasakan energi aneh yang berhembus melewati kulitnya.
Namun, setelah Drake Soul dihilangkan oleh Rouya, Drake membuka matanya kembali dan mengangkat tubuhnya sebelum ia jatuh ke air danau. Hal itu membuat Rouya sedikit menyesal karena menghilangkan Drake soul, karena Drake sungguhan yang ternyata telah kembali siuman.
Akan tetapi, sesosok pria tua dengan jenggot muncul dari langit dan jatuh ke atas ke kepala Drake, hal itu membuat Drake tidak bisa berkata-kata apa-apa setelah tau siapa yang mendarat di atas kepalanya.
'Drake, apakah kau ingin membunuh satu-satunya keturunan ku yang memiliki kesempatan duduk di tahta kekaisaran, sebelumnya kau memang telah membunuh ayahnya." Kata pria tua tersebut yang berbicara begitu keras, bahkan Zeno mendengarnya.
"Maafkan aku tuan Ama, tetapi mereka semua telah berani melawanku."
"Memangnya kenapa? Itu karena kau yang bersikeras menjebak orang untuk melihat danau ini, jadi wajar saja dia melawanmu karena mereka juga ingin keluar." Ucap Ama sambil menarik pedang yang ukurannya dua kali lipat dengannya dari kepala Drake.
Perlahan-lahan Ama meloncat ke arah Zeno dan yang lainnya, sedangkan Drake sendiri, ia juga menyusut menjadi lebih kecil seukuran Kiba.
"Kau adalah keturunan ku, dan aku adalah leluhurmu." Kata Ama tepat di hadapan Rouya.
Rouya langsung berjongkok setelah mendengar siapa seseorang yang di hadapannya, itu adalah leluhur Ama, sekaligus pendiri negara petir, jadi wajar saja Rouya berjongkok dan memberi hormat.
Sebelumnya Rouya tidak tahu bahwa dia adalah pendiri negara sekaligus leluhurnya karena ia sama sekali tidak pernah berjumpa dengan leluhurnya.
"Tuan Ama, sang pendiri negara petir, yang pasti anda adalah sahabat leluhur Fang." Ucap Zeno yang ikut berjongkok.
__ADS_1