Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Berpisah dengan sang kakak


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, Zeno akhirnya telah selesai dari masa berkabung, menghilangkan kesedihan walaupun itu tidak sepenuhnya, serta menata mental bahwa dia bisa menerima bahwa ibunya benar-benar meninggal. Dalam satu bulan itu, rasanya sangat berat, bahkan Zeno melakukan percobaan bunuh diri, namun selalu ada Turse yang menemani dan menenangkan Zeno. Sehingga tepat hari ini, dia bisa tersenyum cerah meskipun tidak terlalu tampak.


“Wah-wah, sang kaisar akhirnya mencoba keluar dari kamarnya.” Fang Tan bersandar di tembok kamar Zeno, melihat sang adik kecilnya keluar dan tidak menunjukkan kesedihannya lagi.


Semenjak kehilangan kedua orang tuanya, keadaan kaisar juga benar-benar menjadi sangat sepi, apalagi Fang Yuna juga sudah tidak berada di kekaisaran ini. Terlebih lagi, apa yang membuat Fang Tan semakin menjadi-jadi kesedihannya, bahwa dia harus menerima bahwa adik kecilnya kali ini akan pergi juga meninggalkan negara air.


“Kau terlalu berlebihan kakak, aku belum diangkat.” Kata Zeno dengan tersenyum tipis.


“Tunggu apalagi? Satu kekaisaran menunggumu begitu lama. Tampaknya Turse juga rindu kampung halaman di sana. Selain itu, aku juga sudah menyiapkan kapal kekaisaran untukmu yang mana kau bisa pergi kapan saja.” Kata Fang Tan sambil menggerakkan kepalanya seolah memberi isyarat bahwa Zeno harus segera pergi.


“Kakak. Terima kasih.” Zeno mengulurkan tangannya berniat ingin berjabatan tangan dengan kakaknya dan menundukkan kepalanya. Dia juga mendadak kehilangan senyumannya yang tipis itu.


“Jabatan tangan saja? Kau ini apa-apaan.” Fang Tan tersenyum sambil merangkul adik kecilnya itu tanpa menjabat tangan yang Zeno ulurkan. Hal itu membuat Fang Zeno kembali tersenyum. “Terima kasih untuk apa?” Tanya Fang Tan.


“Entahlah, aku juga bingung ingin berterima kasih tentang apa.” Zeno kebingungan saat kepalanya berada di atas pundak Fang Tan.


“Kau ini.”


“Terima Kasih karena kau sudah bersedia menjadi kakakku, kau benar seorang kakak yang baik dan sosok pengganti ayah ketika ayah belum kembali.” Ujar Zeno.


“Ngomong-ngomong kakak.” Zeno mendekatkan mulutnya ke arah telinga Fang Tan, kemudian dirinya berbisik, “Segera cari istri, kekaisaran akan menjadi sangat sepi jika kau tidak segera mencari seorang pasangan.”

__ADS_1


Fang Tan menjauhkan tubuh Zeno, tatapannya benar-benar menjadi sangat malas apabila seseorang terutama adiknya sudah membahas mengenai seorang pasangan. Bahkan Fang Tan menghela napas dengan berat sambil berbalik badan membelakangi Zeno. Namun, dia tampaknya merenung, apa yang dikatakan adiknya benar, kekaisaran akan menjadi sangat sepi, dan hanya berisi keluarga cabang saja jika dirinya tidak mencari seorang pasangan.


“Astaga, Anda benar-benar membuat suasana terpecah tuan.” Sahut Turse dengan Kirin dan Uron yang ada di belakangnya. Yang mana semenjak tadi, mereka sepertinya ingin melihat suasana hening di saat tuannya ingin melakukan perpisahan dengan Fang Tan.


“Benarkah? Padahal aku berbicara sesuai kenyataan.” Zeno menoleh ke belakang sambil menggaruk kepalanya.


“Intinya segeralah kembali. Aku akan menyusulmu dua hari setelah kau berada disana, ketika upacara pengangkatan kaisar. Dan tentu saja, bersama para kaisar lainnya” Fang Tan kembali berbalik badan dan menatap Zeno.


“Aku harap kau tidak mengajak kaisar Yin shan.” Zeno mengerutkan dahinya.


“Hey, siapa yang ingin mengajak si br*ngs*k itu?” Fang Tan memutar matanya.


“Baiklah, aku akan berangkat sekarang juga. Aku harap kau tidak keberatan.” Ujar Zeno.


Hingga akhirnya, Fang Tan dan Zeno melangkahkan kakinya dengan berbeda arah. Yang mana, Zeno pergi keluar dari istana kekaisaran negara air. Sedangkan, Fang Tan, dia ingin kembali menuju kamarnya dan menikmati sebuah hari kesepiannya. Sebuah hari dimana keluarganya seolah terpecah secara halus.


Rasanya sangat sedih, kakek nenek meninggal, begitupun ayah dan ibunya, Fang Yuna berada di negara petir mengikuti Rouya sebagai seorang kaisar. Dan kini, adik kecilnya juga pergi meninggalkannya dan akan menjadi seorang kaisar.


Fang Tan kini tengkurap di atas sebuah ranjang tidurnya, meletakkan dagunya di atas sebuah bantal. Air matanya juga terus menetes membasahi bantal tersebut. Entah kenapa, dia ingin mengulangi sebuah waktu, yang mana satu keluarganya kembali berkumpul dengan berpelukan sebagai seorang keluarga. Namun, semua itu hilang dalam sekejap dan hanya akan menjadi sebuah kenangan yang tidak pernah dia lupakan.


Begitu juga dengan Zeno, dia menaiki sebuah kereta kuda dengan menundukkan kepalanya bersedih. Perasaannya sangat remuk sama seperti kakaknya, dia merasa bahwa keluarganya telah terpecah secara halus hanya karena suatu masalah. Di pikirannya hanya ada sebuah kenangan keluarganya berkumpul dalam beberapa minggu saja. Dia juga mengingat, saat keluarganya berpelukan, dan dia melompat kegirangan ke arah mereka bagaikan seorang anak kecil.

__ADS_1


Rasanya, ini hanyalah sebuah mimpi, mimpi yang paling buruk yang pernah dia alami. Sesekali dia menoleh ke belakang, memperhatikan sebuah istana yang semakin menjauh. Dia hanya tersenyum kecil seolah tidak bisa meninggalkan rumah tercintanya.


Turse, Kirin dan Uron yang ada di dekat Zeno, mereka hanya memalingkan wajahnya dan tidak ingin melihat tuannya sedih ke sekian kali. Mereka juga mengerti, bagaimana rasanya baru saja kehilangan beberapa keluarga, namun juga harus pergi meninggalkan salah satu keluarga yang masih bertahan.


Zeno duduk sambil menutup wajahnya, suara tangisan lirih terdengar di telinga para bawahannya yang membuat mereka tidak bisa untuk tidak bersedih. Mungkin perjalanan menuju pelabuhan ini hanya akan dipenuhi sebuah tangisan kesedihan dari seorang calon kaisar.


.......


Hingga pada akhirnya, mereka bertiga sudah berada di pelabuhan dengan Zeno yang sudah berhenti menangis. Namun, dia hanya terdiam seolah masih larut dalam kesedihan karena beranjak pergi meninggalkan salah satu keluarganya yang masih bertahan di tempat tersebut.


Beberapa orang yang melihatnya juga memberikan sebuah hormat, namun dalam keadaan hening karena melihat pangeran mereka bersedih. Banyak dari mereka juga mengerti perasaan Zeno, yang mana keluarganya benar-benar terpecah. Mereka juga tidak bisa menganggap sepele perasaan tersebut, karena mereka tahu, bahwa pangeran Zeno harus kehilangan sebuah kebahagiaan yang tidak bertahan selama satu tahun.


Bahkan saat masuk ke dalam kapal mewah milik kekaisaranpun, Zeno masih menundukkan kepalanya dan tidak memperhatikan jalan.


“Tuan, jangan berpikiran bahwa keluarga Anda benar-benar terpecah sepenuhnya. Kalian semua, baik itu kaisar Fang Tan dan Kakak Yuna, memiliki ikatan batin yang begitu kuat. Jangan berpikiran bahwa keluarga Anda tidak akan pernah berkumpul lagi. Kalian hanya butuh waktu.” Turse mencoba untuk menenangkan Zeno.


Zeno yang baru saja duduk di sebuah kursi istimewa mengusap air matanya dan berkata dengan lirih, “Kau benar, hanya saja mungkin sangat berat saat tahu bahwa kami akan jarang untuk berkumpul lagi karena kesibukan masing-masing.”


“Jadikan itu sebuah pengalaman, sehingga saat Anda berkeluarga, Anda tidak akan membiarkan itu terjadi.”


“Ini semua terjadi karena pengganggu, jika Danze tidak datang, orang tuaku masih utuh, nenekku juga masih menjadi kaisar hingga aku bisa lebih lama lagi merasakan rasanya berkumpul menjadi keluarga.” Ucap Zeno yang tampak lesu.

__ADS_1


“Lupakan itu semua. Saat ini Anda harus menghilangkan semua kesedihan Anda dan lebih sedikit berwibawa di hadapan orang-orang nantinya. Bukankah begitu, kaisar Zeno?”


__ADS_2