Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Babak kedua (3)


__ADS_3

Tak disangka, Danze sudah berada di samping Zeno sambil mencoba untuk menusuk Zeno. Akan tetapi, Zeno tidak selemah itu, dia berbalik badan 90 derajat dan menendang perut Danze dengan kecepatan cahaya. Sehingga membuat Danze terlempar dan membentur dinding kekaisaran bagian bawah.


“Sial, tidak kusangka bahwa dia sekarang sekuat ini.” Danze mencoba untuk bangkit, napasnya begitu terengah-engah karena mendapatkan pertarungan yang sangat hebat ini. Dia tidak pernah, menghadapi musuh seperti Zeno yang sekarang. Padahal dia sebelumnya sangat yakin bahwa Zeno masih memiliki kemampuan yang sama seperti babak pertama dulu.


Zeno yang tidak membiarkan Danze berbicara lebih lanjut, dia mengayunkan pedangnya, memunculkan sebuah elemen cahaya yang memanjang dan mengarah ke arah Danze.


Danze langsung menghindar walaupun tubuhnya mengalami rasa sakit aibat jatuh itu tadi. Meskipun begitu, istana kekaisaran yang ada di belakang Danze mengalami kerusakan yang cukup parah akibat serangan milik Zeno yang dihindari oleh Danze.


Zeno langsung mengejar Danze, lebih tepatnya bergerak seepat kilat dan berada di hadapan Danze, kemudian tanpa berpikir secara panjang, dia menendangkan kakinya ke arah perut. Secara bersamaan, Danze menyadari itu juga, sehingga dia juga melemparkan bogem ke arah wajah Zeno.


Kedua serangan itu mengenai mereka masing-masing, namun bedanya, Zeno tampak tidak apa-apa karena wajahnya ia lapisi oleh sebuah elemen es yang cukup keras, sedangkan tendangannya, dia lapisi dengan elemen petir sehingga menimbulkan sebuah efek tendangan yang cukup keras pula.


Danze langsung berdiri sebelum dia diberikan sebuah serangan ke sekian kali, tampaknya dia yang berniat untuk tidak memberikan ampun kepada lawan, justru dirinya lah yang tidak diberi ampun seolah tidak diberi waktu untuk bernapas.


Dan benar saja, Zeno langsung bergerak, memposisikan pedangnya untuk menusuk perut Danze secara langsung. Namun, Danze yang sudah berdiri menahan Ice Sword menggunakan Fire Sword yang die pegang. Kemudian, Zeno dan Danze beradu pedang untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Namun kali ini, mereka berdua beradu pedang tampak lebih ekstrem lagi. Yang mana, mereka berdua juga memainkan elemen yang keluar dari pedang mereka. Seperti Fire Sword yang dipegang Danze menjadi pedang kegelapan mengeluarkan kegelpan, serta Zeno yang juga mengeluarkan es dari pedangnya untuk terus menerus melawan Danze.


Selain itu, Danze merasa sedikit aneh dan janggal, seharusnya, elemen kegelapan sangat unggul dibandingkan dengan elemen es. Teringat saat pertarungan pertamanya dengan Zeno, Zeno selalu terlempar saat beradu pedang yang di lapisi elemen, namun siapa yang menyangka, es milik Zeno sekalipun bisa sangat keras hingga elemen kegelapan yang dia miliki sulit untuk menghancurkannya.


Pertarungan kali ini mungkin cukup mengerikan, bahkan banyak prajurit Zeno merasa ketakutan saat Zeno bertarung secara habis-habisan dengan Danze yang secara notabe merupakan mantan kaisar terkuat. Namun, tidak sedikit prajurit yang ada di luar istana yang melihat bahwa Zeno lebih unggul dan bisa menang. Terbutki bahwa Danze sedikit mengalami luka yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan Zeno.


Selain itu, tidak hanya di darat, pertarungan yang cukup mengerikan juga terjadi di udara, yang mana Gryphon sendiri tampak kewalahan menghadapi Byakko dan Seriryu. Bagaimana tidak, mungkin apabila Gryphon melawan Genbu, itu tidak terlalu masalah, secara bahwa Genbu merupakan hewan darat, namun kali ini dia juga harus berhadapan dengan dua beast yang dapat terbang.


Kiba dan Azure, tampaknya dia juga tidak memberi ampun Gryphon yang mencoba lari, mereka berdua terus menerus mengeluarkan elemen dan kekuatan fisik untuk menghadapi Gryphon yang kesulitan untuk melawan mereka berdua.


Di sisi lain, para pasukan Turse hampir membunuh keluarga I’Ftarthur seisi istana. Walaupun, dia merasa sedikit kerepotan saat menghadpi beberala elementalist kegelapan, terbukti bahwa di tubuhnya juga terdapat luka yang cukup banyak. Namun, dia masih bisa menahannya, luka seperti itu hanyalah hal yang sangat biasa baginya.


Masalahnya, hanyalah satu, Turse kali ini sedang berhadapan dengan Irene yang mana dia sudah mengenakan pakaian meskipun itu sangat minim. Sedangkan yang lainnya seperti Nora dan Selena, Kirin dan Uron, mereka sedang membantu para prajurit yang sedang mengalami cedera, beberapa dari mereka juga ada yang terlebih dahulu menuju kapal laksamana Mahaa. Sedangkan jenderal Lois, dia langsung menuju wilayah selatan untuk memberitahu para pemanah untuk segera menuju kapal kembali.


“Wanita yang sangat kotor, kau pikir tuanku akan terpancing begitu saja?” Zeno semakin menggenggam erat busur panahnya sebelum dia melanjutkan ucapannya, “Aku heran, kenapa kau masih berani telanjang, padahal keluarga I’Ftarthur melihatmu.”

__ADS_1


“Itu bukan urusanmu, lagipula mereka sudah biasa melihatku telanjang seperti ini.” Irene tersenyum lebar sambil bergerak ke arah Turse.


“Dasar wanita gila!” Turse melompat ke belakang untuk menjaga jarak, selain itu dia juga melepaskan anak panah secara berulang kali kepada Irene. Tampaknya, dari raut wajah Turse, dia tidak begitu suka dengan keberadaan Irene, sehingga di setiap anak panah yang dia beri racun yang berbeda-beda.


Meskipun begitu, Irene tampak begitu gesit dan bisa menghindari puluhan anak panah yang di lepaskan oleh Turse. Sesekali dalam jarak jauh, dia menembakkan sebuah elemen kegelapan ke arah Turse.


Dia meloncat untuk menghindari serangan itu, kemudian dia tidak berisitirahat dan tidak menghentikan tangannya untuk melepaskan tali busur sama sekali. Selain itu, apa yang paling penting baginya adalah menjaga jarak, sehingga,saat Irene mendekat, dia meloncat kemanapun dan tidak bisa untuk terus ke belakang.


Mungkin kali ini, Turse bisa bebas untuk melompat kemana saja, karena dia sedang berada di luar, menembakkan anak panah ke atas tanpa sepengetahuan Irene juga tidak menjadi sebuah masalah.


Irene masih bergerak ke arah Turse sambil melancarkan beberapa serangan, karena jika Turse selalu mencoba untuk mundur seperti itu, maka dia juga tidak bisa mengeluarkan beberapa monster untuk membunuhnya. Cara lain yang paling efektif adalah mengejarnya dan membuat Turs lelah sehingga tidak bisa mundur dan menjaga jarak lagi.


Turse menghentikan langkahnya, dia justru semakin maju ke depan karena ada sesuatu yang ingin dia lakukan. Hal itu ternyata membuat Irene tersenyum dan tidak menaruh curiga sama sekali dan menganggap bahwa Turse adalah orang yang sangat bodoh. Dia lantas berhenti dan mencoba untuk mengeluarkan monster kegelapan.


Turse memberikan sebuah isyarat mata agar Irene menghadap ke atas. Dan tentunya, hal itu membuat Irene terkejut saat ribuan anak panah sudah ada tepat di atasnya dan siap menghujani dirinya. Dia mencoba untuk melompat ke belakang. Namun, saat dia terfokus menghadap ke atas, sebuah anak panah menancap di kakinya yang membuatnya mendadak menjadi lumpuh, napasnya tiba-tiba juga perlahan menjadi sangat sesak.

__ADS_1


“Ternyata racun itu bekerja dengan sangat cepat, walaupun tidak mematikan.” Turse berbalik badan dan pergi, sesaat Irene dihujani anak panah secara tragis.


__ADS_2