
Wajah Fang Yoshi begitu suram, karena teknik tersebut bukanlah sebuah teknik sembarangan, walaupun milik Zeno masih berada pada tahap pertama, tetapi Fang Yoshi tidak bisa memandang remeh tahap tersebut.
“Baiklah, ayo lebih dekat lagi.” batin Zeno dengan senyum terukir jelas di wajahnya.
“Tidak perlu lama lagi, aku akan mengakhiri.” Kata salah satu dari keempat musuh Zeno beranjak lebih cepat dan hendak menendang Zeno yang kala itu sedang berjongkok.
Tetapi sayangnya, pemuda itu terlalu ceroboh saat hendak menendang Zeno sendirian. Seharusnya dirinya menunggu momen dimana teman kerja samanya menunggu aba-aba untuk melakukan penyerangan. Ditambah pemuda tersebut tidak tahu apa yang direncanakan oleh Zeno, sehingga pemuda tersebut terlalu yakin bahwa Zeno sedang berjongkok hanya karena ingin menyerah.
“Bagus, ayo lebih dekat.” Batin Zeno dengan senyumnya yang semakin melebar.
Pemuda tersebut langsung menendang Zeno tanpa berpikir panjang. Namun sayangnya keberuntungan tidak berpihak pada pemuda itu, karena Zeno dengan sigap langsung memegang kaki pemuda tersebut dan segera menotoknya di bagian paha.
Teknik Aliran pemecah batu ini sukses membuat pemuda tersebut berteriak dengan begitu kencang, pasalnya tepat di bagian pahanya, ia merasakan linu yang teramat sakit. Ditambah saat, dia mencoba menyingkap celananya sampai ke paha, dia melihat bahwa pahanya mengalami luka yang begitu dalam.
“Oh tidak maafkan aku, pasti itu sakit sekali.” Kata Zeno yang kemudian melangkahkan kakinya melewati pemuda yang terkena teknik dari Zeno, yang kini dia hanya kesakitan sambil memeluk kakinya.
Zeno memang sengaja tidak menendang ataupun menyeret pemuda itu keluar dari arena, jadi dia hanya menghiraukan lawannya yang sudah tumbang.
Tetapi pemuda tersebut juga tidak bodoh untuk melihat secara langsung dari dalam arena. Jadi dia memilih untuk menyerah karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk bisa melawan Zeno lagi.
Beberapa orang kemudian datang untuk menghampiri pemuda tersebut, membawanya pergi adalah tugas mereka ketika seseorang menyerah. Dan juga pemuda tersebut langsung dibawa untuk menjalankan pengobatan luka yang berada tepat di pahanya.
Zeno yang awalnya berjalan mundur karena sudah terkepung, kini ia malah menjadi perlahan maju dan membuat ketiga sisa lawannya mundur perlahan. “Sisa kalian bertiga, kalian mau menyerah untuk keluar dari arena dengan sengaja, atau aku yang memaksa kalian.” Kata Zeno dengan begitu dingin.
"Kami lebih baik untuk tidak menyerah, dan kami tidak akan melakukan kesalahan kembali untuk melakukan hal ceroboh." Kata salah satu dari mereka.
Ucapan mereka seakan-akan masih berani mau melawan Zeno, tetapi tubuh mereka tidak seperti ucapannya. Dimana tubuh mereka bergetar seakan ketakutan.
"Ucapan kalian mungkin berani, tetapi tubuh kalian tidak bisa berbohong." Kata Zeno.
__ADS_1
"Angin: hembusan berdebu."Kata salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah angin dari mulutnya, tetapi angin tersebut sangatlah berdebu sehingga merusak pandangan Zeno.
"Air: ledakan gelembung." Kata dua orang yang merupakan anggota keluarga Fang.
Ketiga orang tersebut menyerang secara bersamaan. Zeno yang berada di dalam angin berdebu kini tidak bisa melihat apa-apa, tetapi dirinya tidak sedikitpun panik ketika berada di balik angin berdebu.
Sebuah gelembung air masuk kedalam angin berdebu yang didalamnya terdapat Zeno. Kedua teknik yang dikeluarkan tiga orang mungkin membuat Zeno tidak bisa berbuat apa-apa menurut mereka.
"Sekarang kau kalah." Teriak mereka begitu keras kepada Zeno.
"Benarkah?" Ucap Zeno yang menghilangkan angin debu itu menggunakan elemen angin miliknya. Ditambah seluruh gelembung air yang akan meledak malah menyebar kemana-mana.
"Duarrr." Seluruh gelembung air yang menyebar akhirnya meledak juga. Bahkan, salah satu dari tiga orang yang menyerang Zeno juga terkena dampak dari ledakan tersebut, sehingga ia malah terpental sampai keluar arena.
"Sisa dua." Zeno berkata dengan begitu dingin, sehingga aura wajahnya begitu menakutkan saat lama dipandang.
Ditambah saat mengeluarkan elemental, keduanya juga akan merasa kesulitan, karena Zeno memiliki kedua elemen yang dimiliki masing-masing oleh dua pemuda tersebut. Jadi sangat mudah apabila Zeno mengimbangi seluruh elemen yang dikerahkan oleh kedua pemuda tersebut.
Zeno menghela nafas menghela nafas begitu panjang saat mengetahui dua pemuda di hadapannya. "Aku sangat mengapresiasi keputusan kalian untuk melakukan kerja sama, sekuat apapun musuh kalian, jangan lupakan yang namanya kerja sama."
"Mungkin musuh kalian terlalu kuat, sehingga melakukan kerjasama terasa sangat kurang. Karena yang kurang dalam diri kalian adalah memiliki sebuah strategi." Sambungnya.
Kedua pemuda itu memandangi satu sama lain, apa yang dikatakan Zeno memang benar bahwa dirinya membutuhkan strategi. Tetapi dalam keadaan seperti ini, mereka sudah tidak memiliki strategi apa-apa, karena dua orang sudah kalah.
"Kami sudah tidak memiliki strategi apa-apa lagi." Kata mereka berdua serentak.
"Karena kalian kurang untuk berpikir." Zeno hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Baiklah, akan aku contohkan strateginya."
"Seharusnya cukup satu saja yang melawanku dengan menggunakan sebuah teknik elemental biasa. Mungkin kala itu aku cukup lengah karena sedang sibuk menangkal teknik elemental tersebut, maka dari itu, salah satu dari kalian melompat dari sisi berbeda untuk menyerang ku." Zeno benar-benar menjelaskan apa yang seharusnya tidak ia ceritakan, pasalnya hal tersebut sama saja memberikan sebuah senjata kepada musuh untuk melawan diri sendiri.
__ADS_1
Kedua pemuda itu kembali memandangi satu sama lain, senyum di antara kedua pemuda itu sepertinya mengerti tentang penjelasan Zeno, sehingga mereka berdua untuk melakukan apa yang Zeno jelaskan.
"Uhuuuk." Salah satu dari mereka malah terpental hingga keluar arena sebelum wajahnya kembali hadap depan.
Zeno yang setelah menendang sebuah dada pemuda yang baru keluar dari arena kini memutar badannya dan menendang juga orang yang tersisa di dalam arena.
"Kalian juga terlalu bodoh! Kalian pikir, aku akan membiarkan rencana yang ku buat kalian jalankan?" Zeno hanya bisa tertawa dan juga menepuk dahinya.
Saat ini seorang yang bertahan dari arena satu adalah Zeno, Zeno kemudian turun dari arena dan kembali duduk di kursinya.
"Akhirnya arena pertama sudah memiliki seseorang yang bertahan." Kata Fang Tian dengan berteriak.
Pertandingan yang cukup lama tepat di arena pertama yang Zeno tempati. Karena dua arena sisanya sudah mendapatkan siapa yang bertahan dalam satu arena.
Pertarungan Zeno dan juga para pemuda yang melakukan kerjasama juga cukup membosankan, karena kelima orang yang bertarung di tempat yang merupakan keseruan dalam pertandingan.
Tetapi tidak sedikit juga para penonton yang kagum kepada Zeno dan menikmati pertarungannya, karena dirinya kali ini bisa melawan empat orang sekaligus yang melakukan bekerja sama. Sebelumnya mereka juga tidak terlalu yakin saat melihat Zeno yang perlahan mundur karena terkepung, tetapi mereka juga cukup bahagia saat melihat Zeno yang kini sedang memojokkan.
note:
hai semuanya, semoga kalian sehat selalu ya. Author hanya ingin menyampaikan bahwa terima kasih untuk kalian semua yang sangat setia menemani author hingga sampai chapter ini.
kritik dan sarannya sangat terbuka bagi kalian agar author bisa mengoreksi diri dan juga lebih baik kedepannya, jadi jangan sungkan-sungkan untuk memberikan sebuah kritikan dan saran, karena itu sangat penting bagi author.
oh iya, jangan lupa setelah baca usahakan tinggalkan jejak berupa like serta komentar, agar author lebih semangat dalam meneruskan ceritanya.
udah cukup itu saja yang ingin author sampaikan, sekian dan terima kasih.
i love you all (terutama yang cewek)
__ADS_1