
Dion mundur perlahan sambil menjulurkan pedangnya ke arah Zeno. Wajahnya terlihat sangat buruk menandakan bahwa dirinya dipenuhi dengan ketakutan yang tidak pernah dia alami dalam hidupnya. Menurutnya, Zeno sudah menjadi monster yang tenang namun sangat mengerikan, bahkan dari wajah Zeno terlihat tidak berekspresi apapun. Dion tahu jelas bahwa dibalik dinginnya Zeno, terdapat sebuah api yang membara di dalam jiwanya. Lebih tepatnya api tersebut yang akan menyulut diri Dion dalam waktu sekejap.
Zeno semakin melangkahkan kakinya di saat Dion mundur perlahan, padahal dirinya hanya menggertak dan belum menyerang Dion secara langsung. Mungkin sesuatu terlintas di pikiran Zeno, apakah dirinya terlalu mengerikan? Mengapa orang-orang memandang dirinya seperti memandang iblis? Bukankah Dion sendiri yang iblis? Menuduh seseorang tanpa bukti yang sangat jelas. Entahlah, Zeno sendiri juga merasa sangat bingung dengan tindakan seseorang.
Saat ini julukan terlalu mengerikan tidak terlalu dia pedulikan, masalahnya ini sudah berada di ambang keinginan untuk membunuh Dion.
Dion mencoba untuk menggerakkan pedangnya, sesekali dia melakukan itu untuk melakukan perlawanan, karena semenjak tadi, dia hanya diam dengan diselimuti oleh rasa takut yang sangat luar biasa.
Zeno membuka matanya lebar, dia cukup senang setelah Dion akhirnya bergerak untuk melawannya. Hanya sebuah pedang yang ditebaskan ke arah lehernya, jadi bukanlah masalah bagi Zeno. Apalagi kecepatan pedang yang digerakkan oleh tangan Zeno sangat tidak konsisten, bahkan bisa dibilang sangat lambat.
Mungkin memang benar pedang Dion berada di leher Zeno, tetapi leher terlapisi oleh sebuah es yang tidak cukup padat. Tetapi karena kecepatan pedang yang diayunkan cukup lambat, es yang berada di leher Zeno sanggup menahan sebuah bilah pedang.
Dengan berani, Dion kemudian mengangkat tangannya dan memukulkannya ke arah Zeno, tetapi Zeno segera melompat ke belakang untuk menghindari serangan yang sangat lemah tersebut.
“Bagus, kau sudah mulai berani. Hal itu membuatku cukup senang.” Zeno menggerakkan jarinya kembali agar Dion datang kepadanya.
Dion sudah mengumpulkan keberanian dalam hatinya, bahkan dia sudah mulai bergerak dengan memainkan pedangnya ke arah Zeno. Dion juga menggerakkan elemen alam yang dia miliki seperti air dan angin untuk menyerang Zeno. Dion tau pasti bahwa melawan atau tidak melawan, maka hasil akhirnya adalah mati, setidaknya dengan melawan dia masih ada usaha.
__ADS_1
Zeno hanya terus menghindari seluruh serangan pedang maupun elemen yang Dion keluarkan. Misalnya saja seperti gelombang air yang Dion keluarkan, Zeno hanya melompat dan memanfaatkan kemampuan anginnya untuk menghalau serangan gelombang, tanpa menyerang balik serangan Dion. Zeno sebenarnya mengakui bahwa Dion merupakan elementalis yang berbakat juga.
Dion juga sempat menebaskan pedangnya dan memunculkan sebuah air yang membentuk bulan sabit ke ara Zeno, tetapi lagi-lagi Zeno hanya menghindari semua serangan itu.
Tidak ada satu pun serangan Dion yang mengenai Zeno, hal itu cukup membuat Dion menggertakkan giginya dan semakin kesal dengan tingkah Zeno yang hanya menghindar tanpa adanya perlawanan.
“Hebat, aku tidak menyangka bahwa kau ternyata adalah elementalist berbakat.” Zeno membuka mulutnya secara lebar, mengakui bahwa Dion yang awalnya penakut ternyata juga bisa bertarung. Tetapi itu menurutnya tidak seberapa, bahkan kemampuan Dion masih jauh di bawah Hanof yang merupakan anak buah ayah Dion. Sungguh, jika Zeno menjadi Dion, maka dirinya mungkin akan sangat malu.
“Hey coba lihat, lenganmu berdarah.” Teriak Dion.
“Tunggu, apa? Bagaimana bisa?” Zeno mengerutkan dahinya setelah memperhatikan bahwa lengannya terluka. Dia sama sekali tidak tahu dari mana luka itu berasal, seingatnya, Dion belum menyentuhnya sama sekali.
Mungkin Zeno benar-benar tersadar bahwa Dion menebaskan pedangnya dan mengeluarkan sebuah angin tak kasat mata yang melukai dirinya. Tetapi Zeno mencoba untuk tidak bergerak dan memang sengaja bilah angin tersebut kembali melukai dirinya agar terlihat sangat lemah.
Dion menjadi semakin berani karena berhasil melukai Zeno, dia tersenyum kecil sambil berkata, “lihat, kau bahkan tidak bisa menebak bilah angin milikku, aku tahu kelemahanmu.”
Zeno menganggukkan kepala sambil mengusap luka kecil menggunakan jarinya. Hanya luka kecil yang meneteskan setitik darah, tetapi Dion sudah menjadi sangat sombong. Bahkan Zeno melihat Dion sudah menjadi semakin berani dengan penuh yakin bahwa dirinya bisa menang. Bahkan dengan begitu, Dion sudah merasa melebihi jenderal Zhuo.
__ADS_1
Zeno kembali tegak, wajahnya dipenuhi dengan senyuman yang sangat cerah, “Dion, sepertinya teknikmu itu sangat lemah, apakah kau ingin melihat kemampuanku yang sama denganmu?”
“Jangan bercanda, teknik itu memerlukan sebuah pedang, dan kau tidak menggunakan pedang sama sekali. Bukankah kau sendiri yang menantangku tanpa menggunakan pedang?” Teriak Dion.
Zeno tidak menanggapi apa yang Dion katakan, dirinya menebaskan tangan kanannya seakan seperti sebuah pedang. “Angin: teknik tebasan angin tak terlihat, tahap ketiga.”
Dion tertawa lebar setelah melihat hal bodoh Zeno, menebaskan sebuah tangan seperti sebuah pedang? Menurutnya Zeno menjadi semakin gila karena sudah takut kepadanya. Tapi selang beberapa lama, dia merasakan ada yang perih pada lengan kanannya. Untuk memastikan apa yang terjadi, dia melihat lengannya.
Terkejut bak disambar petir, serta tubuhnya seakan membeku dengan mulut yang terbuka lebar. Darah segar mengalir deras menyiram lengan terputus dengan memegang sebuah pedang. Benar, bilah angin milik Zeno memotong lengan Dion sampai putus. Kejadian itu membuat seluruh orang yang melihat membuka matanya lebar-lebar dan syok, mereka bahkan tidak melihat Zeno melancarkan serangan apapun kepada Dion.
“Hey Dion, bagaimana menurutmu? Bilah anginmu hanya sebatas melukaiku tadi, itupun hanya luka kecil, tetapi kau sudah sangat sombong. Benar-benar, ternyata kau tidak pernah belajar dari kesalahanmu.” Geram Zeno.
Zeno bergerak secepat kilat ke arah Dion, kemudian dia meninju perut Dion dengan dilapisi sebuah energi petir, akibatnya pukulan yang dihasilkan Zeno juga sangat cepat dan kuat hingga membuat Dion terlempar dan memutahkan seteguk darah. Tidak mau berhenti, Zeno bergerak lai secepat kilat dan memukul Dion dari atas, sehingga Dion yang terlempar kini harus terjatuh dan membentur di atas tanah es dengan sangat sadis.
Zeno kembali melompat ke belakang untuk menjaga jarak, saat ini dia melihat Dion yang mencoba berdiri dengan perut yang juga berdarah. Tangannya masih tidak berhenti untuk mengeluarkan sebuah darah karena bilah angin mengerikan milik Zeno.
Zeno masih merasa kurang puas, dia menebaskan kembali tangannya seperti sebuah pedang ke arah udara hampa. Lebih tepatnya dia mengeluarkan sebuah teknik tebasan angin tak terlihat tepat ke arah tangan Dion yang satunya.
__ADS_1
Hal itu membuat Dion kembali berteriak kesakitan. Bahkan dia memohon untuk segera dibunuh tanpa adanya sebuah penyiksaan. Hatinya benar-benar kacau, dari segi mental dia juga benar-benar sudah rusak.
“Kau tahu, aku juga memiliki sebuah teknik bilah angin yang juga mengerikan.” Zeno mengulurkan kedua tangannya ke arah Dion