
“Anak itu cukup membahayakan. Setidaknya kita harus segera bertindak sebelum semuanya kacau.” Kata seseorang yang duduk di singgasana dengan pakaian yang sangat mewah, tapi terlihat dari wajahnya, bahwa orang tersebut terlihat sudah tua.
“Apa yang perlu kita lakukan yang mulia raja Buras apakah kita harus mengirim jenderal terkuat kita untuk menangkap bocah itu. Lagi pula, jika kita tidak mengirimkan orang kuat sekalipun, maka anak itu juga akan sangat sulit untuk dikalahkan.” Kata perdana menteri raja yang duduk di sebuah kursi.
“Seharusnya memang begitu, bahkan orang terkuat milik Duke kita harus kehilangan satu tangannya karena ulah anak yang bernama Zen itu. Padahal kalian tahu sendiri bahwa tangan Hanof belum pernah ada yang melukainya karena sarung tangan yang terbuat dari es.” Sahut salah satu tangan kanan raja yang duduk di samping perdana menteri.
“Cukup merepotkan, baiklah, kirim salah satu pasukan terbaik kita untuk mencari anak itu. Pasukan terbaik yang kita miliki juga tidak kalah dengan Hanof, tetapi sebuah pasukan memiliki puluhan orang atau lebih.” Raja Buras mengeluarkan suara.
Mendengar keputusan raja, perdana menteri mengerutkan dahinya dan bertanya kepada raja “Apa ada tidak terlalu berlebihan untuk mengirim pasukan terbaik?”
Raja Buras hanya diam dan tidak merespon apapun, dirinya juga memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya menggunakan lengannya. Hal itu menandakan bahwa ucapan yang dia keluarkan tidak ingin untuk dibantah.
Perdana menteri yang melihat hal tersebut langsung berdiri dengan tersenyum kecut karena telah membuat sebuah kesalahan besar.
“Maafkan aku yang mulia, baiklah, aku akan segera mengirim pasukan terbaik untuk menangkap anak yang bernama Zeno itu.”
Di malam seperti ini, sepertinya berita tentang Zen yang menjadi bawahan Rungdaf telah sampai ke telinga raja tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dari Duke. Bahkan jika berita tersebut terus menyebar, tidak mungkin untuk tidak sampai ke kekaisaran, hal itu justru akan membuat satu wilayah emperor menjadi gempar.
Bahkan saat ini, banyak orang-orang yang lebih berhati-hati apabila bertemu dengan orang asing. Terlebih lagi setelah beredarnya berita yang menurut Zeno itu merupakan sebuah pelanggaran berat karena hal itu merupakan sebuah tuduhan palsu.
****
__ADS_1
Keesokan harinya, Zeno sudah terbangun dalam kondisi penuh semangat. Tapi rasa semangatnya perlahan menghilang saat mengingat bahwa dirinya pasti telah menjadi buronan seluruh kerajaan. Hal terpenting yang ia lakukan saat ini adalah bergegas keluar sebelum ada yang tau bahwa dirinya berada di sini, terlebih lagi jika penginapan ini terkepung, maka celah untuk kabur tidak ada sedikitpun.
Zeno akhirnya keluar menuju dan menuju resepsionis untuk membayar sewa kamarnya, sekali lagi Zeno juga mengucapkan terima kasih kepada wanita resepsionis setelah memberikannya sedikit informasi yang mana suatu saat pasti akan sangat membantu.
“Aku ingin tahu, siapa lagi yang akan berhadapan denganku saat ini.” Gumam Zeno dalam hatinya sambil melihat sekeliling, bagaimanapun juga dirinya harus meningkatkan sebuah kewaspadaan agar serangan tiba-tiba tidak terpengaruh kepadanya.
“Tuan!” Kata Kiba di dalam diri Zeno.
“Aku mengerti Kiba.” Zeno pun akhirnya mempercepat langkahnya untuk mencari tempat yang sepi, bagaimanapun dia merasa akan ada pertarungan besar yang membuatnya tidak bisa untuk melibatkan orang-orang. Wajahnya sedikit suram karena yang mengejarnya sepertinya orang banyak, setidaknya Kiba mengendus ada sekitar dua puluh orang sedang memata-matai tuannya.
Zeno telah sampai di sebuah hamparan es tanpa adanya kehidupan sedikit pun, mungkin yang ada hanya sebuah salju tanpa pohon ataupun rumah yang membuat tempat ini sedikit sepi dari orang-orang.
“Apakah kalian tidak lelah mencariku? Itu hanya tuduhan palsu dari Dion sialan itu, bukankah seharusnya kalian sebagai prajurit tidak menelan mentah-mentah berita tersebut?” Tanya Zeno berbalik badan dan menemukan banyak prajurit yang berjalan perlahan menuju ke arahnya.
“Hanof, itu merupakan bukti bahwa kau merupakan bawahan Rungda.” Jawab salah satu dari mereka.
Zeno menghela napas panjang sebelum melanjutkan pembicaraanya, wajahnya begitu dingin dan sangat malas menatap belasan prajurit yang ada di hadapannya, terlebih lagi sepertinya dirinya akan sangat kerepotan, karena seluruh prajurit ini membawa pedang dengan baju pelindung dari besi yang sangat tebal.
“Karena Hanof yang bersikeras untuk membunuhku, apa salahnya jika aku melawan? Bagaimana jika aku terbunuh dan ternyata semua tuduhan itu tidak benar? Pasti orang seperti kalian hanya tutup mulut dan tidak peduli bahwa tuduhan itu salah.”
“Nyatanya, penjahat tidak akan mengakui bahwa dirinya akan jahat, begitu juga dengan kau. Sudahlah, jangan membela diri, kami adalah prajurit khusus yang dikirim langsung oleh kerajaan, menyerahlah!” Teriak salah satu dari mereka yang berada di depan.
__ADS_1
Zeno tidak panik sedikit pun, bahkan raut wajahnya tidak memiliki perubahan saat mendengar bahwa mereka merupakan sebuah pasukan khusus. Bahkan Zeno berniat untuk bergerak sebelum belasan prajurit yang ada di hadapannya bergerak, mengangkat satu kaki pun rasanya juga sangatlah malas. Benar-benar, saat ini Zeno sama sekali tidak memiliki semangat rasa bertarung sama sekali.
“Ice Blok.” Seluruh prajurit mengulurkan tangannya ke arah Zeno, hal itu membuat Zeno langsung berada di kotak es dalam sekejap.
Saat ini dirinya merasa tidak bisa bernapas sedikitpun, tetapi dirinya tetap tenang untuk menghadapi orang-orang seperti mereka.
Salah satu dari mereka mengulurkan tangan dengan menutup telapak tangan secara perlahan-lahan, akibatnya, blok es menyusut sehingga membuat seluruh tubuh Zeno merasa tertekan. Tidak hanya itu saja, para prajurit yang lain mengangkat pedang mereka dan berlari ke arah kotak es dengan Zeno yang ada di dalamnya.
Belum sempat mereka menebas dan menghancurkan Zeno yang ada di dalamnya, kotak es meledak dan hancur yang mengakibatkan para prajurit yang mendekat terpental beberapa meter. Tidak ada yang menyangka bahwa kotak es itu hancur akibat dua sosok roh naga yang keluar dari tubuh Zeno.
Zeno berjalan perlahan ke arah mereka dengan mengatur napas, dua sosok naga dengan unsur petir berwarna oranye dan biru berada di atas Zeno, asap dari hidung kedua naga membuat naga tersebut terlihat sangat mengerikan, bahkan prajurit yang terpental terpaksa harus berkumpul kembali untuk melakukan serangan secara bersamaan.
“Apa kalian tidak ingin bermain pedang denganku?” Tanya Zeno sambil menarik ice Sword dari punggungnya, kemudian dia memasang sebuah kuda-kuda sambil berkata, “Sangat membosankan apabila beradu teknik dengan kalian. Terlebih lagi kalian merupakan pasukan khusus yang seharusnya sangat terlatih dengan pedang.”
Seluruh prajurit membuka mata mereka lebar-lebar. Tatapan mereka seolah tidak percaya dengan apa yang Zeno tarik dari punggungnya, bahkan salah satu wajah mereka menjadi seputih kertas saat memperhatikan apa yang Zeno pegang.
“Tidak mungkin.”
“Bagaimana pedang tersebut ada di tangan seorang penyihir.”
“Jika tidak salah pedang tersebut bernama The legendary Ice Sword
__ADS_1