Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Satu kamar, lagi?


__ADS_3

“Selagi Kirin dan Uron menyelesaikan tugas mereka. Sebaiknya pangeran Zeno bisa beristirahat. Biarkan masalah ini kami yang akan mengurusnya, sedangkan pangeran hanya perlu terjun ke pertempuran nantinya.” Kata kaisar Lexus.


Zeno menghela napas, dia akhirnya berdiri meninggalkan kursi mereka dengan diikuti oleh Turse yang mengekor di belakangnya. Tentu saja, Zeno juga membungkukkan badannya untuk undur diri agar terkesan lebih sopan dan menunjukkan bahwa dirinya merupakan seorang bangsawan terhormat pula. Selain itu agar tidak ada yang memandang remeh sopan santun seorang bangsawan di benua lima negara.


Mengikuti seorang pelayan yang sebelumnya diam di tempat, karena pelayan tersebut ditugaskan oleh kaisar Lexus untuk mengantarkan Zeno dan Turse yang ada di kamarnya. Lagipula, Zeno juga tidak menolaknya untuk diberi sebuah pelayanan sebuah kekaisaran yang jauh lebih mewah. Selain itu, dia seakan tidak bertanggung jawab sepenuhnya, karena dia hanya ditugaskan untuk turun di medan pertempuran saja.


Hingga akhirnya, mereka berdua dengan seorang pelayan telah sampai di sebuah pintu kamar yang masih tertutup. Hanya sebuah pintu kamar, yang membuat Zeno dan Turse kebingungan dan menatap pelayan tersebut. “Hanya satu saja? Bagaimana denganku?” Protes Zeno.


“Maafkan aku pangeran, tapi kaisar hanya memerintahkan kami untuk menyiapkan satu kamar saja.”


Zeno mengerutkan dahinya sambil memandang Turse yang menggarukkan kepalanya sambil tersenyum malu. Hal itu membuat Zeno hanya menghela napas dan mau tidak mau menerima itu.


“Yasudah, terimakasih sudah menyiapkan sebuah kamar.” Kata Zeno dengan begitu malas, “Aneh-aneh saja kaisar ini.” Gumamnya dengan sangat lirih, sehingga sang pelayan tidak mendengarnya.


“Baiklah pangeran, saya undur diri. Silahkan menikmati istirahat Anda.” Kata pelayan tersebut sambil beranjak pergi.

__ADS_1


Zeno tidak menjawabnya lagi, entah kenapa dia menjadi kesal kepada semua orang, baik itu kaisar ataupun kepada Turse sendiri. Tapi sepertinya dia tidak merasa aneh apabila satu kamar lagi dengan Turse, dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apa karena terlalu sering hingga dia tidak merasa sangat aneh? Padahal saat pertama kali di sebuah penginapan, dada Zeno berdebar kencang dengan perasaan yang sangat canggung kala itu, namun kali ini dia tidak memiliki perasaan apapun.


“Tuan, mengapa engkau tidak ingin turut serta dalam perumusan rencana. Padahal aku sama sekali ingin mendengarkan rencana yang Anda berikan.” Turse mengalihkan pemikirannya dengan bertanya kepada tuannya.


“Tidak, itu bukan urusanku. Lagipula tidak memerintahkanku untuk demikian, selain itu, mereka bukan siapa-siapaku yang membuat diriku bisa seenaknya. Berbeda dengan kaisar Aurrora yang merupakan nenekku, tentu saja sebuah kehormatan aku sebagai cucunya bisa memajukan kekaisarannya, lagipula hasilnya juga diberikan kepadaku nantinya.”


“Tunggu sebentar, jadi saat itu Anda sudah tahu bahwa diri Anda akan menjadi seorang kaisar?” Turse mengerutkan dahinya.


Mendengar hal tersebut, Zeno memutar bola matanya sambil tersenyum, kemudian dia menjawab, “Entahlah, tapi aku berpikiran bahwa aku menjadi calon kaisar di kekaisaran tersebut. Karena aku tahu, bahwa nenek hanya memiliki putra jenderal Zhuo, sedangkan jenderal Zhuo pernah menjabat sebagai kaisar. Karena peraturan dunia, seorang kaisar yang pernah menjabat di sebuah kekaisaran, tidak mempunyai hak untuk menjabat di kekaisaran lain. Jadi saat itu aku berpikir bahwa aku lah pewaris satu-satunya.” Zeno menghela napas sebelum melanjutkan ucapan singkatnya, “Walaupun menjadi kaisar sepertinya bukan hal yang dibanggakan. Jika bukan karena dendamku kepada Danze, mungkin benar-benar malas menjadi seorang kaisar.”


“Tapi tuan, tidak ada salahnya untuk membantu rencana mereka. Selain itu, aksi tuan menguak para pengkhianat benar-benar mengesankan.” Turse mengingat kejadian di Northern, yang mana sebelum Zeno membuat sebuat taktik perang secara besar, dia mengundurkan siasat tersebut selama satu hari. Namun siapa yang menyangka, bahwa keesokan harinya, sebelum Zeno menjelaskan siasatnya, dia menguak beberapa pengkhianat Northern Empire yang membuat Aurrora murka.


“Tunggu sebentar, lantas mengapa tuan mau bertanggung jawab?” Turse duduk di ranjang yang mana bersebelahan dengan Zeno yang tengah berbaring.


“Entahlah, engkau tidak perlu tahu.”

__ADS_1


“Tuan curang.” Turse menggembungkan sebelah pipinya sebelum melanjutkan ucapannya, “Kenapa akhir-akhir ini tuan tidak memberitahukan apa yang sebenarnya tuan rencanakan. Begitupun dengan siapa itu Hole, tugas Kirin dan Uron sebelumnya, tuan tidak memberitahukannya di saat aku bertanya.”


Zeno menghela napas dan langsung bangun dari berbaringnya, dia saat ini duduk di sebelah Turse yang memasang wajah kesal karena Zeno yang menyembunyikan rencananya. “Baiklah, terus terang aku ingin kau bisa memperhitungkannya sendiri. Karena aku tahu, bahwa kau sudah berjanji untuk menjadi tanganku, jadi kau harus bisa berpikir mengenai apa yang aku rencanakan tanpa memberitahumu. Tidak, aku tidak menuntutmu seperti itu, maksudku tebaklah terlebih dahulu kepadaku apa yang aku rencanakan. Justru aku lebih menyukaimu jika kau suka menebak seperti itu.”


“Menyukaiku?” Turse menutup mulutnya menggunakan telapak tangan dan tersenyum lebar di belakang telapak tangannya.


“Maksudku sebagai tangan Kanan. Ayolah, kau masih dibawah umur, jadi jangan seret aku menjadi predator anak yang dikecam dunia elementalist.” Zeno turun dari kasur dan mengambil segelas minuman yang suda tersedia di atas sebuah meja.


Mendengar hal tersebut, Turse menatap sinis Zeno. “Sebaiknya Anda berkaca terlebih dahulu tuan, Anda juga masih di bawah umur. Selain itu, sebenarnya aku dan Anda masih lebih tua aku dengan perbedaan beberapa bulan. Maksudku, aku baru saja berumur 16 tahun dua bulan yang lalu, dan Anda masih berumur berapa?”


“Apa?” Zeno menyemburkan minuman yang baru saja dia minum. Dia begitu terkejut setelah menyadari bahwa Turse ternyata lebih tua darinya. Walaupun itu hanya beberapa bulan saja, tapi itu cukup membuat Zeno merasa tidak pantas apabila dirinya dipanggil tuan oleh seseorang yang lebih tua. “Lantas kenapa kau tidak memberitahukan hal tersebut dua bulan yang lalu.”


“Untuk apa?” Turse memalingkan wajahnya dari hadapan Zeno.


“Sialan, ternyata aku masih cukup muda dibandingkan Turse. Bahkan aku tidak tahu kapan aku akan menginjak 16 tahun. Tetapi yang pasti itu belum, karena bulan sebelumnya ibu tidak mengucapkan selamat kepadaku.” Zeno berpikir sejenak sambil meletakkan gelas emas pada tempatnya kembali.

__ADS_1


“Tapi Tuan, tuan tidak perlu minder seperti itu. Itu cukup hebat bagi seorang remaja berumur 15 tahun seperti tuan. Bagaimana tidak, pemuda mana yang berhasil membunuh Akram di umur itu, pemuda mana yang berhasil menyatukan dua kekaisaran di umur itu, dan pemuda mana yang berhasil mengalahkan kaisar terkuat di dunia seperti itu?”


“Kau terlalu melebih-lebihkan.” Zeno kembali merebahkan badannya di kasur sambil melanjutkan ucapannya, “Jika bukan karena dirimu, aku tidak bisa menyatukan kekaisaran kala itu. Selain itu, kau juga cukup hebat, wanita mana yang di umur 15 tahun berhasil menjadi pemanah terhebat di benua Artrik? Tidak salah aku menerimamu menjadi seorang tangan kanan. Setidaknya kita akan memecahkan sebuah rekor sebagai pasangan kaisar dan tangan kanan termuda di sepanjang sejarah.” Zeno memejamkan matanya dan berniat untuk tidur siang.


__ADS_2