
"Kenapa?" Seorang wanita dengan begitu anggun tersenyum cerah ke arah Zeno, dengan sangat tinggi, bahkan tingginya menyamai Zeno yang juga tinggi. Kulitnya berwarna putih dengan sangat lembut. Mungkin siapa saja yang melihatnya pasti akan terpana, tidak terkecuali Zeno sendiri yang kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata karena tahu siapa wanita yang ada di hadapannya.
Bukan Arina atau ibundanya, tapi Zeno juga menghormati sosok wanita yang ada di hadapannya. Tentu saja, beberapa menit yang lalu dia baru saja membicarakan wanita tersebut, namun siapa yang menyangka bahwa wanita Dewi itu benar-benar muncul.
Masalahnya, bukankah Dewi Luna sudah tiada? Zeno mencoba berpikir secara cepat, dia mencoba untuk menyadarkan diri bahwa ini merupakan alam mimpi. Dia juga meyakinkan diri bahwa dirinya tertidur karena menyerap energi kehidupan yang sangat pekat.
Dewi Luna mendekat, dia menyentuh dagu Zeno dan mengangkat kepalanya perlahan. Senyum manis khas wanita cantik masih tampak segar dan terlihat begitu jelas, tanpa ada kurang sedikitpun dari awal.
"Ayolah sadarlah, ini kuil pemujaan diriku. Jadi wajar jika aku muncul, karena serpihan diriku ada di sini. Selain itu, serpihan sepertiku memiliki satu per satu juta Orka dari tubuhku yang asli. Sehingga, jika aku mengeluarkan elemen terus menerus secara satu hari penuh, maka aku akan hilang sepenuhnya." Kata Dewi Luna dengan tutur kata yang sangat lembut.
Serpihan Dewi Luna yang memuat satu per satu juta orka dari tubuh asli akan hilang apabila bertarung satu hari penuh. Tentu saja itu sangat mustahil bagi manusia biasa, yang mana satu per satu juta itu sangatlah kecil, bahkan lebih kecil daripada sebuah kutu rambut, sehingga roh manusia biasa akan hilang dalam satu detik jika mengeluarkan elemental.
Zeno yang melihat hal tersebut, dia langsung berlutut tanpa menunggu lebih lama lagi. Ini bukan mimpi, ini tampak nyata, dia berada di alam bawah sadar yang tidak ada sesiapapun yang tahu.
"Hamba memberi hormat kepada Dewi dari segala dewa. Hamba benar-benar berterima kasih kepada yang mulia Dewi, jika bukan berkat Anda, hamba yang rendahan ini tidak akan tahu memiliki nasib yang bagaimana."
"Heee?" Dewi Luna mengangkat alisnya mengenai tindak Zeno, "Berdirilah, kau tidak perlu terlalu formal begitu, tidak ada lagi yang namanya Dewi Luna."
"Tapi …."
"Ayolah!" Paksa Dewi Luna yang memotong ucapan Zeno.
Zeno menghela napas, dia akhirnya berdiri sesuai apa yang diperintahkan oleh Dewi Luna. Tapi, dia tidak menurunkan rasa hormat sedikitpun di hadapan Dewi Luna.
"Apa Zeno sudah membangkitkan kelima elemenmu?" Tanya Dewi Luna kepada Zeno.
__ADS_1
"Sejauh ini, Hamba sudah membangkitkan semua elemen kecuali cahaya, itulah mengapa Hamba pergi ke benua cahaya, walaupun tujuan utamanya bukan itu." Zeno semakin menundukkan kepalanya dan bersedih.
"Kenapa kau terlihat bersedih?" Dewi Luna sedikit mengerutkan dahinya, dia melihat begitu jelas bahwa Zeno sedang membendung air matanya.
Zeno mengusap matanya menggunakan lengannya, ditanyai seperti itu justru membuatnya kesulitan untuk membendung air mata. "Kakek nenekku meninggal, ayahku juga meninggal, sedangkan ibuku …." Zeno menarik napas dengan begitu sesak sebelum melanjutkan ucapannya, "ibuku sakit parah, itulah mengapa tujuan utamaku menuju ke sini, yaitu mencari bunga teratai emas."
Dewi Luna mendekat ke arah Zeno, kemudian dia mendekapnya bagaikan seorang ibu dan anak. Dewi Luna, dia masih tersenyum dan berkata dengan lembut, "Sang penguasa tak seharusnya menangis seperti itu."
"Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Aku saja yang dulu merupakan bukan orang biasa juga bisa mati, apalagi ayah dan kakek nenekmu. Sedangkan ibumu, berusahalah untuk mendapatkan bunga teratai emas, kau benar-benar anak yang baik." Kata Dewi Luna dengan halus.
"Secepat itu?" Zeno kembali menarik napas dengan sesak di pelukan Dewi Luna. Isak tangis dan penghayatan sedih membuatnya tidak sadar, bahwa dirinya sedang dipeluk oleh siapa.
"Kenapa secepat itu, padahal aku baru saja bertemu dengan mereka. Aku baru saja merasakan kebahagian yang belum pernah ku alami, tapi mengapa, mengapa mereka harus pergi secepat itu." Sambungnya.
Beberapa lama dan cukup merasa puas, Zeno tersadar bahwa dirinya sedang didekap oleh Dewi Luna, namun dirinya juga bisa merasakan kehangatan yang luar biasa.
Dewi Luna sudah merasa bahwa Zeno sudah cukup tenang, sehingga dia melepaskan dekapannya dan membiarkan Zeno untuk menarik napas dengan sedikit normal.
"Apakah, Byakko sudah memberitahu Zeno, mengapa Zeno harus segera memiliki kelima elemen?" Tanya Dewi Luna.
"Sudah." Jawab Zeno dengan lirih, sambil mengusap air mata yang akan menetes.
"Ingat, sewaktu-waktu iblis Yashimaru bisa keluar dari segelnya. Sehingga Zeno harus menghadapinya untukku. Setelah itu, Zeno bisa menjadi sang penguasa." Ujar Dewi Luna sambil menyentuh hidung Zeno.
"Aku tahu, Kiba, maksudku Byakko sudah menjelaskan secara rinci." Zeno masih berkata dengan lirih, menandakan bahwa terdapat sebuah kesedihan di hatinya.
__ADS_1
"Penjaga arah mata angin yang lainnya, apakah Zeno sudah mencarinya?" Tanya kembali Dewi Luna.
"Genbu, Seiryu. Sisa penjaga mata angin selatan, Suzaku. Tapi, bagaimana caraku menjalin kontrak dengannya? Bukankah dia berelemen api?" Zeno mengangkat alisnya karena penasaran.
Dewi Luna masih tersenyum, dia membelai rambut Zeno dengan penuh kasih sayang, dengan lembut, dia menjawab, " Zeno tidak perlu menjalin kontrak dengannya, cukup yakinkan dia bahwa Zeno merupakan utusan Dewi Luna, maka dia tidak akan berkhianat. Suzaku adalah burung yang bersifat keras, tapi dia juga membenci pengkhianatan."
Zeno tersipu malu saat dibelai oleh Dewi Luna, dia merasa, bukankah ini terlalu berlebihan? Apalagi Dewi Luna bukanlah siapa-siapa baginya, sehingga dia merasa canggung saat diperlakukan seperti itu.
Melihat raut wajah Zeno, Dewi Luna hanya tertawa lirih, dia menghentikan belaian rambutnya dan memilih untuk menyembunyikan tangannya agar tidak membuat Zeno menjadi sangat malu. Karena yang Zeno pikirkan, dirinya bukanlah siapa-siapa Zeno, sehingga sangat aneh apabila memberikan sebuah kasih sayang kepada orang asing.
"Jika aku ingin tahu, bagaimana Zeno bisa membangkitkan ketiga elemen yang lainnya?" Dewi Luna mengangkat alisnya.
Zeno akhirnya menceritakan mengenai bagaimana dia bisa membangkitkan ketiga elemennya, yang mana dia tidak sengaja membangkitkan elemen air di saat terkejut bahwa dirinya tahu keadaan yang sebenarnya, kemudian elemen petirnya bangkit ketika dia berada di dalam suatu tempat yang sangat aneh, serta elemen tanahnya bangkit ketika dia memakan soil crystal. Semua itu diceritakan kepada Luna secara terperinci.
Dewi Luna mengangguk setelah mendengar cerita dari Zeno, entah kenapa, ada rasa bangga tersendiri di saat mendengar cerita secara langsung.
Hingga akhirnya, Dewi Luna menjentikkan jarinya kembali, yang mana akibatnya Zeno berubah menjadi serpihan cahaya yang perlahan menghilang.
"Dewi apa yang terjadi?" Zeno tampak kebingungan.
"Apalagi? Kau harus kembali menyelamatkan ibumu, lagipula teman-temanmu sedang menunggumu di luar." Dewi Luna berkata dengan suaranya yang begitu halus.
Zeno benar-benar hilang, kini hanya menyisakan serpihan Dewi Luna yang masih berdiri dan meneteskan air mata namun masih tersenyum setelah kepergian Zeno.
"Walaupun ibu sudah mati, tapi ibu masih menjaga dan menetap di hatimu. Ibu akan menunggumu sampai kau menjadi sang penguasa, nak."
__ADS_1