
Zeno saat ini telah berada di atas sebuah pulau yang menurutnya sangat aneh, tidak ada tanda kehidupan pun selain pohon rindang yang berukuran setinggi manusia biasa. Tanah yang dia pijak entah kenapa sangat keras walaupun malam tadi hujan mengguyur sangat deras.
Semalaman, dia hanya bernaung di bawah pepohonan demi menghindari hujan yang sangat deras. Untungnya hujan tersebut tidak terlalu lama, sehingga ia cukup senang. Tetapi masalahnya, dia tidak terlalu tahan dengan dinginnya udara. Apalagi suhu dingin juga mempengaruhi Ice Sword, yang mana suhu Ice Sword juga akan semakin turun.
Zeno memperhatikan pinggiran pantai, yang mana dia melihat Kiba sedang menyeret beberapa awak kapal yang pingsan, bahkan Lothar juga tak berdaya di pinggir pantai.
“Kiba, syukurlah kau.” Ucap Zeno yang menghela napas, bagaimana tidak, semalaman dirinya terpisah degan Kiba. Walaupun begitu, dia tidak terlalu panik, karena dia sangat percaya bahwa Kiba tidak selemah itu.
“Aku baru tahu, ada pulau di tengah-tengah samudra seperti ini.” Kata Zeno dengan menatap pulau ini penuh kebingungan, karena pulau ini tidak luput dari keanehan.
Begitu juga dengan Kiba, dirinya merasa bau pulau ini sangat tidak asing, lebih tepatnya ini bukan bau pulau seperti biasanya.
“Tuan, sepertinya aku merasakan tanda kehidupan di ujung sana, apakah Anda berkenan untuk melihatnya?”
Zeno mengangguk-i apa yang Kiba ucapkan, lagi pula dia sangat penasaran makhluk apa yang tinggal disini. Bagaimanapun semalaman, dia terlalu janggal mengenai pulau ini, bahkan dirinya tidak menemukan semut sama sekali.
Zeno dan Kiba akhirnya menuju sisi pulau dengan meninggalkan Lothar dan awak kapal lainnya, rasanya memanjakan rasa penasaran tidak kalah penting dibandingkan menunggu Lothar dan para awak kapal lainnya. Apalagi mereka berdua juga tidak akan tahu berapa lama Lothar dan para bawahannya terbangun.
__ADS_1
Selain itu, entah kenapa di pulau ini Zeno juga merasakan energi orka yang sangat aneh, bagaimana tidak, energi ini berbeda dari energi orka alami air, angin, ataupun petir. Mungkin energi ini rasanya lebih kasar saat melewati permukaan kulit. Dan entah kenapa, saat Zeno merasakan energi ini, dia merasa dirinya telah menyatu dengan tanah.
Zeno memperhatikan sekeliling untuk memastikan tidak ada hewan mengerikan lainnya, walaupun ia kurang percaya bahwa pulau terpencil ini ada sebuah hewan, apalagi hewan buas. Tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga, setidaknya dirinya sudah bersiap saat akan ada serangan tiba-tiba dari hewan buas atau sejenisnya. Terlebih lagi jika ternyata hewan buas tersebut adalah seekor beast elemental.
Tepat saat mereka sampai di ujung pulau, mereka menemukan sebuah ular raksasa yang sedang tertidur, ular tersebut memiliki sisik warna hitam pekat. Namun anehnya, ekor ular tersebut seakan-akan tergabung dengan tanah.
Kiba mengerutkan dahinya, ia merasa familier dengan ular raksasa yang tertidur itu. Bahkan dalam bentuknya, sepertinya dia pernah berjumpa ular tersebut, tapi entah di mana.
“Dari cara menatapmu, sepertinya kau mengenal ular ini.” Tanya Zeno yang memperhatikan Kiba.
Kiba menghilangkan kerutan di wajahnya dan tersenyum di balik wujud harimaunya, seraya berkata. “Sepertinya aku pernah bertemu ular ini, tetapi aku lupa di mana.”
“Kau sepertinya mengerti tentang apa yang ku pikirkan? baiklah aku setuju. Menurutmu bagaimana cara membangunkannya? Dengan cara halus atau gangguan kasar.” Ucap Zeno sambil membunyikan persendian jarinya. Senyum jahilnya tiba-tiba muncul untuk mengganggu ular raksasa yang ada di hadapannya, lagi pula dirinya sangat penasaran.
“Terserah tuan.” Kata Kiba yang ikut tersenyum jahat.
Zeno mengangkat kedua tangannya dan memunculkan sebuah energi petir, dengan penuh keberanian yang penuh, Zeno mendekati ular itu dengan perlahan. Wajahnya tidak bisa lagi untuk menahan tawa menunggu reaksi yang dihasilkan ular tersebut. Dia juga tahu, apa konsekuensi apabila membangunkan ular itu dengan sembarangan, dengan begitu Zeno juga telah bersiap-siap apabila amukan ular meledak.
__ADS_1
Selain itu, Zeno membangunkan ular yang ada di hadapannya bukan tanpa sebab, melainkan dirinya juga butuh jawaban kenapa pulau ini sangat aneh? Itulah yang menjadi pertanyaan bagi Zeno saat menginjakkan kakinya di pulau ini, selain itu dia juga perlu mencari tahu siapa sosok ular, mengapa Kiba seakan mengenalnya? Dengan dibangunkannya ular tersebut, maka harapan Zeno, Kiba bisa mengingatnya.
Zeno menyentuh ular yang mana tangannya terdapat sebuah energi petir, dirinya benar-benar berharap ular raksasa bereaksi.
Apa yang Zeno harapkan benar-benar terjadi, ular raksasa terbangun dengan desisan yang sangat kencang, hal itu membuat Zeno membuka matanya lebar dan tersenyum bahagia, bahkan Kiba juga sedikit tersenyum setelah mengetahui reaksi dari apa yang dikeluarkan oleh ular raksasa.
Tetapi Zeno merasa ada yang aneh setelahnya, bahkan senyum bahagia-nya tiba-tiba menghilang tergantikan dengan mulutnya yang terbuka lebar, bagaimana tidak, bersamaan dengan bangunnya ular raksasa, sebuah gempa muncul seakan mengguncang keberadaan Zeno dan Kiba. Di sela-sela itu, ular raksasa juga tiba-tiba menyerang Zeno, mungkin itu dapat dicerna oleh akal karena telah dibangunkan oleh Zeno. Tetapi masalahnya adalah gempa yang tidak tahu apa sebabnya.
Zeno dan Kiba segera melupakan gempa yang masih terus berlanjut, apa yang paling penting adalah melawan ular raksasa untuk mendapatkan sebuah informasi yang sangat dibutuhkan. Zeno menunggu momen di mana sang ular mengibaskan ekor, tetapi ular itu seakan-akan tidak mempunyai ekor, bagaimana tidak, Zeno hanya diserang menggunakan mulut.
Sekali-kali ular raksasa mengeluarkan sebuah bola tanah seukuran kepalanya yang kemudian ditembakkan kepada Zeno. Zeno yang melihat itu langsung mundur tiga langkah dan menebaskan Ice Sword ke arah bola tanah. Tidak berhenti begitu saja, Zeno yang baru menginjakkan kaki di langkah ketiga langsung melompat ke arah ular raksasa dengan menjulurkan mata pedang ke arah kepala ular.
“Tuan tunggu, jangan sampai Anda membunuhnya.” Kata Kiba yang berjongkok memperhatikan tuannya bertarung, karena bagaimanapun juga, dirinya tidak pernah ikut campur pertarungan tuannya apabila tidak disuruh, kecuali jika memang benar-benar membahayakan.
Zeno menoleh ke arah Kiba dan sedikit mengangguk, dia tentunya sudah tau pasti bahwa hunusan pedang ini hanya akan membunuh ular raksasa, sehingga informasi yang dia butuhkan juga akan sia-sia apabila ular itu mati. Namun Zeno juga merasa bahwa hanya dengan pedang ini, yang pastinya ular tersebut juga akan membuat sebuah perlindungan, sehingga tidak mungkin untuk mati begitu saja.
Tepat sampai di kepala ular, tiba-tiba tanah yang mereka pijak mengalami kemiringan empat puluh lima derajat, hal itu membuat ular merosot ke bawah, sedangkan Zeno, dia menginjakkan tanah miring yang tidak lama dirinya juga ikut terperosok. Dia merasa ini benar-benar aneh, laut yang berada di bawah tanah miring tentu saja membuat Zeno kaget.
__ADS_1
Zeno langsung memegang sebatang pohon sebelum dirinya benar-benar terperosok ke laut, sedangkan untuk Kiba, dia hanya berdiri di tanah miring tanpa masalah sambil mengingat sesuatu. “Pantas saja aku terlalu familier dengan ular tersebut, jangan bilang bahwa pulau ini adalah Genbu?”