Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Terlalu cepat


__ADS_3

Dua hari selanjutnya, hanya kurang delapan belas hari lagi seharusnya racun itu mengalami puncak reaksi. Namun, hanya karena ada sebuah kesalahan yang baru pihak kekaisaran ketahui, yang mana ada penyakit bawahan yang sebelumnya diderita Arina, kemudian ditambah lagi ada sebuah racun yang reaksinya sangat cepat dibandingkan dengan bisa viper.


Mereka tidak tahu, hanya kurang berapa lama lagi ibunya bertahan, surat juga baru dikirimkan kepada Zeno kemarin pagi, dan akan sampai dalam delapan hari kemudian. Masalahnya, penyakit yang diderita Arina semakin parah, darah yang dikeluarkan karena batuk berwarna hitam pekat yang membuat Fang Tan dan juga Yuna menjadi semakin panik.


Tidak hanya Fang Tan dan juga Yuna, kaisar Hanzi, tidak, lebih tepatnya mantan kaisar negara angin, Hanzi Ares juga baru datang menuju istana kekaisaran negara air malam itu tadi, setelah mendengar bahwa putrinya mengalami kondisi yang paling buruk. Tidak hanya itu saja, Rouya juga datang dengan wajah lesu saat tahu kondisi ibu mertuanya benar-benar parah.


Dia juga benar-benar bersedih, ibunya yang meninggal dua belas hari yang lalu kini juga harus disuguhkan sebuah peristiwa yang sangat menyayat hati. Dia juga tidak memiliki sebuah daya, saat istrinya menangis di pelukannya saat melihat kondisi ibunya.


Apa yang mereka tunggu? Mereka hanya menunggu secuil harapan yaitu kedatangan Zeno yang mana mereka memperhitungkan bahwa Zeno akan sampai selama lima belas hari lagi. Sedangkan mereka tidak tahu sampai kapan Arina akan bertahan. Masalahnya, racun selain bisa viper yang menyerang Arina juga tidak ada penawar sama sekali selain bunga teratai emas.


“Ibu, ibu harus kuat, ibu tidak boleh pergi.” Kata Fang Tan sambil memegang erat tangan ibunya sambil meyakinkan bahwa Arina harus tetap hidup.


Arina terbatuk-batuk sambil mengeluarkan darah berwarna hitam, selain itu bola mata Arina juga menghitam dengan kondisinya yang semakin melemah. Mendengar apa yang diucapkan Fang Tan, Arina memaksa untuk tidak batuk hanya karena ingin mengatakan sesuatu, “Bawa Zeno kembali, tidak usah memaksa untuk mencari penawar. Jika memang sudah waktunya, kita bisa apa? Selain itu, ibu tidak mau Zeno tidak bisa melihat akhir hayat ibu.”


Fang Tan semakin menggenggam erat tangan ibunya, dengan wajah sedih, dia berkata, “Tidak, ibu tidak boleh bicara begitu! Ibu harus kuat sampai Zeno kembali.”


“Sampai kapan? Ibu sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ibu hanya memiliki satu permintaan yaitu bawa Zeno kembali sekarang juga.”


Fang Tan kemudian mencium tangan ibunya yang dia pegang dengan erat, dia juga tidak berdaya untuk membendung air mata yang hendak jatuh membasahi pipinya, “Akan Fang Tan lakukan.” Katanya dengan begitu lembut. Namun, bersamaan dengan itu, dia juga sempat kebingungan bagaimana caranya untuk membawa Zeno kembali, karena dia tahu bahwa benua 99 cahaya itu benar-benar jauh, bahkan membutuhkan delapan sampai sepuluh hari lamanya.


“Kaisar! ada dua sambaran petir dengan dua warna berbeda yang tiba-tiba muncul di gerbang kekaisaran.” Kata salah satu prajurit dengan berwajah panik. Karena dia menyangka itu adalah sebuah elemen yang digunakan untuk tanda serangan.


Fang Tan berdiri dengan wajah tegas, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi sama sekali yang membuat dirinya sangat tidak tenang. Kondisi yang sebelumnya membuat dia bersedih, dan ditambah dengan masalah kekaisaran yang ada, membuat Fang Tan juga tidak bisa membendung emosi yang ada pada dirinya.


“Aku akan menghadapinya sendiri.” Katanya dengan nada yang tinggi.

__ADS_1


“Tidak, itu adalah pangeran Zeno dengan nona Turse yang menunggangi naga petir.” Sahut salah satu prajurit yang menghentikan sebuah kesalah pahaman.


Fang Tan meredakan emosinya, memang terlalu cepat bahwa Zeno kembali, bahkan dia sedikit yakin bahwa Zeno berhasil mendapatkan bunga teratai emas. Dia juga tidak berpikiran bagaimana Zeno bisa pulang secepat itu? Apakah Zeno memang menuju ke benua 99 cahaya? Karena yang terpenting adalah Zeno pulang setelah ibunya mengharapkan hal tersebut.


Kemudian Fang Tan langsung berlari dengan diikuti oleh Yuna dan Rouya yang mendengarnya, karena mereka tahu bahwa Zeno sudah kembali. Apalagi Arina, dia menjadi tersenyum lebar saat mendengar bahwa Zeno kembali, namun, dia juga sempat mengusap air matanya yang mengalir di antara mata hitamnya.


.....


“Bukankah kau dan Nora berteman baik? mengapa kau justru muak mendengarnya.” Tanya Zeno dengan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.


“Tidak, siapa yang bilang bahwa kita berteman baik.” Jawab Turse dengan begitu serius.


Tepat saat mereka berdua berbincang, Zeno tersenyum saat di sambut oleh kedua kakaknya dan kakak iparnya, kemudian ada kakek paman, serta Lyana yang juga datang menjemput Zeno. Akan tetapi, Zeno kehilangan senyumannya saat melihat ekspresi keluarganya yang tidak biasa, mata mereka memerah seolah mengalami sebuah kesedihan yang luar biasa.


Zeno kemudian menatap serius mereka, dengan nada yang tinggi, dia berkata, “Apa yang terjadi? Aku tidak ingin mendengarkan hal yang aneh pada ibu.”


“Kau pulang tepat waktu Zeno, kami tidak bisa mengatakan apapun, sebaiknya kau sendiri yang menghampiri ibu.” Fang Yuna menutup matanya, dia tidak ingin kembali bersedih karena Zeno sudah kembali.


Zeno langsung berlari melewati mereka, wajahnya yang sebelumnya cerah, kini berubah menjadi masam saat mendengar sebuah sambutan yang begitu buruk.


“Ibu!” Zeno masuk ke dalam kamar ibunya dengan begitu panik. Dia juga mendadak hampir lumpuh saat tahu kondisi ibunya yang begitu cepat memburuk, karena seharusnya puncak racun tersebut bereaksi dalam delapan belas hari lagi.


Namun, dia juga langsung mengeluarkan sebuah bunga teratai emas dari kantongnya yang masih begitu segar. Kemudian, dia memaksa berjalan menghampiri ibunya yang berbaring tak berdaya dengan tubuhnya yang kurus kering.


“Ibu makanlah.” Kata Zeno dengan lembut namun juga tidak meninggalkan kesedihan di wajahnya. Selain itu, dia juga menyodorkan bunga teratai emas ke wajah ibunya berniat untuk menyuapkan bunga tersebut.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba tangan Zeno di tahan ibunya dengan begitu lemah, sehingga Zeno terkejut dengan apa yang dilakukan oleh ibunya.


“Tidak perlu.” Arina menolak sambil tersenyum.


“Tidak, ibu harus memakannya, ibu akan langsung sembuh dan tidak akan merasakan rasa sakit seperti ini.”


Salah satu tangan Arina membelai kepala Zeno dengan penuh kasih sayang, dia juga masih tersenyum manis ke arah Zeno. “Kau sudah dewasa, sudah waktunya untuk mandiri. Ibu akan menyusul ayahmu.”


“Tidak ibu tidak.” Zeno mencoba melepaskan cengkraman tangan ibunya yang membuat dirinya tidak bisa menyodorkan bunga tersebut.


Namun, ibunya mengeluarkan sebuah hembusan angin dari tangannya yang membuat bunga tersebut terjatuh. Bersamaan dengan itu, dia berkata, “Terimakasih sudah menjadi anak ibu, kau merupakan anak yang paling baik.”


“Ibu bicara apa? Kenapa ibu melakukan itu? Ibu bisa sembuh apabila memakan bunga tersebut.” Zeno mencoba mengambil bunga yang terjatuh tersebut.


Namun, sangat disayangkan, Arina mengeluarkan sebuah angin spiral yang membuat bunga itu hancur. “Tidak perlu nak.”


“Ibu curang.” Zeno memeluk ibunya dan menangis tersedu-sedu, karena dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa selain menggenggam bunga teratai emas yang hancur dan tidak mengeluarkan cahaya sama sekali.


“Kenapa ibu melakukan itu?” Zeno benar-benar menangis dengan begitu keras bagaikan seorang anak kecil. Dia juga tidak mengerti apa yang ibunya pikirkan mengenai penawar yang dia hancurkan.


“Tidak apa-apa Zeno.” Arina menutup mulutnya karena dia tidak ingin darah hitam keluar mengotori tubuh Zeno. Tubuhnya juga semakin melemah dengan jantungnya yang semakin lemah untuk berdetak.


“Ibu memiliki sebuah pesan terakhir sebelum ibu pergi.” Kata Arina sambil menahan batuk.


“Ibu jangan bicara seperti itu. Ibu harus tetap hidup, jika ibu tiada, siapa lagi yang akan menemani Zeno, ibu tidak boleh seperti itu, kenapa ibu menghancurkan bunga itu tadi? Ibu benar-benar jahat, aku memben ....” Zeno tidak melanjutkan ucapannya, pasalnya telunjuk Arina menempel pada bibir Zeno yang membuat Zeno terdiam seketika.

__ADS_1


“Selamat ulang tahun, anak ibu.” Katanya terakhir.


__ADS_2