Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Babak kedua (5)


__ADS_3

Seketika, Zeno dan Danze berada di sebuah dimensi kegelapan, yang mana itu adalah teknik dari Danze itu sendiri. Zeno yang tadi percaya diri bahwa dia bisa membunuh Danze, namun saat masuk ke dalam dimensi kegelapan, Danze sudah tidak ada dihadapannya, namun masih tetap berada di dimensi tersebut.


Tak disangka, Danze tiba-tiba sudah berada di atas tubuh Zeno sambil berusaha untuk menghunuskan pedangnya.


“Ledakan kubah cahaya!” Seketika, Zeno berada di dalam sebua kubah yang sangat terang, semakin terang, hingga sang pengguna juga menyipitkan matanya.


Pedang Danze tidak bisa menembus kubah itu, dia berada di jarak yang sangat dekat pada kubah yang semakin terang dan membesar. Namun, Danze tidak merasa sangat curiga pada kubah itu.


“Duarr!!” Kubah itu meledak dengan sangat kencang, mengakibatkan dimensi kegelapan yang mereka berdua tempati hancur. Alhasil, mereka berdua kembali di dekat istana kekaisaran yang menjadi tempat pertarungan mereka sebelumnya.


Selain itu, Danze juga terlempar dengan tubuhnya yang dipenuhi darah, namun tidak hancur sepenuhnya. Dia terbaring dengan sangat lemas di balik sebuah jubah kegelapan yang perlahan hancur dengan tubuh yang mana seolah habis mandi darah.


Tampaknya, saat kubah itu mau meledak, Danze terlambat untuk mengenakan jubah kegelapan untuk melindungi dirinya dari sebuah ledakan yang besar tersebut. Yaaah, benar-benar sangat besar dan mengerikan, bahkan Danze menelan ludahnya secara kasar saat tahu bahwa ledakan itu cukup menghancurkan dimensi yang dia buat. Matanya mengalami gangguan karena terkena dari dampak ledakan yang sangat hebat itu.


Zeno berdiri tegak, wajahnya terlihat sangat sinis dan berniat untuk membunuh Danze sekarang juga. Tidak, tampaknya membunuh sekarang juga merupakan hukuman yang paling ringan, maka dari itu, Zeno ingin menyiksanya secara berulang kali sehingga Danze merasakan rasa sakit yang amat pedih.


Zeno memasukkan Ice Sword ke dalam selongsongnya kembali, awan yang sebelumnya berwarna putih terang kini berubah menjadi hitam pekat.


Dia mengangkat tangannya, seketika sebuah petir menyambar tangan Zeno dengan sangat lama. Sungguh aneh, mungkin elementalist petir biasa tidak akan bisa menahan sambaran petir. Namun dengan sangat mudah. Tidak heran, sebenarnya dia sendiri yang membuat awan itu menjad sangat gelap karena dia sendiri terus menerus membuat uap air.

__ADS_1


“Duarr!” Sebuah petir menyambar Danze setelah Zeno seakan melemparkan tangannya ke arah Danze. Tidak hanya itu saja, dia mengulanginya secara berulang kali agar Danze bisa merasakan sambaran yang begitu hebat.


Namun, Zeno membatasinya agar petir tersebut tidak membunuh Danze dalam sekejap, lebih tepatnya dia yang membatasi daya tegangan petir itu agar Danze tidak mati. Akan tetapi, setelah berulang kali Danze tersambar petir, tubuhnya seolah mengeluarkan urat-urat yang hitam seolah hangus.


Danze berteriak begitu keras seolah mengalami rasa sakit yang luar biasa, dia merasakan bahwa tubuhnya sulit untuk bergerak seolah-olah sudah hancur. Namun, dia tetap masih melihat bahwa tubuhnya masih utuh dengan kondisi yang menghitam seperti hangus.


Danze mencoba untuk mengangkat pedangnya, namun tangan yang dia gunakan untuk memegang pedang tiba-tiba jatuh dengan darah yang mengucur keluar. Wajahnya terihat sangat jelek saat mencoba untuk menahan rasa sakit yang kesekian kalinya.


Namun, beberapa detik sebelum Zeno melancarkan serangan untuk menyiksanya, Danze tertawa begitu keras. Tubuhnya perlahan juga diselimuti oleh sebuah jubah kegelapan, dengan cepat dia juga memunculkan sebuah tanduk yang memancang dan melingkar seperti seekor domba, serta matanya yang putih seperti mayat hidup.


“Mode Asternum.” Zeno tidak ingin Danze berubah dengan sempurna, sehingga dia mengulurkan tangannya dan menembakkan ledakan cahaya yang sangat besar ke arah Danze.


“Duarr!!”


“Mode Asternum tahap selanjutnya, aku sudah mempelajarinya agar bisa menggunakan mode tersebut dengan sangat cepat.” Ucap Danze sambil tersenyum lebar. Selain itu, tangan yang Zeno potong juga tumbuh baru namun tampak terbuat seperti elemen kegelapan. Tidak hanya itu saja, Danze juga memunculkan sebuah sayap kelelewar yang terkapak dengan sangat lebar.


“Jika memang begitu ....” Zeno tidak melanjutkan ucapannya, dia memejamkan matanya sebentar seolah ingin melakukan sesuatu. Benar, saat dia membuka matanya, pupil matanya sedikit bercahaya berwarna merah sehingga tampak sangat indah, dia juga tersenyum cerah sambil melanjutkan ucapannya, “Tanpa marah sekalipun aku juga bisa menggunakan elemen legendaris.”


Sang penguasa elemen membuat jubah cahaya, dengan menarik Fire Sword yang juga telah dilapisi oleh elemen cahaya yang bersinar. Tidak, elemen cahaya legendaris kali ini jauh lebih terang, lebih terang dari sebelumnya yang membuat semua orang yang melihatnya harus menutup mata mereka rapat-rapat.

__ADS_1


Laksamana Mahaa saja yang berada di pesir juga melihat sebuah cahaya terpancar menuju ke atas dengan sangat terang.


Bahkan, cahaya tersebut tampak lebih terang melebihi matahari. Zeno juga sedikit heran karena baru kali ini dia mengeluarkan elemen cahaya legendaris. Terang dari segala keterangan, bahkan ruangan yang terang sekalipun bisa jauh lebih terang yang mana harus memejamkan matanya agar tidak silau.


“Yaah aku mengerti, sang penguasa bisa mengendalikan elemen legendaris sesuka hati. Namun orang yang memiliki elemen legendaris belum tentu adalah seorang penguasa elemental.” Zeno tersenyum memandang mode milik Danze seolah tidak berguna, bagaimana tidak, Danze sendiri juga tidak bise malihat Zeno yang sangat terang.


“Aku akan memberitahumu, aku di belakangmu, jadi kau bisa melihat ke depan.” Ucap Zeno yang kini mendekatkan mulutnya di telinga Danze, padahal sebelumnya dia berada di depan Danze.


Danze membuka matanya, dia langsung menghadap ke samping sambil mengeluarkan sebuah elemen kegelapan di tangannya. Sayangnya, saat menghadap ke arah Zeno, matanya yang putih kembali sakit karena memandang Zeno walaupun itu sekejap.


“Jika kau tidak menggunakan mode sampah itu, maka aku juga akan menahan diri untuk menggunakan mode ini. Kau tahu, aku menggunakan mode apa?”


“Jauhkan mulutmu yang bodoh dari telingaku!” Tanpa melihat, Danze menciptakan sebuah kubah kegelapan sama seperti Zeno, dia berniat untuk menyerap semua elemen cahaya yang ada di dalam tubuh Zeno.


“Mode penguasa.” Zeno tersenyum sambil mengayunkan pedangnya ke arah kubah yang diciptakan Danze, sehingga kubah itu tampak hancur dengan Danze yang sudah tidak berada di dalamnya.


“Kau mengecohku?” Zeno kembali menangkat ujung bibirnya saat melihat bahwa Danze sudah berada di belakang Zeno untuk menyerang Zeno sambil memejamkan matanya, karena dia tahu persis saat dia membuka matanya, maka dia tidak akan bisa melihat.


Namun, saat dia berusaha untuk menyerang Zeno, dia memuntahkan seteguk darah dari mulutnya, tubuhnya perlahan lemas dan jatuh ke permukaan tanah, mode asternumnya juga menghilang dan kembali pada Danze seperti semula. Dan tidak lama kemudian, kepala seekor burung rajawali menggelinding di samping tubuh Danze yang tampak melemah. 

__ADS_1


__ADS_2