Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Beast mata-mata


__ADS_3

Sebenarnya saat ini pasukan milik kaisar Aurrora belum bergerak sama sekali, mereka hanya membangun tenda dipinggir perbatasan untuk menunggu musuh bergerak, karena Zeno juga tidak tahu jika tiba-tiba saat pasukan ini berpisah yang, pasukan milik Northern akan bergerak dengan jumlah pasukan dua kali lipat, dan hal tersebut sangat dirugikan oleh pasukan kedua utama karena tidak ada pasukan pemanah serta Zeno di dalamnya.


Jadi mereka hanya menunggu pasukan pertama menuju ibu kota kekaisaran Northern yang mungkin membutuhkan satu hari satu malam. Sehingga ibukota kekaisaran akan bingung karena penyerangan dilakukan oleh kedua sisi yaitu dari arah selatan serta barat.


“Bagaimana, apakah kalian sudah memata-matai ibukota Northern?” Tanya Zeno kepada dua roh naga di hadapannya yang kini berwujud seperti manusia.


Sebelumnya, setelah pasukan musuh mundur karena terjebak oleh serangan pasukan pemanah, selang beberapa menit, Zeno memutuskan untuk mengganti rencana yaitu menunggu pasukan pertama menuju ke arah timur. Serta dia juga menyuruh Kirin dan Uron untuk memata-matai ibukota mengenai pasukan sisa yang dimiliki oleh Northern. Mungkin ini merupakan cara klasik, yaitu menyuruh beast atau roh mereka untuk memata-matai musuh. Bahkan Northern yang mengetahui bahwa terdapat pasukan yang menyerang tambang, mereka menggunakan beast terbang sebagai mata-mata.


Saat ini Kirin dan Uron bertekuk lutut di hadapan Zeno, “Kami telah menjalankan tugas dari tuan.” Serentak mereka berdua.


“Kirin sudah memberikan sebuah informasi palsu kepada orang-orang kekaisaran bahwa pasukan ini telah menuju ke ibukota. Dan orang tersebut langsung percaya dengan melaporkan ke kaisar mereka.” Jelas Kirin.


“Uron juga telah memata-matai bahwa terdapat 300.000 pasukan yang akan menyerang balik, tetapi mereka hanya menunggu sampai pasukan ini benar-benar menuju ibukota. Karena mereka tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.” Sambung Uron melengkapi apa yang dikatakan oleh Kirin.


“Baik aku mengerti.” Kata Zeno.


“Jadi kita akan menunggu sampai pasukan ayahmu sampai ke ibukota? baru kita bergerak?” Tanya kaisar Aurrora.

__ADS_1


“Tidak, jika begini terus, maka Rungdaf akan bergerak terlebih dahulu. Maka dari itu pasukan kedua utama akan tetap berada di sini, dan pasukan ku akan bergerak dengan masuk menuju ibukota dari gerbang timur. Bagaimanapun bagian timur ibukota merupakan wilayah milik Rungdaf. Dan jika beruntung, dan Rungdaf kalah, maka kita bisa menyerang istana kekaisaran dari tiga sisi yaitu barat, selatan, serta Timur. Dan hal itu akan membuat 300.000 pasukan yang telah disiapkan akan kalang kabut.” Zeno menjelaskan.


“Sekarang? Aku sarankan besok pagi saja. Bagaimanapun ini sudah hampir malam.” Kaisar Aurroa membantah.


Zeno kemudian memasukkan kembali Kirin dan Uron di dalam tubuhnya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun hanya menggelengkan kepala di hadapan kaisar sambil berkata, “Tidak, kita tidak akan tahu kapan Rungdaf akan bergerak. Jadi lebih cepat lebih baik.”


“Baiklah, aku percaya kepadamu, cucuku.” Kaisar Aurrora mengangguk.


Sebelum berteriak untuk memberikan sebuah perintah kepada seluruh pasukan, Zeno menghela napas, dia menarik Ice Sword dari punggungnya. “Lighting Movement.” Zeno melompat ke atas dengan keepatan kilatnya. Mungkin sesiapapun yang melihat, mereka hanya memperhatikan sebuah sambaran petir yang bergerak ke atas.


Baik kaisar Aurrora, maupun pasukan yang melihat hal tersebut, mereka bingung dengan apa yang dilakukan oleh Zeno. Pasalnya Zeno tiba-tiba aneh dengan bergerak secepat kilat ke atas.


“Tunggu sebentar, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku beast yang sedang memata-matai kalian?” Tanya beast elang tersebut yang dipenuhi dengan rasa terkejut yang luar biasa.


“Entahlah, tanyakan itu kepada musuhku di alam baka sana!” Ucapnya sambil menebaskan sebuah Ice Sword ke arah elang tersebut. Melayang? Tentu saja, Zeno saat ini dalam posisi melayang tepat berada di hadapan beast berwujud seperti elang. Kemampuan melayang ini merupakan kemampuan milik Kiba yang ditransfer kepadanya dengan menggunakan elemen alam yaitu angin.


Itu menandakan sebuah kabar baik, Zeno yang dapat menggunakan kemampuan Kiba berarti Zeno bisa bergabung dengan Kiba tanpa masalah. Tidak seperti saat Zeno melawan Akram yang mana dia bergabung dengan Kiba, namun akibatnya mengalami koma panjang. Namun, siapa yang ingin susah-susah bergabung dengan Kiba hanya karena beast rendahan di hadapannya? Bahkan tanpa Kiba sekalipun, menghadapi beast ini merupakan hal yang sangat mudah bagi Zeno.

__ADS_1


Bersamaan dengan Zeno yang menebaskan pedangnya, elang tersebut langsung mengibaskan sayapnya sehingga memunculkan sebuah kristal es yang sangat banyak. Tetapi untungnya Zeno berhasil menghindar dengan bergerak secepat kilat tepat di atas sang elang.


Tidak mau kalah, sang elang mengibaskan sayapnya ke atas sehingga membuat angin kencang menerjang Zeno. Zeno menutup wajahnya menggunakan lengan karena angin kencang yang menerjangnya, tetapi dia tidak seceroboh itu, dia juga tahu persis bahwa menutup wajah hanya akan memperuntung kesempatan sang elang kabut.


Menutup wajah, selain melindungi mata dari angin, hal itu dia lakukan juga untuk mengecoh sang elang agar menyerang dirinya.


“Sayatan seribu angin, tahap ketiga..”


Tepat saat elang tersebut langsung melesat ke arah Zeno, Zeno langsung mengulurkan tangan satunya untuk mengeluarkan salah satu teknik handalannya.  Perlahan, sebuah angin lembut muncul di belakang Zeno yang mengalir bersemilir ke arah elang. Merasakan ada yang aneh, elang tersebut langsung menghentikan lajunya dan mengepakkan sayapnya.


Suara khas elang memekakkan telinga Zeno, bersamaan dengan elang yang mengepakkan sayapnya seolah berusaha menyerang Zeno, kedua sayap tersebut terpotong dengan sangat mudah. Bahkan elang tersebut langsung terjatuh dengan wajah yang tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tidak hanya itu saja, setelah tubuhnya terjatuh karena tidak ada sayap yang menopangnya, angin lembut yang ia rasakan seolah-olah memotong seluruh bagian tubuhnya.


“Siapa sebenarnya kau? mengapa kau bisa merasakan bahwa aku bu-.” Elang itu tidak sempat melanjutkan ucapanmu karena tubuhnya terpotong dengan puluhan bagian kecil.


Zeno menghela napas dan turun ke daratan dengan perlahan-lahan. Untungnya dia menyadari bahwa terdapat beast mata-mata yang sedang mendengarkan sebuah rencana yang akan ia berikan kepada seluruh pasukan.


“Kasihan sekali tuanmu.” Zeno tidak bisa membayangkan, mungkin setelah beast ini mati, maka tuannya akan memutahkan seteguk darah karena bagaikan sebagiannya jiwanya telah mati. Dengan terbunuhnya beast elang yang mana akibatnya juga memengaruhi sang pemilik, maka Zeno sudah memberi sebuah peringatan bahwa jangan terlalu macam-macam dengan dirinya, karena beast mata-mata sekalipun dapat ia ketahui melalui pendengaran dan penciuman Kiba yang sangat tajam.

__ADS_1


“Apa, apa yang terjadi?” Tanya kaisar Aurrora masih kebingungan. Pasalnya, semenjak Zeno melesat ke atas, Aurrora menyipitkan matanya karena melihat sebuah pertarungan besar di atas langit.


“Hanya sebatas beast mata-mata.”


__ADS_2