Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Musuh, lagi


__ADS_3

Zeno tersentak kaget setelah mendengar ucapan Flamingo dan dibenarkan oleh Kiba. Dia dengan Turse mengangguki satu sama lain karena mengerti apa yang harus mereka lakukan. Tentu saja mereka tidak tinggal diam, mereka segera berdiri dan mengeluarkan senjata mereka masing-masing.


“Benar-benar merepotkan.” Zeno berkata dengan begitu kesal, waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat dan makan Malam justru terganggu oleh sampah yang bersedia untuk mengantarkan nyawanya. Bagaimana tidak, mereka yang menghampiri Zeno dengan niat mengganggu tidak lebih dari sampah yang akan dikubur.


Tapi mau bagaimana lagi, sudah menjadi sebuah risiko apabila dia tidur di sebuah hutan lereng gunung Apilcu, apalagi gunung tersebut akan menjadi sebuah medan peperangan, jadi sangat wajar saja apabila Zeno akan diserang, dan Zeno tahu persis itu.


Masalahnya, Zeno penasaran mengenai apa penyebab dirinya akan diserang oleh sepuluh orang? Walaupun begitu, Zeno sedikit berspekulasi bahwa dirinya diserang karena ada hubungannya dengan kelompok kriminal. Yang mana mereka tahu persis, bahwa Zeno juga mencari bunga teratai emas yang akan menghambat tujuan mereka.


Tentu saja, Zeno sedikit tidak percaya, bahwa pihak seperti dirinya yang tidak memiliki pasukan sama sekali di usut oleh kelompok kriminal, benar-benar, orang yang memiliki julukan tuan sepuluh itu sangat berhati-hati dengan masalah kecil seperti Zeno yang tidak memiliki sebuah pasukan yang begitu besar.


Turse sudah lebih dulu menarik busur panahnya secara Horizontal, dan memunculkan sepuluh anak panah yang akan menyebar apabila di lepaskan. Tentu saja, kesepuluh anak panah milik Turse sudah diberikan racun yang berbeda-beda, namun racun tersebut tidak terlalu mengerikan, tapi bersifat melumpuhkan saja. Karena, apa yang ditakutkan Turse, ternyata kesepuluh orang tadi bukanlah musuh, melainkan seseorang yang kebetulan lewat. Hal itulah yang menyebabkan dia tidak menggunakan racun yang berbahaya.


Melihat hal itu, Zeno juga tidak mau kalah, dia mengulurkan salah satu tangannya dan bersiap untuk mengeluarkan salah satu teknik andalannya, yaitu sayatan seribu angin yang sudah dia sering gunakan hingga mencapai tahap keempat. Namun kali ini, dia hanya akan menggunakan tahap ketiga, yang mana angin yang keluar lebih lembut dibandingkan dengan tahap keempat yang dinilai terlalu mengerikan.


Keduanya sama-sama menembakkan tekniknya tanpa menunggu lebih lama lagi, karena apa yang mereka takutkan, ternyata mereka semua bergerak secepat kilat sehingga tidak ada waktu bagi Zeno dan Turse untuk melepaskan andalan mereka. Lagipula, untuk apa menunggu lebih lama lagi dalam melepaskan hal tersebut.

__ADS_1


Kegelapan malam dari arah selatan Zeno dan Turse berdiri, pohon-pohon yang terkena teknik Zeno dipenuhi oleh sayatan yang begitu banyak, seakan habis terdapat sebuah pertarungan yang mengerikan.


“Apakah kau merasakan bahwa anak panahmu mengenai salah satu dari mereka?” Tanya Zeno begitu lirih.


“Salah satu? Tuan sepertinya bercanda, aku merasakan bahwa anak panahku mengenai tiga dari mereka.” Turse berkata dengan dingin, lagi-lagi dia menarik anak panahnya setelah melihat di balik kegelapan terdapat empat orang dengan luka sayatan yang begitu banyak di tubuhnya.


“Aneh, mereka terkena teknikku tapi mereka masih kuat berdiri. Benar-benar tidak kenal ampun.” Zeno juga melihat empat musuh yang sedang berlari ke sini dengan mengangkat pedangnya. Selain itu, mereka juga melihat bahwa luka empat musuh itu terdapat luka sayatan begitu banyak.


Turse kembali melepaskan anak panah untuk keempat musuh yang sedang berlari ke sini. Tapi sayangnya, mereka semua langsung berhenti dan mengulurkan tahannya seakan-akan ingin mengeluarkan sesuatu.


“Turse menghindar!”


Zeno dan Turse menghela napas, jika Zeno mendorong Turse dengan begitu keras, bisa dipastikan dia akan jatuh ke jurang yang mana Zeno tidak melihat di mana ujungnya. Bahkan, jarak mereka saat ini dengan jurang hanya beberapa senti saja, sehingga mereka benar-benar beruntung tidak jatuh ke dalam jurang tersebut.


Mata Zeno masih begitu silau saat melihat cahaya yang mengerikan itu tadi. Bahkan, pandangannya sedikit buram dan agak berwarna. Untungnya dampak dari melihat ledakan cahaya tersebut mengilang dengan perlahan-lahan.

__ADS_1


Begitu juga dengan Turse, sesaat dia tadi seakan melihat bahwa kondisi hutan lereng sama seperti kondisi pagi, namun begitu terang hingga Turse merasa akan buta. Dia juga masih menutup matanya karena pandangannya masih terasa begitu silau karena cahaya yang ditembakkan begitu besar.


Siapa yang menyangka, saat Zeno mencoba berdiri, tiba-tiba di hadapannya muncul sepuluh orang dengan dipenuhi luka sayatan di antara mereka semua. Zeno juga melihat, bahwa tiga dari sepuluh orang yang ada di hadapannya, terlihat seperti lemas dan tidak memiliki semangat sama sekali. Walaupun begitu, tiga orang itu sepertinya masih ikut untuk memojokkan Zeno.


“Tiga dari mereka terlihat begitu lemas, apakah itu terkena racunmu?” Tanya Zeno sambil mengedipkan matanya secara berulang kali.


Mendengar hal tersebut, Turse langsung berdiri dan mengusap matanya berkali-kali, berharap bahwa pandangannya kembali dengan normal tanpa terganggu karena cahaya itu tadi. Dengan suara yang begitu dingin, dia menjawab, “Sepertinya begitu, racun yang kuberikan adalah racun pelumpuh, tapi memiliki tipe yang berbeda-beda. Dan aku tidak tahu, tiga racun yang mengenai mereka merupakan tipe racun yang mana? Masalahnya, ada salah satu yang paling berbahaya, yaitu racun pelumpuh otak.”


“Racun pelumpuh otak?” Zeno mengerutkan dahinya sebelum melanjutkan pertanyaannya kembali, “Seberapa mengerikan?”


“Masalah penglihatan, pendengaran ataupun organ lainnya yang tidak bekerja. Kemungkinan terbesarnya, seluruh bagian tubuhnya yang tidak bekerja, baik itu kaki tangan atau organ dalam.” Turse menjawab sambil memunculkan tiga anak panah yang bersiap ditembakkan saat melihat bahwa musuhnya juga bersiap untuk menyerang mereka. “Tapi perlu kutegaskan, aku tidak tahu apakah racun itu tadi mengenai salah satu dari mereka atau tidak? Masalahnya dari kesepuluh, hanya tiga orang yang terkena.”


“Apakah kalian sudah berbincang-bincang?” Kata salah satu dari mereka dengan wajah yang tersenyum begitu lebar.


“Menyerahlah dan ikut kami menuju tuan sepuluh. Kalian sudah terpojokkan dengan jurang yang ada di belakangmu.” Kata kriminal lainnya sambil mengulurkan tangannya dan bersiap untuk menyerang Zeno kembali.

__ADS_1


Zeno merespons lebih dulu perkataan Turse dengan mengangguk, kemudian dia juga mengangkat pedangnya dan bersiap untuk melawan mereka. Walaupun, dia juga tahu bahwa sesuatu yang ada di belakang mereka adalah jurang.


Dengan tatapan yang begitu datar, Zeno merespons perkataan mereka, “Aku memilih untuk terjun ke jurang ini daripada menuruti perkataanmu.”


__ADS_2