
“Tidak mungkin.” Alie merupakan salah satu pilar kegelapan yang pertama kali mati. Tentu saja dia menjadi sangat kecewa karena tidak berhasil membuat kaisar Danze senang. Bagian tubuhnya yang atas terjatuh dengan air mata yang keluar menghujani permukaan tanah.
“Mengapa bisa terjadi? Mengapa aku paling lemah di antara pilar lainnya?” Alie seolah tidak percaya bahwa dirinya mati. Tentu saja yang paling awal, dia tidak tahu apakah Imaro ataupun Azela masih bisa bertahan. Yang pasti mereka berdua sebagai pilar kesayangan kaisar Danze masih hidup dan bisa membuat Danze senang.
Tapi siapa dirinya? Alie hanyalah sebatas mainan para pilar lainnya. Dia hanyalah bahan ejekan oleh ketiga pilar lainnya. Bahkan Elderic sebagai pilar terkuat selalu saja meremehkan bahkan merendahkannya. Suara Elderic berputar di dalam otak, mengatakan bahwa dirinya tidak pantas berdiri di samping kaisar Danze.
Tidak heran, memang kenyatannya seperti itu. Dia sadar diri bahwa dirinya tidak sekuat yang lainnya. Bahkan dengan anak yang tidak memiliki elemen pun kalah, mungkin jika kaisar Danze melihatnya, dia pasti malu besar dan menyesal mengapa mengangkat dirinya sebagai pilar kegelapan.
Waktu sudah lewat, dia tidak menyesal bisa dekat dengan kaisar Danze. Walaupun dia tidak pernah membuat kaisar Danze senang atas kerja kerasnya, setidaknya kaisar Danze selalu membelai rambutnya, mengatakan ‘semangat’ agar bisa berkembang lebih jauh lagi. “Sampai kapan?” dia bertanya dengan dirinya sendiri. “Sampai kapan kau akan menjadi pilar paling lemah, bahkan tidak pernah membuat kaisar Danze senang atas kerja kerasmu?” Alie mengulangi pertanyaannya, dia belum bisa menjawabnya secara mandiri.
“Aku dengar kaisar Danze merupakan kaisar paling kejam, bahkan saat Azela membuat kesalahan dan gagal dalam pekerjaannya, tuan Danze memberikan sebuah hukuman. Tapi mengapa di saat aku sering gagal dalam bekerja dengannya, dia justru tersenyum dan membelai rambutku? Ah sudahlah, aku selalu saja berimajinasi bahwa kaisar Danze menyu ....” Alie sudah tak sadarkan diri, wajahnya terlihat sangat pucat menandakan bahwa dia kehabisan banyak darah karena tubuhnya yang terpotong menjadi dua.
Selana, Lyana, serta Turse. Mereka menghela napas lega karena melihat musuh yang mereka hadapi mati. Mereka benar-benar membutuhkan tenaga yang besar di saat menyerang Alie.
“Kalian, cepat cari anak-anakku! Dan kau Turse, bantu Jenderalmu untuk melawan musuhnya, dia terlihat hampir kalah!” Teriak Arina yang keluar dari persembunyiannya.
Sebelumnya, Nora sudah menahannya untuk tidak keluar. Tapi Arina masih sangat keras kepala karena melirik suaminya kewalahan menghadapi Elderic. Bahkan dia melihat jelas, bahwa tubuh sang suami sangat begitu lemah seperti seorang yang mabuk yang dipaksa bertarung.
Selena mengangguk, dia segera mencari di mana Zeno berada. Begitu juga dengan Nora yang mencari Fang Tan, serta Lyana yang mencari Fang Yuna. Mereka tidak bisa melihat nyonya Arina yang menjadi hampir gila karena ketiga anaknya entah kemana, serta sang suami yang sedang bertarung.
__ADS_1
////
“Lihat! Perbedaan kita terlalu jauh, dan kau sudah tergores salah satu racunku. Bagaimana? Apakah terasa pusing?” Elderic tersenyum dengan lebar.
Melihat Alie yang meninggal, dia merasa bodoh, tidak peduli apakah wanita tersebut hidup atau mati. Lagipula, pada akhirnya wanita tersebut selalu berakhir buruk dalam menjalankan tugas kaisar Danze, yang mana mereka diperintahkan untuk membawa mayat untuk tumbal yang ditujukan kepada patung iblis.
Kondisi Zhuo saat ini benar-benar memprihatinkan, tubuhnya dipenuhi luka sayatan yang begitu banyak. Sebelumnya dia juga tidak menyadari bahwa dirinya terkena racun dari pedang Elderic, yang terjadi dia merasa sangat pusing seperti orang mabuk. Namun setelah mendengar bahwa dirinya terkena racun, dia hanya bisa menggertakkan giginya. Dia merasa bahwa musuh yang ia hadapi merupakan musuh paling mengerikan setelah Rungdaf.
Tidak, dia salah mengira, orang yang di hadapannya merupakan orang paling mengerikan yang pernah dia temui. Bahkan mengalahkan Rungdaf. Pasalnya, orang yang ada di hadapannya memiliki elemen kegelapan dan racun, yang mana keduanya merupakan elemen terkuat kedua dan ketiga di dunia ini.
“Tarian naga, tahap ke enam.” Zhuo terlihat sangat lemas, namun dia masih berusaha dan memaksakan diri untuk mengeluarkan sebuah teknik untuk mengalahkan Elderic.
Mungkin tarian naga akan gesit, tapi bagaimana jika sang pengguna setengah sadar? Hal itulah yang terjadi pada Zhuo. Naga yang muncul hanya seperti sebuah penghias pedangnya tanpa adanya sebuah serangan. Sehingga dengan mudah, salah satu pedang Zhuo di hancurkan oleh Elderic.
Sedikit tersadar, Zhuo langsung melompat ke belakang, namun saat menyentuh tanah, dia tidak bisa menyeimbangkan diri dan pada akhirnya terjatuh. Dia sudah melihat begitu jelas bahwa di hadapannya sudah ada Elderic yang akan membunuhnya.
Dengan cepat, Turse berlari, untungnya dia berhasil tepat di hadapan Elderis sambil menunduk untuk menghidari tebasan pedang, sekaligus dia memutar busur panahnya tepat mengenai perut Elderic.
Elderic memang terdorong ke belakang, namun dia segera menarik panah Turse sehingga Turse sendiri ikut tertarik ke depan. Tidak hanya itu saja, Elderic juga memukul punggung Turse menggunakan gagang pedangnya di saat Turse masih menunduk dan terseret ke dapan karena memegang busur panahnya yang di tarik oleh Elderic.
__ADS_1
Seketika Turse terjatuh di atas tanah, dia menoleh ke atas dan melihat bahwa Elderic melewati dirinya dan bergegas menuju Zhuo yang berusaha untuk berdiri. Turse sedikit heran, mengapa jenderal Zhuo terlihat seperti mabuk?
Tidak ada waktu, pandangan Zhuo terlihat remang-remang, namun masih menyadari bahwa Elderic akan menghunuskan pedangnya ke arah perutnya. Zhuo yang melihat itu, dia tidak ingin menyerah secepatnya, dia masih memegang pedang yang patah untuk menahan tusukan pedang Elderic.
Pedang biasa milik Zhuo bukanlah apa-apa, bahkan pedang tersebut juga terlihat patah dan tidak memiliki harga sama sekali. Zhuo memuntahkan seteguk darah segar dan terlempar cukup jauh saat melihat bahwa dada kananya tertusuk oleh pedang Elderic yang dilapisi oleh kegelapan dan juga racun.
“Zhuo ...!”
“Jenderal ...!”
Arina dan Turse berteriak secara bersamaan. Arina yang melihat hal tersebut, segera berlari ke arah suaminya dan berniat untuk segera menolong. Sedangkan Turse, dia segera berdiri dan mengeluarkan sebuah emosi besar di wajahnya. Tindakan Elderic benar-benar tidak bisa membuat Turse memaafkan semudah itu, setidaknya Elderic harus bertanggung jawab atas semua ini.
Turse menarik lima anak panah sekaligus, yang masing-masing memiliki racun berbeda. Selain itu, setelah dia melemparkan lima anak panah, dia melemparkan satu anak panah ke atas.
“Siapa lagi ini?” Kata Elderic sambil berbalik badan, dia memperhatikan bahwa ada lima anak panah yang melesat ke arahnya.
Seluruh anak panah dipatahkan dengan sangat mudah menggunakan pedang yang dilapisi oleh kegelapannya. Dia juga berlari ke arah Turse yang dia anggap sebagai sampah, selagi sampah tersebut masih berada di tempat, Elderic ingin segera untuk membersihkannya.
“Pemanah, kemampuan seperti itu sangat dirugikan dari jarak dekat.” Elderic tertawa begitu keras.
__ADS_1