
Hole membuka mulutnya lebar saat memperhatikan arah Utara, kepulan asap dengan gemuruh kuda yang juga mereka dengar, padahal jarak dari diri mereka dengan pasukan Nuvoleon begitu jauh.
Selain itu, Hole juga merasa, bahwa pasukan tersebut jauh lebih banyak, bahkan terlihat dua kali lipat dari lima tahun yang lalu. Hole berpikir, apakah Nuvoleon kali ini benar-benar serius ingin mendapatkan bunga teratai emas?
Zeno juga merasakan masalah yang sangat sulit, pasukan ini tidak terlihat berjumlah 4000 seperti apa yang dikatakan Hole, tapi ini berkali lipat, dia sepertinya harus menghadapi pasukan sebanyak ini untuk mendapatkan bunga teratai emas.
Belum lagi dia juga harus berhadapan dengan kelompok kriminal yang mana belum ada pergerakan sama sekali, dan juga Zeno belum tahu, berapa banyak pasukan yang akan digunakan untuk menguasai gunung Apiluc.
"Tuan, bagaimana ini? Sebaiknya kita membuat rencana sendiri daripada harus mengikuti Hole." Turse berkata dengan lirih, dia ingin mendengar keputusan Zeno.
"Tenang, sebaiknya kita mengikuti rencana Hole dari awal, sedangkan pertengahan kita akan berbelot."
"Bagaimana?" Turse melirik ke belakang, "Rencana Hole dari awal sudah tidak berjalan dengan mulus, dia sudah memperkirakan bahwa para pasukan dari awal akan berangkat besok, tapi nyatanya?"
"Kau benar, sebaiknya kita bertanya kepada Hole kembali. Aku ingin tahu, bagaimana dia menyelesaikan rencananya. Biarkan dia yang menjalankan rencana, sedangkan kita akan mendapatkan hasilnya." Zeno berkata dengan lirih, agar Hole tidak mendengarnya.
"Hole!" Turse berteriak dan menoleh ke belakang. "Bagaimana rencanamu selanjutnya?"
"Tenang, kita akan melesat lebih cepat lagi menuju gunung Apiluc." Hole tersenyum cengengesan sebelum melanjutkan ucapannya. "Apakah beastmu ini tidak bisa lebih cepat lagi?"
"Mungkin jika Kiba …."
"Tuan awas!" Teriak Kiba yang kini bergerak melesat ke arah samping sebelum sebuah cahaya besar mengenai dirinya.
"Apa itu tadi?" Zeno menoleh ke arah serangan tersebut, namun saat hendak menoleh, di dikejutkan oleh cahaya yang hendak menuju ke arah dirinya.
Zeno berdiri di atas Kiba, dengan menjaga keseimbangan, dia mengulurkan tanganny dan mengeluarkan Sambaran petir untuk menangkal cahaya tersebut.
Untungnya, cahaya itu terlalu lemah, sehingga saat berbenturan dengan elemen petir milik Zeno pun masih kalah.
__ADS_1
"Tuan, apa itu tadi?" Tanya Turse yang mencoba untuk menenangkan diri.
"Kita di serang. Kiba, kita mendarat sebentar, sangat sulit apabila melawan seseorang di udara." Tegas Zeno.
Kiba mengerti, kemudian dia melesat turun ke bawah, lebih tepatnya menuju daratan. Begitu juga dengan Atsuba yang juga turun mengikuti Kiba. Namun, saat akan turun, seseorang dengan pedang saat ini sudah berada di samping Zeno dengan kondisi melayang sambil hendak mengayunkan pedangnya.
Untungnya Zeno segera menyadari, namun tidak mungkin dia menyerang dari jarak sedekat itu sekaligus serangan yang bisa di bilang mendadak.
"Kiba, masuklah!" Zeno menarik kembali Kiba, sehingga mengakibatkan Turse dan Zeno terjatuh dengan begitu cepat ke arah daratan.
Zeno segera melayang kembali, dan juga menangkap Turse yang tidak bisa terbang. Untungnya, dia memasukkan kembali Kiba dengan begitu cepat sehingga mereka berdua bisa terjatuh dengan begitu cepat.
"Sialan! Ada masalah apa kau menyerangku?" Zeno menggertakkan giginya di hadapan seseorang yang baru saja menyerangnya tadi.
"Aku dari pihak Nuvoleon, aku tadi melihatmu melayang di udara, jadi kami berpikir bahwa kau adalah mata-mata dari kelompok kriminal." Kata orang tersebut begitu santai.
"Apa yang kau pikirkan salah, kami sama sekali bukan dari kelompok kriminal." Kata Hole yang kini dibelakang orang yang menyerang Zeno sambil mengulurkan tangannya.
Mungkin jika orang biasa, dalam jarak begitu dekat dan akan terkena sebuah ledakan cahaya, bisa dipastikan orang tersebut hilang menjadi debu dan diterpa angin bahkan tulang-tulangnya juga menjadi serpihan-serpihan kecil yang sangat halus dan hilang mengikuti hembusan angin.
Namun siapa yang menyangka, orang tersebut juga menghilang secepat cahaya, bahkan lebih cepat dari ledakan cahaya milik Hole yang akan keluar.
Selain itu, Zeno yang menjauh karena tidak ingin terkena dampak dari teknik yang akan dikeluarkan oleh Hole sedikit terkejut, pasalnya orang tersebut benar-benar bergerak secepat cahaya.
"Di mana orang tersebut?" Zeno membatin, dia sedikit tidak percaya bahwa orang yang benar-benar memiliki elemen cahaya dapat bergerak sangat cepat dan bebas. Bahkan pergerakannya seperti menghilang di telan bumi.
"Tuan, jika ingin bertarung turunkan aku dulu. Dengan begitu, aku bisa membantumu bertarung." Kata Turse dengan lembut, yang mana saat ini dia berada di kedua tangan Zeno yang sedang menggendongnya.
"Maafkan aku, tapi aku akan menurunkanmu seka …."
__ADS_1
"Sudah hampir lima bela detik aku di belakangmu, tapi kau belum menyadariku juga?"
Mendengar hal tersebut, Zeno segera berbalik badan, dia tidak menyangka bahwa seseorang yang menyerangnya tadi justru sudah berada di belakang Zeno cukup lama, tapi dia tidak menyadarinya sama sekali.
Begitu juga dengan Turse dan juga Hole, mereka tidak tahu bahwa orang itu tadi sudah berada di belakang Zeno.
"Akan kutunjukkan ledakan cahaya yang benar. Kau tahu jika serangan cahaya tadi tidak begitu mengerikan, tapi akan kutunjukkan yang ini." Orang tersebut tersenyum lebar.
Beberapa detik kemudian, orang tersebut sudah berada tepat di hadapan Zeno dengan jarak yang begitu dekat, bahkan orang tersebut sudah mengulurkan tangannya menandakan hendak menyerang Zeno.
Tapi itu terlalu dekat dan cepat, bahkan Zeno sedikit tidak menyadari bahwa orang itu sudah bergerak dan hendak menyerangnya.
Tidak ada cara untuk menyerang, jika dia mengeluarkan Kiba untuk menyerang orang tersebut, maka dirinya akan jatuh dan tidak akan bisa mendarat dengan begitu aman. Tapi, berpikir panjang juga membutuhkan waktu yang begitu banyak, sehingga hal itu membuat Zeno kehabisan pikir untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Masalahnya, dia tidak bisa menyerang karena membawa Turse, apa yang dia harus lakukan? Setitik cahaya sudah muncul dari tangan orang itu dan hendak meledakkan Zeno dan juga Turse. Tidak, tidak ada waktu untuk bergerak.
"Elemental blast, ledakan cahaya!" Orang tersebut blak-blakan mengatakan tekniknya.
"Booom!!"
"Tuann!!"
Apa yang bisa Zeno lakukan, adalah menjatuhkan Turse sebelum orang yang menyerangnya mengeluarkan ledakan tersebut, itu yang hanya bisa Zeno lakukan. Dia tidak tahu, apakah Turse akan selamat karena jatuh dari ketinggian seperti itu?
"Nona Turse!" Atsuba yang menjadi tunggangan Hole membalikkan tubuhnya sehingga membuat Hole terjatuh, dia tidak peduli, apa yang terpenting baginya adalah menyelamatkan Turse dengan begitu cepat.
"Dasar burung bodoh!" Teriak Hole yang terjatuh akibat di jatuhkan oleh Atsuba.
"Siapa yang peduli tentang mereka." Orang tersebut menggelengkan kepala, karena dia yakin, jatuh dari ketinggian seperti ini pasti juga akan mati.
__ADS_1
Apa yang dia pedulikan, adalah mengenai cahayanya yang seharusnya menghanguskan Zeno justru menabrak gunung Apiluc yang jauh berada di hadapannya. Hal itu, membuatnya cukup heran, karena jika cahayanya masih ada, maka bisa jadi anak tersebut mengeluarkan sesuatu yang menjadi pelindung, namun cahayanya terus mendorongnya.
"Sial, justru aku membuatnya membentur gunung Apiluc. Benar-benar dalam bahaya jika dia yang menguasai gunung tersebut." Orang itu menggertakkan giginya, dia tidak menyangka bahwa seseorang yang dia lawan ternyata cukup tangguh, setidaknya bisa selamat dari ledakan cahaya miliknya dari jarak dekat merupakan sesuatu yang hebat.