
Baik Akram maupun Gongnyu, keduanya sama-sama terkejut saat melihat sekilas sesosok beruang dengan suara khas Geldhe.
Akram kemudian mengingat, bahwa ciri khas Geldhe adalah seekor beruang yang mana beruang tersebut merupakan gabungan ia sendiri.
"Sesosok roh?" Kata Akram membuka matanya lebar-lebar.
"Jangan bilang bahwa Geldhe……" Ucap Gongnyu tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa yang ia sampaikan tadi." Gongnyu kebingungan karena ia masih tidak percaya bahwa Geldhe kemungkinan terbesar sudah mati, tetapi untungnya Geldhe bisa membawa pesan terakhir.
"Ice Sword ada di negara petir, siapkan pasukan, kita serang negara petir." Tegas Akram dengan raut wajah yang begitu bahagia, karena setelah sekian lama, ia benar-benar menemukan Ice Sword.
Tapi sayangnya, dibalik kebahagiaan Akram, terdapat rasa sedih yang mendalam. Bagaimana tidak, Geldhe telah pergi meninggalkannya terlebih dahulu, hal itu membuat Akram sedikit menyesal karena terus menerus memarahi Geldhe.
"Bagaimana rencana kita mengenai adu domba ketiga negara?" Sahut Gongnyu.
"Lupakan itu, rencana itu digunakan apabila Ice sword belum ditemukan. Sedangkan sekarang, Ice sword telah ditemukan, jadi kita hanya perlu mengambilnya secara paksa." Kata Akram dengan wajahnya sedikit masam.
Gongnyu mengerti, tetapi ia tidak menyangka bahwa Ice sword berada di negara Petir, karena sebelumnya, Akram dan dirinya jauh-jauh pergi menuju benua es atau biasa disebut benua Artik, karena ciri khas Ice Sword yang berasal dari es juga.
Namun sayangnya, mereka berdua tidak menemukan Ice sword selama bertahun-tahun, tetapi mereka tidak habis pikir. Kemungkinan terbesar Ice sword berasal dari benua ini sendiri yaitu negara air maupun angin, tetapi mereka juga tidak menyangka bahwa Ice sword berada di negara petir yang tidak ada hubungannya sama sekali antara es dan petir.
Walaupun sebenarnya mereka tidak tahu, apa itu sebenarnya Ice sword, dan kini ada dimana, karena Ice sword saat ini sedang dipegang seseorang di tempat lain.
Akram pergi meninggalkan Gongnyu sendirian, maksud Akram, dia pergi sebentar dan mengambil sebilah benda pusaka yang ia cari di dunia ini. Bahkan, saat ia mencari, ia rela terjun ke dalam kawah gunung berapi.
"Fire Sword." Itulah salah satu benda pusaka yang konon kekuatannya bisa membakar gunung apabila digunakan oleh orang yang tepat.
__ADS_1
Pedang yang dibawa Akram memiliki simbol elemen api di salah satu sisinya, dengan warna merah kehitaman yang memang menjadi ciri khas elemen api. Mungkin pedang tersebut terlihat seperti pedang lainnya, dengan suhu sama seperti besi yang sangat nyaman di pegang.
Namun siapa sangka, Akram yang memegang gagang fire Sword, tangannya terlihat sangat merah menandakan bahwa pedang tersebut sangat panas. Tapi Akram tidak selemah itu, hanya karena panas bukan berarti Akram merasa kesakitan.
"Ice Sword, sebentar lagi kau akan menjadi milikku." Akram tertawa dengan begitu keras.
Gongnyu yang melihat itu juga ikut tersenyum melihat Ice sword akan jatuh di tangan organisasi Taruz.
Mimpi mereka untuk mengakhiri dunia yang penuh kebinasaan akan semakin dekat, karena mereka hanya dipenuhi kebencian karena trauma masa lalu yang membuat mereka menjadi seperti ini.
"Api: tebasan pembakar aliran kesepuluh, api jiwa." Akram seketika menebaskan sebuah Fire Sword dengan teknik miliknya sendiri.
Menurut Gongnyu, teknik yang dikeluarkan oleh Akram sama sekali bukan masalah besar dan tidak dampak yang sangat serius.
Tapi siapa sangka, teknik tersebut bisa menjadi berkali-kali lipat saat ia tebaskan kearah pohon. Yang mana, pohon tersebut langsung hangus menjadi abu dalam hitungan detik.
Gongnyu langsung bertepuk tangan saat ia melihat dampak besar dari Fire sword, walaupun sebenarnya, ia sudah berkali-kali melihat kehebatan Fire Sword, apalagi dipegang oleh orang yang tepat seperti Akram, membuat dirinya tak berhenti untuk membuka mulutnya secara lebar.
“Kau serius untuk ikut Selena?” Kata Zeno yang diiringi oleh suara sendawa.
“Aku serius untuk ikut, lagipula aku ingin sekali untuk menggunakan soil crystal, walaupun efeknya hanya enam hari.” Sahut Selena.
“Baiklah, pertandingan dengan tingkat negara seperti ini, biasanya dibuka pendaftaran di setiap balai kota, jadi kita hanya perlu bergegas menuju balai kota sekarang juga.” Ucap Zeno menasehati Selena.
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi, kau itu sama saja membuatku dipermalukan.” Sahut Selena sambil menggembungkan pipinya, ia menjalankan kudanya untuk pergi meninggalkan Zeno terlebih dahulu dan menuju balai kota terdekat.
“Tunggu sebentar, apa maksud mu? bukankah kau sendiri yang melakukan hal yang bodoh.” Kata Zeno sambil mengerutkan dahinya, dan ia sendiri juga merasa bahwa Selena memiliki sifat kekanakan yang membuat nya selalu tidak habis pikir.
__ADS_1
Padahal ia sendiri juga tidak tahu dimana letak pendaftaran untuk mengikuti ajang kompetisi dengan hadiah soil crystal, ia hanya menebak bahwa pertandingan seperti ini pasti pendaftarannya di setiap balai kota di negara ini. Tetapi jika itu memang benar, maka Zeno sangat beruntung.
Apa yang Zeno harus lakukan saat ini hanyalah menyusul Selena yang pergi menuju balai kota yang ada di kota ini, sekaligus ia juga ingin mendaftar untuk mengikuti sebuah kompetisi merebutkan Soil Crystal.
****
Zeno yang baru sampai di balai kota merasa tenang, karena ia juga tidak menyangka bahwa tebakannya ternyata benar bahwa pendaftaran berada di balai kota. Selain itu, banyak orang-orang yang ramai mendaftar untuk mengikuti sebuah kompetisi.
Zeno juga melihat bahwa Selena juga berdiri di sela-sela antrian untuk melakukan pendaftaran. Zeno yang melihat itu juga turun dari kudanya dan masuk ke dalam antrian panjang yang membuatnya harus menunggu sedikit lebih lama.
“Walaupun harus menunggu, tetapi itu tidak masalah, karena kemungkinan siang nanti antrian juga semakin panjang.” Batin Zeno.
Beberapa saat kemudian, Zeno melihat bahwa saat ini giliran Selena melakukan pendaftaran. itu menandakan bahwa saat ini, giliran Zeno untuk melakukan pendaftaran semakin dekat. Hal itulah yang membuat Zeno sedikit berbahagia.
“AYolah nona, kenapa kau tidak mengizinkan aku ikut?”
“Bukankah sudah jelas, bahwa kau anak tuan Daizoru, mataku tidak akan salah mengenali dirimu.” Ejek seorang wanita yang merupakan orang yang mengurus pendaftaran.
“Lagi-lagi masalah elemen.” Ucap Selena sambil menundukkan wajahnya dengan begitu lesu.
“Bagaimana kau bisa bertarung nanti jika kau tidak memiliki elemen? dasar anak tuan Daizoru, pantas saja tuan Daizoru membencimu dan tidak pernah mengurusmu. Kau tidak pantas berdiri di samping elementalist seperti kami.” Teriak nona itu.
Zeno yang melirik keributan itu langsung memotong antrian dan berjalan santai menuju Selena dan tempat pendaftaran, wajahnya begitu dingin karena merasa sangat kecewa dengan orang yang memiliki sifat itu.
“Hey, apa-apaan ini, kenapa kau memotong antrian?”
“Apa kau sudah gila?”
__ADS_1
Zeno tidak menghiraukan umpatan dari orang-orang yang sedang mengantri. Justru ia malah menarik sebuah pedang dua jiwa yang ada di belakang punggungnya. Bukan untuk melukai, Zeno menyentuhkan ujung pedang dua jiwa di bawah dagu nona yang menjaga pendaftaran sehingga membuatnya sedikit ketakutan.
“Ulangi lagi perkataanmu, nona.”