Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Membohongi tuan Sepuluh


__ADS_3

“Tunggu tuan!” Pipi Turse seketika memerah dengan mata yang berkedut, “Maafkan aku, aku mengira bahwa kau bertanya antara pihak Nuvoleon atau Kriminal siapa yang menang?” Turse berlari mengejar Zeno yang berjalan meninggalkan dirinya.


Mendengar hal tersebut, Zeno hanya tersenyum sambil menghentikan langkahnya, dia juga berbalik badan dan kembali menatap Turse yang terlihat sangat malu setelah Zeno melakukan sesuatu kepadanya.


Dibalik kegelapan, Zeno berkata beriringan dengan suara serangga yang membuat tempat tersebut seolah terkesan mencengkam, “Tidak, aku bercanda. Apa yang kau katakan benar, bahwa pihak tuan sepuluh akan memenangkan pertempuran dengan pihak Nuvoleon, tapi aku hanya sekedar menebak.”


“Jika kita ingin tahu siapa yang menang, maka kita harus menuju jalur utara. Kemungkinan, pertempuran sudah dimulai.” Zeno menambahkan.


“Benar-benar mengerikan.” Turse menundukkan kepalanya sebelum melanjutkan ucapannya, “Hanya sebuah bunga teratai, tapi kedua pihak rela mengeluarkan pasukan dan berperang.”


“Itu semua hanya karena keegoisan seseorang yang bernama tuan sepuluh. Menurut Hole, pemimpin kelompok kriminal mencuri teratai emas untuk dijual dengan harga yang sangat tinggi. Sedangkan kekaisaran, itu sudah menjadi hak mereka untuk melindunginya, karena gunung Apiluc berada di wilayah mereka. Aku, bisa dibilang aku juga egois, hanya mementingkan ibuku tanpa peduli seseorang yang juga sama-sama membutuhkan sama seperti Hole.” Zeno tampak begitu sayu, sudah kesekian kali ketika dia mengatakan ibunya, maka dia pasti akan sangat sulit untuk menahan tangis.


Mendengar hal itu, Turse menenangkan, atau lebih tepatnya menghibur Zeno dengan berkata, “Apa yang Anda lakukan adalah suatu hal yang benar, egois? Tentu saja tidak, itu demi ibu Anda. Jika Anda seakan tidak peduli, dan tidak bertekad untuk menyembuhkan ibu Anda, itu baru bisa dikatakan egois. Anda tidak perlu peduli dengan Hole, karena Anda pernah mengatakan, bahwa hidup tidak jauh dengan sebuah hukum alam. Siapa yang bertahan, dia yang menang.”


Mendengar hal itu, Zeno melirik ke arah Turse dan tersenyum kecil, sepertinya dia sangat beruntung untuk mengajak Turse. Mungkin, jika dia berangkat sendirian, kesepian akan melanda di hatinya. Tidak ada yang menghiburnya di kala sedih, setidaknya, dengan adanya sosok wanita seperti Turse, dia bisa lebih tenang.


Mendadak, dia juga rindu dengan Nora yang bersifat kekanak-kanakan serta Selena yang bersifat normal atau lebih tepatnya tidak terlalu dewasa seperti Turse atau kekanakan seperti Nora, padahal bisa dibilang masih lebih dari satu minggu sejak mereka meninggalkan benua negara.

__ADS_1


“Berbicara mengenai Hole, apakah kau percaya bahwa dia merupakan orang yang tidak mempunyai apa-apa?” Tanya Zeno mengalihkan topik pembicaraan.


Turse mengerutkan dahinya dan menjawab, “Maksud Anda?”


“Akhh.” Zeno menghela napas kuat-kuat sebelum melanjutkan ucapannya, “Kapan-kapan saja aku menjelaskan.” Zeno memutuskan untuk diam dan memutuskan untuk membahas hal yang lain.


......


Hans dan Marut, keduanya sudah menghadap ke hadapan tuan sepuluh yang sedang duduk di atas batang pohon yang sudah tumbang. Seperti biasa dan tidak meninggalkan ciri khasnya, dia tetap menggunakan topeng yang membuat siapa saja yang melihatnya begitu penasaran mengenai siapa yang berada di balik topeng itu.


Begitu juga dengan Marut, dia yang kehilangan banyak darah juga terlihat loyo dan tidak sanggup untuk berdiri setelah dia bertekuk lutut di hadapan tuan sepuluh. Dia saat ini berada dalam ketakutan yang luar biasa, seakan di antara hidup dan mati saat ingin membohongi tuan sepuluh. Begitu juga dengan sebaliknya, jika dia berkata dengan jujur, maka dia akan berurusan dengan racun yang bisa menghilangkan nyawanya sekejap.


Tuan sepuluh langsung berdiri dan menendang kepala Hans dengan begitu keras, bahkan Hans harus terlempar dengan membentur pohon yang ada di belakangnya. Sangat menyakitkan, dia baru saja lepas dari Zeno, namun harus berhadapan dengan orang seperti ini, benar-benar begitu sial harinya hari ini.


Melihat hal itu, Marut bergidik ketakutan, karena dia tahu bahwa gilirannya adalah dia. Tapi untungnya, dia langsung menghela napas saat tuan sepuluh kembali duduk seolah dirinya tidak melakukan apa-apa barusan.


“Aku tidak menunggu basa-basimu, cukup berlutut dan melapor apa yang terjadi. Aku butuh pesan yang singkat namun begitu jelas.” Kata Tuan Sepuluh.

__ADS_1


“Orang itu sudah mati, tapi sebagai gantinya, kedelapan rekan kami juga mati karena ulahnya.” Kata Marut dengan spontan, namun tidak meninggalkan kesan curiga kepada tuan sepuluh bahwa dirinya sedang berbohong.


Tuan sepuluh menatap Marut begitu lama, hal itu membuat Marut berkeringat dingin apabila tuan sepuluh curiga bahwa dirinya sedang berbohong. Tapi dirinya mencoba untuk tidak membuat pergerakan atau tingkah laku yang begitu mencurigakan.


Hans yang terlempar sejauh beberapa meter, dia mencoba berdiri dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dengan nada suara yang terbata-bata, dia membenarkan apa yang Marut katakan, “Apa yang dikatakan Marut benar tuan, anak itu sudah mati. Jika Anda tidak percaya, Anda bisa menuju selatan dan melihat jasad yang tergeletak di sana.”


Mendengar hal itu, Marut melirik ke belakang ke arah Hans. “Jasad?” Marut bertanya-tanya di dalam hati, “Jasad yang mana?” Dia merasa bahwa Hans begitu sembrono, bahkan dia berani mengatakan jasad Zeno ada di tempat, padahal Zeno sendiri belum mati. Apa yang harus dia lakukan? Dirinya menjadi bingung, karena bagaimana jika tuan sepuluh benar-benar ingin melihat jasad itu.


Tuan sepuluh kembali duduk tanpa merasa curiga kepada mereka berdua sambil berkata, “Kerja bagus, kembalilah bersama kriminal lainnya, karena separuh pasukan milik pasukan yang berhasil digiring oleh anggota kita sudah hampir naik ke lereng.” Seru tuan sepuluh.


Hal itu membuat Hans menghela napas lega, sedangkan Marut dia hampir tidak bisa bernapas karena sesuatu yang dia takutkan.  Untungnya Hans berhasil memancing tuan sepuluh untuk percaya tanpa melihat kondisi yang sebenarnya.


Benar-benar selamat, tinggal menunggu untuk melaporkannya kepada seseorang yang memberikannya berita palsu ini atau Zeno sendiri. Dengan begitu, nyawa yang seharusnya berada di tangan Turse, akan dengan mudah terbebas. Tidak seperti apa yang mereka pikirkan, ternyata membodohi tuan sepuluh begitu mudah. Walaupun begitu, mereka undur diri tanpa menghilangkan kesan curiga sekalipun, alhasil tuan sepuluh yang melihatnya juga benar-benar percaya bahwa anak itu atau Zeno sudah mati.


“Dengan begini, untuk mendapatkan bunga teratai sangatlah mudah. Masalah kecil yang tidak dapat diremehkan juga sudah dibereskan. Sisa masalah besar, yaitu pihak Nuvoleon yang mana sepertinya kali ini mereka benar-benar begitu serius saat ingin mendapatkan bunga teratai emas.” Tuan sepuluh mengangkat salah satu kakinya dan meletakkan kakinya di atas kaki lain sambil melanjutkan ucapannya.


“Aku dengar, ibu dari salah satu seorang kaisar di benua negara sedang sakit keras dan tidak ada penawar yang cocok selain bunga teratai emas. Dan, tentu saja aku akan menjualnya dengan harga yang sangat fantastis kepadanya.”

__ADS_1


__ADS_2