
Semua orang yang melihatnya seolah berlagak gila, terutama laksamana Mahaa yang hanya berniat bercanda, namun kaisarnya benar-benar melakukannya. Selain itu, Turse yang melihatnya benar-benar penasaran, kenapa Zeno seolah bisa mengendalikan alam? Seperti menumbuhkan sebuah pohon dengan cepat, itupun pohon yang sangat tidak wajar karena ukurannya berpuluh kali lipat dari pohon biasa.
Apa yang membuat dia lebih terkejut, saat mengingat bahwa sang kaisar memintanya untuk mencari sebuah lahan berhektar-hektar untuk membuat sebuah hutan yang berdiri di atas daratan es. Hutan sementara, setidaknya kayunya cukup membuat puluhan kapal perang untuk berperang dengan Mare enbarum. Karena Turse sendiri tahu, bahwa pohon-pohon berkayu rata-rata tidak bisa menandingi iklim es.
“Baik kaisar, aku mohon undur diri.” Nefd dan yang lainnya sedikit membungkukkan kepala sambil menyentuh dadanya, berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka.
Begitupun yang lainnya pamit untuk undur diri karena akan melaksanakan tugas masing-masing. Terkecuali Aure yang masih berdiri dan tersenyum ke arah Zeno.
“Ada apa Aure?” Zeno melirik ke belakang sebentar, meratakan permukaan es yang hancur karena akar-akar pohon yang dia angkat dengan paksa.
“Tidak kakak, tapi aku ingin bicara sebentar.”
“Sudah berapa kali aku bilang, bahwa jangan memanggilku kakak. Karena umurmu kurang lebih sama dengan kakakku, Yuna.” Kata Zeno tanpa berekspresi.
“Baiklah, kaisar saja. Sambil berjalan, tidak masalah kan?” Tanya Aure.
Zeno mengangguk dan berjalan dengan Aure yang ada di sampingnya. Beberapa detik, Aure tidak kunjung berbicara membuat Zeno melirik ke samping, yang mana ternyata Aure nampak tertunduk lesu seolah bersedih.
“Aku bukan keturunan Fang atau keluarga Aurrora yang sudah tidak ada. Tapi mengapa kaisar mengangkatku menjadi seorang putri kekaisaran?”
“Memangnya kenapa? Bukankah kau juga cucu angkat nenek, jadi kita adalah sepupu. Anggap saja, kau keluarga inti dari kekaisaran ini yang masih satu garis keturunan denganku, sehingga kau adalah seorang putri kekekaisaran. Selain itu, pada dasarnya kau juga seorang putri dari Northern. Lagipula petinggi Nefd juga tidak keberatan.” Zeno mencoba untuk menjelaskan.
Aure menghela napas dengan sangat malas, “Setidaknya berikan aku sebuah jabatan yang memiliki sebuah pekerjaan penting. Seperti Turse yang menjadi tangan kananmu.”
__ADS_1
“Aku akan memberikan pekerjaan dan jabatan penting baru setelah peperangan telah usai. Maka dari itu, bermain-mainlah sesuka hatimu dengan Nora dan juga Selena. Kau tahu, setelah perang usai, mereka berdua tampaknya tidak bisa bermain-main lagi.” Zeno tersenyum kecil sambil beranjak pergi dengan cepat meninggalkan Aure.
Zeno kembali ke ruangannya, duduk di sebuah meja kerja dengan vas bunga es yang mekar dengan begitu indah. Dia menghela napas berulang kali hingga membuat sebuah embun dingin keluar dari mulutnya. Menjadi seorang kaisar ternyata adalah hal yang sangat merepotkan, apalagi dia harus mengatur satu wilayah yang menurutnya sangat merepotkan.
Dia juga berpikir, ini baru berjalan satu minggu setelah dia diangkat, belum beberapa minggu kemudian, beberapa bulan kemudian atau beberapa tahun lagi. Yang pasti, itu cukup melelahkan bagi remaja seumurannya. Rasanya dia ingin sekali bebas, berpetualang dengan santai tanpa terkekang apapun.
Di sela-sela dia melepaskan penatnya, Turse membuka pintu ruangan tersebut yang membuat Zeno langsung duduk tegak dan menatap begitu sinis ke arah Turse.
“Turse, setidaknya ketuk pintu jika kau ingin masuk ke dalam ruanganku. Selain itu, kenapa kau tidak melakukan apa yang aku perintahkan.”
“Maafkan aku kaisar, apakah Anda lupa bahwa aku sudah belasan tahun berada di benua ini?” Kata Turse dengan suara menggoda. Tampaknya dia juga berjalan ke belakang kursi Zeno dan menyentuh kedua pundaknya. “Sebelah timur laut, beberapa mil sebelum di pesisir pantai tempat armada kapal. Seharusnya Anda tadi melihatnya. Atau, mungkin karena Anda bergerak terlalu cepat, jadi tidak melihatnya.” Turse berkata dengan lirih sambil mendekatkan bibirnya ke arah telinga Zeno.
“Turse berhentilah menggodaku. Aku sudah mengatakan kita ini belum beranjak dewasa.” Zeno berdecak kesal sebelum melanjutkan ucapannya, “Tetapi, apa yang kau katakan benar, beberapa mil dari tempat aku meletakkan kayu tersebut terdapat lahan kosong yang tidak ada apapun.”
Turse mengangkat kepalanya, dia kemudian berjalan ke samping meja kerja Zeno sambil melipat kedua tangannya dan meletakkan kepalanya di atasnya. Kemudian, dia menatap Zeno dengan tersenyum manis.
Zeno yang melihat itu, hanya bisa menyentuh kepalanya sambil menggelengkan kepala, dengan lirih dia berkata, “Aku pikir bahwa kau adalah wanita pendiam dan tidak terlalu banyak bicara. Selain itu, aku juga tidak menyangka bahwa menjadi kaisar memiliki cobaan yang begitu berat.”
“Kau benar-benar sangat lucu saat pipimu memerah kaisar.”
“Turse, kenapa kau justru sangat berani ketika aku menjadi kaisar? setidaknya, tunggu kita menjadi dewasa kau mengerti?” Zeno menoleh ke arah Turse.
“Apa kau berjanji?” Turse bertanya dengan sedikit senang.
__ADS_1
“Tidak.” Jawab Zeno dengan singkat.
Turse menghela napas dengan kesal, wajahnya juga menjadi semula tanpa adanya sebuah ekspresi sama sekali seperti Zeno. Kemudian, dia menarik kursi yang ada di belakangnya dan berkata, “Baiklah aku serius, kali ini aku ingin membahas sesuatu denganmu”
Zeno tidak berkata lebih, dia menatap Turse sambil menunggu dia berbicara untuk membahas sesuatu yang tampaknya sangat penting. Sehingga, dia juga menatap Turse dengan serius pula.
“Apa aku perlu meningkatkan jumlah pemanah? Sepertinya 150.000 pemanah sangat kurang untuk ikut dalam penyerangan Mare Embarum.”
“Jika kau sanggup, maka silahkan. Akan tetapi, aku menyarankan untuk iya.” Zeno mengangguk.
“Lantas siapa yang akan membantu pekerjaanmu nanti?”
“Selena? Nora? Atau mungkin bahkan keduanya, bahkan jika perlu aku akan meminta Aure untuk membantuku.”
“Aku sarankan untuk meminta Selena atau Aure. Karena Nora tidak jauh dari sifatnya yang kekanakan. Apa yang aku takutkan justru tugasmu tidak akan selesai.” Ujar Turse.
Zeno memutar bola matanya sebelum menjawab apa yang dikatakan Turse, “Jika aku berkata seperti itu kepada Nora, maka Nora juga akan menyingkirkanmu sama seperti kau menyingkirkan dia. Jadi, aku akan meminta bantuan kepada salah satu dari mereka sesuai apa yang mereka bisa.”
“Memangnya Nora bisa apa?” Turse tersenyum meremehkan.
“Kau ini, pergilah dan lakukan tugasmu untuk meningkatkan pemanah dan kemampuannya pula. Aku akan memberikanmu waktu dalam satu bulan, sebelum kita berangkat menuju Mare enbarum.” Zeno menyapu tangannya ke depan seolah memberi isyarat kepada Turse untuk pergi.
“Seperti apa yang Anda perintahkan, kaisar.” Turse membungkukkan badannya sambil menyentuh dadanya untuk undur diri sebelum dia berbalik badan. Namun, saat dia berada di ambang pintu, dia sedikit melirik ke arah Zeno dan tersenyum, “Semoga kau tidak merindukanku.”
__ADS_1
“Katakan seperti itu sekali lagi maka aku akan melarangmu untuk kembali.” Jawab Zeno dengan malas.