
Zeno dan Zhuo mengangguk, dia berinisiatif untuk segera membunuh Daizoru sebelum para warga masuk dan menemukan sesuatu yang belum mereka lihat. Baik itu Zeno, Zhuo, maupun Selana, mereka bertiga mengakhiri penyiksaan Daizoru dengan cara membelah tubuhnya menjadi tiga bagian. Setelah itu, dia pergi beranjak melewati gerbang belakang sebelum orang-orang dari gerbang depan masuk.
Tentu saja, setelah keluar dari gerbang belakang, mereka semua beranjak pergi dengan cepat bak seorang assassin yang berhasil melaksanakan misinya.
Para warga mulai berbondong-bondong masuk, mereka terkejut saat melihat ada mayat penjaga yang tergeletak di belakang gerbang. Beberapa orang lainnya juga mencoba masuk menuju kediaman. Tapi orang tersebut sangat terkejut saat melihat mayat berserakan di dalam kediaman tersebut.
“Terlihat dari lukanya, pembunuhan ini baru saja terjadi.” Kata salah seorang kepada orang-orang lainnya.
“Aku tahu itu, itulah mengapa kami menuju kesini karena mendengar kebisingan.”
“Kami juga melihat, di depan kamar tuan Daizoru ada dua mayat yang mati secara tidak wajar.” Orang lain tiba-tiba datang. “Selain itu, di kamar tuan Dazirou, ada tiga wanita hamil yang sepertinya sadar dari pingsan dan menangis tersedu-sedu.” Sambungnya.
“Apa kau tahu, mengapa wanita itu menangis? Mungkin dengan itu, kita bisa mencari tahu siapa pembunuhnya.”
“Mereka mengaku bahwa mereka diperkosa Daizoru dalam keadaan hamil. Dan juga setelah mendengar bahwa ada pembantaian di keluarga Yunshan, mereka seperti merasa kebahagiaan.” Jawab orang itu.
“Tuan Daizori, aku tidak menyangka bahwa dia memiliki nafsu bejat. Mungkin pembantaian ini dilakukan karena ada seseorang yang balas dendam karena istri atau ibunya tengah diperkosa dalam keadaan mengandung. Lantas, di mana Daizoru?”
Mereka semua beranjak pergi untuk mencari Daizoru, karena saat mereka masuk kamar, Daizoru tidak memperlihatkan batang hidungnya. Yang ada hannyalah tiga wanita hamil yang tengah menangis.
__ADS_1
Namun, mereka terkejut saat melihat di belakang kediaman, tanah tersebut membeku dengan tubuh Daizoru yang terbelah menjadi tiga. Tidak, lebih tepatnya terbelah menjadi empat dengan kaki yang sebelumnya dipotong oleh Zeno.
Kelamin Daizoru juga nampak terlihat seperti habis ditembak sesuatu. Apa yang mereka pikirkan ternyata benar, bahwa seseorang yang melakukan pembantaian ini memiliki dendam kesumat, karena ibu atau istrinya tengah diperkosa dalam keadaan hamil. Jika tidak, tentu saja si pembunuh tidak akan menghancurkan barang berharga milik Daizoru.
Mulut Daizoru juga hancur, dengan ujung bibirnya yang robek hingga sampai pipi belakang. Mereka juga melihat potongan lidah yang sepertinya itu milik Daizoru.
“Tunggu sebentar, jika si saudagar mati maka hartanya.....” Salah seorang tidak melanjutkan ucapannya.
Bukannya mengurus jasad Daizoru, seluruh warga justru berbondong-bondong masuk ke dalam kediaman Yunshan untuk berebut mencari harta milik Daizoru yang merupakan saudagar terkaya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang saling serang karena ingin menguasai rumah Daizoru dan mencari hartanya.
“Tunggu sebentar, seluruh harta milik Daizoru adalah milikku! Karena aku yang pertama kali menemukan jasad Daizoru.”
“Tidak bisa begitu, justru akulah yang berhak, karena aku yang pertama kali mendengar keributan di sini.”
“Akh masa bodoh. Gelombang tanah.”
Seketika kediaman Yunshan menjadi tidak tenang dan mengalami sebuah gempa yang hebat. Pasalnya, permukaan tanah menjadi sangat lunak dan bergelombang. Mereka yang melihat itu tidak mau kalah dan mencoba mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik mereka untuk merebut harta Daizoru.
Mungkin roh Daizoru yang melihatnya pasti akan menangis, karena melihat bahwa jasadnya dan keluarganya tidak terurus bagaikan sebuah benda usang. Bahkan para warga memilih untuk merebut harta yang berada di kediamannya.
__ADS_1
Karena sifat dasar manusia yang sangat tamak dan rakus, serta tidak peduli dengan keadaan sekitar. Mereka juga benar-benar sangat keterlaluan, seharusnya mereka memilih mengurus jasad Daizoru. Setelah itu, mereka bisa membagi harta secara adil. Tidak, seharusnya mereka tidak berhak untuk memakan harta itu. Karena pada dasarnya, masih ada penerus yang tersisa yaitu Selena.
Tapi Selena tidak peduli mengenai seluruh harta milik keluarga Yunshan. Barang peninggalan keluarga Yunshan tidak ingin melekat di dirinya, baik itu harta, ilmu ataupun sesuatu yang lainnya.
>>/<<
Keesokan harinya, kabar mengenai hilangnya nama Daizoru telah menyebar ke seluruh kota. Bahkan mungkin siang nanti akan menyebar ke satu negara. Namun menurut laporan, tidak hanya keluarga Yunshan yang terbunuh, tapi banyak warga biasa yang juga terbunuh. Harta keluarga Yunshan juga habis tidak tersisa.
Penyidik menyatakan bahwa sebenarnya keluarga Yunshan terbunuh, namun para warga mengetahui hal tersebut dan berebut untuk menguasai seluruh harta Yunshan. Namun banyak memakan korban jiwa karena sebuah harta.
Mereka berlima, lebih tepatnya Zeno, Fang Zhuo, Selena, Nora dan Turse justru tidak mengungkit masalah tersebut dan bersikap biasa seakan tidak terjadi apa-apa. Karena apa yang mereka takutkan adalah, adanya seorang mata-mata yang secara sengaja maupun tidak sengaja mendengarkan apabila mereka membahas pembantaian tersebut.
“Hei Zeno, apakah menurutmu kakakmu Fang Tan masih mengenalku?” Zhuo mendadak bertanya hal tersebut kepada Zeno.
“Kenapa ayah berkata seperti itu, tentu saja dia akan mengingatnya. Anak mana yang tidak mengingat ayahnya yang lama tidak bertemu? Bahkan aku saja yang sebelumnya tidak pernah bertemu ayah, bisa menebak bahwa saat itu kau adalah ayahku.” Zeno menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya.
“Mungkin ada beberapa faktor hingga aku bisa mengenalmu. Yang pertama, aku tahu bahwa nama ayah adalah Zhuo, Fang Zhuo. Kedua, wajah ayah benar-benar mirip dengan kedua kakak. Tapi faktor ketigalah yang membuatku yakin bahwa Anda adalah ayahku, yaitu sebuah perasaan.” Zeno memandangi wajah ayahnya yang menunduk. “Saat pertama kali aku bertarung dengan ayah, aku merasa kita memiliki sebuah ikatan batin, aku merasa bahwa kita memiliki satu darah daging. Itulah yang kumaksud sebuah perasaan.”
“Aku bertanya apa, kau menjawab apa.” Zhuo sebenarnya mengerti apa yang Zeno katakan, bahkan ucapan Zeno berhasil membuat hatinya benar-benar luluh dan ingin meneteskan air mata. Tapi dia mengatakan seperti itu seolah tidak tahu apa yang Zeno katakan. Karena sebagai seorang ayah, Zhuo tidak mau menunjukkan keluluhan hatinya kepada Zeno.
__ADS_1
“Dasar pak tua. Intinya, kak Tan pasti akan tetap mengenalmu. Tapi tenang saja, jika dia melupakan ayah, bahkan jika kak Tan hanya sempat berpikir siapa sosok pria tua yang ada di hadapan yang mana itu ayah. Maka aku akan memberikannya sebuah pelajaran.” Zeno menjelaskan secara singkat, dia tidak mau mengulangi penjelasan yang sangat rinci kepada ayahnya.
Setelah itu Zeno beranjak pergi, Fang Zhuo yang mendengar penjelasan Zeno sebelumnya, saat ini matanya hanya bisa berkaca-kaca. “Bodohnya, aku. Mengapa saat itu aku tidak peka dengan perasaan batin, dan justru saat itu aku berniat membunuhnya.”