
Sebuah sambaran petir melewat Aurrora dengan sangat cepat, bahkan kaisar Aurrora hampir buta karena kilatan petir yang sangat mengkilau. Bahkan tubuhnya menjadi lumpuh dan bergetar.
“Satu lawan dua? Itu merupakan sesuatu yang tidak adil.”
Sambaran tersebut merupakan Zeno yang bergerak ke arah Daris dan langsung memenggal kepalanya. Sedangkan untuk Artruk, dia terlempar begitu jauh sebelum berhasil memukul kaisar Aurrora. Pasukan milik Zeno saat ini sudah datang dan bergabung kembali dengan pasukan kedua utama dan membantu mengalahkan seluruh pasukan milik Artruk.
“Zeno?” Aurrora menoleh ke arah Zeno yang saat ini berdiri di atas mayat Daris dengan memegang sebuah kepala yang merupakan milik penyihir badai.
“Menyerah, Rungdaf telah mati.” Zeno melemparkan sebuah kepala yang kini tengah menggelinding di samping Artruk yang tengah tersungkur.
Artruk ternganga dengan wajah yang membeku karena memperhatikan kepala yang mirip Rungdaf tengah menggelinding tepat di sampingnya. Orang terkuat di negaranya telah dikalahkan, dia bisa apa? Di hadapan Rungdaf saja dia bagaikan seekor semut yang siap diinjak, bagaimana dengan di hadapan orang yang membunuh Rungdaf? Tentu saja orang tersebut benar-benar sangat mengerikan.
“Bagaimana bisa?” Artruk kesulitan untuk berbicara.
“Entah, bagaimana bisa orang terkuat di Northern mati?” Zeno bertanya, namun dia bertanya bukan karena tidak tahu, melainkan hanya untuk membuat Artruk lebih takut lagi.
Artruk memberanikan diri untuk berdiri, walaupun di hadapnnya merupakan sosok pembunuh Rungdaf, tetapi dia tidak bisa membiarkan kekaisaran jatuh ke tangan orang lain. Setidaknya dia harus berjuang tanpa memikirkan kalah atau tidaknya, karena kesempatan untuk menang itu pasti ada walaupun sangat kecil.
Artruk tertawa keras selepas berdiri, mungkin karena dia sudah menjadi sangat gila. Zeno hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Artruk yang mulai berani tetapi semakin gila.
“Aku akan membunuhmu dengan cepat, sehingga tidak merasakan rasa sakit.” Zeno mengangkat pedangnya dan bergerak secepat kilat ke arah kaisar Artruk.
__ADS_1
Sayangnya saat akan menebas leher Artruk, naga yang sebelumnya menyerang golem milik Aurrora, kini beralih untuk melindungi Artruk, sehingga apa yang ia tebas bukanlah Artruk, melainkan sosok naga es yang kini terbelah menjadi dua.
Artruk menelan ludah kasar, jika naga es yang keras dan tebal dapat di hancurkan semudah itu, bagaimana dengan dirinya? Artruk tidak bisa berpikir ebih jauh lagi, yang terpenting dia berpikir bagaimana caranya untuk membunuh Zeno.
Zeno saat ini mendarat di atas tanah bersalju, kemudian dia berbalik badan dan kembali melesat ke arah Artruk yang tengah linglung.
“Ice Wall.” Artruk berbalik badan dan memunculkan sebuah tembok es untuk menghadang Zeno.
Zeno hanya tersenyum dan menganggap bodoh Artruk, Ice Wall yang diciptakan untuk menahan dirinya yang baru datang seketika langsung hancur saat Zeno menyambar. Tepat di hadapan Artruk, Zeno mengayunkan pedangnya secara Horizontal.
Bukan kepalanya yang terpenggal, bagian perut Artruk terbelah menjadi dua sehingga mengeluarkan seluruh isinya. Tubuh Artruk bagian atas terjatuh dan memperhatikan bahwa tubuh bagian bawahnya masih berdiri. Wajahnya menjadi buruk, dia juga mengangkat matanya lebar seolah apa yang terjadi.
Tubuh Artruk bagian atas terjatuh, dia menyeret diri menggunakan tangan yang tersisa untuk pergi menjauh. Tubuhnya dipenuhi rasa sakit dengan halusinasi bahwa dirinya masih memiliki badan bagian bawah. Padahal begitu jelas bahwa usus milik Artruk tercecer di atas tanah.
Kemudian dia membuka tangannya, saat ini wajahnya tersenyum cerah sambil berjalan dengan menyeret Ice Sword, “Hey jangan kabur, nanti kau akan merasakan rasa sakit yang berat.”
Artruk tidak sanggup untuk menyeret diri lagi, dia lebih baik pasrah dan menunggu Zeno membunuhnya. Lagipula dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin untuk hidup lebih lama lagi, jadi dia sudah merelakan apabila kekaisaran jatuh di tangan Aurrora, ditambah Rungdaf juga sudah mati. Sejarah kini terbentuk kembali bahwa orang terkuat bukan lagi Rungdaf, maupun Akram tetapi cucu kaisar. Itupun juga Zeno menetap di sini, jika tidak, maka gelar tersebut akan diberikan kepada jenderal Zhuo.
“Teknik berpedang, elemen air.” Zeno menebaskan sebuah Ice Sword ke depan, akibatnya sebuah air keluar membentuk bulan sabit yang sangat besar.
Energi air tersebut melesat ke arah Artruk yang sudah tidak lagi bergerak, kematian yang berada di ujung tanduk di akhiri sebuah senyum lebar. Tersenyum karena pernah memimpin Northern selama hidupnya.
__ADS_1
Artruk sudah mati, kekaisaran Northern empire juga telah dilengserkan, menandakan bahwa kemenangan berada di pihak Southern. Pasukan kedua juga telah mengalahkan pasukan yang dipimpin oleh Artruk. Kini, tugas mereka adalah menuju kekaisaran untuk segera mengambil alih sebuah kekuasaan. Tidak, lebih tepatnya mereka melakukan deklarasi bahwa Southern dan Nothern akan bersatu dan membentuk sebuah emperor baru.
Mereka semua bergegas, bergegas mennuju kekaisaran Northern dengan secepatnya dengan membawa pasukan yang tersisa. Mereka sudah tidak terlalu panik lagi karena sudah tidak ada lagi musuh yang menghadang. Pasukan pertama? Zeno merasa mereka juga telah membunuh perlawanan dari Artruk, sehingga kini mereka juga bergegas menuju kekaisaran dengan cepat.
Gerbang kekaisaran dibuka dengan paksa, bersamaan dengan hal itu, pasukan pertama juga masuk melalui arah barat dengan paksa. Dua pasukan kini juga bertemu di halaman kekaisaran dengan wajah yang gembira. Terutama Zhuo yang rindu dengan anaknya walaupun mereka tidak bertemu selama dua hari.
Tidak mau membuang waktu, sebagian pasukan memasuki istana dengan turun dari kuda. Kaisar Aurrora yang memimpin memasuki kekaisaran dengan berteriak, “Aku harap tidak ada perlawanan, kaisar kalian sudah mati. Sebagai kaisar baru di wilayah ini, aku tidak akan membedakan wilayah ini dengan Southern, karena wilayah ini akan menjadi satu. Satu kepemimpinan utama, yaitu kaisar.”.
Seluruh pelayan, para prajurit yang tersisa, bawahan Artruk, mereka semua keluar dan tidak merasa keberatan bahwa Northern menjadi satu dengan Southern yang dipimpin oleh kaisar Auorra. Lagi pula pemimpin mereka sebelumnya, yaitu Artruk terlihat sangat bodoh. Artruk juga tidak punya keturunan, maupun istri, sehingga saat dia mati, tidak ada kaisar baru yang cocok untuk menggantikannya.
“Kami bersedia untuk menyerahkan hidup dan mati kami untuk kaisar baru. Kaisar Aurrora.” Serentak mereka semua sambil bertekuk lutut
Baik jenderal Zhuo, kaisar Aurrora dan Zeno, mereka semua tersenyum saat melihat seluruh orang yang ada di hadapannya menyerahkan diri dengan mudah.
“Hey Zeno, bagaimana dengan Rugdaf? Apakah dia merupakan lawan yang sangat sulit?” Zhuo menoleh ke arah Zeno.
“Tidak, tentu saja sangat mudah.” Zeno tersenyum.
“Baguslah, tetapi sayangnya aku tidak memberutahumu untuk membawa tongkat milik Rungdaf.” Sahut kaisar Aurrora.
Zeno mengerutkan dahinya dan menanggapi ucapan neneknya, “Memangnya kenapa? Jika itu sangat penting aku akan mengambilnya.
__ADS_1
Aurrora hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan apapun. Lagi pula kalahnya Rungdaf itu sudah sangat cukup. Jadi dia hanya diam dan tidak menyuruh Zeno untuk mengambilnya.
“Yang mulia kaisar, ini tongkat milik Rungdaf.”