
Hari sudah malam, Zeno dan Turse tidak keluar dari kamar sedikitpun untuk melepaskan sebuah penat yang baru terlepaskan hari ini. Memang, sebelumnya dia sudah tertidur di sebuah hutan yang ada di gunung Apiluc. Tapi siapa juga yang bisa tertidur pulas di sebuah hutan? Yang pasti saat tertidur, Zeno masih meningkatkan kewaspadaan kala itu. Walaupun pada akhirnya, dia tertidur pulas dan tidak tersadar bahwa Hole saat itu datang, dengan membawa beast serigala yang mana tidak dijangkau oleh penciuman Kiba.
Zeno membuka matanya, menyadari bahwa kondisi telah sepi yang menandakan bahwa hari sudah malam. Dia tidak tahu, sudah berapa jam dirinya tertidur, tapi yang pasti hal itu cukup membuat perutnya berbunyi. Selain itu, Zeno menoleh ke samping, memperhatikan bahwa Turse masih tertidur pulas.
“Menikmati udara segar sepertinya tidak buruk.” Zeno beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah jendela kamar yang tertutup disertai dengan sebuah gorden.
Dia membuka jendela tersebut, mengeluarkan kepalanya dan memperhatikan kondisi Nuvoleon pada malam hari. Terlihat tidak terlalu buruk, bahkan cahaya terang menghiasi perkotaan yang membuat tidak ada sebuah kegelapan sama sekali yang membuat seseorang untuk takut.
Namun, suasana hatinya berubah saat dirinya menyadari kehadiran seseorang yang sama sekali tidak diundang. Bahkan Kiba mencium bahwa itu bukan seseorang dari pihak Nuvoleon. Hal tersebut membuat Zeno berbalik badan dan segera mengambil pedang yang ia letakkan di atas sebuah meja sebelumnya.
Namun siapa yang menyangka, bahwa saat dirinya berbalik badan. Dirinya tersungkur ke depan seolah dari arah jendela ada seseorang yang menendangnya. Tentu saja setelah tersungkur, dirinya langsung bergegas ke arah Ice Sword sebagai senjata utamanya. Sayangnya, saat hendak menggapai Ice Sword, beberapa orang menyerangnya dengan begitu cepat. Bahkan Zeno sendiri tidak bisa melihat dengan jelas bentuk dari orang tersebut karena betapa cepatnya.
“Penyusup?” “Turse, bangun.” Teriak Zeno dengan nada yang begitu tinggi, sambil melawan beberapa orang yang bergerak bebas seperti sebuah cahaya sambil menyerang dirinya. Tentu saja, saat hendak menggapai pedang, seolah orang-orang yang menyerang Zeno tidak membiarkannya dengan begitu mudah. Namun Zeno masih bisa tersenyum saat melawan mereka dengan tangan kosong, yang terpenting memperhatikan kecepatan untuk mengikuti pola serangan yang diberikan.
__ADS_1
Turse terbangun ketika mendengar keributan di ruangannya. Namun, mulutnya dibekap dari belakang yang membuatnya tidak bisa melakukan apapun. Kemudian disusul oleh dua orang lainnya yang menciptakan sebuah ring cahaya di tubuh Turse yang membuat Turse kesulitan untuk bergerak.
Namun, dia masih bergerak menggeliat untuk melepaskan ring cahaya yang melingkari tubuhnya. Berusaha untuk mengeluarkan sebuah anak panah dengan cairan yang menetes di ujung panah. dengan sedikit memaksa, dia berhasil menusuk paha orang yang menutup mulutnya menggunakan sebuah kain.
“Keparat, jauhkan tangan-tangan kotor kalian dari tubuhku.” Teriak Turse, dia juga berusaha untuk melebarkan lengannya yang berada di dalam golden ring yang menjadi semakin erat. Sehingga dirinya kesulitan untuk bernapas secara lega.
Dengan cepat, penyusup yang lainnya berusaha untuk menekuk pergelangan tangan Turse sehingga tangannya tidak bisa bergerak seutuhnya. Kemudian mulutnya kembali di sekap yang membuatnya kesulitan untuk berteriak.
Namun, ring tersebut hancur saat ular keluar dari tubuh Zeno dan menghancurkan ring cahaya. Zeno langsung berdiri dan mengulurkan tangannya, seketika Ice Sword bergerak dan melesat ke tangan Zeno seolah Zeno yang menariknya tanpa perantara apapun.
“Tarian naga,, tahap ke empat.” Zeno mengangkat pedangnya, memunculkan kepala naga yang mengaum dan bergerak cepat ke arah lima orang yang akan membawa Turse pergi. Sehingga Zeno tidak membiarkan begitu saja. Namun dari arah belakang, seseorang dengan membawa belati hendak menusuk Zeno. Untungnya Zeno berhasil menyadari dan langsung memutar badannya sekaligus pedangnya.
Alhasi tubuh orang tersebut terbelah menjadi dua dengan belatinya yang menggores pakaian Zeno.Namun, saat hendak berbalik badan, Turse sudah dibawa pergi melewati jendela dengan naga airnya yang masih mengejar.
__ADS_1
“Turse!!” Zeno berteriak, dirinya masih mencoba menenangkan diri sambil mengejar komplotan penjahat lebih tepatnya penyusup yang sepertinya ingin menculik diri mereka. Sayangnya, Zeno dalam keadaan lengah, apalagi Turse yang mencoba untuk bangun namun di hadiri sebuah serangan kejutan yang membuatnya tidak bisa menyerang. Untungnya, para penyusup itu gagal menculik dirinya. Tapi dia justru menyesal karena dirinya gagal untuk di culik. Pasalnya, dia menjadi terpisah dengan Turse yang membuatnya akan kesulitan untuk menyelamatkannya
“Sialan!! Jangan lari, akan ku bunuh kalian!” Zeno berhenti di udara, sepertinya dirinya gagal untuk mengejar komplotan penyusup yang menculik Turse. Zeno mengatur napas, wajahnya begitu buruk saat Turse dibawa pergi. Dia juga tidak tahu, apa maksud penyusup itu menculik Turse? Apa ini ada hubungannya dengan Ampera? Karena awalnya, yang melukai Hole untuk pertama kali adalah Turse, kemudian disusul Zeno yang benar-benar membunuhnya.
Selain itu, para penyusup membawa Turse ke arah timur. Yang membuatnya begitu yakin bahwa mereka memang berasal dari kekaisaran Ampera. Tanpa berpikir panjang, Zeno langsung terbang dengan begitu cepat ke arah timur menuju Ampera Empire.
“Pembantaian sebuah keluarga? Sepertinya aku sudah cukup lama tidak melakukan hal tersebut.” Batin Zeno, dia berpikiran untuk membunuh seluruh keluarga Forjen. Karena, setelah terbunuhnya Hole, pihak keluarga Forjen masih terus menerus terselimuti sebuah dendam yang begitu besar. Tentu saja Zeno tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi, dia harus memutuskan tali balas dendam yang akan menghambat hidupnya di masa depan.
Tidak peduli apakah ada orang yang baik di keluarga yang buruk, yang pasti Zeno harus membunuh orang tersebut. Pasalnya jika dibiarkan, orang yang baik tersebut tentunya juga akan ikut balas dendam apabila Zeno tidak ikut membersihkannya.
“Tidak masalah kali ini aku membantai satu keluarga bangsawan kekaisaran.” Zeno menggertakkan giginya, dia benar-benar marah saat Turse dibawa pergi dengan sangat tidak sopan. Tidak peduli apakah itu kekaisaran, selama membuat suasana hati Zeno buruk, Zeno tidak akan membiarkan hal tersebut lepas.
Zeno mengatur napasnya di sela-sela perjalanan cepatnya. Mencoba untuk tetap tenang dan menghilangkan pikiran aneh-aneh mengenai kondisi Turse. Karena dirinya tahu, bahwa Turse tidak akan kalah semudah itu. Turse berhasil membunuh seseorang yang notabenya tanpa dibantu oleh Zeno sekalipun, sehingga Zeno cukup yakin bahwa Turse masih bisa melindungi dirinya dengan mudah. Mengingat, bahwa Turse merupakan seorang pemanah yang cukup handal, dengan puluhan kemampuan racun yang masih disembunyikan, membuat Zeno lebih tenang.
__ADS_1