
Zeno masih tidak percaya mengenai apa yang ia lihat. Elemen petir, atau elemen paling kuat di negara ini, bahkan elemen petir tidak memiliki counter apapun, bahkan tanah yang merupakan isolator terbaik akan hancur jika terkena ledakan petir.
Itulah mengapa negara petir melahirkan Elementalist yang sangat kuat termasuk Geldhe, serta pemerintahan yang cukup baik dari kaisar Shima.
Sebagai elemen petir, mungkin hanya api yang menjadi musuh bebuyutan nya. Kedua elemen tersebut tidak akan bertolak belakang karena keduanya akan sama-sama imbang, walaupun api sendiri masih memiliki counter yaitu air.
Itulah mengapa petir masih bisa unggul daripada api, karena api juga memiliki kelemahan. Tetapi lagi-lagi menurut Zeno, semua elemen itu sama saja, Zeno pernah menegaskan berkali-kali bahwa semua elemen akan baik tergantung penggunanya.
"Zeno." Arina membuka pintu kamar dengan perlahan, wajahnya berseri dan tidak ada tangisan lagi.
Zeno menghentikan bola petirnya, ia lantas menoleh ke arah ibunya yang baru datang itu dengan tersenyum ramah. "Iya ibu, ada apa?"
Arina kemudian duduk di ranjang milik Zeno, entah kenapa rasa sedihnya terlihat sudah menghilang yang membuat Zeno sendiri merasa lega. Karena ia sendiri benar-benar tidak bisa membuat ibunya bersedih.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Arina.
"Ibu bisa lihat sendiri bukan? Zeno baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Zeno dengan begitu lembut.
"Zeno, apa kau tahu dimana Fire Sword dan Ice Sword?"
Zeno mengerutkan dahinya, wajah dia penuh kebingungan saat ibunya menanyakan hal tersebut. "Aku tidak tahu, memangnya untuk apa ibu menanyakan hal tersebut?"
"Tidak, emm, maksudku ibu harus memastikan pedang milik anaknya masih aman bukan? Ibu tidak mau anaknya kehilangan barang berharga yang ia miliki. Lagipula mungkin Akram bisa saja kembali untuk mengambil Fire Sword dan Ice Sword." Sahut Arina.
Zeno mengangguk mengerti mengenai apa yang Arina katakan. Mengenai Ice Sword sendiri, dirinya juga tidak tahu dimana, tapi mungkin kakeknya sudah mengamankannya, sehingga ia tidak terlalu memikirkan Ice Sword.
"Ibu, bagaimana kabar temanku Aliya di ruang pertemuan? Apa ia sudah pulang?" Tanya balik Zeno.
"Memangnya kenapa? Apakah anak ibu sedang jatuh cinta dengan temannya? Tidak, temanmu belum pulang."
__ADS_1
Zeno menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kepada Arina. Tetapi yang pasti, sebenarnya ia masih belum memiliki rasa jatuh cinta kepada siapapun. Tetapi setelah Zeno cukup puas untuk tersenyum, ia kemudian menatap ibunya dengan penuh serius.
"Haha, ibu hanya bercanda. Ibu akan meninggalkanmu ya." Kata Arina berdiri sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Zeno.
"Ibu, bisakah kau menuangkan air untukku? Aku sangat haus hari ini." Perintah Zeno kepada Arina.
Arina kembali berbalik setelah anaknya memanggilnya, tanpa mengeluh sedikitpun, Arina menuju meja di sebelah ranjang yang digunakan tidur Zeno.
"Kau tahu nak? Ibumu ini tidak akan pernah mengeluh apabila kau menyuruhku." Tutur Arina dengan menuangkan air pada gelas.
Zeno kemudian berdiri dan memegang pundak ibunya, tatapannya begitu datar seolah-olah ia berhadapan dengan musuhnya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, ia memberikan tegangan petir yang cukup saat memegang pundak ibunya.
Ibunya seketika terjatuh dengan wajah yang membeku, matanya seakan-akan mau keluar setelah melihat apa yang ia lakukan anaknya. "Zeno, apa yang kau lakukan?"
"Aliya siapa? Aku tidak pernah mempunyai teman yang bernama Aliya? Mengapa kau bisa menyebutnya seolah-olah kau mengenalnya?" Sahut Zeno berkata begitu dingin.
"Bukankan kak Suna memberitahukan kepada ibu bahwa nama temanku adalah Aliya?" Tanya kembali Zeno.
Arina mengusap air mata yang menetes, ia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat di serang secara mendadak oleh anaknya. "Kakakmu Suna tidak memberitahukan ibu bahwa temanmu bernama Aliya."
Zeno tertawa terbahak-bahak air matanya keluar, ia baru kali ini mendapatkan lelucon yang membuatnya harus kehabisan napas karena tertawa.
"Penyamaran yang sangat bagus, Fire Sword Ice Sword? Memangnya ada perlu apa ibuku menanyakan hal itu, dan kau menyebutkan Akram? Ibuku bahkan saja tidak mengenal dia, Aliya? Siapa itu Aliya? Bahkan aku saja tidak mengenalnya, dan kak Suna? Kau sangat bodoh, bahkan nama putrimu saja kau bisa lupa?" Kata Zeno yang masih tertawa begitu keras.
"Ini merupakan ajang yang tepat untuk mencoba elemen baru." Sambungnya.
Arina palsu berdiri dengan senyum yang sangat melengking di wajahnya, dirinya benar-benar tidak menyangka bahwa kedoknya terbongkar dengan mudah oleh pemuda di hadapannya.
"Aku benar-benar tidak menyangka bahwa orang yang mengalahkan Akram sangat hebat." Perlahan-lahan, mata Arina menghilang dan hanya terdapat lubang gelap yang hanya menyisakan darah yang menetes pada lubang matanya.
__ADS_1
Zeno terkejut bahwa wujud orang yang menyamar ibunya sangat persis dengan
apa yang ada di dalam mimpi. Tetapi kali ini dirinya berbeda, Zeno yang sangat takut bertemu sosok ini di mimpinya, kini berubah menjadi berani dan ingin menghabisi sosok di depannya.
"Apa tujuanmu datang ke sini? Apakah kau bawahan Akram yang masih hidup? Tenang saja, aku memiliki 3 elemen yang dapat membunuhmu. Kau mau tenggelam? Terpotong tubuhmu? Atau tersambar petir?" Kata Zeno mengeluarkan tiga bola elemen sekaligus di satu telapak tangannya.
Tanpa berbicara lagi, sosok Arina palsu langsung menyerang Zeno dengan mengeluarkan sebuah gundukan tanah yang mendadak keluar dari lantai.
Tetapi untungnya Zeno berhasil menghindari trik murahan yang diberikan kepadanya. "Kau mencari Fire Sword? Memangnya kau bisa menggunakannya? Padahal elemen dasar mu saja tanah."
"Untukku? Tidak, ini untuk tuan Akram kau tau."
"Bukannya dia-." Zeno mengerutkan dahinya, "jangan bilang Akram sialan itu kembali hidup." Zeno tidak bisa membuat kata-kata lagi, wajahnya begitu terkejut saat mendengar bahwa Fire Sword akan diberikan kepada Akram yang menandakan Akram sendiri masih hidup.
Arina palsu tertawa dengan begitu keras sambil menunjuk ke arah belakang Zeno. Sekilas mungkin Arina palsu tidak memiliki mata, tetapi Ariba palsu itu juga melihat dengan jelas keadaan di sekitar.
Zeno menoleh ke belakang sesuai yang ditunjuk Arina palsu, bukannya takut, Zeno justru tersenyum lebar saat ia melihat anggota keluarga palsu lainnya yang masuk ke dalam kamarnya dengan mata yang hilang dan juga darah menetes di lubang mata.
"Kemarilah, akan ku buat kalian menyesal karena memilih lawan yang salah."
"Angin: tebasan tak terlihat, tahap ketiga." Zeno membuat tangannya seolah-olah seperti pedang, sehingga dengan mudah ia bisa saja mengeluarkan sebuah teknik yang diharuskan menggunakan sebuah pedang.
Namun sayangnya ketajaman teknik itu juga sesuai dengan ketajaman sebuah pedang, sehingga teknik itu hanya bisa melukai dan melempar jauh para orang-orang aneh yang muncul di pintu kamarnya.
"Hah, kau tahu ibu palsu, aku mendapatkan sebuah pelajaran dari pertarunganku dengan Akram." Zeno berbalik arah kebelakang dan melihat bahwa Arina palsu sudah ada di depannya.
Zeno menusuk perut Arina palsu menggunakan tangan, mungkin itu terlihat biasa saja dan tidak berdampak apapun, namun siapa sangka, Zeno melapis tangannya menggunakan elemen petir.
Sehingga tidak hanya tersengat, tangan Zeno berhasil menembus perut Arina palsu, yang membuatnya harus memuntahkan seteguk darah karena luka dalam yang parah.
__ADS_1