
Hang kali ini telah berhasil kabur dari kejaran Zeno. Untungnya, sesaat setelah menciptakan sebuah teknik ledakan kubah cahaya, dia menciptakan sebuah kloningan untuk berada di tempat, sedangkan dirinya yang asli segera pergi di saat ledakan itu terjadi. Sehingga tidak ada yang menyadari ke mana Hang untuk pergi.
Dia berjalan dengan napas yang terengah-engah, rasanya seperti organ dalamnya hancur setelah berhadapan dengan Zeno. Dirinya juga tidak menyangka, bahwa elemental beastnya bisa dikalahkan dengan begitu mudah setelah beberapa detik dia keluarkan. Itupun yang mengalahkannya bukan beast, hanya seorang yang menurutnya adalah manusia biasa. Padahal Uron adalah roh suci di benua lima negara.
Selain itu, pemandangan yang cukup mengerikan di saat dirinya melewati setiap tempat di kekaisaran ini. Yang ada, baik itu mayat prajurit atau keluarga Forjen semuanya tergeletak di lantai dalam kondisi yang sangat tidak wajar. Marah? Tentu saja Hang benar-benar marah, akan tetapi dia tersadar kondisinya saat ini yang mana tidak memiliki energi kembali, sehingga dia lebih menahan marah terlebih dahulu untuk mengamankan nyawanya.
Tapi siapa sangka, istana kekaisaran yang saat ini dia tempati seketika bergetar hebat dengan barang-barang seperti patung yang ada di sekitarnya ikut ambruk. Hang yang kesulitan untuk menyeimbangkan diri karena kondisinya terpaksa harus jatuh. Dia berusaha untuk berdiri, menyelamatkan diri dan berlari dari gempa dadakan yang sama sekali tidak Hang harapkan.
Benar-benar terlalu kejam, itulah yang dipikirkan oleh Hang saat berhadapan dengan musuhnya tadi atau seseorang yang bernama Zeno. Dia juga cukup menyesal saat tahu bahwa Hole mempermainkan mereka, serta Faturt yang menculik Turse yang membuat auman harimau dari Zeno bangkit. Lebih tepatnya, seseorang yang Hang hadapi adalah seorang dewa kematian, bahkan orang gila siapa yang meruntuhkan kekaisaran seorang diri tanpa membawa ribuan pasukan kecuali dewa kematian?
Tiba-tiba saat dia mencoba untuk berlari, sesosok Genbu tiba-tiba muncul di hadapannya setelah menghancurkan dinding yang ada di depan samping Hang. Hang bahkan sampai syok saat dikejutkan oleh seekor kura-kura raksasa dengan ekor ular di belakangnya. Tidak hanya wajahnya, bahkan bola matanya hampir memutih seutuhnya saat tahu siapa beast di hadapannya.
Tentu saja, Hang mencoba untuk bersikap tenang dan berbalik badan untuk berusaha lari. Dengan tubuh gemetaran, dia menjadi pusing mengenai kedatangan beast tersebut, “Tidak, sepertinya aku salah lihat tadi. Benar, itu bukan Genbu sang penjaga arah mata angin utara.”
Hang kemudian berhenti berlari dan tersenyum lebar, kemudian dia menghadap ke atas dengan suara tertawanya yang menggelegar tanpa berani menoleh ke belakang. Entahlah, sepertinya pria paruh bayu kali ini berlagak seperti orang gila karena tragedi pembantaian masal keluarga Forjen.
Dengan tertawa kerasnya, dia sempat berteriak dengan nada yang sangat tinggi, “Haha benar, aku mengalami kegilaan sehingga aku berhalusinasi ada Genbu dari utara berada di sini. Padahal itu hanya dongeng belaka.” Hang tidak henti-hentinya tertawa, sebelum pandangannya menjadi gelap karena bangunan kekaisaran telah hancur.
__ADS_1
Di sebuah reruntuhan kekaisaran. Hang keluar dari tumpukan-tumpukan reruntuhan yang membuat dirinya hampir terluka sepenuhnya. Kemudian dirinya menjadi batuk-batuk karena debu yang begitu tebal akibat istana kekaisaran yang runtuh. Dirinya menjadi sangat linglung sekarang, namun dia juga masih sempat-sempatnya tertawa bagaikan orang gila sungguhan.
“Benar, aku kali ini telah bermimpi. Mimpi yang sangat buruk. Lagipula sangat aneh apabila dua orang anak merobohkan istana kekaisaran?” Hang memukul kepalanya sendiri, berharap bahwa dia segera terbangun dari mimpi buruknya yang kelam. Namun, sekuat tenaga dirinya memukul diri, justru yang ada hanyalah luka yang tampak begitu nyata.
“Ayolah dewa tidur. Cukup mimpi buruknya, aku ingin terbangun untuk mengurus kekaisaran ini.” Hang berteriak di balik kepulan debu yang begitu tebal. “Yang benar saja, ini adalah mimpi bukan? Mimpi di sebuah negeri dongeng dengan beast legenda berkeliaran?” Hang kembali tertawa keras.
Sesaat setelah itu, debu-debu yang dihasilkan dari puing-puing reruntuhan istana kekaisaran diterpa angin yang cukup kencang dari arah depan. Bahkan pria paruh baya tersebut harus menutup mata dengan lengannya berharap tidak ada setitik debu masuk ke dalam matanya.
Saat kondisi udara benar-benar bersih, Hang kembali menghadap ke depan dengan tersenyum gila. Namun, wajahnya kembali seperti kertas dengan senyum gilanya seakan tersenyum pahit. Bahkan, secara refleks dia muncul ke belakang dengan perlahan yang kemudian lumpuh secara tiba-tiba.
“Ayolah, ini bukanlah sebuah mimpi yang berada di negeri dongeng.”
Hal tersebut membuat Hang terdiam seribu bahasa, saat mengetahui bahwa wanita yang diculik Faturt, memiliki seorang orang yang lebih dari dewa, begitu mengerikan dengan aura tinggi dari ketiga beast legenda yang menyebar menekan Hang. Tentunya, ini benar-benar hal yang di luar nalar, seseorang anak kecil mempunyai tiga beast legenda penjaga mata angin? Hang benar-benar tidak habis pikir melihatnya.
Hang cepat-cepat langsung berujud di hadapan Zeno. Dia menyadari bahwa rasa sakit sekaligus peristiwa yang baru saja terjadi bukanlah sebuah mimpi belaka. Melainkan sesuatu hal yang nyata.
“Tuan, maafkan aku. Aku akui bahwa anakku melakukan kesalahan dengan menculik seseorang yang berada di sisi Anda.” Hang berkata dengan serius.
__ADS_1
“Sebuah kesalahan yang begitu besar sehingga membuat hatiku tidak nyaman? Apakah kau berpikir bahwa aku akan memaafkanmu?” Zeno bertanya, namun sesaat kemudian dia sendiri yang membalasnya, “Tentu saja tidak. Namun ingatlah, membunuhmu adalah hukuman yang paling ringan, karena jika aku membiarkanmu hidup, maka mentalmu akan hancur karena kau sudah kehilangan segalanya, baik itu harta, tahta dan seluruh keluarga yang ada.”
“Sayatan seribu angin, tahap ketiga.” Zeno mengulurkan tangannya tepat di hadapan Hang secara langsung. Alhasil, tubuh Hang terpotong-potong dengan begitu menjijikkan secara cepat.
“Akhirnya selesai.” Zeno menghela napas lega, matanya kembali seperti semula dengan ketiga beastnya yang kembali masuk ke dalam tubuh Zeno. Kondisi di sekitar benar-benar payah yang mana dipenuhi oleh dinding-dinding dan properti kekaisaran yang hancur.
Turse menghampiri Zeno, karena dia menyadari bahwa tubuh Zeno terhuyung-huyung seakan-akan ingin jatuh di atas tumpukan reruntuhan. Dengan cepat, Zeno pingsan di tubuh Turse yang baru saja menangkapnya.
“Tuan, apa yang terjadi?” Turse berkata dengan begitu panik.
Kemudian Uron datang mengatakan, “Tuan telah mengeluarkan sepuluh kloningan, dan tiga beast secara bersamaan untuk menghancurkan kekaisaran ini. Alhasil, orkanya benar-benar habis sepenuhnya yang membuat dia pingsan.”
“Apa? Bukankah tuan mengeluarkan lima kloningan?” Protes Turse.
“Saat di luar istana, dia mengeluarkan sepuluh kloningan sekaligus.” Uron menjelaskan.
“Tunggu sebentar, tuan mengeluarkan sepuluh di luar, namun dia juga mengeluarkan lima di dalam. Artinya tuan mengeluarkan lima belas kloningan untuk meruntuhkan kekaisaran ini dalam satu malam.” Turse mengusap air matanya yang menetes. Entah kenapa, dia merasa bersalah, karena hanya untuk menyelamatkan dirinya, Zeno menghancurkan kekaisaran tersebut dalam satu malam dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
__ADS_1
“Lupakan, sebaiknya kita harus membawa pergi tuan. Karena bantuan dari raja provinsi di Ampera empire akan datang cepat. Walaupun pada dasarnya mereka benar-benar terlambat.” Uron merubah wujudnya menjadi seekor naga. Kemudian, Turse menaikkan Zeno ke punggung Uron, diikuti oleh dirinya sendiri.