Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Elemen bukan penentu kuatnya seseorang


__ADS_3

Gumpalan tanah keluar dari lantai kedai, tanah tersebut berhasil membuat langkah kaki Zeno terhenti karena terjebak oleh tanah yang mencengkramnya. Zeno menoleh ke arah belakang dengan memandangi orang-orang bodoh itu dengan tatapan yang dingin.


Zeno langsung menarik kedua pedang . “ Kau yang memulainya, baiklah aku akan menuruti permintaan kalian.” Ucap Zeno dengan tatapan begitu sinis. Padahal ia sama sekali tidak ingin mendapatkan masalah dengan orang pun, tapi karena orang lain yang memulainya, Zeno tidak segan-segan untuk menuruti apa yang mereka minta.


“Ayolah, jangan hiraukan anak tuan Daizoru itu. Dia lebih buruk dari sampah.”


Zeno sangat geram dengan ucapan dari salah satu orang yang ada di kedai ini, rasanya, apabila ada cara untuk mencabut sebuah elemen, maka Zeno tidak akan segan mencabut elemen mereka. Agar mereka sendiri tau bagaimana rasanya tidak memiliki sebuah elemental.


“Elemen bukanlah penentu kuat atau tidaknya seseorang.” Kata Zeno.


“Kata siapa? Elemen adalah penentu kuat atau tidaknya seseorang. Jika kau kuat, maka kau bisa berkuasa, itulah realita yang terjadi dalam dunia ini.”


“Apalagi jika orang tersebut memiliki lima elemen sekaligus, besar kemungkinan untuk menciptakan elemen cabang itu sangat mudah, bukankah orang itu pantas disebut penguasa?” Bantah seseorang yang ada di hadapan Zeno.


Sejauh ini apa yang dikatakan orang tersebut menurut Zeno ada benarnya, karena realita di dalam dunia ini begitu kejam. Prinsip orang-orang kuat yang digunakan adalah, “Elemen penentu kuat atau tidaknya seseorang.” Padahal banyak orang di luar sana yang tidak memiliki elemen dengan kemampuan yang hebat, Selena misalnya.


Sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa seseorang yang tidak memiliki elemen terbilang lemah dan jauh lebih buruk dari sampah. Mereka yang berkata seperti itu terbilang buta menurut Zeno, karena melihat sesuatu dari satu sisi bukanlah kelakuan yang begitu bijak.


“Apa kau pernah melihat orang-orang yang mempunyai jabatan seperti raja kota tidak memiliki elemen? Ingatlah, bahwa kekaisaran juga akan mengangkat orang-orang penting yang memiliki elemen? Bukankah elemen itu juga penting untuk berkuasa?” Ucap sekali lagi mereka.


“Apakah begitu? Baiklah mari kita buktikan, silahkan serang aku menggunakan seluruh elemen yang kalian punya, dan aku hanya akan menggunakan sebuah pedang tanpa elemen sekalipun.” Zeno menaruh pedang dua jiwanya di belakang punggung nya, kini ia hanya memegang erat katana.


Karena pedang dua jiwa juga akan mengeluarkan elemen tanpa sepemerintah Zeno, sehingga Zeno memutuskan untuk menantang mereka bertarung dengan membawa sebilah pedang.


“Zen? Apa kau bodoh?” Teriak Selena dari balik pintu melihat perdebatan yang Zeno lakukan.

__ADS_1


“Tenanglah Selena.” Kata Zeno tersenyum manis.


“Baiklah, aku menerima tantanganmu, akan kami buktikan bahwa elemen adalah segalanya, elemen merupakan sesuatu yang penting setelah harta dan juga kekuasaan. Tanpa elemen, manusia akan susah untuk hidup.”


Mereka akhirnya sepakat untuk menerima tantangan dari Zeno, mungkin sebagian orang berpikir bahwa perbuatan Zeno sangatlah bodoh, menantang orang lain tanpa menggunakan kemampuan berelemen, itu adalah sesuatu yang sangat bodoh.


Kaki Zeno telah lepas dari cengkraman jebakan tanah, karena mereka juga akan bertanding secara sehat dengan Zeno. Serta tentunya, mereka dan Zeno tidak bertanding di dalam kedai yang akan membuat kerusakan besar.


Mereka menentukan untuk bertarung di atas hamparan tanah yang begitu luas, dengan tidak ada pemukiman di sekitarnya. Sehingga, Zeno dan yang lainnya bisa bertarung puas tanpa merusak apapun.


“Delapan lawan satu? nak, lebih baik kau menyerah saja, tindakan bodohmu tidak akan membuatmu terlihat hebat di depan anak tuan Daizoru.” Kata salah satu dari mereka.


“Aku tidak memiliki niatan terlihat hebat, tetapi aku hanya ingin memberi kalian pelajaran.” 


Salah satu dari delapan orang yang ada dihadapan Zeno mengeluarkan sebuah palu seukuran dua kali lipat dari tubuhnya yang tercipta dari elemen tanah, tidak hanya itu saja, ia juga memukulkan palu itu tepat di hadapan Zeno.


Pukulan tersebut sekilas memang tidak mengenai Zeno, namun siapa sangka, tepat di pijakan Zeno, terdapat sebongkah tanah yang menonjol sehingga membuat Zeno melompat kebelakang untuk menghindarinya, tidak hanya itu, setiap Zeno menghindar, di bawahnya selalu terdapat sebongkah tanah yang keluar. Sehingga ia sedikit kerepotan menahan serangan pertama.


Tapi Zeno tahu pasti, bahwa elemen tanah adalah tipe elemen yang serangannya berjarak dekat, siapa saja yang menggunakannya, baik itu lemah maupun kuat, mereka pasti tidak akan bisa menyerang dari jarak jauh, akibatnya Zeno menjaga jarak terlebih dahulu.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Zeno, saat Zeno menjauh, teknik serangan dari salah satu dari mereka tiba-tiba berhenti dan tidak dapat menjangkau Zeno. Mereka Pun sedikit geram dan berlari ke arah Zeno.


“Tanah: kubah pengurung.”


“Teknik pukulan palu tahap kelima: pukulan penghancur bumi.”

__ADS_1


Mereka berlari sambil mengeluarkan teknik masing-masing milik mereka, hal itu membuat banyak orang yang melihat langsung tersenyum karena mereka merasa bahwa Zeno akan mati dengan teknik-teknik seperti itu.


Sedangkan Zeno, perlahan ia mulai terjebak atau terkurung dengan tanah yang berbentuk seperti kubah. Tapi ia cukup tenang dalam menghadapi masalah ini, belum lagi ia juga merasakan serangan susulan yang akan menghantam dirinya.


Zeno berputar dan mencoba merasakan sesuatu di dalam kubah itu, hal tersebut bertujuan agar tidak terkena serangan dadakan yang membuatnya akan terluka parah.


“Depan? belakang?” ia masih mencoba menebak datangnya serangan.


“Belakang!” Sahut Kiba.


Braaaak…! 


Suara dentuman sebuah pukulan berhasil memukul kubah yang mengurung Zeno, tetapi untungnya, Zeno masih bisa menebak arah serangan berkat bantuan Kiba, karena Kiba sendiri sangat pintar dalam mendengarkan suara langkah kaki. Pukulan palu tanah berhasil ditahan dengan sebilah pedang milik Zeno. 


Mungkin jika dicerna oleh akal pikiran, pedang milik Zeno akan patah karena pukulan palu tanah yang sangat besar dan kuat, tetapi pedang yang Zeno gunakan untuk menahan palu tersebut bukanlah katana biasa, namun pedang dua jiwanya yang sangat keras, pedang yang mungkin sangat salah apabila terbuat dari besi.


Disini Zeno menggunakan pedang dua jiwa bukan untuk mengeluarkan elemen, tetapi ia menggunakan pedang tersebut hanya untuk menahan pukulan palu. Bagaimanapun juga Zeno tidak akan melanggar ucapannya sendiri.


Tidak lupa bahwa orang yang menyerang Zeno tidak hanya satu saja ketujuh orang lainnya juga hendak mengepung Zeno dan menyerangnya, namun sebelum itu, Zeno menendang perut seseorang yang membawa palu besar.


Masalah satu sudah selesai, dan tumbang. Zeno kembali menaruh pedang dua jiwanya dan mengambil kembali katana biasa. Lantas ia berlari dan hendak menyerang sisa musuh yang ada.


Tetapi sayangnya saat ia mendekati mereka, mereka sempat saja mengeluarkan teknik yang membuat Zeno harus menghindar terlebih dahulu. 


“Menyerahlah nak! kami bukanlah tandinganmu! apalagi kau tidak mau mengeluarkan sebuah elemen milikmu.”

__ADS_1


__ADS_2