Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Membunuh pilar selanjutnya


__ADS_3

Elderic benar-benar sudah tidak berwujud lagi. Kepalanya hancur menyisakan daging-daging yang keluar begitu menjijikkan, selain itu kaki tangannya hancur dan rata dengan tanah dan menyisakan sebagian badannya.


Zeno kembali melesat, dia bergegas untuk mencari kedua kakaknya dan berharap tidak memiliki nasib yang sama seperti orang tuanya. Bagaimanapun, dia sangat terpukul dengan kematian ayah serta kritisnya seorang ibu.


Setidaknya Zeno bisa meluapkan sebuah amarah kepada Elderic. Tapi dia tidak cukup puas untuk melampiaskan segala emosinya. Maka dari itu, selain mencari kedua kakaknya, dia juga bergegas untuk membunuh musuh secara langsung.


Tepat sekali, di hadapannya dia menemukan sebuah pertarungan besar. Sebuah pertarungan yang mana Zeno tidak asing siapa pelaku utama dalam pertarungan tersebut. Yang mana, seorang pengantin sedang bertarung mengalahkan musuh dengan luka cukup berat.


Dia sedikit lega bahwa Rouya dan Yuna bisa bertahan. Tapi dia juga tidak menyangka bahwa Ibunda Rouya tergelak lemas tidak berdaya.


“Tarian naga, tahap ke empat.” Zeno melesat ke arah musuh yang dirinya tidak tahu bahwa dia bernama Azela. Seorang wanita dengan luka bekas robek panjang di ujung bibirnya.


Seketika Ice Sword milik Zeno mengeluarkan sebuah naga berwarna biru tua. Selain itu, warna dari naga air jauh lebih gelap dari pada umumnya.


Azela yang bertarung dengan Rouya, dia menoleh dan sedikit terkejut saat ada sebuah naga yang melesat ke dirinya. Merasa bahaya, dia menghindar dengan menebaskan pedangnya yang dilapisi oleh sebuah kegelapan dan energi petir.


Tapi siapa yang menyangka, bahwa naga air tersebut menghindar dengan sangat lihai seakan menari di atas udara, bahkan Azela yang memiliki kecepatan penebasan tidak dapat menghilangkan naga air itu dengan begitu mudah.


“Mati kau!”


Tanpa di sadari Azela, tiba-tiba sosok manusia setengah harimau putih tepat berada di hadapannya sambil mengangkat pedangnya dan berniat menusuk kepala Azela. Selain itu, naga air yang diciptakan oleh Zeno segera melilit Azela begitu kuat sehingga tidak dapat bergerak.


“Sialan, sejak kapan dia bergerak. Dan, siapa dia.” Azela berdecak kesal, dia mengerutkan dahinya karena di hadapannya sudah terdapat sebuah pedang dalam posisi Vertikal yang akan menusuk kepalanya.

__ADS_1


“Ledakan kegelapan!” Tidak mau kalah, Azela membungkus dirinya dalam bola kegelapan, yang mana bola tersebut semakin membesar seakan meledak. Bahkan, naga air yang melilit Azela juga terpaksa hilang seolah ditelan kegelapan tersebut.


Zeno segera meloncat ke belakang, ia tersenyum manis karena Azela masih bisa selamat. Namun senyuman manis tersebut merupakan senyum yang sangat mengerikan.


Rouya dan Yuna mengatur napas, dia sudah begitu kelelahan bertarung dengan Azela. Bahkan, di tubuh mereka dipenuhi sebuah luka yang sangat banyak.


Tapi mereka berdua juga terkejut mengenai keberadaan Zeno yang berubah secara signifikan. Bahkan, mereka semua hampir tidak mengenal Zeno yang tubuhnya berubah menjadi setengah harimau, dengan kepalanya yang tetap kepala Zeno. Selain itu, mereka juga merasa bahwa Zeno mendapatkan sebuah kekuatan yang sangat besar.


Sebuah ledakan terjadi di hadapan Zeno. Namun, Zeno seolah dilindungi oleh ribuan gelembung air berwarna biru tua yang kemudian juga mengarah ke arah Azela yang baru muncul kembali.


Azela tertawa begitu keras. Dia sedikit tidak percaya bahwa seseorang yang dia hadapi mengeluarkan sebuah mainan anak-anak untuk melawan dirinya.


“Ada apa dengan gelembung? Apakah kau ingin bermain denganku? Tidak, mainan anak-anak ini sangat menjijikkan, setidaknya bermainlah sesuatu yang lebih denganku.” Azela menjilat bibirnya sendiri, tampangnya lebih mempesona dengan aura yang menggoda.


Mungkin siapa saja yang melihatnya pasti akan tergoda dan bersujud untuk melakukan sesuatu yang lebih tersebut. Tapi orang yang melakukan hal tersebut merupakan orang yang sangat bodoh karena bermain dengan wanita tampang iblis.


Dengan begitu bodohnya, Azela memecahkan salah satu gelembung yang menuju dirinya. Bahkan, dia tampak biasa saja saat akan menyentuh gelembung air berwarna biru tua.


Memang, gelembung air itu tampak biasa saja. Bahkan jelas seperti sebuah mainan anak-anak yang sudah biasa muncul di pinggir jalan. Tapi siapa yang menyangka, bahwa gelembung tersebut akan menjadi sebuah jebakan yang hebat.


“Duarrr!!”


Salah satu gelembung yang dipecahkan Azela meledak, ledakan tersebut juga mengakibatkan ribuan gelembung lainnya yang mendekat juga meledak hebat. Bahkan ledakan tersebut seolah menumbuhkan sebuah jamur yang menjulang tinggi.

__ADS_1


“Sungguh, kau merupakan musuh paling bodoh yang pernah ku lihat.” Zeno bergerak kembali ke arah kepulan asap karena sebuah ledakan. Dia tidak ingin membiarkan musuhnya masih tetap hidup.


Azela terbaring tidak berdaya. Pakaiannya hancur membuat tubuhnya tidak tertutup sehelai kainpun. Bagaimana tidak, ledakan yang sangat dahsyat itu juga membakar pakaiannya.


Selain itu, separuh tubuhnya hancur karena ledakan luar biasa. Namun, Azela masih bernapas dengan mata sebelahnya yang masih terbuka menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.


“Gelombang petir!” Teriak Zeno begitu keras, saat ini dia tepat berada di atas Azela dengan tubuh yang melayang. Dia juga mengulurkan tangan kirinya dan mengeluarkan sebuah petir merah yang menyambar Azela begitu keras.


Di saat tubuhnya hancur, Azela tidak ingin kalah semudah itu. Lagi-lagi dia mengeluarkan sebuah perisai kegelapan untuk menahan sambaran petir yang dikeluarkan oleh Zeno.


Tapi siapa yang menyangka, perisai kegelapan tersebut hancur setelah berbenturan oleh Sambaran petir. Azela membuka matanya dan terkejut. Elemen macam apa itu? Dia sedikit membatin karena baru melihat elemen petir yang begitu mengerikan, berwarna merah darah dengan daya hancur yang sangat tinggi. Bahkan, di elemen kegelapan pun langsung hancur di buatnya.


Mengingat, Azela juga memiliki sebuah elemen petir. Tetapi dia tidak pernah merasakan bahwa elemen petirnya sekuat itu.


“Tidak mungkin.” Azela membatin sesaat wajahnya dihancurkan oleh elemen petir merah milik Zeno dengan begitu mudah.


Zeno menghela napas lega, setidaknya Yuna masih aman dari musuh. Tapi dia tidak memiliki waktu untuk berbicara kepada Yuna. Apalagi mengatakan kondisi yang sebenarnya mengenai ayah dan ibunya.


Entahlah, rasanya begitu berat, bahkan Zeno ingin menangis saat mengatakan hal tersebut. Dia tidak bisa mengatakan terus terang kepada Yuna, apalagi dia tahu bahwa Yuna merupakan putri satu-satunya yang paling dicintai oleh ayahnya. Yang pasti, saat Yuna tahu kehilangan ayahnya, dia akan sangat terpukul. Jadi Zeno berharap agar Yuna mengetahuinya sendiri.


Tapi, saat Zeno ingin pergi, dia menoleh ke arah Rouya dan berkata dengan tatapan yang begitu dingin. “Rouya, aku harap selain kau menjadi suami yang baik bagi Kakak. Tapi berperanlah sebagai ayah juga kepada Yuna. Kakak, ku harap kau mengerti perkataan ku.”


Rouya dan Yuna. Keduanya juga sama-sama kebingungan mengena apa yang dikatakan oleh Zeno, bahkan perkataannya seolah seperti sebuah berita yang buruk baginya. Tapi mereka sedikit melupakan itu, karena apa yang lebih penting saat ini adalah mengurus mayat mantan kaisar, yaitu Shima yang sudah tidak bernyawa.

__ADS_1


Sama seperti Zeno, Rouya juga menangis sambil memeluk ibunya. Tapi dia juga tidak terlalu histeris seperti apa yang dilakukan oleh Zeno.


“Ibu, kenapa kau meninggalkanku di saat aku menjadi kaisar?” Kata Rouya yang mencoba mengangkat ibunya dan di bawa menuju tempat aman bersama Yuna.


__ADS_2