Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Akhir dari Zahjyen


__ADS_3

"Kiba, aku membutuhkanmu lagi. Bawa aku terbang secepat mungkin menuju rumah Zahjyen." Zeno menatap sekitar begitu dingin, kesalahan yang membuat Zeno sedikit menyesal karena tidak membereskan sebuah hama yang mengganggu.


Akar balas dendam, harus segera Zeno selesaikan, bila perlu ia berencana untuk menghilangkan nama keluarga milik Zahjyen lagi di atas negara angin.


Padahal Zeno sebelumnya telah berharap bahwa Zahjyen harus belajar dari kesalahan anaknya, tetapi dia begitu bodoh karena berniat membunuh Zeno.


"Kiba selalu siap ketika tuan membutuhkan." Hembusan angin berputar dihadapan Zeno, membentuk seekor harimau putih yang merupakan beast milik Zeno.


Zeno menaiki punggung Kiba, kini Kiba melesat terbang secepat angin menuju Kota Bulu Merak. Zeno mengundurkan niatnya untuk menuju negara petir, padahal dia bisa saja melangkahkan kakinya puluhan langkah untuk menuju gerbang negara tersebut.


****


"Zahjyen begitu bodoh, dia melakukan kesalahan terbesar. Akibat ulahnya, dia menghapus keluarga kita dari keluarga bangsawan, dan kini ia menyewa pembunuh untuk membunuh pangeran kekaisaran." Tetua tertua begitu kesal, dia mengemas seluruh barang-barangnya untuk pergi dari sini, karena ia benar-benar tidak mau terlibat dengan permasalahan Zahjyen yang merugikan seluruh keluarganya.


"Menyewa pembunuh untuk membunuh pangeran Zeno? Itu pasti membutuhkan bayaran yang sangat besar. Dan aku tidak akan ikut campur dalam permasalahan tersebut." Ucap tetua lainnya yang juga mengemas barangnya.


Tidak hanya para tetua tersebut, tetapi beberapa anggota keluarga lainnya memilih untuk pergi karena tidak ingin mendapatkan masalah yang sangat buruk.


Lagi Pula, seluruh anggota keluarga milik Zahjyen juga diwajibkan untuk angkat kaki dari kerajaan karena mereka sudah tidak lagi menjadi bagian dari kerajaan kota Buku Merak, jadi mereka berencana untuk hidup mandiri tanpa memakai nama keluarga lagi.


"Kalian mau kemana?" Kata seseorang yang berdiri dan bersandar di daun pintu kerajaan.


Beberapa orang dan para tetua yang ingin keluar melalui pintu kerajaan seketika menghentikan langkahnya, melihat Zeno dan seekor harimau putih berdiri menutup jalan keluar mereka.


"Pangeran kekaisaran." Kata salah satu dari mereka dengan badan yang bergetar.


"Dimana Zahjyen? Kalian jangan coba-coba menyembunyikan Zahjyen atau aku tidak akan memberi kalian kesempatan lagi untuk merasakan sejuknya negeri angin." Ucap Zeno dengan tatapan yang begitu sinis.

__ADS_1


Orang-orang yang ada dihadapan Zeno menelan ludah dengan begitu kasar, pasalnya mereka kini dalam masalah besar karena berhadapan langsung dengan Zeno 


"Dia ada di kamar, mengemas barangnya untuk segera angkat kaki dari kerajaan ini." Ujar salah satu dari mereka dengan terbata-bata.


"Cepat panggilkan dia, jangan bilang kalau aku yang menyuruhmu. Katakan saja bahwa ada pemimpin pembunuh bayaran ingin meminta bayaran karena berhasil membunuh Zeno." Zeno berkata dengan begitu dingin.


Akhirnya dipanggillah Zahjyen untuk menghadap kepada Zeno, tetapi Zahjyen dipanggil dengan alasan pembunuh bayaran mencarinya, Zahjyen pasti akan keluar karena Zahjyen mengira pembunuh bayaran tersebut telah berhasil membunuh Zeno.


Zahjyen akhirnya keluar dengan begitu penuh percaya diri, tetapi Zeno kini berbalik badan agar wajahnya tidak cepat diketahui oleh Zahjyan.


Zahjyen pun mendekati Zeno, dia tersenyum begitu lebar dan berkata, "Berapa bayaran yang kau minta? Andai saja kau meminta harta seluruh anggota keluargaku, pasti aku akan memberikannya."


Wajah seluruh anggota keluarga milik Zahjyen begitu marah karena mendengar pernyataan Zahjyen yang akan menyerahkan seluruh hartanya apabila pembunuh bayaran itu membunuh pangeran kekaisaran. 


Tetapi untungnya mereka juga menghela nafas, karena yang ada di hadapan Zahjyen bukanlah pemimpin pembunuh bayaran, tetapi pangeran Zeno yang mengincar nyawa Zahjyen.


"Apa-apaan ini, kenapa tadi kau bilang bahwa yang datang adalah pemimpin pembunuh bayaran?" Kata Zahjyen menoleh ke arah orang yang memanggilnya.


"Maafkan aku, tetapi aku juga butuh untuk hidup. Jadi urus saja dirimu sendiri, kami semua sudah tidak peduli lagi denganmu." Kata orang yang memanggil Zahjyen dengan tatapan yang penuh kebencian.


Zeno kini menendang perut Zahjyen dengan begitu keras, mengakibatkan dirinya terlempar bahkan sampai membentur sebuah patung sampai hancur dibuatnya.


"Pangeran kumohon, maafkan aku." Rintih Zahjyen dengan merasakan sakit di punggungnya.


"Aku sudah memberimu kesempatan untuk hidup sebelumnya. Padahal, saat kau menyalahkanku kemarin, aku berniat membunuhmu langsung." Teriak Zeno begitu keras.


"Tidak ada lagi maaf untuk orang yang menyia-nyiakan kesempatan itu. Kau rindu dengan anakmu bukan? Aku akan mengabulkan apa yang kau mau itu." Sambungnya.

__ADS_1


Zahjyen berdiri dengan menggertakkan giginya. "Hanya satu cara yang bisa kugunakan, yaitu melawan." 


Zahjyen berteriak dengan mengulurkan kedua tangannya, sebuah pusaran angin keluar dari kedua tangannya dengan begitu besar, bahkan ukurannya hampir menyentuh langit-langit istana kerajaan. Zahjyen lantas menembakkan pusaran angin itu ke arah Zeno.


Zeno tidak gemetar sedikitpun, menarik pedang dua jiwanya di belakang punggungnya untuk menebas pusaran angin itu.


Buuumm..!


Pusaran angin itu pecah seketika saat Zeno tebas, seluruh ruangan tersebut terkena embusan angin yang begitu kencang sehingga menjatuhkan seluruh barang yang ada.


"Manusia rendahan sepertimu berani membunuh tuan? Sepertinya kau telah membuat kesalahan yang begitu besar." Sahut Kiba yang dari tadi hanya melihat dari pintu kerajaan.


Melihat pusaran anginnya tidak mengenai Zeno, Zahjyan mengeluarkannya berkali-kali, namun kali ini yang ia keluarkan lebih kecil dari sebelumnya, tetapi begitu banyak.


Zeno dengan mudah menebas pusaran angin itu dengan jiwanya. Bahkan saat ia menebas, pedang tersebut juga mengeluarkan aliran air dan hembusan angin tanpa kesengajaan Zeno.


Ketidaksengajaan itu membuat Zahjyen juga terkena dari hembusan angin dan aliran air yang keluar dari pedang dua jiwa itu. Sehingga Zahjyen kembali terlempar sampai menabrak dinding belakang ruangan ini.


Seluruh anggota keluarga yang melihat Zahjyen diserang dengan kejam hanya merasa ngeri. Mereka sangat bersyukur karena tidak mengikuti apa yang Zahjyen lakukan. Sebenarnya mereka ingin sekali keluar dari istana ini, karena dampak dari serangan Zeno dan Zahjyen membuat mereka takut akan istana yang runtuh. Disisi lain, Kiba yang menjaga sebuah pintu membuat orang-orang tidak berani keluar dan menggunakan pintu tersebut.


"Maafkan aku pangeran. Sungguh, sekarang hamba benar-benar meminta maaf." Tangis Zahjyen yang sudah tidak berdaya lagi karena diserang oleh Zeno menggunakan pedang dua jiwanya itu secara terus menerus.


Zeno menghiraukannya, dia menghampiri Zahjyen dengan kondisi terbaring diatas lantai yang begitu basah, dan juga terbungkus sebuah pakaian basah pula yang membuatnya menggigil. Ditambah matahari tenggelam dengan semilir angin negara angin yang membuatnya begitu kedinginan.


"Matahari sudah tenggelam, hari yang begitu sia-sia karena mengurus satu sampah ini." Zeno memasukkan pedang dua jiwanya lagi, ini ia ganti mengambil sebuah katana biasanya.


Zahjyen berteriak kesakitan, dadanya ditusuk secara perlahan-lahan oleh Zeno. 

__ADS_1


"Dengan begitu, kau bisa menyusul anakmu sekarang!" 


__ADS_2