Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Aku baik-baik saja


__ADS_3

“Pangeran, kita sebaiknya pergi dari kamar Zeno, lagipula penjagaan ketat sudah ada untuk menjaganya.” Ucap Yuna sambil memperbaiki selimut Zeno.


Rouya mengangguk, kekhawatirannya mengenai zeno setidaknya sudah menurun saat melihat Zeno hanya masih pingsan dan baik-baik saja. Setidaknya Zeno masih bernapas sudah menghilangkan rasa cemas. Tetapi pangeran Rouya benar-benar berharap agar Zeno segera bangun.


Sedangkan Selena, ia sama sekali tidak ingin meninggalkan kamar Zeno, karena ia masih cemas dengan keadaan Zeno. Apalagi ia melihat tubuh Zeno sedikit gemetar tanpa di sadari oleh nona Yuna dan tuan muda Rouya.


“Nona Yuna, bisakah aku menemani Zeno sampai pihak kekaisaran negara petir pulang?” Tanya Selena sambil menundukkan wajahnya sedih.


Yuna memandang Rouya saat melihat Selena ternyata mengenal Zeno, dirinya mendekat ke arah Rouya dan berbisik, “Siapa dia?”


Rouya hanya bisa tersenyum, dan menjawab bahwa dia adalah Selena, teman Zeno saat mereka berada di negara petir. Sebelumnya, Rouya bercerita bahwa sebelum insiden terjadinya penyerangan Akram, terjadi sebuah kekacauan yang terjadi di negaranya, Zeno dan Selenalah yang menyelesaikan masalah negara Rouya.


Yuna mengerti dan tersenyum kepada Selena, “Silahkan, sebagai teman kau bisa menemani Zeno.”


“Terima kasih nona.” Jawab Selena dengan ramah.


Yuna dan Rouya menuju pintu keluar kamar Zeno untuk pergi ke ruang pertemuan. Tetapi raut wajah mereka masih sangat lesu dan mengharapkan Zeno agar segera bangun.


“Nona!”


Yuna dan Rouya yang menuju pintu keluar menoleh kebelakang karena Selena berteriak, tetapi kedua orang tersebut sangat terkejut mendapati Zeno telah bangun dengan memuntahkan sebuah darah yang tumpah di atas selimut.


“Zeno!” Teriak Yuna. Ia menjadi sangat panik dengan kondisi Zeno yang telah terbangun namun dalam kondisi memuntahkan seteguk darah.


Yuna menyentuh kedua pipi Zeno yang saat itu penuh tatapan kosong, penuh ketakutan, serta berkeringat dingin.


“Zeno, apa yang terjadi, sadarlah.” Yuna menggerakkan tubuh Zeno berharap Zeno bereaksi, namun Zeno sama sekali tidak bergerak dengan posisi terbangun dan juga matanya terbuka.


“Penjaga!” Teriak Yuna.


“Ada apa nona?”

__ADS_1


“Panggilkan yang lainnya, bahwa kondisi pangeran Zeno memprihatinkan.”


Zeno saat ini, hanya dipenuhi ketakutan, ia benar-benar tidak mau lagi bertemu seseorang terdekatnya dengan perkataan yang tidak-tidak, serta mata yang mengerikan. Entah kenapa, saat berada di dunia aneh tadi, ia merasa tidak memiliki rasa untuk melawan.


Dan juga rasa sakit dari serangan Ama dari dunia itu terbawa di dunia nyata, akibatnya, Zeno memuntahkan seteguk darah dengan perut yang teramat sakit.


Zeno mengedipkan matanya dan bernapas secara terengah-engah, dirinya kemudian telah sadar bahwa ia dikelilingi oleh Selena, Yuna dan juga Rouya. Pandangannya sangat tajam berharap dunia yang ia tempati bukan dunia aneh yang ia datangi tadi.


Tetapi Zeno merasa ada yang aneh di sini, tubuhnya secara sadar mengalir seperti energi listrik yang sangat menyengat.


“Zeno, jawab aku!” Teriak Yuna.


Zeno menoleh ka arah kakaknya dan mendapati bahwa mata kakaknya masih ada, sehingga ia sangat yakin bahwa ini merupakan dunia asli yang ia tempati. “Kakak, aku baik-baik saja, jangan cemas!” Jawab Zeno.


“Syukurlah.” Kata Yuna meneteskan air matanya sambil memeluk Zeno.


“Zeno!” teriak ibunya masuk ke kamar dengan begitu panik, bahkan saat ia masuk membuat pintu tidak begitu tenang, sehingga pintu itu membentur dinding dengan begitu keras.


Seluruh orang yang ada di kamar mengalihkan perhatiannya ke arah Arina terutama Zeno yang masih didekap oleh kakaknya. Zeno yang melihat ibunya masuk ke kamarnya, ia hanya bisa tersenyum memberi isyarat bahwa dirinya telah baik-baik saja.


“Apa, apa yang terjadi, kenapa ada banyak darah?” Tanya Arina begitu panik.


“Aku tidak mengerti nyonya, tetapi saat pangeran Zeno terbangun, ia langsung muntah darah.” Perjelas Selena.


“Aku tidak apa-apa ibu, jangan cemas.” Tutur Zeno yang masih memasang senyuman di wajahnya.


Iya tidak bisa menceritakan mimpi nya, karena menurutnya itu merupakan mimpi paling buruk sepanjang hidupnya. Rasanya, mimpi itu merupakan sebuah peringatan, tetapi Zeno sendiri tidak tahu peringatan apa yang diberikan kepadanya.


Sesaat, seluruh anggota keluarga Zeno dan ratu Shima datang menengok setelah mendapat kabar buruk dari penjaga, namun yang mereka lihat justru salah, karena Zeno telah siuman dari pingsan merupakan kabar yang sangat baik.


Namun, mereka melihat darah di selimut Zeno, seketika mereka menjadi terkejut dan juga panik. Tetapi Zeno memberitahukan mereka, bahwa dirinya sedang baik-baik saja.

__ADS_1


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Tutur Zeno.


Kakek Zeno menghela napas lega bahwa salah satu cucunya baik-baik saja, kemungkinan Fang Yoshi akan sangat terpukul apabila Zeno kenapa-kenapa.


"Sudah, biarkan Zeno beristirahat terlebih dahulu." Kata Arina sambil mengusap air matanya, ia benar-benar bersyukur bahwa anaknya telah sadar dan tidak terjadi apa-apa.


Semua orang yang ada di kamar tersebut mengangguk menuruti perkataan Arina, bagaimanapun apa yang Arina ada benarnya, sesudah siuman, Zeno perlu istirahat dengan tenang tanpa gangguan apapun.


Semua orang telah pergi, terutama Selena, walaupun ia sebenarnya juga ingin menemani Zeno, tetapi sayangnya ia menuruti perkataan Arina untuk meninggalkannya.


Zeno kini berada di kamar sendirian, tatapannya masih penuh ketakutan mengingat mimpi buruk yang terjadi. Ia tidak bisa melupakan kejadian-kejadian buruk yang terjadi pada mimpinya.


"Kiba?" 


"Ya tuan?" 


"Syukurlah." Kata Zeno menghela napas, Kiba yang masih berada di dalam dirinya membuktikan bahwa ia berada di dunia nyata, namun ada sesuatu yang membuatnya berpikiran, yaitu elemennya.


Perlahan ia mengulurkan tangannya untuk mengetes, apakah elemen nya masih berfungsi atau tidak. Tetapi ia bersyukur bahwa telapak tangannya mengeluarkan bola air.


"Tunggu sebentar." Zeno mengerutkan dahinya, ia memperhatikan dengan seksama dan merasa ada yang janggal dengan elemen air yang dia keluarkan. 


Benar, efek petir berwarna kuning keluar dari elemen air, tubuhnya sedikit gemetar seperti merasakan tegangan yang cukup tinggi, tetapi entah kenapa ia tidak merasakan sakit pada tegangan listrik yang mengalir pada tubuhnya.


Ia masih bingung, apa yang terjadi pada elemen yang ia keluarkan, rasanya kejadian ini tidak pernah terjadi pada dalam hidupnya.


Tetapi sejenak, seketika ia tersenyum lebar saat tahu apa yang terjadi. Elemen air yang ia keluarkan dia hilangkan untuk mengetes, apakah yang ia sangka itu benar.


Ternyata apa yang dia sangka benar-benar terjadi, hatinya girang bukan kepalang saat melihat dengan matanya sendiri. Sebuah bola petir keluar dari telapak tangannya dengan bunyi yang khas.


"Elemen petir, akhirnya telah ku miliki."

__ADS_1


"Pak tua Ama, aku benar-benar berterimakasih karena kau telah menyerangku di dunia tadi."


Tetap semangat dan jangan lupa untuk bernapas


__ADS_2