
Pangeran kekaisaran mengangguk mengerti perkataan Zeno, walaupun ia masih sangat gemetar karena bentakan Zeno yang sangat kasar.
Ia begitu sadar bahwa perkataan Zeno ada benarnya, tidak seharusnya dia duduk menangis dari tadi dan mengharapkan bantuan. Ditambah ia sedikit malu saat ia bersujud kepada Zeno agar dirinya dibantu keluar dari sini, padahal Zeno sendiri juga sedang berusaha keluar.
Zeno yang mengerti anggukan pangeran kekaisaran langsung melepaskan cengkraman pada bajunya. Bahkan saking kesalnya, baju yang ia cengkram terlihat sedikit sobek menandakan bahwa Zeno mencengkeram terlalu kuat.
Pangeran kekaisaran mengusap air matanya yang akan menetes. "Baiklah, aku sadar. Ayo, apa yang akan kita lakukan untuk keluar dari sini." Ucap pangeran kekaisaran dengan nada yang begitu tinggi.
Selena tersenyum setelah pangeran kekaisaran sedikit tegas dari sebelumnya. Harga dirinya lebih naik sedikit dibandingkan dia memohon-mohon dan bersujud kepada Zeno.
"Bagus, lebih baik kalian mencari jalan keluar dengan memutari danau, berhati-hatilah mengenai Sambaran petir." Tegas Zeno.
Pangeran kekaisaran dan juga Selena mengangguki pernyataan Zeno, mereka setuju untuk mengitari danau untuk mencari jalan keluar.
"Sedangkan kau sendiri?" Tanya Selena kepada Zeno, pasalnya ia kebingungan mengenai Zeno yang menyuruh dirinya, tetapi apa yang akan Zeno sendiri lakukan.
"Kiba kau bisa keluar!"
Seperti biasa saat Zeno memanggil Kiba, Kiba muncul dari balik hembusan angin yang berputar membentuk seekor harimau, Auman yang begitu jelas terdengar seketika saat Kiba menampakkan diri.
Selena dan juga pangeran kekaisaran mundur beberapa langkah saat tau ada seekor beast yang muncul di hadapan mereka. Selena bersiaga mengambil pedangnya dan bersiap menyerang Kiba, sedangkan Rouya Ama, dia hanya mengambil ancang-ancang dengan tubuh bergetar seakan-akan takut kepada Kiba.
Keduanya begitu siaga saat Kiba keluar, pasalnya mereka tidak tahu bahwa beast tersebut merupakan milik Zeno, mereka mengira bahwa Kiba datang dengan sendirinya dan akan menyerang diri mereka semua.
Tetapi Zeno memerintahkan Selena menurunkan pedangnya. Karena Kiba bukanlah beast buas tidak bertuan, Kiba adalah beast setianya yang selalu menemani Zeno.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka bahwa kau memiliki beast." Ujar Selena sambil memasukkan pedangnya kembali.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan beast kucingmu itu?" Sambungnya dengan bertanya kepada Zeno.
"Kucing ya? Apa kau pernah mendengar kucing terbang? Akan ku tunjukkan kepadamu seberapa hebatnya kucing ku ini." Zeno menaikkan ujung bibirnya, membuat Selena terdiam seketika.
Zeno langsung menaiki punggung Kiba. Ia kemudian memerintahkan Kiba untuk terbang di bawah awan yang gelap itu. Tetapi masalahnya, apakah Kiba sanggup menghindari apabila ia tersambar petir? Sehingga hal tersebut membuat Zeno ragu saat ia ingin melihat luar menggunakan Kiba.
"Tuan tenang saja, Kiba bisa menghindari sambaran petir, sehingga tuan bisa duduk secara jenak." Ucap Kiba.
Akhirnya Zeno setuju dan yakin setelah diberi penjelasan oleh Kiba. Walaupun ia juga masih sempat ragu, apakah Kiba bisa menghindari petir itu, ditambah dengan Zeno yang menunggangi Kiba terlihat sangat rentan tersambar petir.
"Apa kau sangat yakin Kiba?" Tanya Zeno yang meyakinkan dirinya sendiri.
"Tentunya." Kiba akhirnya membawa terbang tuannya, atau lebih tepatnya Zeno.
Tujuan Zeno terbang adalah, ia ingin melihat apakah ia bisa keluar dengan terbang melewati semua hutan yang mengelilingi danau?
Nyatanya Zeno tidak bisa melihat pedesaan negara petir dari kejauhan, ia hanya melihat bentangan hutan yang terlihat tanpa batas menggunakan jangkauan mata telanjang.
"Sialan." Zeno menggertakkan giginya, ia benar-benar hampir putus asa setelah tidak ada jalan keluar melalui jalur udara.
"Apa yang harus lakukan?" Zeno berkata kepada hati kecilnya, kebingungannya bertambah besar hanya karena mencari jalan keluar, dia sedikit menyesal karena terlalu berani memasuki danau yang penuh penderitaan ini.
Suara gemuruh petir yang memekakkan telinga, apalagi Zeno juga sangat dekat dengan awan hitam. Rambutnya sekilas berdiri semua menandakan seakan-akan dia seperti orang gila.
__ADS_1
Siapa yang tidak tahu rumor tentang rambut berdiri ketika dibawah awan hitam dengan petir menggelegar, Zeno benar-benar tahu akan rumor tersebut. Tetapi Zeno kurang percaya mengenai rumor rambut berdiri pasca petir.
"Oh tidak, tuan, kita terpaksa turun." Tegas Kiba setelah melihat rambut Zeno berdiri secara keseluruhan.
Benar apa yang dikatakan Kiba, rumor itu ternyata tidak salah, rambut berdiri akan menandakan bahwa seseorang tersebut akan tersambar petir yang hebat. Zeno mengingat hal tersebut dari dongeng ibunya. Zeno sempat tidak percaya akan rumor tersebut.
"Apa hubungannya? Rambut berdiri dan Sambaran petir?" Itulah kata hati kecil Zeno saat dahulu mendengar cerita dari ibunya.
Tetapi sekarang ia merasakan sendiri, rambut Zeno berdiri memang menandakan bahwa petir akan menyambar dirinya. Dia menuruti kata Kiba untuk turun, karena ia tidak ingin terkena hal-hal yang tidak diinginkan.
Sambaran petir membuat Zeno merasa kapok, apalagi saat rambutnya berdiri menandakan bahwa dia akan tersambar petir hebat, petir alami tanpa campur tangan manusia.
Memang, dari dulu sempat Zeno merasa pusing memikirkannya. Apa hubungannya antara rambut berdiri dan sambaran petir? Apakah itu ulah roh? Atau dewa petir yang memberikan peringatan? Zeno benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan yang ia buat sendiri.
Perlahan rambut Zeno juga turun seperti sedia kala. Tetapi sayangnya, bulu kuduk Zeno tak henti-hentinya turun, yang menandakan ia belum juga mengurangi rasa gemetaran saat berada di bawah awan.
"Zen, apakah ada jalan keluar?" Selena berlari ke arah Zeno setelah ia mengetahui bahwa Zeno telah turun dari balik awan.
"Tidak, aku hanya melihat hutan. Hanya hutan luas yang mengelilingi danau ini." Jawabnya dengan tatapan begitu serius.
"Apakah sebenarnya kita semua berpindah dimensi? Seharusnya kita ada dibalik bukit, bukan dibalik hutan lebat." Ucap Rouya Ama.
"Pangeran, apakah ada orang yang pernah keluar dari danau ini?" Tanya Zeno kepada Rouya.
"Ada, yaitu ayah ku sendiri, tetapi sayangnya, saat ia keluar, tubuhnya dipenuhi cakaran yang menutupi tubuhnya. Akibatnya, selang beberapa hari, ayahku meninggal, karena ada racun yang menempel pada salah satu cakaran." Kata Rouya menundukkan wajahnya sambil mengingat masa lampau yang membuatnya menumpahkan air mata.
__ADS_1
"Yaah, itulah mengapa kekaisaran saat ini dipimpin oleh seorang wanita yaitu kaisar Shima Ama, atau ibu pangeran Rouya sendiri, karena pada saat ini belum ada pengganti yang tepat." Kata Selena menyambung perkataan Rouya.
"Cakaran? Berarti terdapat beast tersembunyi disini. Bisa dibilang bahwa mengalahkan beast tersebut sama saja membuka kembali pintu gerbang." Zeno berpikir sejenak sambil menyentuh dagunya, dari cerita Rouya mengenai ayahnya yang keluar dari danau dengan luka cakar, bisa dipastikan bahwa ayah Rouya memang telah melakukan pertarungan besar dengan seekor beast.