
Zeno dan yang lainnya menggertakkan giginya. Mereka tidak menyangka, bahwa hampir semua orang berada di sini cukup sombong terhadap orang yang berada di benua lemah seperti benua Lima negara. Mungkin itu terlihat sangat wajar, bagaimana tidak, cahaya yang merupakan elemental terkuat cukup membuat orang-orang dari benua 99 cahaya menyombongkan diri.
Walaupun kenyataannya begitu, Zeno sangat membenci kepada orang-orang yang begitu sombong. Memangnya kenapa jika mereka memiliki elemental terkuat? Bukankah elemental akan berguna tergantung pengguna itu sendiri? Itulah yang selalu dipikirkan Zeno.
Tidak peduli apakah elemen cahaya, kegelapan atau racun dijuluki sebagai elemen terkuat, selama pengguna elemen tersebut sangat bodoh. Maka tidak jauh berbeda dengan orang yang sangat lemah.
"Tuan, biarkan saja. Orang-orang dari benua ini memang sangat sombong. Mari, ikut aku." Sahut penjaga kasir tersebut menenangkan Zeno.
Zeno menghela napas setelah mendengar apa yang dikatakan penjaga kasir. Tentu saja membiarkan orang-orang bodoh merupakan cara yang paling mudah. Jadi dia menarik Turse dan memilih untuk menuju kamar yang dia pesan.
"Pegawai penginapan memang selalu baik." Batin Zeno.
"Hei wanita cantik! Sebaiknya kau tinggalkan pasanganmu itu. Dia tidak jauh berbeda dengan sampah karena pasti memiliki elemen yang lebih lemah dari cahaya. Walaupun kau juga pasti memiliki elemen lemah, setidaknya jika kau berada di pelukanku, maka kau akan aman." Sahut salah seorang pria di dekatnya.
Seketika Zeno menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Turse. Mereka berdua menoleh ke belakang dengan tatapan yang begitu sinis, terutama Turse yang merasa dilecehkan.
"Jika aku tidak mau?" Turse mengangkat alisnya.
"Jika kau tidak mau, aku akan ...." Pria tersebut tidak melanjutkan ucapannya karena disahut oleh Zeno.
"Jika dia tidak mau, maka kau pasti akan berdiri dan menghajarku, merasa sok hebat di hadapan temanku. Tapi menghajarku merupakan suatu hal yang sangat bodoh."
__ADS_1
Pria tersebut tertawa terbahak-bahak diikuti dengan seluruh orang yang mendengar hal tersebut. Sepertinya mereka benar-benar meremehkan Zeno dan menganggap bahwa Zeno merupakan seorang pelawak yang baru saja tiba. Namun, sebenarnya mereka tidak tahu siapa yang mereka remehkan.
"Mungkin aku akan melakukan seperti apa yang kamu katakan. Tapi mengurus orang yang berasal dari benua lemah sepertimu hanya akan membuang-buang waktu." Ucap pria tersebut sambil menyantap beberapa makanan yang ada di mejanya.
"Tuan, aku ingin sekali menghajarnya. Izinkan aku keluar dan menghancurkan tulang-tulang mereka." Azure berkata di dalam diri Zeno.
"Tidak perlu." Kata Zeno dengan singkat, dia memilih pergi dan menarik tangan Turse untuk segera pergi dari tempat tersebut dan menyuruh wanita kasir untuk berjalan kembali.
Zeno benar-benar muak dengan segala umpatan tersebut. Mungkin jika dirinya tidak mengontrol emosi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa semua orang yang menertawakan dirinya mati dalam beberapa kali serangan. Bahkan, jika perlu dia akan melepaskan Azure untuk menyerang mereka dalam sekali serangan.
Tapi Zeno lebih menahan diri sekarang, dia tidak ingin mendapatkan sebuah masalah, apalagi dirinya baru saja tiba di benua ini. Namun, apabila orang tersebut bergerak mencari masalah secara langsung, seperti menganggu hidup Zeno, maka Zeno akan tegas dan membalasnya.
Sebenarnya Kirin dan Uron sudah begitu geram dengan tindakan orang-orang yang berada di sini. Tapi masalahnya, mereka berdua juga tidak memiliki daya dan sedikit kelelahan untuk menyerang, walaupun begitu, jika Zeno menyuruh mereka berdua menyerang, Kirin dan Uron juga tidak akan ragu untuk menghabisi mereka semua.
Beberapa langkah Zeno dan Turse berjalan, Turse menghentikan langkahnya sebentar dan berbalik badan, dia memandang wajah pria tersebut begitu dingin dan tatapan begitu kesal.
“Paman, memang tuanku tidak memiliki elemen cahaya. Namun, jika kau masih saja meremehkannya, aku juga memiliki elemen terkuat ketiga di dunia untuk menghabisi mu.” Ucap Turse sambil mengeluarkan bola air berwarna hijau di tangannya yang tidak lain merupakan sebuah racun.
“Satu lagi, walaupun kalian juga memiliki elemen terkuat yaitu cahaya. Bukan berati kalian juga kuat, karena pada dasarnya, kaisar terkuat selama ini memiliki elemen kegelapan yang peringkatnya di bawah elemen cahaya. Mungkin jika aku berkata lebih, siapa yang bisa menandingi kaisar terkuat yaitu Danze, maka kalian akan kembali tertawa dan tidak percaya.” Zeno juga berhenti dan melanjutkan apa yang Turse katakan. Yang mana setelah Zeno mengatakan seperti itu, dia kembali berjalan.
__ADS_1
Seluruh orang sedikit terkejut, bahwa wanita tadi yang tidak lain Turse memiliki elemen terkuat ketiga di dunia, yaitu racun. Tapi mereka masih menertawakan dan menjadi acuh tak acuh mengenai racun yang Turse miliki. Bagaimanapun, menurut mereka elemen cahaya masih menduduki peringkat pertama.
Walaupun, tidak sedikit orang yang sadar, bahwa elemen cahaya yang merupakan elemen terkuat sekalipun, belum tentu penggunanya juga kuat. Buktinya mereka juga tahu, bahwa kaisar terkuat, yaitu Danze I”ftarthur sekalipun memiliki elemen kegelapan yang pada dasarnya elemen yang memiliki satu tingkat di bawah elemen cahaya.
.......
Tepat di dalam kamar, Zeno dan Turse baru saja masuk. Mereka sebenarnya tahu, namun masih terkejut bahwa kamar ini memiliki satu ranjang. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat sulit bagi Zeno, pasalnya dia harus berbagi ranjang dengan perempuan. Tapi dia berpikiran lain, tidak mungkin seorang laki-laki dan perempuan yang belum menikah dalam satu ranjang, itupun mereka juga belum dewasa sepenuhnya.
“Turse, jika kau ingin tidur, maka tidurlah di atas ranjang. Jangan pedulikan aku.” Kata Zeno begitu ragu.
“Bagaimana mungkin seorang bawahan tidur di atas ranjang, sedangkan tuannya sendiri tidur di lantai? Sebaiknya tuan tidak perlu sungkan untuk tidur di atas ranjang.” Kata Turse juga ragu.
“Tunggu sebentar, sejak kapan aku menganggap mu sebagai bawahanku? Kita ini teman, jadi aku tidak memiliki hak untuk dihormati. Lagi pula kau seorang wanita, sudah seharusnya aku yang menghormatimu.” Ucap Zeno sambil menggaruk kepalanya.
“Jika kita seorang teman, maka ....” Turse menarik tangan Zeno menuju ranjang, “Kita tidur satu ranjang saja. Tidak boleh ada yang tidur di bawah, karena seorang teman tidak mungkin membiarkan teman yang lainnya kesusahan.”
“Kau benar juga, tapi kita belum menikah. Tidak mungkin kita dalam satu ranjang.” Jawab Zeno secara asal-asalan.
“Kita belum menikah? Jadi maksud Anda ....” Turse tidak melanjutkan ucapannya.
Mendengar hal tersebut secara spontan Zeno menutup mulutnya, dia menjadi sedikit malu setelah mengatakan hal tersebut. Tapi karena tidak ingin memperlihatkan rasa malunya, dia masih memasang wajah datar agar harga dirinya tidak jatuh di depan wanita.
__ADS_1
“Lupakan hal tersebut, matahari sudah hampir terbenam. Sebaiknya kita makan malam terlebih dahulu, para pegawai itu mungkin sudah menuju ke sini untuk mengirim makanan untuk kita.” Ujar Zeno sambil berbalik badan, dia masih terbayang-bayang dengan apa yang dirinya katakan sebelumnya.
Sedangkan Turse, dia hanya tersenyum malu di sela-sela wajah datarnya. Dia tidak menyangka, bahwa tuan Zeno akan mengatakan seperti itu.