
“Panah dalam kondisi lurus ke depan untuk kapal paling ke depan, kemudian posisi busur semakin terangkat di setiap barisan kapal ke belakang!” Turse berteriak dengan sangat lantang, dia juga melihat para pasukan musuh mundur untuk menjaga jarak agar para pemanah tidak menjangkaunya. Namun, Turse tidak akan membiarkan para pasukan musuh semuda itu.
Sehingga, dia membuat para pemanah yang berada paling depan untuk memposisikan busur secara lurus ke depan, agar tembakan lebih akurat dan juga cepat. Sedangkan para pemanah yang berada di kapal paling belakang, mereka tetap memposisikan busur panah ke atas. Karena, apabila mereka tetap lurus ke depan, maka akan melukai pemanah yang ada di depannya.
Suara ribuan anak panah kembali dilepaskan, menargetkan ribuan pasukan yang beranjak pergi untuk menjaga jarak. Namun, para pemanah juga tidak kalah pintar untuk menghadapi pasukan yang semakin menjauh. Nyatanya, ketika para pemanah semakin menjauh dari hadapan para pemanah, maka mereka akan menjadi sangat senang dibandingkan apabila target justru semakin mendekat.
“Jenderal! Sebaiknya kau hentikan para prajuritmu, jika tidak, ribuan anak panah milik para pemanah akan menghancurkan pasukan berkuda milikmu!” Teriak Laksamana Mahaa berdiri di ujung kapal, memberitahu Jenderal Lois yang terus maju, padahal para pemanah melepaskan anak panahnya.
“Aku mengerti! tetapi, jangan terlalu lama untuk melepaskan anak panah! kita juga perlu membersihkan mereka agar kalian lebih fokus untuk naik ke atas gunung!” Balas jenderal Lois dengan berteriak kencang, kemudian dia mengatur napas sebelum melanjutkan teriakannya, “Asalkan jangan tabrak kami pula!”
“Begini saja, kalian pelankan pasukan berkudamu dibandingkan dengan berhenti!”
“Seperti apa yang kalian dengar! Pelankan kuda kalian!” Teriak jenderal Lois hingga tenggorokannya benar-benar kering. Masalahnya, semenjak tadi dia berteriak tanpa henti untuk memberikan sebuah perintah untuk para pasukannya. Namun, dia tidak terlalu memperdulikannya, sudah seharusnya atau bahkan hal yang wajar apabila seorang jenderal seperti itu. Bagaikan, bahwa tenggorokan kering adalah makanan sehari-hari oleh seorang jenderal perang.
......
__ADS_1
Di sisi lain, para pasukan berkuda yang sebelumnya ada di barisan paling depan, namun karena mereka bergegas untuk menjauh, mereka menjadi pasukan paling belakang. Yang mana, barisan tersebut menjadi barisan yang paling sial. Masalahnya, mereka semua seketika mati setelah tertusuk oleh ribuan anak panah yang muncul tidak ada hentinya.
“Sialan!” Pemimpin mereka berdecak kesal sambil berbalik, mengeluarkan sebuah perisai kegelapan yang bening dengan sebuah pola aneh. Sehingga, anak panah yang melesat pun tidak mengenai dirinya. Kemudian, disusul oleh beberapa prajurit yang menggunakan hal serupa, mereka juga mengeluarkan sebuah perisai kegelapan yang begitu banyak sehingga membuat anak panah yang melesat itu tidak berhasil merenggut para pasukan lagi.
“Haha, apa yang akan kau lakukan? Kami para elementalist kegelapan tidak akan kalah dari para elementalist es yang hanya menggunakan anak panah saja.” Pemimpin pasukan berkuda itu berkata dengan lirih, sesaat sebelum sebuah tornado yang cukup besar muncul menerbangkan mereka semua.
Hal tersebut, tentu saja membuat pemimpin pasukan mencoba untuk mengendalikan diri yang mana tubuhnya terbang tidak beraturan akibat dari tornado yang tiba-tiba muncul. Tampaknya, meremehkan para elementalist dari Glacies merupakan kesalahan yang begitu besar.
Masalahnya, menghadapi para pemanah seperti ini saja cukup merepotkan, sekalipun mereka membuat perisai, ternyata Glacies juga mengeluarkan sebuah tornado yang mengobrak-abrik mereka, sehingga mereka tidak dapat berkonsentrasi untuk mengeluarkan sebuah elemen.
“Tidak perlu dipaksakan Nora, itu sudah cukup bagus.” Laksamana Mahaa memuji, kemudian dia kembali berteriak ke arah jenderal Lois yang mana pasukan berkudanya tepat berada di bawahnya. “Jenderal, kau bisa pacu kudamu sekarang, pemanah Turse tidak mengeluarkan anak panah lagi. Mungkin akan tetap mengeluarkannya, tetapi jauh lebih sedikit dibandingkan tadi.”
“Baiklah.” Jenderal Lois menjawab, “Serang ...!” kemudian dia memacu kudanya lebih cepat lagi untuk membunuh ribuan musuh itu, sebelum para musuh kembali berdiri setelah mereka terkena tornado yang begitu hebat.
Pada akhirnya, pasukan berkuda sudah menyentuh pasir atau pesisir pantai, kemudian tanpa ragu, mereka langsung memerangi pasukan musuh yang jumlahnya berkurang karena anak panah. Selain itu, mereka juga harus melewati pasukan yang tergeletak tak berdaya dengan tubuh yang dipenuhi oleh anak panah.
__ADS_1
“Serang! Jangan biarkan mereka hidup setelah menginjak tanah Mare Enbarum!” Pemimpin pasukan yang ada di pasukan tersebut langsung berdiri, mencoba untuk mendesak para pasukannya untuk berdiri karena di hadapan mereka ada pasukan berkuda.
Namun, sangat disayangkan bagi mereka, saat mereka berdiri, ratusan anak panah kembali menghujani mereka yang membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk berdiri lagi. Kemudian, disusul oleh pasukan berkuda yang memerangi mereka dengan sangat tragis, sehingga banyak korban berjatuhan
Banyak dari mereka yang mencoba berdiri dan menyerang menggunakan elemen kegelapan, akan tetapi pasukan berkuda masih menang cepat, apalagi mereka menggunakan kuda. Berbeda dengan pasukan musuh yang mencoba untuk berdiri, serta kuda mereka banyak yang mati akibat tornado itu tadi.
Di sisi lain, pasukan pemanah belum berani untuk turun dari kapal, walaupun kapal mereka sudah menurunkan jangkar dan berada di pesisir. Itu karena, mereka tidak melakukan tindakan yang begitu ceroboh. Masalahnya, apabila mereka turun secara sembarangan, pasukan musuh akan menjadi fokus kepada pasukan pemanah, karena pemanah itulah kunci kemenangan.
Mereka hanya berfokus untuk memanah musuh dari atas kapal, namun tentunya tidak sebrutal seperti mereka menghancurkan armada kapal musuh, tetapi mereka kali ini sedikit berhati-hati agar tidak mengenai para pasukan kekaisaran Glacies yang sedang berperang dengan mereka semua.
“Pemimpin, kita kalah!” Teriak salah seorang prajurit yang terpojokkan karena berhadapan dengan seorang prajurit berkuda yang mengeluarkan pedangnya ke arah kepalanya. Namun, sesaat kemudian, prajurit yang terpojok itu bukannya terbunuh karena sebuah pedang, melainkan tertusuk dengan sebuah anak panah.
“Ternyata pasukan pemanah tidak bisa diremehkan. Mereka bisa memandang bulu dengan cukup baik agar tidak salah sasaran. Pastinya itu sangat sulit karena kedua kubu ini selalu bergerak secara acak.” Kata prajurit Glacies sambil memacu kudanya untuk membantu rekannya yang lain.
“Baiklah, kita sudah menang! Kita menguasai bagian pesisir selatan!” Jenderal Lois berteriak dengan begitu kencang sehingga para prajuritnya mendengar.
__ADS_1
“Laksamana Mahaa, kau bisa menurunkan pasukan pe ....” Jenderal Lois berbalik badan sambil berteriak ke arah armada kapal yang ada di pantai. Namun, dia tidak melanjutkan teriakannya, pasalnya para pemanah sudah turun dengan berbaris begitu rapi, masing-masing dari mereka memegang sebuah busur panah yang terbuat dari es, sehingga sesiapa saja yang melihatnya tampak merasa ngeri. Selain itu, di depan barisan, terdapat seorang wanita yang juga memegang busur panah tanpa memasang ekspresi sama sekali, yaitu Turse.