Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Air mata Arina


__ADS_3

Elderic mendekat ke arah Turse, namun ribuan anak panah dari langit jatuh dan akan menghujani dirinya.


Menyadari hal tersebut, Elderic menoleh ke atas sambil menebaskan pedangnya ke atas. Alhasil, sebuah energi kegelapan berbentuk bulan sabit keluar dan menghancurkan anak panah itu dengan sangat mudah.


Arina menghampiri Zhuo yang terbaring tidak berdaya dengan luka parah pada bagian dada kananya. Wajahnya dipenuhi air mata yang menetes karena melihat kondisi suaminya yang mendekati ajal.


Arina memeluk Zhuo yang terbaring, memberikan sebuah harapan agar sang suami terbangun dari baringnya dan kembali memeluk dirinya.


Tetapi Zhuo hanya memandang kosong sambil tersenyum manis. Menunggu ajalnya merupakan hal yang dia lakukan, sudah tidak ada lagi yang ia lakukan untuk melawan Elderic.


Hanya satu harapan, dia memandang Turse dengan berani masih bertarung dengan Elderic. Keduanya memang sama-sama elementalis racun, tapi dalam hati Zhuo, masih ada kekhawatiran yang terjadi pada Turse.


"Kenapa, kenapa kau dengan bodohnya rela mati hanya karena diriku?" Arina tidak bisa membendung air matanya, menunggu sang suami memberikan jawaban agar hatinya bisa sedikit lega.


"Apa tidak boleh? Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Pada saat itu aku hanya terfokus ke anak-anak kita, sehingga aku lupa padamu." Zhuo tertawa lirih sebelum melanjutkan ucapannya, "Aku adalah suami dan ayah yang bodoh. Benarkah itu?"


"Bodohnya kau, padahal kau bisa membantu ayah dan ibu yang sedang bertarung. Tetapi kau membantuku yang tidak ada apa-apanya. Seharusnya kau lebih membantu anak-anakmu yang sedang berjuang di sana. Aku bukanlah apa-apa, hanya sebatas wanita lemah yang tidak patut kau lindungi." Arina berkata demikian, dia masih membanjiri tubuh Zhuo dengan air mata. “Kenapa, kenapa kau seperti rela kehilangan semua anak dan orang tuamu demi aku? Kau benar-benar sangat bodoh.”


"Kau salah, orang tua adalah anugerah, anak juga merupakan sebuah anugerah. Sedangkan kau, kau merupakan pilihanku sendiri, jadi bagaimana mungkin aku membuang sesuatu yang ku pilih sendiri?" Zhuo mengangkat tangan kananya dan menghilangkan air mata yang menetes secara perlahan di pipinya.

__ADS_1


"Senang bisa bertemu denganmu, senang bisa berkumpul kembali dengan anak-anak kita. Walaupun hanya bertahan satu bulan, aku bisa merasakan sensasi tersebut, aku benar-benar merasakannya. Katakan kepada Zeno, aku benar-benar meminta maaf kepadanya karena tidak bisa bersamanya dalam waktu yang lama. Aku harap, kau bisa menghibur Zeno di saat dia sedih."


"Impianku adalah melihat salah satu anak kita tumbuh dewasa dan menikah. Dan impianku benar-benar terkabul, jadi aku bisa istirahat dengan tenang."


"Selamat tinggal A-rina." Tangan Zhuo terjatuh di atas tanah, matanya benar-benar terpejam dengan darah di dada kanannya yang terus menerus keluar.


Arina berteriak histeris, tangisan darahnya menetesi jasad sang suami yang sudah tidak bernyawa. Dia mencoba memukul dirinya sendiri, berharap apa yang ia lihat merupakan sebuah mimpi belaka. Berkali-kali mencoba menyadarkan diri bahwa dirinya sedang berhalusinasi.


Elderic tersenyum lebar, akhirnya musuh yang sangat merepotkan telah mati karena serangan yang ia berikan. Tapi terpaksa, dia harus berhadapan dengan seorang wanita yang jauh lebih merepotkan dari Zhuo.


"Kau, kau harus bertanggung jawab atas semua ini." Turse menggertak, dia juga tidak henti-hentinya meneteskan air mata melihat kematian jenderal terkuat di benuanya mati. Seseorang yang dia hormati meninggal.


"Siapa peduli? Bahkan aku yang pernah kehilangan istri dan anak tidak terlalu histeris seperti dia. Kalian memang benar-benar lemah, hanya karena kehilangan salah satu keluarga membuat mental kalian turun." Kata Elderic menyombongkan diri.


Arina menghapus air matanya, dia mengikat rambut yang terurai ke belakang. Hanya ada satu yang ada di hatinya, yaitu tidak bisa memaafkan Elderic seorang yang membunuh suaminya tercinta.


"Jadi kau tidak pernah mengenal yang namanya sebuah cinta. Ayah dan suami macam apa kau yang tidak bersedih atas kematian istri dan anakmu. Tapi tenang saja, aku akan membunuhmu agar kau bisa merasakan sensasi berkumpul dengan keluargamu." Kata Arina dengan nada tinggi. Tampaknya dia bukan menjadi wanita lemah seperti sebelumnya. Wajahnya dipenuhi tekad untuk membunuh Elderic.


Dia mengambil pedang milik Zhuo yang berada di bawah kakinya. Memang, pedang Zhuo patah. Tapi dia tidak hanya memiliki satu pedang saja, sehingga dia memiliki pedang lain. Sayangnya, saat pertarungan dengan Elderic, pedangnya terjatuh dan tidak sempat untuk mengambilnya.

__ADS_1


"Nyonya Arina?" Turse menoleh ke samping, dia melihat tekad yang penuh dari mata Arina.


"Turse, aku dengar kau merupakan seorang pemanah. Tidak cocok seorang pemanah bertarung dari jarak dekat. Cobalah untuk membantuku dari belakang." Kata Arina mengatur napasnya, sekaligus dia masih mencoba membendung air mata yang tertahan di balik mata.


"Aku harap Selena sudah menemukan keberadaan Zeno. Begitu juga dengan Lyana dan Nora yang berhasil menemukan kedua kakak Zeno." Kata Arina, dia masih berharap bahwa ketiga anaknya tidak bernasib seperti sang suami.


"Sudahlah. Sedih merupakan sesuatu hal yang yang dilakukan oleh orang lemah. Lihat, apakah aku bersedih saat melihat kematian Alie?"


////


Zeno mundur sejenak setelah bertarung dengan Danze. Dadanya terasa sesak seperti ditusuk oleh pedang. Dia memiliki firasat yang cukup buruk pada salah satu orang terdekatnya. Tapi dia tidak berharap seperti itu.


Dia mengambil napas sejenak, kepala nya terlihat terluka akibat pertarungan serius dengan Danze. Sudah cukup lama dia bertarung dengan musuh, tapi Zeno sama sekali belum bisa menggores tubuh Danze.


Benar-benar musuh terkuat yang dia temui saat ini. Tidak salah jika kaisar Danze disebut sebagai kaisar terkuat di dunia.


“Tidak ada waktu istirahat untukmu!” Danze melesat ke arah Zeno, dia tidak ingin Zeno untuk berhenti walaupun itu hanya mengambil napas saja.


Mau bagaimana lagi, Zeno yang terus dipaksa bertarung juga melesat untuk melawan Danze. Kakinya terasa sangat berat dengan napas yang terengah-engah, paru-paru begitu sesak menandakan bahwa dirinya benar-benar lelah. Dipaksa bertarung, dan melupakan rasa sakit merupakan hal yang berat, apalagi dia tidak sengaja meneteskan air mata yang membuatnya memiliki sebuah firasat yang sangat buruk.

__ADS_1


Berbeda dengan Kiba, walaupun dia juga tidak memiliki luka, tapi dia merasa sangat kesulitan untuk melawan Danze. Apa yang harus dia lakukan? Sepertinya dia ingin bergabung dengan Zeno. Agar kekuatan tuannya bisa bertambah, dia juga tidak tahan melihat Zeno yang terluka karena serangan Danze yang brutal.


“Kau cukup menghiburku, kekuatanmu juga tidak bisa diremehkan. Setidaknya kau bisa melatih ototku yang sudah lama tidak bertarung. Tenang saja, jika kau mati, maka aku akan memanfaatkan mayatmu paling akhir.”


__ADS_2