Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Detik-detik


__ADS_3

Tepat pada tengah malam, pancaran bunga teratai emas semakin terang di bawah bulan purnama yang begitu bulat. Hanya kurang beberapa menit lagi, bunga tersebut akan mekar begitu indah mengiringi pergantian hari yang akan sebentar lagi terjadi.


Sebelumnya Zeno dan Hole berencana untuk membatalkan niatnya untuk langsung ke puncak pada pagi hari tadi. Melainkan, mereka menunggu sampai pergantian hari, lebih tepatnya ketika bunga itu mekar sepenuhnya. Kali ini, mereka berada di jalur pendakian dan belum berada di puncak, karena di puncak terdapat sesuatu hal yang begitu mengerikan yang mereka bayangkan.


Puncak gunung Apiluc, dipenuhi oleh 700 kelompok kriminal yang tidak memiliki kantuk sama sekali dengan mengangkat persenjataan mereka. Dengan Dareen yang berada di pinggir danau vulkanik memperhatikan detik-detik mekarnya bunga tersebut. Siapa yang menyangka, bahwa danau kawah tempat berkumpulnya bunga teratai, yang sebelumnya berwarna biru, kini berubah menjadi warna merah darah bagaikan danau darah.


Memang, beberapa jam yang lalu gunung Apiluc dipenuhi oleh manusia yang tak bernyawa yang terbunuh akibat pertarungan ketiga belah pihak. Dan darah-darah korban banyak yang mengalir menuju danau kawab yang membuatnya menjadi merah pekat. Selain itu, baru kali ini sebuah puncak gunung di buat kuburan masal yang suasana sebelumnya nampak indah, kini berubah menjadi mencengkam.


Itulah yang membuat Zeno tampak sedikit merasa ngeri melihat puncak gunung Apiluc yang kini digunakan kuburan masal untuk ribuan korban akibat pertempuran. Mungkin, itu akan mejadi pegunungan yang terkesan angker suatu saat.


“Bunga tersebut akan mekar sebentar lagi, apakah kita akan melakukan rencana terakhir?” Hole bertanya.


Zeno langsung berdiri dan tersenyum, memang, apa yang dikatakan Hole memang benar bahwa rencana terakhir adalah membantai pasukan yang menang. Namun, apakah itu bisa dikatakan rencana terakhir, sedangkan Hole masih berada di sini? Tentu saja belum, walaupun begitu Zeno masih mengesampingkan Hole terlebih dahulu.


“Aku juga tidak tahu kelompok kriminal tersisa berapa, tapi sepertinya menari dengan pedang akan membuat mereka kesulitan. Jangankan aku, klon Tamichi yang ku buat membuat pasukan Lumenlus kewalahan.” Zeno membatin sambil tersenyum tipis, dia juga menarik Ice sword dari punggungnya dan bersiap melakukan seperti apa yang dilakukan oleh klon Tamichi yang dia buat.


Dengan penuh kesiapan, dia berdiri dari duduknya dan berkata, “Turse, aku tunggu kau berada di puncak.”

__ADS_1


“Jangan bilang tuan ingin menghadapinya sen ....” Belum sempat Turse menyelesaikan ucapannya, Zeno sudah melesat pergi meninggalkan sebuah jejak sambaran petir yang membuatnya harus melompat ke belakang. Dia hanya bisa menghela napas dan menatap malas Hole sambil berkata dengan lirih, “Lagi-lagi dengan dia.”


.....


“Bummm!!” Suasana puncak yang sebelumnya tenang, dengan ribuan pasukan Assassin yang bersiaga, kini berubah ketika ada sebuah ledakan yang muncul dari salah satu tempat di puncak. Lebih tepatnya banyak yang melihat bahwa ledakan tersebut berasal dari sambaran petir yang tiba-tiba muncul.


Hal itu membuat tuan Sepuluh atau Dareen terkejut mengenai apa yang terjadi. Penasaran, dia segera bergegas ke arah ledakan tersebut. Namun siapa yang menyangka, apa yang ia lihat bukanlah bekas ledakan, melainkan para pasukannya tiba-tiba banyak yang terbunuh akibat sebuah petir melintas dengan begitu cepat.


Tentu saja sambaran itu terjadi akibat Zeno yang bergerak cepat dengan mengeluarkan elemen petir, sehingga menghasilkan sebuah jejak petir yang luar biasa. Kemudian dia juga bergerak ke depan sambil mengayunkan pedangnya dengan kekuatan petir pula, alhasil, dengan pasukan yang begitu lengah, serta Zeno yang langsung menebaskan pedangnya, membuat beberapa pasukan langsung berdarah dan tumbang.


Tuan sepuluh tidak tinggal diam, sepertinya dia tahu persis bahwa sambaran petir yang bergerak itu bukan sambaran petir biasa. Melainkan seseorang yang bergerak dan meninggalkan jejak petir, sehingga apa yang dia lakukan adalah mengangkat pedangnya dan menandingi kecepatan Zeno.


Tidak seperti apa yang dipikirkan Zeno, tiba-tiba sosok bertopeng yang tidak lain merupakan tuan sepuluh berhasil menebak bahwa dirinya adalah manusia, sehingga dia langsung berada di hadapan Zeno sambil menebaskan pedangnya ke arahnya. Akan tetapi, respon Zeno sedikit cepat walaupun tuan sepuluh menebaskan pedangnya dengan sangat cepat sekalipun.


Apa yang dia lakukan adalah melompat ke belakang dengan cepat pula, namun Dareen langsung melompat ke depan dan tidak mau kalah. Untungnya Zeno langsung mengulurkan Ice Sword agar Dareen tertusuk apabila bergerak ke arahnya, atau jika Dareen tidak tertusuk setidaknya dapat menjaga jarak.


Namun siapa yang menyangka bahwa Dareen kini sudah berada di samping Zeno dan hendak memenggal kepala Zeno, apabila itu terlambat menyadari, maka Zeno pasti akan terpenggal sehingga apa yang dia lakukan adalah membekukan lehernya menggunakan es yang dilapisi oleh elemen tanah.

__ADS_1


Zeno terlempar sejauh beberapa meter, es dan tanah yang membekukan Zeno juga hancur. Untungnya pedang Dareen tidak berhasil menembus leher Zeno itu sendiri.


Tidak mau menyia-nyiakan waktu, Dareen bergerak secepat kilat ke arah Zeno, dia sepertinya tersadar bahwa Zeno merupakan seseorang yang dia temui beberapa hari yang lalu untuk mendapatkan bunga teratai emas. Dia sedikit menggertakkan giginya saat tahu bahwa anak tersebut ternyata tidak mati.


“Teknik berpedang aliran air, aliran pemurnian.”


Zeno menebaskan pedangnya ke depan, mengakibatkan sejumlah air tiba-tiba muncul di atas puncak dan membanjiri para pasukan yang terbengong, karena apa yang mereka lihat semenjak tadi adalah kilatan cahaya dan kilatan petir yang seolah bertarung.


Tentu saja, banjir terebut membasahi kaki Dareen yang membuat langkahnya tiba-tiba melambat dengan sangat drastis. Hal itu membuatnya terkejut dan menatap Zeno yang kini bergerak ke arahnya dengan pedang yang mengeluarkan aliran air saat digerakkan.


“Elemental blast: ledakan cahaya!” Tuan sepuluh mencoba untuk mengulurkan tangannya untuk mengeluarkan sebuah cahaya untuk melawan Zeno yang baru datang. Namun, lagi-lagi dia terkejut saat tidak ada reaksi apapun yang keluar, bahkan setitik cahaya pun tidak muncul.


Mau bagaimana lagi dia tidak bisa memikirkan hal itu dengan cepat, apa yang dia lakukan adalah melempar pedangnya ke arah Zeno sebagai pertahanan. Tidak peduli bagaimana kelanjutannya.


Pedang biasa melawan Ice Sword yang mengeluarkan aliran air, tentu saja pedang Dareen yang tidak berenergi seketika patah di saat Zeno memukulnya menggunakan Ice Sword. Kemudian dia melompat dengan cepat ke arah Dareen sebelum tekniknya itu hilang. Karena aliran pemurnian benar-benar keluar secara terbatas.


Tepat Ice Sword hampir menyentuh kulit Dareen, tiba-tiba banjir langsung surut dan membuat Dareen mendapatkan kemampuannya kembali. Mungkin banyak yang berpikir bahwa Dareen akan melompat ke belakang, namun, dia justru melompat dengan kecepatan cahaya ke depan dan membuat dirinya mendorong Zeno.

__ADS_1


__ADS_2